KESAH.ID Orang yang tak bisa dilawan itu orang yang beruntung. Keberuntungan memang merupakan privilege, maka sebenarnya masyarakat pada umumnya tak akan menyoal hal itu selama tidak digunakan untuk hal-hal yang merugikan masyarakat. Dalam politik, masyarakat sudah terbiasa menerima bahkan memilih anak bupati yang kemudian mencalonkan diri mengantikan orang tuanya dan lain sebagainya. Maka ketika Kaesang yang baru beberapa hari menjadi anggota PSI lalu didaulat menjadi ketua, bukanlah sebuah peristiwa yang mengejutkan.

Saya harus mengingatkan bahwa tulisan ini sama sekali tidak ilmiah jadi tak bisa jadi rujukan untuk membaca peta politik yang sedang berkelindan saat ini.

Jauh-jauh hari lalu saya mengatakan kepada teman-teman setongkrongan bahwa sampai dengan pemilu 2029 perbincangan tentang pemilu tak bakalan asyik. Semua masih akan berkutat pada calon presiden yang ada hubungannya dengan presiden-presiden sebelumnya.

Di pemilu 2029 nanti kemungkinan besar yang akan bersaing untuk berebut kursi presiden adalah anak dan cucu presiden. Ada Puan Maharani, cucu Sukarno dan anak Megawati, ada Yenny Wahid anak dari Gus Dur, ada pula AHY anak dari Susilo Bambang Yudhoyono dan kemudian ada Gibran anak dari Joko Widodo.

Saya meyakini nama-nama itu yang akan mengisi daftar nama yang bakal diedarkan oleh lembaga-lembaga survei saat melakukan survei popularitas dan elektabilitas.

Tapi beberapa hari terakhir ini kesimpulan prediktif saya yang abal-abal itu mesti saya koreksi dengan kemunculan Kaesang Pangarep sebagai Bro Ketum PSI.

Dari kubu Joko Widodo, jangan-jangan bukan Gibran yang diproyeksikan untuk naik ke tampuk kursi calon presiden di masa mendatang, melainkan Kaesang.

Mari kita lihat bagaimana Kaesang “dipromosikan” lebih nasional ketimbang Gibran.

Dalam jagad berita di media massa dan kabar di linimasa media sosial, Gibran lebih diwartakan dalam hubungannya dengan Solo. Kisah bisnisnya di Solo dan kemudian keinginannya memimpin Solo. Dan ketika berhasil memimpin Solo, kisah berita tentang Gibran selalu berhubungan dengan Solo.

Banyak tokoh nasional datang menemui Gibran, tapi pertemuannya kebanyakan di Solo.

Masa depan Kaesang lebih dikaitkan dengan tampuk kursi kepemimpinan di Jawa Tengah, kursi gubernur.

Berada di PDIP seperti bapaknya yang presiden, Gibran tak terlalu bebas untuk bermanuver. Sedikit berimprovisasi bakal disemprit oleh petinggi-petinggi partai.

Di partai besar itu, Gibran yang sudah duduk di kursi walikota masih dianggap anak-anak, bocah kemarin sore dalam politik.

Sementara Kaesang, kabar berita tentangnya berkisar pada kehidupannya sehari-hari saat kuliah di Singapura, waktu ikut bapaknya kesana-kemari, bisnis-bisnis yang dibangun bersama para pesohor.

Setelah tersohor karena me-ghosting pacarnya, Kaesang kemudian diendus dekat dengan seorang gadis lainnya. Gadis yang tak lama kemudian menjadi pasangannya lewat sebuah pernikahan yang maha meriah.

Pernikahan Kaesang dengan Erina Goendono menghiasi layar televisi berhari-hari, disiarkan langsung oleh 2 – 3 stasiun TV nasional. Kemeriahannya bukan hanya di Solo tetapi juga di Yogyakarta. Diarak dengan kereta kencana, pernikahan Kaesang – Erina mengalahkan pernikahan anak Raja Solo dan Raja Yogyakarta.

