KESAH.ID – Dimana ada papan peringatan disitu pelanggaran dilakukan. Rasanya hal seperti itu yang biasa terjadi di negeri ini. Orang tak suka diperingatankan sayangnya juga sulit untuk sadar sendiri. Larangan atau petunjuk atau apapun bahkan sering dianggap sebagai panggilan untuk berbuat sebaliknya. Lebih jauh dari itu, barangkali semua hal yang dituliskan dengan tulisan besar-besar mungkin hanya dilihat namun tak dibaca. Kita memang malas membaca.
Ketua Rukun Tetangga saya yang baru ini terlihat berbeda dengan yang lama. Yang dulu lebih rajin menyapa tetangga, mengumpulkan iuran untuk kematian, kegiatan 17-an dan lainnya. Yang rajin mengunjunhi tetangga bukan hanya dirinya tapi juga istri, anak bahkan saudara yang lainnya. Sayapun jadi hafal rumahnya dan saling tegur sapa kalau bertemu di jalan.
Nah yang baru ini beda, kelihatannya lebih sibuk sehingga jarang bertegur sapa kalau melewati jalanan yang sama. Memang kerap terlihat di jalan, namun jarang mampir mengunjungi rumah warganya. Dia sering berdiri-berdiri di jalan karena menyiapkan dan mengawasi proyek-proyek yang dikelola olehnya bersama Pokmas lewat Pro Bebaya.
Pembangunan memang kelihatan, bahkan bisa dibilang luar biasa sampai-sampai area yang mestinya tak perlu disemen, ikut di-cor dengan semen juga.
Di jalanan juga makin banyak papan nama dan petunjuk jalan. Juga spanduk peringatan besar yang berisi himbauan agar membuag sampah di dalam bak.
Nah, pagi tadi spanduk besar ini yang bikin hati saya dongkol. Bukan karena isi spanduknya melainkan kelakuan pembuang sampah.
Bayangkan spanduk yang panjangnya kurang lebih 3 meter itu dengan tulisan besar ternyata tak dibaca oleh yang membuang sampah. Persis ketika saya melewati depan bak sampah, ada seseorang dengan kalemnya meletakkan bungkusan sampah di luar bak. Padahal bak-nya masih kosong melompong karena sampahnya baru diangkut oleh petugas.
Rasanya pingin berhenti untuk mengingatkan. Namun niat itu saya urungkan, saya khawatir saya cara menegurnya kurang berkenan, nanti malah ribut dan pagi-pagi sudah dapat musuh baru.
Pengalaman saya meski ditegur baik-baik, para pembuang sampah sembarangan jarang ada yang berkenan.
Mungkin karena menegur malah bikin makan hati makanya Misman, pencetus Gerakan Memunggut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus lebih memilih memungguti sampah di sungai setiap hari. Ketekunan yang berbuah manis karena diganjar berbagai penghargaan.
Awalnya banyak yang mencibir sampai-sampai ada istilah “Masyarakat membuang, Misman memunggut,”
Sama dengan himbauan di bak sampah, dipinggir sungai juga banyak himbauan untuk tidak membuang sampah, limbah dan kotoran lain ke sungai. Namun tetap saja tulisan besar-besar itu tidak dibaca. Sungai-sungai seperti menjadi tempat pembuangan sampah raksasa, tong sampah terpanjang di dunia.
Bagaimana mungkin tulisan besar dan mencolok tidak terbaca, apakah semua pembuang sampah itu rabun?.
Kebanyakan dari kita memang malas membaca, jangankan buku, majalah atau koran, pengumuman berupa spanduk atau baliho saja kita juga tak hendak.
Maka tak perlu heran jika perpusatakaan yang dibangun semegah dan senyaman mungkin tetap saja terasa sepi. Begitu juga dengan gerakan literasi, gerakan untuk menumbuhkan minat baca, orangnya juga itu-itu saja. Bahkan untuk me-literasi diantara mereka saja kemudian terasa sungkan.
BACA JUGA : Kaesang Tiket PSI Ke Senayan
Para bijak bestari sering mengatakan buku adalah jendela dunia dan semua orang menerimanya. Namun nyatanya pembaca buku di Indonesia sangat rendah, rendah sekali.
Sebuah survei yang dirilis oleh LSI pada Agustus 2023 menunjukkan bahwa hanya 22,5 persen dari populasi di Indonesia yang sempat membaca buku dalam satu tahun terakhir, minimal satu buku.
Mayoritas populasi di Indonesia atau sebesar 72,3 persen mengatakan “Setahun lalu tak sempat membaca buku, tak satupun judul buku,”
Dengan demikian hanya 1 dari antara 5 orang Indonesia yang membaca buku, sekurangnya satu buku dalam setahun.
Sementara di luar sana, ambil contoh di Jerman. Sebuah studi yang dilakukan oleh beberapa penerbit buku menghasilkan gambaran masa depan perbukuan yang cerah. Dari 1.700 anak yang diwawancarai, 61 persen anak-anak berusia 6 hingga 13 tahun membaca buku secara rutin. Dan separuh lebih dari mereka juga membaca majalah dan komik beberapa kali dalam satu minggu.
Meski menggunakan internet, hanya 34 persen yang mengaku rutin menonton video youtube. Yang bermain game lebih sedikit lagi yakni 28 persen.
