Paling tidak setahun sekali, Mustofa sekeluarga akan mudik ke kampung halaman mamaknya. Disana masih ada kakek dan nenek Mustofa. Seminggu sebelum lebaran biasanya mereka sudah berada di rumah kakek dan nenek.
Lama tidak bertemu membuat kakek dan neneknya sering memberondong Mustofa dengan berbagai nasehat dan wejangan. Dan malam hari ketika Mustofa dan adiknya sudah masuk kamar untuk tidur, kakek dan nenek kerap menggunakan kesempatan untuk memberi nasehat kepada bapak dan mamak
Mustofa perihal bagaimana mendidik anak-anak.
“Anak-anak itu titipan, jangan jadikan mereka menjadi apa yang kalian inginkan. Jadikan mereka sebagai diri mereka sendiri,”
“Iya dan jangan mengharap balasan apa-apa atas apa yang kalian lakukan untuk mereka. Berikan yang lebih baik dari apa yang dulu orang tua kalian berikan pada kalian. Apa yang terbaik yang kalian lakukan untuk anak-anak, itu balasan terhadap apa-apa yang dulu orang tua kalian berikan,”
Begitu kakek dan nenek memberi pesan kepada bapak dan mamak Mustofa bergantian. Mendengar pesan kakek nenek pada bapak mamaknya, tidur Mustofa malam itu menjadi nyenyak.
-000-
Kebiasaan kakek Mustofa belum berubah. Setiap pagi dan sore masih selalu pergi ke sungai untuk mandi. Dan tentu Mustofa dan Roni Mastiko adiknya tak menyia-nyiakan kesempatan untuk turut pergi ke sungai.
Ada yang berubah di sungai. Selain jembatan panjang yang sebenarnya adalah rel kereta api yang makin lebar karena program double track PT KAI, pinggiran sungai jauh lebih hijau dari sebelumnya. Tebing- tebing sungai tidak nampak lagi karena tertutupi oleh tanaman bambu yang rimbun.
Air sungai masih tampak coklat, warna putih air hanya ketika sungai menabrak bebatuan dan menimbulkan riak dan percikan. Namun tak nampak sampah di permukaan, tampilan sungai jauh lebih bersih daripada saat Mustofa datang terakhir kali.
“Kek, tebing sungai sudah tidak kelihatan,”
“Oh, iya, sudah ditanami, biar tidak longsor,”
“Siapa yang tanami kek, pemerintah kah?”
“Bukan, yang tanam ya masyarakat,”
“Hebat ya, nggak seperti sungai Mumus disana. Habis pepohonan disamping kanan-kirinya,”
“Kita disini sudah belajar, mengingat lagi apa yang disampaikan para tetua dahulu. Mereka bilang sungai adalah kehidupan,”
“Di kitab suci, sungai dibilang seperti surga kek,”
“Iya, tapi kenyataannya sungai indah kalau disekelilingnya nggak banyak manusia. Begitu banyak manusia sungai celaka,”
“Kok bisa begitu kek?”
“Ya kamu kan bisa lihat sendiri, kalau ada banyak orang, sungai dirampok, bukan hanya badannya tapi juga isinya. Ikannya bukan dipancing atau dijala, tapi disetrum atau diracun,”
“Iya kek semua hal yang tidak diperlukan lagi juga dibuang ke sungai,”
“Maka jadilah banjir, pemandangan tidak sedap, juga bau tidak enak, dan ini yang kemudian jadi pelajaran”
“Wah, Samarinda banjir terus kek, tapi malah dibilang biasa kalau Samarinda itu banjir. Kan artinya Samarinda, itu sama rendah, permukaan tanahnya sama rendah dengan permukaan sungai, jadi kalau air sungai naik, daratan Samarinda banjir,”
Dan kemudian Mustofa dan kakeknya terlibat dalam pembicaraan serius di tepian sungai. Kakeknya menerangkan bahwa sesuatu akan jadi ilmu atau pelajaran jika orang menanggapinya dengan rendah hati.
“Ilmu itu seperti air, akan mengalir menuju tempat yang lebih rendah. Dan begitu pula ilmu, dia akan menjadi pelajaran bagi mereka yang rendah hati,” ujar kakek Mustofa.
Kakek Mustofa menerangkan bahwa hidup sesunguhnya adalah perpindahan dari satu masalah ke masalah lainnya. Kehidupan bergerak karena masalah, gerak hidup adalah mengatasi masalah. Dan selalu masalah akan semakin lebih berat.
