Dulu orang malu malu untuk mencari pengaruh, melakukan pencitraan agar dikenal oleh banyak orang. Namun setelah peresmian demokrasi langsung, dimana pemimpin dan wakil rakyat dipilih secara langsung maka orang tak malu-malu lagi untuk berlomba-lomba agar dikenal oleh masyarakat.

Salah satu cara paling ampuh agar dikenal oleh masyarakat adalah memajang foto wajah mereka di baliho-baliho yang dipasang pada tempat-tempat strategis. Maraknya baliho dengan foto-foto wajah tapi tak mengiklankan produk kosmetik atau lainnya itu memunculkan istilah baru yang dikenal dengan sebutan sampah visual.

Ya sampah, karena wajah-wajah itu sebagian tak relevan untuk kepentingan publik. Apa yang terpampang di pinggir jalan bisa jadi merupakan gangguan. Menganggu karena menurunkan konsentrasi para pengendara jalan melihat wajah-wajah penuh senyum menatap para pengguna jalan.

“Kalau untuk pemilihan organisasi tertentu dan yang milih bukan publik kenapa wajahnya mesti dipampang besar-besar di pinggir jalan dan minta restu masyarakat luas,” begitu omelan dari salah satu pengguna jalan.

“Mereka itu bukan idol yang ikut popularity contest yang mengharap dukungan dari masyarakat,” sahut yang lainnya.

Dan entah sumpah serapah apa lagi yang menyertai pemasangan baliho-baliho itu di tempat strategis itu. Bahkan ada yang memasang inisial HP sebagai bahan pengingat dan oleh publik ditafsir sebagai Handuk Putih atau bahkan Habis Pulsa, niatnya untuk populer ternyata malah jadi bahan olok-olok.

Jaman telah berubah, namun baliho penuh wajah belum juga berkurang. Mereka berharap terus dikenal atau dikenang namun nyatanya itu sama sekali tak meningkatkan popularitas mereka. Bahkan sekali lagi, justru banyak yang menganggap mereka tengah ‘nyampah’.

-000-

“Mumus berapa followermu?”

“Ah nggak sampai 1K”

“Lumayanlah,”

“Lumayan apa, ya jauhlah dibanding Raditya Dika, Agnes Monica, Ridwan Kamil, Tere Liye, Deny Siregar, Guntur Romli apalagi Jokowi,”

“Wallah kamu ini kamu membuat perbandingan itu la mbok yang pararel. Jangan yang beda level,”

Internet dunia maya melahirkan jejaring yang disebut dengan sosial media. Di mulai dari bulletin board tempat orang bertukar pesan hingga kemudian berkembang menjadi model terkini dimana orang bisa saling berhubungan, menulis status, mengomentari status atau postingan orang lain, memberi tanggapan hingga berkomunikasi secara secara privat dalam moda teks, audio dan video. Sosial media menghadirkan konvergensi multimedia, multichannel dan mutlitasking.

“Kamu bisa kok Mumus dapat banyak follower,”

“Iya kah, bagaimana caranya,”

“Konsisten, posting sesuatu yang berguna dan menginspirasi,”

“Wah, itu yang sulit,”

“Kalau nggak ya nda usah kamu secara pribadi, tapi bikin group atau page saja. Dan isi dengan posting-posting yang positif atau jadi wadah yang diperlukan oleh orang lain,”

“Adakah contohnya group atau page yang punya pengaruh?”

“Adalah Mumus, seperti BuSam,”

“Apa itu BuSam?”

“Bisa Bubuhan Samarinda, bisa juga Bursa Samarinda,”

“Oh, iya, tapi yang lebih terkenal itu Bubur (Ayam) Samarinda,”

Mustofa dan Bondan kemudian berbincang tentang digital influencer, orang atau kelompok yang dikenal dan mempunyai pengaruh dalam masyarakat. Mereka punya pengaruh bukan karena memanjang baliho di pinggir jalan melainkan dengan aktivitas, pesan dan postingan mereka di berbagai aplikasi media sosial.

