Pandangan kita terhadap bumi dipengaruhi oleh masa sejarah manusia yang masih pendek. Bumi yang terbentuk dalam rentang waktu milyardan tahun lalu diringkas dalam berbagai bentuk cerita, legenda, mitos dan lain sebagainya.

Bumi dan segala isinya yang terbentuk lewat proses evolusi, berbagai kepunahan, kejadian yang serupa ‘kiamat’ dipahami secara sederhana. Tercipta begitu saja.

Meski ilmu pengetahuan telah memberikan informasi yang bertumpuk-tumpuk tentang kesejarahan bumi jauh sebelum ada mahkluk hidup apalagi manusia {homo sapiens}, namun hal itu tak banyak mempengaruhi sistem pengetahuan kita tentang bumi.

Bumi sebagai realitas biologi dan kimia kemudian dipandang sebagai dunia, sebuah pandangan khas manusia yang lebih didasarkan pada berbagai kepentingan manusiawi.

Manusia modern, mahkluk berakal budi yang disebut keturunan homo sapiens muncul baru sekitar duaratusan ribu tahun lalu. Jenis manusia lain sebelumnya yang kemudian punah baru ada dua jutaan tahun yang lalu. Keberadaan berbagai jenis manusia yang sudah punah dan yang masih bertumbuh belum ada seujung kukunya keberadaan bumi.

Dalam rentang sejarahnya yang masih pendek, manusia penghuni muka bumi mencatat berbagai kejadian yang mengerikan. Berbagai bencana alam yang kemudian kerap dianggap sebagai pintu menuju akhir bumi.

Setiap kejadian bencana besar selalu membuat manusia berpikir tentang dunia yang akan berakhir, kiamat yang akan datang.

Permasalahan bencana dan lingkungan hidup yang dalam pandangan manusia dianggap semakin memburuk membuat banyak orang khawatir terhadap masa depan bumi.

Sekali lagi pandangan ini amat bias dengan kepentingan manusia. Yang dipikirkan oleh manusia sebagai kiamat adalah bumi yang semakin tidak nyaman untuk didiami oleh manusia. Ada banyak kejadian yang tak mampu dihadapi dengan kekuatan pengetahuan maupun finansial yang telah dicapai oleh manusia.

Manusia yang merasa bahwa bumi tercipta untuknya menjadi begitu lemah di atas tanah yang menjadi harapan dan impiannya.

Kekhawatiran yang bersifat egoistik untuk menyelamatkan kehidupan manusia kemudian memunculkan wajah ‘seolah’ altruistik dalam bentuk slogan-slogan seperti ‘Selamatkan Bumi’.

Ancaman naiknya permukaan air laut dan turunnya tanah membuat kota-kota terancam tenggelam, puncak atau dataran yang terselimuti es mulai mencair, udara menjadi semakin kotor karena polusi. Untuk menjadi nyaman manusia butuh bantuan teknologi, agar tak kedinginan perlu pemanas, agar tak kepanasan perlu pendingin, agar bisa minum air yang menyegarkan perlu mikro dan nano filter.

Dan sayangnya teknologi selalu memerlukan ekploitasi, selain butuh hadware atau perangkat untuk mengerakkannya butuh energi. Proses produksi dan paska pemakaian energi selalu menimbulkan dampak. Dampak yang merusak bumi dan berpotensi membuat bumi semakin tak aman dan tak nyaman untuk manusia.

Manusia berada dalam lingkaran setan permasalahan lingkungan hidupnya.

{ baca juga : Joe Biden Yang Khawatir Jakarta Tenggelam }

Ekologi Dangkal

50 tahun terakhir ini diskusi dan perdebatan tentang seperti apakah tatanan kehidupan diwujudkan sehingga lingkungan hidup lebih berkelanjutan.

Pembicaraan ini dipicu oleh kenyataan bahwa perkembangan manusia dengan segala aspeknya telah menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan hidup di tingkat lokal, regional hingga global.

Maka sejak tahun 1972 dalam konperensi PBB untuk lingkungan hidup diperkenalkan konsep pembangunan berkelanjutan.

Konsepsi ini secara sederhana merumuskan tentang laku kebijakan pembangunan apa yang mesti dipenuhi agar masyarakat bisa melakukan pemenuhan kehidupan saat ini dengan mempertimbangkan kebutuhan generasi mendatang.

Konsep ini lebih bernuansa kebijakan, bagaimana pemerintah atau negara menetapkan regulasi agar pembangunan dalam segala aspeknya tidak menimbulkan kerusakan dan kepunahan yang akan berdampak buruk pada kehidupan saat ini dan masa mendatang.

