Perbedaan orang kurus dan gemuk hanya soal makannya saja. Orang yang kurus makan hati, yang gemuk makan tempat. Dah gitu aja ….

Kalimat diatas saya comot dari  dinding facebook seorang teman. Tak usah buru-buru mengatakan itu body shaming. Sebab kurus dan gemuk adalah kenyataan. Seseorang disebut kurus apabila berat badannya dibawah ukuran seimbang dengan tinggi badannya. Sedangkan disebut gemuk jika berat badannya diatas ukuran seimbang dengan tinggi badannya.

Sebagai sebuah kersimpulan soal perbedaan antara yang gemuk dan kurus hanya dalam soal makan nampaknya tidak selalu benar. Bahwa seseorang kurus karena disangka sedang banyak pikiran, itu adalah anggapan. Makan hati tak selalu membuat seseorang jadi kurus atau kehilangan nafsu makan.

Sedangkan soal orang gemuk makan tempat, ya itu merupakan konsekwensi. Hanya saja soal makan tempat tidak otomatis hanya untuk orang gemuk. Orang kurus tapi attitude-nya kurang baik juga bisa makan tempat. Soal makan tempat terkadang lebih karena tidak mau berbagi.

Oh, iya sebenarnya tulisan ini mau ngomong apa sih?.

Sebenarnya saya ingin ngomong tentang presiden yang ditangisi oleh Megawati Sukarnoputri. Kepedihan presiden kelima ini disampaikan saat memberi pengarahan pada Purnapaskibraka yang menjadi duta Pancasila, Rabu 18-8-2021.

Presiden Megawati sedih karena masih saja ada yang menghina Presiden Jokowi, padahal Presiden Jokowi sudah bekerja keras sampai badannya kurus.

“Pak Jokowi sampai saya tangisi, kenapa?. Mikiran rakyat sampai badannya kurus,” ujar Ibu Megawati.

Soal banyak orang menghina Presiden Jokowi, Ibu Megawati memang pantas prihatin. Tapi urusan memikirkan rakyat lalu membuat tubuh Pak Jokowi sampai kurus, rasanya lagi-lagi itu hanya anggapan. Sebab dari dulu Pak Jokowi memang kurus.

Tapi ya sudahlah ‘Mikirin rakyat sampai badannya kurus,’ itu adalah bunga-bunga bahasa. Yang mau menunjukkan bahwa predisen benar-benar memikirkan rakyatnya.

{ baca juga : Bumi Tak Perlu Diselamatkan }

Sutami Menteri Termiskin

Ir. Sutami adalah menteri selama 14 tahun. Menjadi menteri di jaman Presiden Sukarno dan Suharto. Menjabat sebagai menteri mulai tahun 1965 sampai dengan 1978 dan bukan menteri sembarangan melainkan menteri pekerjaan umum, kementerian yang sampai saat ini dianggap sebagai lahan basah.

Sutami lahir di Solo dan kini namanya menjadi nama salah satu ruas jalan yang menjadi alamat dari Kampus Utama Universitas Sebelas Maret {UNS}.

Nama Sutami juga diabadikan sebagai nama bendungan, yang terletak di Karangkates, Sumberpucung, Kabupaten Malang.

Meski begitu kebanyakan orang tak mengenal siapa Sutami itu.

Saya mengenal Ir. Sutami dari sebuah artikel majalah ketika masih kanak-kanak dulu. Dalam artikel itu diceritakan tentang seorang menteri yang hidupnya sangat sederhana dan punya dedikasi yang tinggi pada pekerjaannya.

Sebagai seorang ahli teknik lulusan ITB, Sutami selalu mengawasi berbagai proyek yang dikerjakan oleh Kementerian PU. Pengawasan yang melekat bukan hanya meninjau dan hanya mendengar penjelasan dari pelaksana proyeknya.

Alhasil Sutami jadi kurang tidur dan makannya nggak teratur sehingga kurus. Sutami juga kurang piknik serta plesiran, hidupnya sederhana karena tak mau memanfaatkan fasilitas dan sarana yang diperoleh sebagai seorang menteri.

Konon rumah yang ditempati di Jakarta dibeli dengan cara mencicil dan baru lunas sesaat sebelum pensiun.

