KESAH.ID – Hari pendaftaran calon presiden dan wakil presiden yang akan bertarung dalam pemilu 2024 makin dekat. Baru satu pasangan yang mendeklarasikan diri. Yang lainnya masih terus melakukan audisi juga menjaring koalisi. Politik masih dinamis, masih bergoyang-goyang. Bukan hanya partai dan kelompok relawan pendukung yang saling goyang melainkan juga Trio Solo, Joko Widodo, Gibran dan Kaesang.
Sebulanan ini saya asyik mengulik track record salah satu calon presiden. Saking khusyuknya sampai-sampai saya ketinggalan banyak informasi tentang dua capres lainnya.
Saya sebenarnya tak terlalu merasa rugi karena ketinggalan berita, toh kebanyakan beritanya memang tentang goyang mengoyang yang juntrungannya belum jelas.
Tapi kadang saya merasa bersalah sebab ketika ada yang mengajak bicara tentang sesuatu yang sedang viral tanggapan saya biasa saja, tak menderu seperti ombak.
Seperti saat ketika ada yang mencoba memanas-manasi tentang satu-satunya menteri yang menjadi capres menampar dan mencekik seorang wakil menteri. Yang menceritakan berharap saya mengutuknya.
Tapi karena saya tak terpapar berita ghibah itu, reaksi saya datar saja “Ah, masak,”.
Saya memang tak percaya, sebab seingat saya menteri yang bakal capres itu sudah dua kali terkena stroke. Meski digambarkan sebagai sosok yang tegap dan tegas, dia jelas tak sekuat dulu. Jangankan untuk menempeleng atau mencekik, membawa dirinya sendiri saya sudah sulit.
Dan asal diketahui, wakil menteri yang jarang tampil di publik atau disebut-sebut namanya itu dari penampakan jelas tegap, kuat dan gesit. Jadi rasanya tak mungkin akan menerima tamparan atau cekikan begitu saja.
Kabar itu merupakan bagian dari goyang mengoyang. Harapannya dari riak bisa menjadi ombak yang kemudian punya efek menurunkan popularitas dan elektabilitasnya. Syukur-syukur kalau anjlok hingga kemudian jeblok.
Tapi goyangan itu tidak seberapa dibandingkan dengan saat koalisi yang dibangunnya tiba-tiba ditinggalkan oleh mitra pertamanya yang kemudian bergabung dengan koalisi lawan. Bukan cuma koalisi yang terguncang, peta politik pun berubah seperti nama koalisinya, koalisi perubahan.
Peta politik berubah karena ada yang kaget ditinggal dan ada yang marah karena merasa dikhianati. Selain itu ada juga yang tertekan, namun karena sudah sehati sehingga sulit untuk beranjak keluar dari koalisi.
Tapi itulah politik yang kerap disebut sebagai seni mengelola kemungkinan. Dalam politik sesuatu yang digambarkan sebagai minyak dan air sekalipun tetap bisa bersatu. Biarlah minyak kuyup dengan air asal pada akhirnya nanti akan dapat kue yang besar.
Kepalang basah bisa merupakan pilihan bijaksana dari pada mengecer kesana kemari lalu tidak dihargai, daya tawarnya kecil atau kue besarnya sudah habis dibagi-bagi duluan.
BACA JUGA : NU Magnet Politik Pemilu, Bagaimana Dengan Muhammadiyah?
Goyang mengoyang bukan hanya terjadi dalam koalisi.
Koalisi memang terasa cair walau landas nama yang biasa dipakai mencerminkan kesatuan gagasan. Hanya saja yang terjadi koalisi terbentuk lebih karena kepentingan meraup suara dan dukungan untuk memenangkan pemilu.
Hitungannya bukan kepentingan ideologis, platform partai atau gagasan yang hendak diperjuangkan bersama. Karena koalisi diusahakan segemuk mungkin seolah jika semua bergabung dalam satu wadah suara rakyat juga akan mengelontor kesana.
Tapi ingat ternyata yang cair bukan hanya partai melainkan juga pendukung. Dalam dua atau tiga pemilu terakhir ada tren munculnya kelompok-kelompok pendukung calon yang tidak berada dalam payung partai.
Mereka ini solid dan punya massa, suara yang riil. Dengan menyatakan dukungan pada calon tertentu maka suara anggotanya yang kerap disebut relawan tidak akan terbelah-belah.
Karena dukungannya pada calon atau tokoh tertentu maka ketika tokoh tersebut tak bisa mencalonkan diri, kelompok-kelompok ini kemudian mulai melakukan audisi untuk menentukan calon mana yang akan didukung.