BACA JUGA : Masyarakat Malas Membaca

Banyak yang mengatakan “Ah, nggak mungkin Kaesang dapat karpet merah di PSI kalau dia bukan anak presiden,”

Dan soal privilege semacam itu anak-anak Joko Widodo anteng saja menanggapinya.

Dalam politik di Indonesia, walau menganut paham demokrasi ciri-ciri dinasti masih kuat. Di banyak daerah jangankan presiden, kedudukan sebagai seorang Bupati atau Gubernur sudah cukup untuk membangun dinasti politik.

Kenapa juga calon independen sekarang tidak begitu terkenal. Karena calon independen yang memenangkan kursi bupati atau walikota setelah duduk biasanya ditawari kursi ketua partai di tingkat daerah. Karpet merah selalu tersedia untuknya.

Di dalam partai juga begitu, anak, menantu, istri, ipar, kemenakan dari ketua partai dengan mudah menduduki kursi-kursi strategis dalam partainya. Ada beberapa partai yang bisa disebut sebagai partai keluarga.

Jadi rasanya tak tepat memandang jalan lempang Kaesang menjadi Ketua Umum PSI hanya dalam konteks privilege. Ada konteks besar lain di belakangnya jika melihat gerak-gerik dan lagu lagak PSI selama ini dengan Joko Widodo.

Harus diketahui bahwa jalan Joko Widodo dari Solo ke Jakarta bukan hanya melewati PDI P. Ada aktor lain yang oleh Panji Pragiwagsono dibilang memborong semua kedudukan. Semua-semua diserahkan padanya oleh Presiden Joko Widodo.

Ya Luhut Binsar Panjaitan, super menteri yang tak henti mengurus segala urusan hingga hari ini. Termasuk yang disebut oleh Panji urusan mengatasi polusi Jabodetabek.

Hubungan antara Joko Widodo dan Luhut bukan baru 5 sampai 10 tahun ini, mereka sudah kenal dan ‘bersekutu’ jauh lebih lama, berpuluh tahun lalu.

Kalau dalam dunia persepakbolaan, LBP bisa disebut sebagai talent scouting, pemandu bakat. Dia menemukan Joko Widodo dan kemudian memanajerinya lalu menawarkan ke klub besar.

Gagasan untuk menjadikan Joko Widodo sebagai Gubernur Jakarta muncul dari Luhut, PDI P bukan inisiator. PDI P pada waktu itu cenderung untuk tetap mendukung Fauzie Bowo.

Pasangan ekperimen Jokowi-Ahok ternyata berhasil memenangkan kursi Gubernur DKI. Dua orang ‘ndeso’ berhasil memimpin Jakarta.

Kemenangan Joko Widodo menduduki kursi DKI 1 membuat manajer-nya berpikir bahwa Jokowi akan bisa melaju ke RI 1.

Dan kejadian, dengan model siraman dukungan ala-ala ‘pernyataan dukungan’ orde baru PDI P kemudian berhasil didorong untuk mencalonkan Joko Widodo sebagai calon presiden. Pada pagi hari Joko Widodo diumumkan oleh Megawati, siangnya LBP membuat konperensi pers mengucapkan terima kasih bahwa PDI P sudah memilih Jokowi. LBP menyatakan siap untuk berjuang memenangkan Joko Widodo, capres PDI P.

Dan kelak LBP kemudian nempel terus lengket seperti perangko mendampingi Joko Widodo memimpin pemerintahan. Sampai-sampai ada yang mengatakan Joko Widodo adalah presiden boneka.

Sebenarnya tidak juga, Joko Widodo tetap Joko Widodo dengan semua kemampuannya. LBP tidak menganggu wilayahnya, dia mengurusi apa-apa yang membuat tugas kepresidenan Joko Widodo terganggu kalau Joko Widodo turun tangan.

Bahkan sampai urusan keluarga sekalipun akan diurusi oleh LBP agar Joko Widodo tetap berkonsentrasi menjalankan tugas sebagai Presiden. Terbukti dalam setiap pernikahan putra-putri Joko Widodo yang kelihatan paling sibuk adalah LBP.