Rumah yang dibeli juga bukan rumah yang megah, karena seperti yang diceritakan oleh Hendropranoto Suselo dalam edisi khusus 20 Tahun Majalah Prisma tahun 1991, saat lebaran banyak orang berkunjung ke rumah Sutami. Banyak tamunya terkejut-kejut karena saat melihat atap dengan jelas terlihat bekas bocor disana-sini.

Dan saat sakit, Sutami sempat takut untuk dirawat di rumah sakit. Sutami khawatir uangnya tak cukup untuk membayar biaya rumah sakit.

Sutami akhirnya mau dirawat dirumah sakit setelah pemerintah turun tangan. Dan Presiden Suharto kerap menjengguk Sutami saat dirawat di rumah sakit.

Ada deretan panjang karya-karya besar Sutami, mulai dari Jembatan Semanggi, Gedung DPR, Bandara Ngurah Rai, Waduk Jatiluhur dan banyak proyek raksasa lainnya.

Memegang banyak proyek mercusuar yang anggarannya pasti wah bukanlah hal yang sulit bagi Sutami jika ingin kaya raya.

Tapi Sutami tidak melakukan hal itu dan 14 tahun menjadi menteri Sutami tetap sederhana, bahkan miskin.

Mungkin Ibu Megawati Sukarnoputri andai membaca cerita tentang Ir. Sutami juga akan menangis. Karena orang yang berjasa sangat besar ternyata listrik di rumahnya pernah diputus oleh PLN karena telat membayar. Padahal Sutami pernah menduduki jabatan sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik.

Ibu Megawati mungkin akan mengatakan “PLN ini mbok ya jangan keterlaluan,”

{ baca juga : Joe Biden Khawatir Jakarta Tenggelam

Distorsi Kognitif

Media sosial saat ini menjadi ruang sebebas-bebasnya. Seseorang bisa menyuarakan, mengatakan atau mendengungkan apa saja.

Cara kerja publikasi di media sosial memang berbeda dengan media massa. Dalam media massa ada sistem atau prosedur soal bagaimana sebuah informasi dipublikasikan, ada sistem yang mesti dipatuhi, ada etika yang dijaga.

Bahkan ketika ada SOP yang harus dipatuhi, publikasi media massa sekalipun masih sering terpeleset sehingga menyebarkan kebohongan, informasi yang tak lengkap dan bahkan informasi yang menyesatkan.

Setiap penyelenggara aplikasi media sosial memang mempunyai aturan tertentu terkait dengan informasi yang layak dipublikasikan atau tidak. Namun batasan ini bersifat general dan selalu saja ada pemakai yang melanggar dan lolos karena cukup lama bagi sebuah sistem untuk mengenali postingan yang tidak layak.

Akibatnya ekosistem informasi kita yang sangat dipengaruhi oleh media sosial dipenuhi dengan berbagai hal yang negatif. Segala sesuatu yang diragukan kebenarannya, informasi yang tak terkonfirmasi, bernada menyudutkan, mengejek atau bahkan menyudutkan seseorang atau kelompok tertentu.

Dan ucapan “Presiden kurus karena memikirkan rakyat,” dalam artian tertentu adalah sebuah distorsi kognitif. Kesimpulan itu mengandung bias konfirmasi.

Bahwa presiden memikirkan rakyat bisa dipastikan iya. Tapi yang memikirkan rakyat sungguh-sungguh tidak otomatis akan kurus.

Sebab bisa jadi kurus atau langsing adalah body goal. Presiden menjaga berat tubuhnya agar tetap sehat. Sebab kelebihan berat badan akan berisiko terkena berbagai penyakit.

Soal tubuh yang kurus, di sebuah postingan media sosial seseorang yang rancak mengamati kasus korupsi menyebut bahwa rerata koruptor tidak berbadan gemuk.

Apakah itu berarti para koruptor menjadi kurus atau langsing karena memikirkan rakyat?.

Pasti tidak, barangkali mereka kurus karena memikirkan bagaimana aksi korupsinya tidak terbongkar.

Atau barangkali karena korupsi, mereka kemudian berkelimpahan sehingga bisa hidup sehat dan hasilnya adalah badan yang ideal. Tidak kurus sekali dan tidak gemuk benar.

note : sumber gambar – Kabar Bisnis 24

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here