Candaan atau lelucon selalu menyenangkan. Menyenangkan karena reaksi dari orang yang di-prank kemudian terlihat kaget, bingung, tidak nyaman atau heran-heran bodoh.

Lelucon praktikal yang termasuk dalam komedi gelap ini sudah jadi kelaziman sejak manusia mulai menemukan kecenderungan dalam dirinya untuk berbuat iseng atau ngerjain orang lain.

Dulu ketika sistem informasi atau komunikasi masih tertutup, prank terbatas pada lingkup tertentu. Namun saat ini dengan internet, informasi dan komunikasi yang tak berjarak lagi sebuah prank yang terjadi di ruang tertutup namun kemudian terekam dengan sangat mudah akan tersebar ke seluruh penjuru.

Bahkan prank kemudian menjadi salah satu model untuk konten di media sosial. Dan karena prank selalu mengandung hal-hal yang negatif akibatkannya beberapa senda gurau, kelakar, olok-olok atau social experiment untuk mengerjai orang lain kemudian menjadi kontroversi.

Kontroversi karena bukan sekedar membuat orang malu tetapi juga terhina bahkan beberapa diantaranya membuat orang lain dalam kondisi yang berbahaya. Sehingga tak sedikit dari antaranya kemudian berakhir di ranah hukum.

Prank sendiri banyak macamnya, yang paling lazim adalah prank yang dilakukan orang tua pada anak-anaknya. Biasa sekali orang tua menjahili anak-anaknya.

Namun prank yang kemudian terkenal adalah yang jadi acara di televisi atau konten di channel para youtuber.

Prank model lain yang lagi ramai menjadi perbincangan para seleb di media sosial dilakukan oleh AS. Laksana. Seorang penulis ternama,  guru sekolah menulis yang terkenal dengan kemampuan menulis cepat.

Ceritanya AS. Laksana melakukan percobaan sosial dengan mengirimkan cerpen karya muridnya ke sebuah media dan dimuat. Konon tindakan ini dilakukan untuk membuktikan jawaban atas pertanyaan “Bagaimana tulisan bisa dimuat di media?”.

Dan AS Laksana menjawab “Kirim atas nama saya,”.

Kasus ini tidak terbuka jika AS Laksana sendiri tak membuat status di facebooknya yang menceritakan perihal kelakuannya. Di media tempat tulisan berupa cerpen itu dimuat tertulis sebagai karya AS Laksana. Namun di status facebooknya, dia mengakui bahwa cerpen itu karya salah seorang muridnya.

Tentu saja kelakuan AS Laksana ini jadi kontroversi dan geger dalam dunia sastra koran. Dalam berbagai status dan komentar di media sosial dikatakan bahwa mengirim karya orang lain dengan nama sendiri dianggap sebagai plagiasi. Banyak juga yang menanyakan motif dari tindakan itu.

Namun pada akhirnya kejadian ini menjadi semacam peringatan tentang sebuah kejujuran. Apa yang diharap dari sebuah karya tanpa kejujuran?.

-000-

Pada setiap bidang selalu ada orang-orang yang dianggap punya reputasi. Karya-karyanya akan dianggap punya jaminan mutu sehingga selalu layak untuk dimuat, dipublikasikan atau dipasarkan.

Orang-orang yang punya reputasi ini kemudian punya ‘previlege’. Kalau dia penulis maka tulisan yang dikirimkan ke media atau penerbit pasti akan diterima oleh redaktur.

Dan dalam dunia penulisan kita mengenal banyak orang dengan ‘previlege’ seperti itu.

Seorang teman yang putus asa karena tulisannya terus ditolak ketika dikirimkan ke harian Kompas kemudian membandingkan diri dengan almarhum Romo Mangun.

Menurutnya tulisan Romo Mangun biar ditulis sambal nongkrong di wc kalua dikirimkan ke harian Kompas pasti akan dimuat. Mungkin hanya dibaca nama pengirimnya dan tulisan langsung diterbitkan tanpa diotak-atik oleh redakturnya.

Kepada penulis lain, harian Kompas redakturnya akan sangat tegas urusan panjang kalimat. Namun hal itu tak berlaku untuk Romo Mangun yang paragrafnya selalu panjang. Konon tulisan Romo Mangun bukan hanya sampai anak kalimat melainkan sampai cucu kalimat.

Itulah yang disebut previlege karena punya reputasi dalam bidang tertentu. Dan karena reputasinya itu maka orang lain akan menganggap apapun yang dihasilkan olehnya menjadi layak.