Meski nyaris semua anak-anak menggengam smartphone namun tidak membuat minat atau kesukaan membaca dibajak oleh berbagai aplikasi media sosial dan permainan yang bertebaran di internet.
Dulu rendahnya minat baca disangka karena ketiadaan sarana dan prasarana. Hingga sampai dengan masa pemerintahan Presiden SBY, penggadaan sarana perpustakaan bergerak masih terus digalakkan.
Yang terjadi kebanyakan mobil-nya malah rusak karena jarang bergerak.
Maka rendahnya minat baca hampir tak lagi berurusan dengan ketiadaan buku bacaan dan sarana serta prasarana lainnya. Kemalasan membaca lebih dikarenakan masyarakat kita nyaman dengan tradisi lisan. Kita meski sebagian besar telah mencicipi bangku sekolah yang didasarkan oleh tradisi tulisan ternyata belum mampu keluar dari kungkungan masyarakat omong-omong.
Dunia pendidikan yang makin berkembang dan merata belum mampu membuat tradisi tulisan menjadi dominan. Munculnya internet membawa angin segar karena bahan bacaan berbasis digital melimpah. Informasi dan pengetahuan menjadi lebih mudah diakses dari masa-masa sebelumnya.
Kesempatan untuk menumbuhkan masyarakat dengan tradisi tulisan terbuka lebar, namun internet kemudian melahirkan media sosial. Sebuah aplikasi dan platform yang kemudian dengan cepat menguasai hidup para pengakses internet. Pun juga merubah cara kita dalam membaca dan mencari informasi.
Tradisi tulisan yang mulai menguat kemudian melemah kembali, media sosial lebih mendorong pemakainya kembali menjadi masyarakat omong-omong. Lebih buruk lagi omong kosong dan omong bohong.
Kegemaran mengkonsumsi media sosial bisa berpengaruh kepada ketahanan atau stamina membaca. Umumnya informasi yang dipublikasikan lewat media sosial berdurasi satu hingga lima menit untuk dibaca. Yang keranjingan media sosial kemudian hanya terbiasa membaca tulisan ringkas dan pendek saja, membaca buku jelas melelahkan.
Kebiasaan membaca cepat dan singkat ini membuat buku kemudian makin tidak populer, bahkan buku elektronik sekalipun. Sebab untuk membaca buku butuh waktu berjam-jam bahkan ada yang berhari-hari.
Kebiasaan membaca buku sudah masuk taraf yang menkhawatirkan. Masyarakat yang tak terbiasa membaca buku menjadi mudah terpesona dengan informasi dan pengetahuan yang praktis-praktis. Akibatnya wawasan dan perspektifnya menjadi kurang luas.
Meski demikian membiasakan mereka yang sudah dewasa atau tua untuk membaca jelas sulit. Gelora untuk menguatkan tradisi membaca buku mesti dimulai sejak usia kanak-kanak.
BACA JUGA : Goyang Menggoyang Menjelang Pilpres
Jika buku adalah jendela dunia maka pendidikan adalah paspor ke masa depan atau jalan tol untuk membangun masyarakat.
Hanya saja seperti halnya membaca buku, ternyata jumlah atau populasi kaum terpelajar, penduduk dengan pendidikan tinggi ternyata masih rendah.
Data dari LSI Denny JA di bulan Agustus 2023 menyatakan bahwa populasi terbanyak di Indonesia adalah mereka yang tingkat pendidikannya setara SMP dan SD ke bawah. Masyarakat yang hanya lulus SD dan SMP berjumlah kurang lebih 60 persen dari seluruh penduduk di Indonesia. Lulusan SD dan SMP menjadi populasi mayoritas di Indonesia.
Sedangkan mereka yang sempat menjadi mahasiswa, tamat D3, tamat S1 dan seterusnya jumlahnya belum melampaui 10 persen. Mereka ini yang disebut sebagai kaum terpelajar. Konon jumlah tepatnya hanya sekitar 7,8 persen dari populasi.
Prosentase masyarakat terpelajar ini jelas tertinggal jauh dibandingkan dengan banyak negara lainnya. Umumnya negara-negara industri atau maju, penduduk terpelajarnya separuh lebih atau mendekati separuh.
Banyak sedikitnya masyarakat yang terpelajar akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi karena masyarakat terpelajar akan membawa spirit ilmu pengetahuan. Mereka akan terdorong untuk melakukan inovasi dan menciptakan berbagai teknologi untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.
Kehadiran kaum terpelajar juga akan membantu membentuk masyarakat sipil yang kuat. Dengan kemampuan dan pengetahuannya masyarakat bisa mengorganisir dirinya dan memperkuat kelompoknya. Dalam masayrakat demokrasi, kelompok masyarakat sipil yang kuar menjadi penting sebagai bagian dari penyeimbang kekuatan pemerintah maupun organ lainnya.
Kaum terpelajar juga akan mendorong perluasan hubungan terutama dalam skala global. Dengan pikiran dan wawasan terbuka, kaum terpelajar bisa berhubungan dengan negara lain, membangun kerjasama agar bangsa dan negara tidak tertinggal dalam menggapai kemajuan.
Meningkatkan minat dan stamina baca serta jumlah orang terpelajar menjadi PR besar bagi pemerintah dan masyarakat ke depan.
note : sumber ilustrasi gambar – OKEZONE.COM








