“Mus ..Mumus”
Sebuah panggilan disertai tepukkan di bahu membuat Mustofa terkejut.
“Kamu dipanggil Kepala Sekolah,”
“Haah … apa?”
Lantaran terjaga dari lamunannya, apa yang disampaikan oleh temannya tak didengar baik oleh Mustofa.
“Ka..muuu …… Di..pa …nggil Ke..pa..la Se..kolaahhhh,”
Ulang temannya sambil berbicara perlahan di dekat telinga Mustofa seolah-olah berbicara kepada orang yang terganggu pendengarannya.
“Kepala Sekolah?”
“Iya ..cepat sana”
Dengan seribu tanya, Mustofa melangkahkan kaki menuju ruang Kepala Sekolah. Dalam bayangannya, dia akan mendapat teguran lagi karena kembali menunggak pembayaran. Soal bayaran sekolah memang Mustofa kerap telat. Bapak dan mamaknya lebih mendahulukan urusan makan minum ketimbang urusan pendidikan. Namun Mumus maklum saja, sebab makan dan minum memang lebih penting daripada sekolah.
Belum juga sampai ke ruangannya, Kepala Sekolah ternyata sudah menyambut di depan pintu.
“Sini … bapak ada perlu,”
Dan jantung Mustofa semakin berdegup.
“Gawat ini pasti masalah besar kalau sampai beliau menyambut di depan ruangan,” guman Mustofa dalam hati.
Setengah takut-takut, Mustofa masuk ke ruangan Kepala Sekolah. Dia menundukkan muka tak berani menatap wajah Kepala Sekolah yang sebenarnya jauh dari menyeramkan.
“Kamu nunggak bayar uang sekolah lagi ya Mus?”
Dan Mustofa hanya diam, semakin menekuk muka. Dia sama sekali tak menjawab pertanyaan itu, sebab apapun jawabannya itu semua hanyalah alasan dan tetap tak akan menolong.
“Kamu tak perlu membayar tunggakan itu, tapi ada syaratnya,”
“Iya kah pak, apa syaratnya,” sahut Mustofa dengan cepat begitu mendengar peluang pengampunan atas hutang iuran pendidikan di sekolahnya.
“Besok temani bapak menyusuri Sungai Karang Mumus,”
Ingin rasanya Mustofa berteriak “Keceng”. Apa susahnya susur Sungai Karang Mumus, sungai yang dikenalnya sejak kecil. Semua hal di Karang Mumus telah akrab dengan Mustofa, termasuk baunya dikala surut dan menghitam airnya.
Mustofa menyanggupi permintaan Pak Kepala Sekolah dengan riang gembira.
“Sampai ketemu besok,” ujar Kepala Sekolah yang kemudian mengambil smartphonenya dan memainkan jemari di layarnya sebagai kode mempersilahkan Mustofa meninggalkan ruang Kepala Sekolah.
-000-
Hari Minggu, pagi-pagi sekali Mustofa sudah bangun dan bersiap hendak pergi. Mamaknya tentu saja heran dengan kejadian tak biasa itu. Sebab hari Minggu adalah hari kebesaran Mustofa, karena akan meneruskan tidurnya hingga matahari menyala membakar seng rumah keluarganya yang mulai merapuh.
“Mimpi apa kamu semalam?. Pagi-pagi sudah mandi dan rapi?”
“Mimpi kencing di celana Mak,” jawab Mustofa sekenanya. Dan mamaknya juga tak terlalu peduli dengan jawaban itu, sebab semakin ditanya maka jawabannya akan semakin jauh dari kebenaran. Mamaknya memilih menelisik kasur, sebab jangan-jangan Mustofa memang ngompol di alas tidurnya.
Mustofa pun melangkahkan kaki keluar dari rumah tanpa pamit. Itu salah satu kebiasaan buruknya, kelakuannya seperti burung, pergi tak pamit, pulang tak permisi. Kebiasaan itu muncul karena Mustofa tak pernah dicari-cari walau tak pulang-pulang. Maka disimpulkan olehnya untuk apa juga pamit jika bapak dan mamaknya tak mencari-cari dirinya bila lama tak kelihatan di rumah.
Sungai Karang Mumus masih sepi ketika Mustofa memarkir ketinting bapaknya di dekat jembatan. Belum ada perahu pasir dan sisa perahu nelayan yang melintas Sungai Karang Mumus membelah sepinya pagi. Tak lama Kepala Sekolah dan beberapa teman sekolahnya muncul. Kepala Sekolah Mustofa memang dikenal sebagai pecinta lingkungan. Tak heran jika kemudian sekolahnya dikenal sebagai sekolah hijau, bukan karena dindingnya dicat hijau, melainkan lingkungan sekolahnya dipenuhi dengan aneka tanaman yang menghijau.