Sebagai sebuah jalan keluar dan tuntunan perilaku pembangunan konsep ini bias dengan kepentingan manusia terkait dengan sumberdaya alam. Pembangunan sebagai kepentingan manusia harus dilakukan dengan cara optimalisasi atas sumberdaya alam.

Optimalisasi ini dalam bahasa moral diterjemahkan sebagai memaksimalkan manfaat atau dampak baik sekaligus meminimalisir dampak buruk.

Dan selama kurang lebih 50 tahun konsep ini coba dioperasionalisasikan ternyata dampak pembangunan terutama yang sangat menekankan pada ekonomi terus menjadi biang dari kerusakan lingkungan yang semakin parah.

Berbagai upaya yang berhubungan dengan perbaikan lingkungan, kepedulian pada lingkungan dan perlindungan pada lingkungan lebih bercorak sebagai penutup dosa atau pemanis rupa atas kesalahan-kesalahan yang tak kunjung diperbaiki.

Akar persoalan ada pada kedangkalan soal kepentingan ekologis. Kehidupan yang mau dipertahankan, alam yang mau dilestarikan dipandang penting karena bernilai pada manusia.

Manusia perlu mempertahankan kelestarian alam karena kepentingan dirinya sebagai spesies.

Kelemahan pandangan ini meski berbalut pada slogan ‘mengelola sumberdaya alam secara bertanggungjawab’ adalah menempatkan alam tetap sebagai instrumen bagi kebutuhan manusia, sebuah sudut pandang yang sangat bercorak antroposentris.

Antroposentris adalah prinsip-prinsip etik yang menjadi dasar perilaku manusia ditetapkan berdasarkan kepentingan manusia.

Berbasis pada antroposentrisme, sebuah upaya kepedulian terhadap alam seperti penanaman kembali pada area hutan yang ditebangi, atau area tambang yang telah direklamasi hanya akan menghasilkan penampakan yang hijau. Namun hijau itu sama sekali tidak mengembalikan fungsi alamiah yang sebelumnya telah dirusak.

Adalah kenyataan faktual bahwa apa yang diekploitasi akan menghasilkan kerusakan permanen, kerusakan yang tidak bisa dipulihkan. Sehingga menghutankan kembali dengan proyek yang sepenuhnya merupakan campur tangan manusia selalu akan menghasilkan hutan yang jauh berbeda dengan hutan yang sebelumnya dihabisi.

Pemulihan alam semulia apapun jika hanya bertumpu pada tangan manusia maka akan menghasilkan gambaran alam yang dikehendaki oleh manusia. Jadi kalaupun kemudian dianggap ekologis maka itu adalah ekologi versi manusia.

Dan ekologi kemudian menjadi lebih dangkal karena faktor politik. Sebab ekologi politik selalu berbasis pada kepentingan jangka pendek dan kepentingan untuk melanggengkan kekuasaan selama mungkin.

{ baca juga : Kompensasi Ruang Bukan Uang }

Biosentrisme

Mari kita cari adakah pemimpin atau calon-calon pemimpin yang berani dengan tegas mengatakan “Ekonomis itu harus ekologis,”.

Jangankan pemimpinnya, kita sebagai masyarakat biasa saja pasti tidak benar yakin dengan agadium itu. Mengatakan kalimat itu salah-salah malah akan di-bully dan dikatai-katai “Ah, jangan jadi idealis buta,”.

Dunia kita sekarang memang akan menganggap itu tidak masuk akal. Bagaimana mau ekologis jika yang disebut dengan kebutuhan sudah melampaui jauh dari yang kita perlukan. Kebutuhan yang sekarang kita penuhi adalah keinginan. Sesuatu yang tidak sekedar bersifat bio kimia melainkan lebih untuk memenuhi keperluan menegakkan gengsi, harga diri, trend dan lain sebagainya. Yang disebut kebutuhan primer sejatinya kebutuhan tersier keatas.

Di Manado misalnya amat terkenal ungkapan “Biar kalah nasi yang penting tidak kalah aksi,”.

Maka jangan heran jika kemudian kios handphone, show room motor dan toko baju lebih ramai dari pada warung sembako.

Dalam iklim seperti ini meski yang disebut konsepsi pembangunan berkelanjutan, energi hijau dan apapun itu tetap akan bernuansa ekonomi dan ekploitatif terhadap sumberdaya alam. Modusnya saja yang akan berbeda.

Agar lebih nampak peduli pada lingkungan maka perusahaan tambang gencar bicara soal best practise mining dan CSR. Pun juga perusahaan perkebunan yang mengkonversi hutan menjadi hamparan tanaman monokultur, mereka fasih bicara soal Roundtable on Sustainable Palm Oil misalnya.