“Jadi masalah itu adalah ilmu, karena untuk mengatasi masalah perlu pengetahuan. Dengan berkembangnya masalah pengetahuan pun akan berkembang, lahir banyak pemikiran, model
penyelesaian dan teknologi untuk membantu,” terang kakek Mustofa.
“Nah, kalau ada sebuah masalah dan bertahan begitu terus, maka yang punya wewenang dan tanggungjawab jelas tidak belajar, tidak berilmu,” lanjut kakek Mustofa.
“Jadi untuk menjadi orang berilmu itu bagaimana kek?”
“Ya itu tadi Mumus, kamu pertama mesti rendah hati, mengakui diri kalau kurang berilmu, mau membuka diri, kalau kamu menutup diri, membutakan hati ya pasti kamu tak akan berilmu,”
“Jadi ilmu itu perubahan ya kek?”
“Betul Mumus, anak-anak kekinian bilang move on,”
“Iya kek berubah itu dari bodoh jadi pintar, jahat jadi baik, kasar jadi lembut, begitu kan kek berubah itu,”
“Pintar kamu Mumus,”
“Nah kalau Kota Samarinda dari dulu banjir lalu masih terus banjir itu apa artinya kek?”
“Harusnya kamu tahu sendiri jawabannya Mumus,”
“Oh ya kek, kalau Sungai Karang Mumus, dulu kan bagus lalu sekarang tambah lama tambah buruk itu artinya apa?”
“Mun urang Banjar bilang itu bunggul, bontok bin tambuk,” ujar kakek Mustofa berlogat Banjar.
“Bah lah …. kakek, kasar itu eh, siapa yang kakek maksud”
“Semua …. seberataan yang bertanggungjawab pada sungai itu,”
Ingatan Mustofa kembali ke rumahnya di tepian Sungai Karang Mumus. Meski belum terlalu banyak urusan karena masih anak-anak, Mustofa tahu persis pinggiran Sungai Karang Mumus memang tidak diurus. Rumah terus tumbuh, bahkan ada bangunan permanen yang hampir-hampir menyentuh sungai.
“Seperti tidak ada pemerintah dan pemerintahan disana,” kata Mustofa lirih.
“Apa kamu bilang Mumus,”
“Enggak kek …. bagus sekarang jalan keretanya,” Mumus berusaha mengalihkan pembicaraan.
Namun kakek Mustofa bukan golongan yang mudah berpindah-pindah tema perbincangan seperti yang terjadi di warung-warung kopi. Kakeknya selalu membicarakan segala sesuatu sampai tuntas.
“Jadi gampangnya kalau kamu orang berilmu itu maka kamu harus seperti pemanah,”
Melihat Mustofa bingung kemudian kakeknya melanjutkan penjelasan.
“Pemanah itu sekali melepas anak panah maka tak mengharap anak panah itu kembali,”
“Lha iya kek, kalau kembali berarti senjata makan tuan,”
“Maksudnya itu begini, kalau kamu berilmu lalu kamu membaktikan ilmumu itu artinya kamu melepaskan semua yang kamu ketahui, dan tak mengharap ada kembalian,”
“Jadi orang berilmu itu orang pemberi,”
“Ya begitu, kalau kamu memberi habis maka kamu akan mencari lagi, itu namanya berkorban”
“Oh, iya yang bisa berkorban kan yang punya kelebihan,”
“Nah kamu sudah paham Mumus, ilmu itu kelebihan. Kamu memperolehnya dengan pengorbanan, kurang tidur, belajar tekun, tidak hura-hura dan lain sebagainya. Nah, kalau kamu berikan kelebihan itu maka sama artinya berkorban,”
“Jadi masalah banjir dan Sungai Karang Mumus itu bagaimana kek,”
“Ya itu mereka yang berlebih dan berilmu serta berwenang dan berkuasa, dalam urusan pengorbanan selalu bilang “entar-entar’,”
“Padahal mestinya gimana kkakekek,”
“Harusnya ‘enter-enter’ atau kata Jokowi ‘kerja-kerja-kerja’,”
“Begitu to kek,”
“Begitulah memang sebuah ilmu, semua dimulai dari kerendahan hati, lalu pengorbanan dan puncak dari semua ilmu itu ikhlas,”