Kepeloporannya dalam menghijaukan lingkungan sekolah membuat Kepala Sekolah Mustofa dijadikan sebagai koordinator Sekolah Adiwiyata. Adiwiyata setahu Mustofa terdiri dari dua kata yaitu Adi dan Wiyata. Adi artinya agung, besar, ideal dan sempurna. Sementara Wiyata berarti tempat dimana seseorang mendapat ilmu pengetahuan, norma dan etika dalam berkehidupan sosial. Jadi Adiwiyata berarti tempat yang baik dan ideal dimana seseorang bisa memperoleh ilmu pengetahuan, berbagai norma dan etika yang dapat menjadi dasar kehidupan yang lebih sejahtera dan menuju pada pembangunan yang berkelanjutan.
Adiwiyata dikenal sebagai sebuah program yang mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Dan susur Sungai Karang Mumus dimaksudkan oleh Kepala Sekolah untuk menelisik lebih jauh kehidupan di sepanjang sungai yang akan dipakai sebagai pembelajaran di sekolahnya, Sekolah Adiwiyata.
Mustofa mulai membawa perahu ketinting Bapaknya yang suaranya memekakkan telinga. Mereknya memang bukan Honda atau Yamaha yang merupakan jenis mesin ketinting ternama. Perlahan ketinting berjalan menyibak aliran sungai yang tengah bergerak surut. Mustofa harus memainkan handle untuk melakukan manuver menghindari gerombolan sesampahan yang bergerak ke arah muara. Sesekali bunyi mesin seperti batuk-batuk, itu pertanda ada gangguan di kipas. Kipas menjadi tak lancar berputar, kemungkinan besar terlilit plastik yang melayang dalam air sungai.
“Wah, ada benteng sampah Pak,” teriak Mustofa.
Dan terpaksa laju ketinting dilambatkan sebab dalam hitungan Mustofa tak mungkin ketinting digeber untuk menembus tumpukan sesampahan yang memanjang memenuhi badan sungai. Dan Kepala Sekolah kemudian memimpin anak muridnya menyibak sesampahan agar sungai bisa dilalui. Butuh waktu hampir 30 menit bagi rombongan Pak Kepala Sekolah dan muridnya untuk membebaskan diri dari benteng sampah.
Hambatan ini bukan sekali melainkan 3 kali terjadi. Alhasil jarak tempuh yang diperkirakan hanya 1,5 jam menjadi berlarat-larat. Sampai di Muang Ilir, Pak Kepala Sekolah dan muridnya yang sudah kelaparan serta kelelahan persis ketika matahari menyorot ubun-ubun kepala. Waktunya makan siang.
Setelah memarkir perahu ketinting di dekat jembatan, Mustofa berjalan ke arah warung. Pak Kepala Sekolah memanggil Mustofa dan bertanya lirih “Ada ATM kah disini?”
“Apa ATM?” seru Mustofa
“Hush … Mumus nda usah teriak-teriak gitu,”
“Ada Pak, tapi mesti mbalik sedikit kesana,” kata Mustofa menunjuk ke arah hilir.
Pak Kepala Sekolah kemudian mengambil kertas mencatat sesuatu, lalu mengambil dompet dan mengeluarkan kartu. Diserahkannya kartu dan catatan kecil ke Mustofa.
“Kamu pergi sana dan ambilkan,”
Ha… ha… ha… pecah tawa Mustofa tak peduli lagi dengan sopan santun. Mengetawakan Kepala Sekolah di jaman seperti ini bisa membuat dikeluarkan dari sekolah tanpa surat pindah.
“Kenapa kamu ketawa, Mumus?”
“Bapak suruh mengambil uang?”
“Lha iya lah… tadi uang sisa di dompet Bapak kasih ke anak bapak,” ujar Pak Kepala Sekolah.
“Wah, Pak ATM di Sungai Karang Mumus ini lain,”
“Maksudmu apa Mumus?”
“ATM sini ini nggak keluar uang pak, soalnya cemplung,”
Pak Kepala Sekolah penasaran dengan apa yang disampaikan Mustofa dan mencoba menerka-nerka. Sementara itu Mustofa masih mati mati tertawa.
“Jadi apa maksudmu Mumus?” tanya Pak Kepala Sekolah tak paham kenapa Mustofa tertawa seperti orang gila saat mereka bicara ATM.
“ATM disini itu Pak, artinya Anjungan Tai Mandiri. Dan disana berderet Pak, banyak jumlahnya,”








