Kalo dulu di Samarinda banyak lahan kosong yang dibiarkan, tidak dijadikan lahan bertanam atau berladang kemungkinan besar lahan itu adalah tanah rawa-rawa, baik rawa permanen maupun pasang surut.

Lahan seperti ini tentu saja sulit untuk dijual satu hamparan terkecuali kemudian diuruk untuk kemudian dijadikan area perumahan. Cara lain untuk menjual lahan seperti ini adalah menunggu kemarau panjang, saat semak-semaknya bisa dibabat dan kemudian dibakar lalu dipetak-petak dan dijual sebagai tanah kaplingan. Dan masing masing pembeli kapling dengan inisiatif sendiri menguruk tanah kaplingannya jika ingin membeli rumah.

Namun sejatinya model jualan kapling tidak hanya pada tanah rawa melainkan tanah-tanah lainnya.yang ukurannya luas dan sulit mencari pembeli yang mau membeli antero atau keseluruhan.

Dan kelak jika tanah kaplingan yang ukurannya makin mengecil hingga rata rata 10 X 12 meter kemudian dibangun rumah maka lokasi kaplingan itu akan menjadi permukiman yang rumahnya saling berdekatan dan tak tersisa tanah terbuka yang bisa ditanami pohon besar.  Tanah yang tersisa pun lama.kelamaam akan diperkeras dengan semen agar tak becek. Jadi kalaupun di rumah itu ada tanaman maka umumnya tanaman dalam pot.

Ukuran tanah yang kecil dan hampir habis terbangun untuk rumah, akhirnya tak tersedia garasi jika pemilik rumah membeli mobil. Mobil kemudian akan diparkir di pinggir jalan depan rumah dengan cara menutup saluran air agar  mobil bisa diparkir diatasnya dan tak terlalu menghalangi jalan.

Kondisi seperti ini kemudian terjadi di hampir seluruh penjuru Kota Samarinda. Peralihan fungsi lahan basah atau rawa rawa dan lahan dengan tutupan vegetasi menjadi kaplingan dengan ukuran tanah yang kemudian habis terbangun membuat air hujan yang turun sebagian besar menjadi air permukaan.

Run off atau air permukaan kemudian menjadi air liar yang mencari tempat berkumpul dan mengenang menunggu masuk ke dalam aliran sungai.

Hilangnya ruang tampung air sementara yaitu rawa-rawa membuat air tertampung atau tergenang pada lokasi yang menurut kita tak semestinya digenangi air. Dan genangan air pada tempat yang tak semestinya sehingga menganggu atau bahkan membuat kita menderita kemudian kita sebut sebagai bencana banjir.

Pada beberapa tempat di kota Samarinda yang disebut genangan air tidak pada tempatnya bisa terjadi setiap kali hujan, tak perlu menunggu hujan lebat berhari hari. Namun hampir seluruh tempat di area datar atau perlembahan Kota Samarinda akan tergenang jika hujan turun berturut turut dalam waktu 3 hari.

Andai setiap hari turun hujan paling tidak satu atau dua jam selama.3 hari berturut sungai dan saluran air akan penuh dengan air. Sehingga air dari daratan akan sulit masuk ke sungai atau saluran air dan akan menimbulkan genangan, genangan juga akan terjadi karena luapan saluran air dan sungai yang tak mampu menampung besarnya jumlah air permukaan.

Saluran air, got, parit atau drainase yang saling terhubung sebenarnya bisa menjadi tempat tampungan air sementara. Namun diperlukan saluran yang lebar dan dalamnya cukup. Mulai dari tingkatan saluran primer, sekunder hingga tersier.

Hanya saja  untuk mewujudkan saluran drainase seperti ini juga bukan soal yang gampang karena yang disebut sempadan jalan, sempadan parit, sempadan bangunan semua telah dilanggar.

Memperbesar, memperlebar dan menambah saluran air untuk meningkatkan konektifitas antar saluran air menjadi sulit untuk dilakukan karena akan terhambat oleh ketersediaan lahan. Sebab lahan yang telah  diokupasi atau diklaim dan dimiliki oleh orang per-orang tentu saja akan meminta ganti rugi. Sementara menganti rugi sulit dilakukan entah karena ketersediaan anggaran maupun karena legalitasnya.

Masalah seperti ini sudah berlangsung selama.bertahun tahun. Seiring dengan kondisi saluran air lama yang makin lama makin memburuk dan semakin tak memenuhi syarat sebagai saluran penampung dan pembuang air.

Bukaan lahan dan perkerasan lahan dengan permukaan yang tak menyerap air juga terus bertambah sehingga koefisien air permukaan makin meninggi. Itu berarti resiko banjir semakin tahun akan semakin membesar.

Dan ini terbukti dengan munculnya status di media sosial yang menunjukkan banyak orang di berbagai lokasi mengalami pengalaman kebanjiran untuk pertama kali setelah bertahun tahun tinggal di daerah itu. Sedangkan yang terbiasa terkena banjir mengunggah status tentang permukaan air banjir yang makin meninggi.

Banyaknya titik banjir rutin dan baru akan membuat langkah untuk mengatasi atau menanganinya menjadi cenderung langkah darurat, penyelesaian jangka pendek dan bersifat parsial serta berpotensi memperparah keadaan di masa depan.

Pemanasan global juga membuat penguapan air menjadi semakin cepat dan banyak. Hal mana menyebabkan timbulnya potenai hujan yang sangat lebat.

Konon cara terbaik untuk memitigasi pemanasan global adalah dengan menanam pohon, namun bagaimana bisa menanam pohon di permukiman jika tak ada tanah tersisa, halaman dan juga pinggir jalanan sudah habis disemen.

Padahal kita semua tahu, salah satu musuh air adalah semen. Sementara kita tak ingin air mengenang di tempat yang tak semestinya namun kita rajin menyemen, mabuk semen atau bahkan jangan-jangan sudah berotak semen.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 − twelve =