Tesla yang dipuji-puji sebagai pioneer mobil listrik, tetap saja akan menambang, terutama nikel untuk keperluan penyimpan listrik. Dan meski mobil nanti berbasis listrik bukan berarti konsumsi bahan bakar fosil dan batubara akan menurun, sebab catu daya untuk mengerakkannya masih tergantung pada pembangkit listrik yang digerakkan oleh energi fosil dan batubara.

Bagaimanapun yang disebut dengan teknologi sebagai capaian pengetahuan manusia selalu merupakan pelampauan. Pelampauan yang membuat manusia lebih dari mahkluk lainnya. Dan yang disebut lebih selalu berpotensi untuk menjadi berlebihan.

Persoalan lingkungan yang sudah sedemikian menumpuk, berpuluh tahun diabaikan atau dihadapi dengan cara yang tidak cukup dan tidak benar membuat perlu perubahan radikal dalam cara pandang manusia dalam hubungan dengan alam untuk memenuhi kebutuhannya.

Pandangan ini kemudian disebut dengan biosentrisme, dimana prinsip-prinsip etik dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan hubungan dengan lingkungan didasarkan pada kepentingan mahkluk atau organisme hidup.

Namun pada dasarnya ketika paradigma ini diwujudkan kemungkinan besar juga belum cukup untuk memulihkan alam. Sebab alam terdiri dari yang hidup dan tidak hidup, biotis dan abiotis.

Sehingga diperlukan paradigma radikal yang disebut dengan ekosentrisme dimana prinsip-prinsip etik tentang segala sesuatu didasarkan pada kepentingan bukan hanya organisme tetapi juga dari lingkungan tak hidup yang menunjang keberadaan mahkluk hidup.

Yang punya kepentingan bukan hanya manusia, binatang, tumbuhan, bakteri, virus dan mikroorganisme lainnya namun juga batu, tanah, udara, air dan juga lanskap seperti gunung, lembah, danau, pesisir, gurun, hutan, gua dan seterusnya.

Dengan demikian kita tidak hanya khawatir dan melindungi spesies dari kepunahan melainkan juga punya kekhawatiran yang sama soal apakah bermoral atau tidak ketika kemudian meratakan bukit, mengempur gunung dan kemudian menggali menjadi lubang besar.

Kesetaraan dalam konteks ini bukan hanya antar manusia, atau manusia dengan mahkluk hidup lainnya melainkan dengan keseluruhan biosfer atau disebut dengan egalitarian biosfer. Semua adalah subyek.

Merenungkan lebih dalam soal kekhawatiran pada masa depan bumi yang kemudian memunculkan berbagai slogan berbau ‘Save The Earth’, pandangan egalitarian biosfer sekalipun ternyata belum bebas dari bias kepentingan manusia.

Konsep ekologi sedalam apapun ternyata masih dalam konteks kehidupan yang berbasis daur oksigen.

Maka manusia mengambarkan bumi kiamat adalah ketika daur oksigen punah. Dan ketika semua yang memerlukan oksigen musnah maka kiamat tiba.

Jadi yang disebutkan kiamat adalah kepunahan manusia, akhir peradaban manusia saat ini atau turunan homo sapiens.

Tapi kepunahan manusia bukanlah akhir dari bumi. Sebab bumi telah ada beratus kali lipat lamanya sebelum manusia ada. Bumi telah melewati masa dengan berbagai kepunahan yang kemudian melahirkan kehidupan lainnya.

Andai kemudian manusia punah dan bumi dipenuhi oleh gas metan misalnya, maka akan tiba giliran mahkluk yang bernafas dengan gas metan yang akan hidup.

Letusan gunung, gempa yang maha dahsyat, tsunami raksasa, kebakaran lahan yang maha luas tidak akan menjadi kiamat bagi bumi. Bumi akan tetap ada, karena dalam perjalanannya sejarah bumi yang disebut dengan dihantam panas ekstrim, es mencair dan seterusnya telah dilewati oleh bumi, jauh sebelum manusia ada.

Jadi tak usah muluk-muluk untuk menyelamatkan bumi. Akui saja egoisme kita bahwa yang terpenting dari kehidupan manusia adalah menyelamatkan dirinya sendiri.

Kelak ketika tidak ada lagi kesenjangan penghormatan pada sesama manusia, ketika tak lagi ada penyiksaan dan penyingkiran terhadap kehidupan mahkluk lainnya, tak ada lagi pengrusakan pada bentang atau lanskap alam, di saat itu mungkin saatnya kita bicara selamatkan bumi.

Dan itupun sebenarnya basa-basi, karena bumi memang tak perlu diselamatkan sebab bumi bisa menjaga dirinya sendiri.

note : sumber foto berasal dari rangkaian aksi bentang spanduk oleh Bunga Terung pada berbagai titik di Kota Samarinda dalam rangka HUT RI ke 76 dengan tema Merdeka Dari Krisis Iklim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here