Dalam hal tertentu hal semacam ini kerap sekali menimbulkan perasaan tidak adil bagi banyak orang. Ada banyak orang berjuang mati-matian tapi karena belum punya nama jalannya menjadi sangat terjal. Beberapa bahkan kemudian putus asa sehingga tak mau lagi menekuni jalan itu.

Lebih bermasalah lagi ketika yang disebut previlege itu kemudian tidak berhubungan dengan kompetensi. Ada banyak orang kemudian diberi karpet merah dalam hal tertentu karena kekuasaan, kedudukan dan kemampuan finansial.

Dan jika kemudian hal seperti ini menjadi kelaziman maka akan ada banyak potensi yang kemudian tidak berkembang. Seseorang dengan kemampuan tertentu kemudian tidak mau mengembangkan dirinya lebih lanjut karena merasa tak mampu bersaing dengan mereka yang ‘beruntung’.

Pada akhirnya jika kemudian sebuah bangsa kebanyakan mereka yang punya reputasi adalah orang beruntung maka akan muncul istilah 4 L alias lue lagi lue lagi.

Fenomena 4 L ini berbahaya untuk bangunan peradaban karena dari 4 L ini sungguh sulit akan diharapkan terjadinya perubahan. 4 L akan mewakili yang disebut dengan kemapanan. Orang yang mapan hanya akan mempertahankan kepentingannya sendiri dan menjaga agar kemapanannya tidak terganggu.

Dalam sistem yang mapan maka yang terjadi adalah hegemoni.

-000-

Tulisan yang dipakai untuk ngeprak oleh AS Laksana adalah sebuah cerpen yang berjudul “Bidadari Bunga Sepatu”. Cerpen ini dimuat di koran Jawa Pos edisi Minggu, 6 Juni 2021.

Dalam pengakuannya AS Laksana menyebut bahwa tulisan itu adalah karya dari Afrilia, murid di sekolah menulis. Pengiriman karya Afrilia atas namanya dilakukan untuk bersenang-senang. Yang bersenang-senang bukan hanya AS Laksana melainkan juga Afrilia serta murid-murid lainnya yang tahu.

Nah, siapa yang dibuat tersipu atau dipermalukan oleh kelakuan AS Laksana ini?. Tentu saja redaktur kolom sastra Jawa Pos. Bisa dipastikan di inbox email atau mungkin whatsapp-nya bertumpuk cerpen yang ngantri untuk dibaca dan kemudian dimuat.

Namun kemudian yang kemudian dipilih untuk dimuat duluan adalah yang dikirim oleh AS Laksana. Masuk akal karena AS Laksana adalah salah satu cerpenis terbaik di di Indonesia.

Dan ini menjadi semacam sindiran betapa para redaktur kerap kali lebih memilih dan mendahulukan karya mereka yang punya nama besar, ketimbang dengan menilai melalui isinya.

Entahlah redaktur atau koran Jawa Pos yang diprank oleh AS Laksana merasa terhina atau tidak. Namun tak sedikit yang kemudian menyarankan agar ada langkah hukum atas tindakan ini. Langkah yang kemudian akan membuat polisi jadi pusing, karena pasti polisi jarang berurusan dengan sastra.

AS Laksana tersirat tidak berpikir panjang atas tindakannya, dia menganggap ini hanya gurauan kecil. Dan dia sendiri mengatakan hanya akan melakukan ini sekali saja. Namun besok-besoknya dia tetap akan mengirim tulisan karya muridnya ke media dan berharap redakturnya akan tahu bahwa tulisan yang dikirim olehnya sudah langsung siap publikasi karena sudah melewati proses editing yang ketat olehnya.

Hari-hari ini salah satu yang menyelamatkan sastra adalah koran. Meski semakin sedikit yang membaca namun sebuah karya berupa cerita pendek, puisi dan lainnya di sebuah koran akan membuat penulisnya bangga. Dimuatnya karya sastranya di koran seolah menjadi penanda bahwa dia adalah sastrawan.

Atas pengakuan AS Laksana maka Jawa Pos kemudian mencabut publikasi cerpen Bidadari Bunga Sepatu itu. Dalam maklumatnya Jawa Pos mengatakan bahwa pemuatan sebuah karya semata didasarkan atas isi bukan siapa penulisnya.

Pihak Jawa Pos menyebut apa yang dilakukan oleh AS Laksana sebagai pelanggaran norma dan redaktur Jawa Pos berkomitmen untuk mendorong munculnya penulis-penulis muda guna berkompetisi secara terbuka dengan mengutamakan integritas dan kualitas dalam berkarya.

Jadi yang perlu punya integritas itu bukan hanya politisi dan pejabat publik, penulispun juga harus demikian agar tidak terjadi pembohongan publik apalagi jika itu dilakukan dengan sengaja dan untuk bersenang-senang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here