KESAH.IDDidirikan setelah pemilu 2014, pemilu 2024 akan menjadi pemilu kedua bagi Partai Solidaritas Indonesia {PSI}. Tujuan PSI adalah mengirim kadernya menduduki kursi DPR RI yang gagal dicapai pada pemilu 2019. Menjadi salah satu penyokong paling kuat Joko Widodo belum mampu meningkatkan suara PSI. Ideologi Jokowisme kemudian diperkuat oleh PSI secara biologi dengan menunjuk Kaesang, putra bungsu Joko Widodo sebagai ketua umumnya. Akankah Kaesang mampu membawa sebagaian suara pendukung bapaknya ke PSI hingga melewati batas minimal Electoral Threshold.

Tekad PSI sudah bulat untuk menjadikan Kaesang Pangarep sebagai ketua umum. Inilah hattrick Kaesang, bikin podcast nyerempet politik, diterima jadi anggota PSI dan kemudan menjadi Bro Ketum.

Tak peduli apa kata orang mungkin itu prinsip PSI.

Karena memang banyak yang bakal menghujat dan mengobral makian.

Kalau ada yang mengatakan “Fix PSI gagal jadi partai kader, masak baru beberapa hari jadi anggota sudah diberi tahta ketum. Mengalahkan dan mengabaikan mereka yang bertahun-tahun berjuang sebagai kader,”

Ah, itu hanya luapan kejengkelan yang biasa.

Atau barangkali ada yang mulai buat meme memplesetkan PSI menjadi Partai piSang Indonesia. Ini juga teramat biasa.

Kaesang memang sering diidentikkan dengan pisang, karena membidani usaha camilan bernama Sang Pisang. Sedangkan Gibran kakaknya pernah dikatakan lebih baik urus martabak daripada Kota Solo. Gibran memang punya Markobar.

Dulu Markobar dan Sang Pisang melebar kemana-mana. Tapi kini mulai sulit ditemukan.

Kaesang sendiri memang sering jadi berita. Umumnya tidak ada urusan dengan politik. Kaesang pernah ramai diberitakan karena me-ghosting pacarnya, dan tak lama kemudian menikah dengan orang lain. Pernikahan menjadi salah satu pernikahan terbesar dan termegah di Indonesia.

Ketika Gibran mulai duduk sebagai walikota, Kaesang kemudian giat menjadi pengusaha. Banyak start up lahir dari tangannya. Uang investor mengalir seperti air bah, hingga kemudian ada yang me-warning. Pergerakan uang investor dianggap tidak normal untuk model dan ide bisnis yang ditawarkan oleh Kaesang.

Start up Kaesang menjadi cuan karena dia adalah anak presiden. Jadi investasi ke start up Kaesang seperti serigala berbulu domba, duitnya masuk ke Kaesang tapi efek yang dituju adalah bapaknya yang presiden. Kasarnya investasi itu dianggap sebagai gratifikasi terselubung.

Tapi Kaesang tetap Kaesang, selalu tenang menghadapi riak-riak kabar buruk dan kabar burung yang terbang ke arahnya.

Memanfaatkan isu politik terhangat, Kaesang pun sering ikut-ikutan memasang baliho yang seolah politis, tapi tujuannya adalah branding perusahaannya.

Waktu ribut-ribut soal calon RI 1 antara Puan dan Ganjar, Kaesang pun pasang baliho, tegas-tegas ditulis RI 1. Tapi maksudnya bukan kursi nomor satu di Indonesia, melainkan Roti Indonesia nomor 1. Kaesang memang punya perusahaan roti yang diperoleh dengan cara mengakuisisi.

Jalan Kaesang menuju politik sudah bisa diendus tatkala mulai membuat PodKesang, Podcast Kaesang. Nuansa podcastnya bergurau meski secara persona Kaesang tak fasih melucu di depan kamera.

Sembari mengiklankan produk UMKM secara gratis, isi PodKesang banyak nyerempet politik. Dia juga rajin mengundang tokoh-tokoh politik untuk hadir di Podcast-nya. Dan tentu saja semua yang diundang pasti bersedia.

Pernah mengundang Giring Ganesha, Ketum PSI sebelumnya. Kaesang pun ikut-ikutan mem-bully Giring dan PSI-nya.

Tapi PSI tetap saja kekeh, meng-endorse Kaesang untuk jadi Walikota Depok.

BACA JUGA : Goyang Menggoyang Sebelum Pilpres 

Mungkin bagi sebagian orang terasa aneh atau lucu, bagaimana mungkin PSI yang adalah partai tak lolos electoral threshold kok mengusung-usung calon.

Ya sudahlah namanya juga usaha. Dan terbukti usahanya berhasil karena Kaesang kemudian bersedia atau mungkin bersuka menjadi nahkoda baru PSI.

Dengan menjadi Bro Ketum PSI, Kaesang sekurangnya langsung mencatat prestasi dalam bidang politik, walau belum berkecipung secara nyata. Kaesang yang usianya belum 30 tahun ini mungkin akan tercatat sebagai Ketua Umum Partai termuda dalam sejarah Indonesia.

Lalu apa yang membuat PSI memasang mode muka tembok dan kulit badak demi mendudukkan Kaesang di kursi ketua umumnya?

Jawabannya sederhana saja seperti kata para pengamat politik yang saat membahas copras-capres kerap mengatakan “The Jokowi Effect”.

Modus PSI itu lurus-lurus mata kail. Kelihatan menunjuk ke Kaesang tapi arah jari telunjuknya ke Joko Widodo.

