Setiap akhir pekan Mustofa selalu meluangkan waktu untuk berperahu ke arah hulu Sungai Karang Mumus. Dia pergi kesana untuk bermain di pondok Kai Hamzah, seorang nelayan sungai yang masih setia memasang tempirai di rerumputan yang tumbuh pada sepanjang pinggiran sungai.

Sebenarnya tidak banyak yang diperoleh oleh Kai Hamzah. Ikan yang tertangkap umumnya adalah ikan Salap kecil-kecil, terkadang ada Puyau, Sepat, Haruan dan lain sebagainya. Meski hasil tangkapannya tak seberapa namun Kai Hamzah terus setia menjalankan profesinya karena tak mungkin bertukar profesi kala umurnya sudah senja.

“Kai dapat banyak kah hari ini?”

“Biasa …sedikit saja,”

“Berapa Kai?”

“Tadi ada yang beli … kai jual semuanya 35 ribu saja,”

“Siapa yang beli tadi?”

“Sepertinya rombongan, ada beberapa perahu. Bajunya bagus-bagus dan pelampungnya baru-baru.”

“Oh, wisatawan mungkin ya Kai?”

“Sepertinya begitu karena Kai difoto-foto,”

-000-

“Mumus, kalau kamu susur sungai ajak-ajaklah aku ini,” pinta Bondan.

“Susur sungai bagaimana?”

“Ya berperahu ke arah hulu sana,”

“Oh, itu berperahu saja bukan susur sungai. Tahulah artinya susur sungai?”

“Ya itu berperahu melalui sungai untuk lihat-lihat sungai,”

“Salah kamu Bondan, susur sungai itu tidak selalu lewat sungai, justru susur sungai yang benar itu lewat darat, melihat sungai dari darat, dari pinggirnya,”

“Lalu apa bedanya susur sungai dengan wisata sungai?”

“Ya bedalah Bondan, susur sungai itu untuk mengenali karakter sungai, masalah sungai, identifikasi species dan seterusnya,”

“Kalau wisata?”

“Ya senang-senang lah, melihat-lihat sungai tapi di permukaan, tidak menyelami apa yang tidak terlihat. Maka kalau wisata biasanya kita mengenali masalahnya secara dangkal,”

“Contohnya Mumus?”

“Ya biasa hanya akan mengenali soal kebiasaan penduduk membuang sampah, rumah menjorok ke sungai, atau jamban di sungai,”

“Lalu kalau susur sungai?”

“Susur sungai itu melihat sungai sebagai sebuah sistem, baik sistem ekologi, hidrologi, morfologi, ekonomi, kultural dan kebijakan pembangunan,”

Bondan sesungguhnya tak paham soal perbedaan antara wisata dan susur sungai seperti yang diterangkan oleh Mustofa. Menurut sama saja toh dua-duanya sama saja naik perahu dan kemudian
perahu berjalan menyusuri sungai.

“Kamu pasti belum paham bedanya kan. Begini susur sungai itu dilakukan oleh mereka yang ingin mengenal sungai lebih dalam untuk memperoleh informasi dan pengetahuan yang berguna untuk membantu mengurai masalah sungai,”

“Jadi susur sungai hanya dilakukan oleh mereka yang profesional?”

“Mungkin begitu karena butuh orang yang bisa mengenali vegetasi di pinggir sungai, biota di sungai, kontur sungai, kualitas air sungai, kedalaman sungai dan masih banyak lagi,”

“Oh paham aku sekarang,”

“Nah, kalau kamu ngajak aku berperahu ke hulu sana itu bukan susur sungai tapi main-main,” ujar Mustofa sambil tertawa. Bondan pun ikut-ikutan tertawa tanpa merasa terhina.

“Jadi kapan kita susur sungai?” tanya Bondan sambil tertawa.

“Pertanyaannya kamu mau mengamati apanya?”

‘Aku mau menghitung jumlah jamban di sungai sama jenis usaha kecil yang membuang limbahnya langsung ke sungai,”

“Nah, kalau begitu boleh,”

“Kalau kamu mau apa Mumus?”
“Aku mau tanya-tanya apakah masih ada buaya di Sungai Karang Mumus apa tidak,”

“Kalau buaya masih banyak lah Mumus,”

“Iya buaya darat kan maksudmu,”

Lagi-lagi Mustofa dan Bondan tertawa terbahak-bahak.

Cerita Sungai Karang Mumus memang tak bisa lepas dari buaya. Sampai saat ini masih bisa ditemukan kebiasaan orang melarung makanan untuk memberi makan buaya. Konon juga penamaan Karang Mumus dikaitkan dengan banyaknya buaya di muara. Hingga apapun yang jatuh selalu jadi rebutan buaya, meski itu hanya batu sekalipun.

“Oh, iya ada cerita tentang kerajaan buaya di Sungai Karang Mumus, buaya kuning yang bisa jadi manusia karena asalnya dari manusia,” ujar Bondan.

“Lah, darimana kamu dapat cerita itu Bondan?”

“Ada kok cerita Bu Bidan yang diminta tolong untuk membantu kelahiran di Kerajaan Buaya,”

“Iya kah?”

“Begitu memang ceritanya. Ada orang malam-malam ajak Bu Bidan itu menolong kelahiran anaknya. Bu Bidan dibawa naik perahu, perahunya kencang lalu sampai di rumah besar, megah. Waktu Bu Bidan menolong perempuan melahirkan ternyata yang lahir buaya,” kisah Bondan.

“Nah setelah menolong Bu Bidan diantar pulang. Sampai dirumah orang-orang rumahnya bilang Bu Bidan hilang entah kemana selama sehari semalam,” pungkas Bondan.

“Nah kira-kira disebelah mana Kerajaan Buaya itu, Bondan?”

“Waduh, ya nggak ada yang tahu lah Mumus,”

“Kalau begitu kapan kita susur sungai untuk mencari Kerajaan Buaya Kuning itu?”

“Kamu aja duluan … aku nyusul belakangan,”

“Kalau susur sungai model begitu itu, yang paling pantas memimpin adalah Kanjeng Dimas,” ujar Bondan.

“Pas memang Kanjeng Dimas itu jadi raja di Kerajaan Buaya,”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

20 − 6 =