Masih ingatkan dengan Bowo Alpenliebe?. Pemilik nama asli Bowo Mordado ini mendadak terkenal karena bermain aplikasi Tik Tok. Bowo yang kemudian menjadi selegram, bertambah followernya itu ternyata juga mengalami banyak bully-an dan hate speech karena aksinya di Tik Tok.

Populer lewat jalur Tik Tok membuat Bowo bisa melakukan meet and greet dengan para pengemarnya, pertemuan yang berbayar dan selalu dibanjiri peserta.

Tik Tok sempat surut dan kemudian ramai lagi di akhir tahun 2019 hingga sekarang. Atas fenomena itu Bowo Alpenliebe yang tak lagi jadi tik tok-ers mengatakan agar mereka yang sedang terserang deman Tik Tok membuat video yang lebih bermakna. Sesuatu yang lebih kreatif dan bagus begitu katanya.

Dan apa yang diharapkan oleh Bowo ternyata terbukti di Amerika Serikat, bukan di Indonesia. Seorang pengguna Tik Tok yaitu Marry Jo Laupp, mengunggah sebuah video berisi ajakan untuk membuat acara Donald Trump “sepi pengunjung’.

Ceritanya Presiden Donald Trump berencana mengadakan kampanye publik di Tulsa Oklahoma. Trump butuh pertemuan itu untuk menaikkan kembali elektabilitasnya yang merosot karena kebijakan yang amburadul dalam menangani pandemi Covid 19 dan juga brutalitas polisi. Dihajar oleh berbagai demo, Trump butuh mengembalikan dukungan dari kaum konservatif.

Rencana kampanye diumumkan dan peserta yang ingin ikut diminta mendaftar melalui formulir online. Manajer Kampanye Trump pada lima hari sebelum hari H dalam twit-nya mengaku kaget melihat antusias orang yang ingin datang ke kampanye Trump. Konon yang ingin datang melampaui kapasitas stadion tempat acara akan dilaksanakan.

Tapi tak dinyana pada hari pelaksanaan kampanye ternyata yang datang hanya sekitar 6.200 orang, itupun termasuk panitia dan media, padahal kapasitas stadion itu bisa menampung lebih dari 20 ribu orang.

Belakangan ketahuan, yang membuat Trump jadi pecundang ternyata adalah pengguna Tik Tok dan pengemar K-Pop di Amerika Serikat. Mereka memobilisasi diri untuk mendaftar ke kampanye itu, tapi kemudian tidak datang sehingga tiket onlinenya tidak bisa dipakai orang lain. Biasa begadang di internet membuat kaum tik tok-ers dan K-Popers mampu mempecundangi para penasehat ahli Donald Trump. Dan membuat Trump dipermalukan secara politik bukan oleh lawan politiknya.

Donald Trump yang kerap ‘nge-prank’ publik Amerika dan dunia akhirnya kena prank dari generasi yang kerap dipandang sebagai anak-anak alay dan apolitik.

Kerja-kerja berjejaring anak-anak Tik Tok dan pengemar K-Pop yang memakai akun-akun alter untuk memuji muji Donald Trump dan menghapus sehari sebelum hari H membuat paa pembantu Trump tidak berhasil mengendus rencana sabotase itu.

Dan ketika rencana sabotasenya berhasil para pengemar Tik Tok dan K Pop kemudian beramai-ramai mengunggah video perayaan.

Adakah ini pertanda bahwa anak-anak Tik Tok dan K Pop telah tumbuh menjadi kekuatan politik, kelompok yang bisa memobilisasi massa secara organik dan mempengaruhi dunia nyata tanpa mesti membakar ban, berteriak-teriak di jalanan, berkumpul dalam jumlah besar tanpa protokol New Normal dan seterusnya.

Alexandria Ocasio-Cottez, politisi muda partai Demokrat Amerika menyebut kelompok ini sebagai generasi zoomer untuk memperlawankan generasi baby boomer yang mayoritas merupakan pendukung Trump.

Di Amerika Serikat, anak-anak pengemar K Pop memang mulai mengorganisir sesama pengemar dan kemudian berkembang menjadi pendukung agenda progresif untuk melawan kelompok sayap kanan yang selama ini unggul di internet. Pasukan siber kelompok sayap kanan selama ini kerap menjadi penyebar propaganda rasis dan melabeli lawan debat mereka sebagai ‘SJW” atau Social Justice Warrior.

Dan anak-anak Tik Tok serta pengemar K Pop hadir sebagai kekuatan baru, bergerak bak tentara online yang populasinya amat besar dan tak berbayar. Berbeda dengan aktivisme internet atau media sosial yang kemudian selalu mengubah pesan menjadi aksi jalanan atau demonstrasi fisik, anak-anak Tik Tok dan K Pop tetap berada di ruang digital dan nyatanya unggul meski tanpa mengerahkan massa.

Tentu saja masih harus ditunggu apakah aksi anak-anak Tik Tok dan K Pop di Amerika Serikat ini kelak akan bertahan dan muncul kembali menjadi gerakan yang bisa mematahkan langkah seseorang calon presiden di kotak suara. Meski belum jelas namun yang patut diperhitungkan lanskap politik di ruang digital nampaknya sudah berubah dan segera muncul lanskap pertarungan politik digital baru yang selama ini dikendalikan oleh buzzer dan pasukan siber yang berbayar.

Apa yang terjadi di Amerika Serikat, kaum Tik-Tok-ers dan K Popers yang tentu saja fasih digital berpeluang untuk membentuk arus baru dalam politik massa. Mereka mulai melakukan aktivisme politik secara organik dan barangkali akan berkembang menjadi alat mobilisasi yang bakal mengalahkan model mobilisasi lain yang berbau ‘money politics’.

Bagaimana dengan Indonesia?. Kembali ke harapan Bowo, yaitu buatlah video (cuitan, status, dll) yang lebih kreatif dan bagus (berguna).

kredit foto : Kon Karampelas – unsplash.com