“Digital influencer itu bisa jadi seorang aktivis Facebook, Selebtwit, Instaseleb juga Youtuber,” ujar Bondan.

“Iya, di facebook misalnya muncul banyak gerakan, aksi yang terjadi dimana-mana. Orang bergerak atau mereplikasi apa yang dilakukan oleh orang atau kelompok lain, tanpa mereka saling kenal,”

“Itulah hebatnya sosial media, yang makin menyempurnakan sosial movement,”

“Kamu tahu contohnya kah Bondan,”

“Ada misalnya Indonesia Menanam, Indonesia Mengajar, Indonesia Berbagi dan seterusnya,”

“Kalau di Samarinda adalah gerakan yang tumbuh di atau dari sosial media?”

“Coba kamu lihat page facebook Gerakan Memungut Sehelai Sampah Skm,”

Dan kemudian Mustofa mulai sibuk dengan smartphone buatan China yang meski belum lama sudah mulai membuat Mustofa jengkel karena touchsreennya sering tidak sensitif.

“Wah hebat memang ini,” ujar Mustofa.

“Apanya yang hebat Mumus?”

“Isi postingannya … ya pantas kalau ini bisa mempengaruhi warga lain untuk ikut merasakan pungut sampah di Sungai Karang Mumus,”

“Nah itu yang disebut kekuatan gambar dan narasi Mumus,”

“Iya ya orang sering bilang, gambar itu bisa bercerita, satu gambar itu bisa berisi lebih dari seribu kata-kata,”

Pencapaian oleh GMSS SKM begitu Gerakan Menungut Sehelai Sampah Skm kerap disingkat menginspirasi Mustofa untuk menjadi bagian dari gerakan kekinian, gerakan yang multimedia, multichannel, multitasking dan kalau perlu untuk menunjukkan multitalent.

“Kita bisa bikin apa ya Bondan?”

“Ya manfaatkan internet, sosial media secara sehat,”

“Tara..ra…. ,”

“Apa itu Mumus, belum ada aplikasi Tara ..ra…,”

“Aku mau bikin RedUp,”

“Apa itu …habis bensin lalu redup?”

“Bukan Bondan, itu singkatan dari Rekam (/foto), Edit dan Upload,”

“Weh, keren itu Mumus. Tapi apa maksudnya,”

“Begini kita ajak siapa saja, terutama anak-anak seumuran kita yang memakai smartphone untuk merekam atau memotret apa saja yang mereka temui di Sungai Karang Mumus, lalu kita minta mereka untuk memilih mana yang terbagus, atau mengedit videonya jadi rangkaian video pendek, menyiapkan narasi lalu mengupload ke akun sosial media mereka,” terang Mustofa.

“Betul …. bagus itu jadi di sosial media akan beredar banyak kontent tentang Sungai Karang Mumus,”

“Iya kalau hari-hari selalu ada postingan soal Karang Mumus pasti akan menarik perhatian banyak pihak, ya terutama pemerintah atau pihak yang bertanggungjawab terhadap Sungai Karang Mumus,”

“Setuju aku Mumus, selama ini kan Sungai Karang Mumus cuma jadi bahan berita sama bahan upacara, cuma ramai-ramai didatangi tapi nda pernah benar-benar diurusi,”

“Nah, itu jadi fokus kita untuk mengajak teman-teman lainnya berpartisipasi dalam RedUp adalah menyampaikan pesan agar Sungai Karang Mumus itu diurusi,”

“Iya Bondan, Sungai Karang Mumus ini akan sehat kembali kalau banyak orang yang kemudian gila urusan, gila mengurusi Sungai Karang Mumus,” ujar Bondan.

“Iya Sungai Karang Mumus memang butuh orang gila, karena orang waras biasanya cuma senang memberi nasehat dan gemar mengobral kata, saya dukung, bagus ini, atau kalau di sosial media cuma suka kasih jempol dan ketik up,”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here