Ini adalah pemilu kedua yang diikuti oleh PSI, masa depannya dipertaruhkan. Jika pada pemilu ke depan PSI tak lolos ke Senayan mungkin eksistensinya akan seperti partai lain yang terus bertahan walau gagal melulu ke Senayan. Hidup segan mati tak mau.

Jadi menunjuk Kaesang secara aklamasti di Kopdarnas PSI adalah senjata PSI untuk meraup suara pendukung Jokowi. Ini adalah sebuah cara yang cerdik, karena PSI tidak dianggap sebagai ancaman bagi partai lain. PSI bukan mau mengerogoti suara partai lainnya namun suara pendukung Joko Widodo yang jadi sasarannya. Harus diakui dalam dua periode kepemimpinannya, Joko Widodo menjadi lebih kuat dari partai.

Tanda-tanda PSI yang dipimpin Giring Ganesha kembali tak lolos electoral threshold sudah jelas di depan mata. PSI yang kemudian diperkuat oleh sosok-sosok senior, berkompeten dan ternama dalam daftar calegnya belum cukup untuk mendongkrak suara.

Survei yang dilakukan oleh LSI Denny Ja setiap bulan dari Mei hingga September 2023 secara konsisten menunjukkan dukungan pada PSI tak pernah melebihi 2 persen.

Sementara untuk bisa mengirim kadernya ke Gedung DPR RI dibutuhkan dukungan minimal 4 persen. Dukungan untuk PSI masih defisit dua persen.

Melihat tingkat kepuasan masyarakat pada Joko Widodo yang tinggi, approval rating-nya kurang lebih 80 persen maka pengaruh Joko Widodo dalam politik kemasyarakatan masih tinggi. Ini yang hendak dimanfaatkan dan didulang oleh PSI.

Maka manuver menjadikan Kaesang sebagai Bro Ketum PSI adalah cara untuk mendapatkan Jokowi Effect itu. Jika sebagian dari pendukung Jokowi kemudian mengarahkan dukungan ke PSI niscaya air bah suara akan menerpa PSI, tidak usah banyak-banyak cukup 2 hingga 5 persen saja.

Jika partai lain berebut Jokowi Effect untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas capresnya, PSI mencari celah justru untuk mengamankan kursi pertamanya di DPR RI. Sekali lagi cara ini tidak membuat PSI head to head berebut Jokowi Effect dengan partai lainnya.

BACA JUGA : NU Magnet Politik Pemilu, Bagaimana Dengan Muhammadiyah?

Strategi PSI menjelang pemilu 2024 ini berbeda dengan pemilu yang lalu. Tetap bermian di konten, namun tak terlalu genat-genit dalam urusan dukung mendukung calon presiden. Ketimbang loyal ke calon presiden, PSI lebih memilih loyal ke Joko Widodo.

Memang sudah cukup lama PSI menyatakan tegak lurus pada Jokowi. Bahkan PSI lekat dengan istilah Jokowisme, bukan dalam artian pengkultusan tapi sintesis dari tata nilai, platform, gagasan kepemimpinan, pemerintahan dan ideologi yang dikembangkan oleh Joko Widodo. Tentu saja dalam versi PSI.

Menjadi salah satu pembela dan pendukung paling keras kebijakan Joko Widodo ternyata belum cukup untuk mendongkrak suara PSI, sekurangnya berdasarkan survei-survei yang ajeg dilakukan oleh berbagai lembaga penelitian dan pemasaran politik. Suara PSI selalu dibawah 2 persen, belum cukup untuk melenggang untuk menduduki kursi DPR RI.

PSI pun harus ngegas mencari cara agar mendapat limpahan suara dari para pendukung Joko Widodo. Pendekatan ideologis kemudian digeser ke biologis. Dan Kaesang menjadi pilihan sebab mengandeng Gibran jelas tak mungkin, Gibran adalah kader PDIP.

Kebetulan Kaesang sudah berkeluarga, sehingga jalur mendekatkan PSI dan Joko Widodo secara biologis memungkinkan tanpa harus melanggar tata tertib PDIP.

Pucuk dicinta ulam tiba, Kaesang yang didorong-dorong oleh PSI menjadi walikota Depok ternyata memberi angin. Kaesang mau menjadi anggota PSI. Sudah kepalang basah, Kaesang yang baru beberapa hari menjadi anggota PSI didapuk jadi ketua, Kaesang pun setuju.

PSI kemudian sama dengan PDIP, sama-sama dekat dengan Joko Widodo. Meski Kaesang belum sepengalaman Gibran, juga tak dekat dengan kelompok pendukung Jokowi namun sebagai anak presiden tentu saja tetap punya magnet.

Kalau start up-nya saja bisa kebanjiran investor, bukan tak mungkin partai yang dipimpinnya juga akan mengalami hal yang sama. Kaesang dan PSI tak perlu atau tak mengharap bisa mengambil semua suara pendukung Joko Widodo. Sebab 2 – 5 persen saja suara pendukung Joko Widodo pindah ke PSI, maka pintu DPR RI akan terbuka, PSI bisa lolos ke parleman.

Akankah cara yang dipakai PSI, menganti ketuanya dari Giring Ganesha ke Kaesang Pangarep tanpa  melewati mekanisme konggres akan berhasil meraup suara pendukung Joko Widodo?. Tidak ada yang tahu jawaban pastinya.

Hanya di acara Kopdarnas untuk mengumumkan Kaesang Pangarep menjadi nahkoda PSI, ada cukup banyak kelompok pendukung Joko Widodo yang hadir.

Mungkin ini bisa menjadi pertanda bahwa Kaesang akan memberi limpahan suara ke PSI pada pemilu 2024 nanti.

note : Sumber gambar ilustrasi – RM.ID