BACA JUGA : Kaesang Tiket PSI Ke Senayan

Pemilu 2024 menjadi ekperimentasi baru bagi proyek politik LBP yang kali ini akan berduet bersama Joko Widodo karena sudah tak mungkin lagi menduduki kursi presiden.

Dalam kontestasi menjelang pemilu 2024 Joko Widodo menunjukkan dirinya sebagai sosok bebas yang tak terikat oleh partai, dia bahkan sering menunjukkan diri lebih besar dari sekedar partai.

Meski demikian kaki di partai yang membawanya ke tampuk kepresidenan tidak dilepasnya, ada kaki yang sudah dipasang di dalam yakni Gibran.

Jeda kekuasaan ini kemudian dipakai untuk menancapkan tonggak baru. Di sebuah partai yang bisa dikendalikan sepenuhnya yakni PSI. Partai dengan corak anak muda ini cocok untuk anak bungsunya, anak muda milenial yang mulai dewasa.

PSI seperti dipersiapkan untuk itu, dibandingkan dengan partai-partai lain yang tak lolos electoral threshold, PSI menjadi partai yang paling eksis. Hanya Perindo yang bisa menyainginya, karena ketuanya kaya raya. Tapi siapa yang kaya di PSI sehingga bisa terus membiayai roda partainya?

Secara sepintas yang ditangkap oleh publik adalah mendudukkan Kaesang di kursi Bro Ketum PSI agar jalan ke Senayan terbuka. Tapi lihatlah pidato Kaesang yang merujuk kisah Partai Move Forward di Thailand. Partai anak-anak muda yang berhasil memenangkan pemilu disana.

Walau tak berhasil mendudukkan ketuanya sebagai perdana menteri karena gagal membangun koalisi, namun MFP kemudian menjadi partai oposisi terbesar di Thailand pada saat ini. Jika PSI berhasil mengirimkan wakilnya ke Gedung DPR RI, niscaya PSI akan menjadi partai oposisi untuk meningkatkan elektabilitasnya di pemilu 2029 nanti.

Sepak terjang selama 5 tahun ke depan itu yang akan menjadi modal bagi Kaesang untuk masuk dalam orbit calon pemegang tampuk kekuasaan di tahun 2029 nanti.

Mendudukkan Kaesang di kursi ketua umum PSI adalah seruan bahwa bukan PDIP P, Gerindra, Golkar, Nasdem, Demokrat atau lainnya yang akan mewarisi masa depan Indonesia, melainkan PSI.

Sinergi Trio Solo, Jokowi, Gibran dan Kaesang dengan sang manajer LBP membuat mereka lebih kuat dari sekedar partai dan segerombolan relawan.

Bagi sebagian politisi tua, senior dan matang tampilan Kaesang diatas podium sebagai Ketua Umum PSI terasa janggal, tidak kharismatis.

Tapi bisa jadi ini merupakan gaya politik baru, sebuah partai yang mempunyai corak berbeda dengan partai-partai yang didirikan dalam skema dan platform yang sudah lampau, sistem yang umurnya sudah lebih dari 50 tahunan.

Seperti halnya sinergi ekonomi dengan teknologi informasi dan komunikasi yang melahirkan start up ekonomi yang mendisrupsi model usaha atau bisnis, bisa jadi PSI di bawah Kaesang juga akan dikembangkan sebagai Start Up Politik, model partai politik baru dengan valuasi politik yang bisa digenjot secara cepat.

Dalam model start up privilege bukan sesuatu yang tabu, karena privilege justru bisa dikapitalisasi dengan cepat. Tanpa privilege bakal sulit untuk merangkul investor terutama angel investor yang berani mengelontorkan modal tanpa khawatir dengan untung rugi lebih dahulu.

Jadi jangan kaget, jika nanti kita melihat tiba-tiba PSI menjadi unicorn bahkan decacorn.

note : sumber gambar ilustrasi – CNNINDONESIA.COM