Kelompok pendukung Joko Widodo pun kemudian bergoyang-goyang.
Mereka mencoba mencari-cari signal kemana arah dukungan Joko Widodo.
Sayangnya Joko Widodo pun menari-nari, endorse sana-sini. Dukungannya tak jelas dan Joko Widodo juga sering mengatakan “Ojo kesusu,” jangan tergesa-gesa menentukan pilihan kemana akan melabuhkan dukungan.
Tapi politik itu momentum, kalau telat menyatakan dukungan bisa-bisa nanti hanya dapat ampas.
Para pendukung Joko Widodo memang meyakini bahwa Jokowi adalah faktor penentu pilpres 2024. Siapa yang didukungnya akan memang atau akan dibanjiri dukungan dari kelompok-kelompok yang dulu mendukung Jokowi, jumlahnya ratusan kelompok.
Keyakinan atas hal ini didasari atas hasil survei bahwa approval rating Jokowi sangat tinggi hingga menjelang masa jabatannya berakhir. Sesuatu yang jarang terjadi, seorang Presiden masih terus populer di akhir masa jabatannya yang kedua.
Karena tingkat kepuasan masyarakat tinggi maka kinerja Jokowi menjadi benchmark. Sesiapa saja yang diberi kode akan menjadi penerusnya maka itu yang dianggap akan menjadi pilihan rakyat.
Makanya ada calon yang populer namun tidak naik-naik popularitasnya walau sudah didongkrak dengan dini dengan mengumumkan cawapresnya. Sang calon sulit naik popularitas dan elektabilitasnya karena diopinikan sebagai antitesis Joko Widodo.
Rakyat yang sudah bosan dengan semua goyang-goyang politik sudah termakan. Bahwa pemerintahan kedepan adalah pemerintahan yang meneruskan pemerintahan sekarang. Rakyat ingin yang stabil-stabil saja, maju tapi tidak terguncang-guncang.
Ibarat kata pelan-pelan sedikit tidak apa-apa asal selamat sampai tujuan.
BACA JUGA : Politik Fosil
Kekuatan untuk goyang mengoyang kemudian mengerucut dalam unit yang makin kecil. Trio keluarga Jokowi, bapaknya yang presiden dan dua kakak beradik, anak laki-laki Joko Widodo.
Jika bapaknya dibilang ikut cawe-cawe dan main tarik ulur dengan PDI P partai yang merupakan rumah dan sekaligus pendukungnya. Kedua anaknya juga ikut menarikan goyangan yang kadang seiriama dengan bapaknya namun lain kali juga bersimpang jalan.
Gibran dengan sikap welcome-nya menerima siapa saja. Akrab sana-sini sampai membuat baper PDIP hingga dirinya sempat disidang oleh petinggi PDIP.
Walau mulai melunak dan kembali ke rumah besarnya dengan rantang-runtung bersama Ganjar, namun Gibran masih disangkut-sangkutkan dengan Prabowo Subianto yang jika konstitusi mengijinkan akan digandeng sebagai cawapresnya.
Sedangkan Kaesang yang dianggap paling slengean dan tidak tertarik untuk berpolitik karena pisang dan roti lebih nikmat ternyata pada akhirnya juga banting setir. Seperti Julius Cesar dengan semboyan vidi, vini, vici. Kaesangpun melakukan hal yang sama di PSI, diterima sebagai anggota dan tak lama kemudian didaulat sebagai ketua umum.
Entahlah siapa yang menyutradarainya namun yang pasti salah satu aktor utama dalam goyang dombret poltik ini adalah PSI. Partai yang dibranding sebagai partainya orang muda, mereka yang gemar saling panggil dengan bro dan sis.
PSI lah yang selalu menabuhkan gendang, memainkan orkestrasi. Mereka yang paling dini mendukung Ganjar namun kemudian dikoreksi karena dicueki oleh PDIP. Mereka juga lah yang mencoba untuk mengajukan revisi batas umur cawapres di mahkamah konstitusi.
Dan kemudian mereka meniup-niupkan bahwa Kaesang akan dicalonkan jadi Walikota Depok, namun kemudian malah dijadikan Ketua Umum PSI.
Menyongsong pemilu 2024 ini goyangan PSI memang berbeda dari yang mereka lakukan di pemilu lalu. PSI tidak lagi mewarnai jagat berita dengan sosok-sosok muda yang bernas dan cerdas.
Partai orang muda ini kini berdansa layaknya partai-partai orang tua. Bro dan sis-nya jadi garing lantaran cara mainnya BAU, business as usual.
note : sumber gambar ilustrasi – KAPANLAGI.COM








