KESAH.ID – Pengetahuan dari sebut saja barat {Eropa/Amerika} yang otoritatif tak lepas dari para cerdik cendekianya yang gemar blusukan, masuk ke sudut-sudut terdalam bangsa dan negeri lain untuk memperoleh pemahaman yang kemudian dirumuskan menjadi pengetahuan universal. Sejak jaman penjelajahan bumi dan kolonisasi hingga sekarang, mereka masih terus mengutus cerdik-cendekianya mempelajari manusia dan negeri diluar negeri mereka.
“Bocah ndlidik.” begitu julukan yang sering diberikan orang tua pada anaknya yang tak bisa diam di rumah, teramat rajin bermain dengan blusukan kesana kemari hingga setiap pulang rumah tubuh dan pakaiannya celemotan menebarkan aroma bau naga.
Banyak orang tua tidak sadar kalau anak-anak yang suka blusukan itu sebenarnya tengah menjaga rasa ingin tahu, punya penasaran yang tinggi bukan karena tidak betah diam-diam jadi anak manis di rumah.
Hanya menilai dari ouput yang kelihatan, seperti baju kotor, tubuh celemotan dan kadang kulit kaki atau tangan beset-beset terluka, orang tua tidak menghitung bahwa anak-anak yang rajin blusukan itu pulangnya membawa pengetahuan.
Anak-anak ndlidik ini biasanya tahu dimana ada pohon salam, rumpun bambu yang banyak rebung, pohon asam yang sedang berbuah. Sesuatu yang berguna ketika bumbu atau bahan sayuran di dapur ibunya tak ada.
Blusukan kemudian populer ketika Joko Widodo hendak dicalonkan menjadi Gubernur DKI Jakarta. Ketokohan Jokowi menguat karena ketika memimpin Kota Surakarta dikenal rajin blusukan. Pemimpin yang rajin blusukan dianggap akan mengenal masalah warga yang sebenarnya sehingga berhasil menyelesaikan masalah-masalah pelik secara cepat dan tidak diwarnai ribut-ribut yang tak perlu.
Banyak orang yang tidak tahu bahwa dulu Suharto juga sering blusukan, baik terang-terangan maupun dengan cara menyamar. Suharto menyebutnya sebagai inconigti, pergi ke perdesaan atau daerah terpencil hanya ditemani dokter atau satu pengawal. Selain ingin mengenali masalah, Suharto juga ingin melihat hasil pembangunan.
Karena blusukan itu Suharto jadi tahu persis situasi perdesaan dan juga pertanian. Hingga Suharto sering mengingatkan kepada bawahan dan aparatur agar jangan keseringan melaporkan segala sesuatu untuk membuat dirinya senang. Suharto suka menyebut ABS, Asal Bapak Senang.
Namun kebiasaan blusukan Suharto itu dilakukan diawal masa-masa kepresidenannya. Setelah menjadi presiden yang kuat Suharto tidak melakukannya lagi. Suharto menganti pola blusukannya lewat pertemuan dengan Kelompencapir, Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pemirsa yang dipersiapkan oleh Menteri Penerangan Harmoko.
Meski kelihatan akrab dan natural, semua orang tahu segala sesuatunya diatur, termasuk pertanyaan dari warga. Tidak ada pertanyaan colongan atau dadakan.
Presiden sebelumnya yakni Sukarno juga dikenal suka blusukan dan akrab dengan masyarakat. Sukarno bahkan lebih natural karena sering berhenti mendadak dalam sebuah perjalanan lalu membaur dengan masyarakat. Sukarno juga pernah menyamar menjadi kuli saat pembangunan Pasar Senen, namun wajahnya kemudian dikenali oleh kuli lainnya.
Sukarno yang gemar pidato ini juga memakai kesempatan setiap tanggal 17 Agustus berpidato di hadapan rakyat. Rakyat berkumpul di alun-alun dan Sukarno akan berbicara pada mereka tanpa teks. Namun kebiasaan ini tidak diteruskan oleh presiden-presiden berikutnya. Pidato kenegaraan untuk memperingati kemerdekaan dipindahkan ke gedung DPR/MPR.
Pemikiran politik Sukarno yang dikenal sebagai Marhenisme berawal dari kebiasaan Sukarno yang suka blusukan ketika masih kuliah di Kota Bandung. Kerap bersepeda tanpa tujuan yang ditentukan lebih dahulu, blusukan Sukarno mempertemukannya dengan petani.
Petani yang hanya mengarap sepetak sawah, bekerja keras dari pagi sampai sore hasilnya hanya cukup untuk makan, tidak bisa membeli kebutuhan lain atau mencari modal untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Sukarno kelak menyebut rakyatnya sebagai marhaen, orang-orang kecil yang bernasib malang karena keterbatasan alat produksi.
Marheinisme kemudian dirumuskan oleh Sukarno menjadi Sosialisme Ala Indonesia. Dan Sukarno kemudian melakukan kebijakan landreform, membagikan tanah yang cukup untuk para petani.
BACA JUGA : Amuk Anak Belia Makin Ganas
Dulu di kalangan bangsawan kerajaan-kerajaan Eropa dikenal istilah Grand Tour. Calon pemimpin atau putra mahkota ketika muda akan melakukan perjalanan keluar wilayah kerajaan, mengunjungi berbagai tempat dengan disertai seorang mentor.
Sang Pangeran atau Putri akan berkelana untuk melihat, mengenali dan mempelajari kehidupan masyarakat di luar tempat tinggalnya. Darinya dia akan memperoleh pelajaran, pengetahuan dan keutamaan-keutamaan lain yang beguna ketika memimpin negerinya nanti.
Kebiasaan bekelana, menjelajah negeri lain untuk mencari pengetahuan kelak menjadi kebiasaan di Eropa. Bukan hanya dilakukan oleh para calon pemimpin melainkan oleh para cerdik cendekia. Menyertai para penjelajah yang hendak berdagang atau menjajah negeri orang, cerdik cendikia Eropa berhasil menjadi perumus pengetahuan dunia, nama dan karyanya dikenang dan menjadi rujukan hingga sekarang.
Jauh sebelum itu, Budhisme, salah satu ajaran religius terbesar di dunia jika ditelusuri asal usulnya juga bersumber dari pengembaraan Sidarta Gautama. Terlahir sebagai seorang pangeran, pewaris tahta kerajaan, Sidarta yang hidup dalam semua kelebihan memutuskan meninggalkan semua privilege yang akan diwariskan oleh orang tuanya yang adalah maha raja.
Pergi meninggalkan tembok kerajaan Sidarta melihat kehidupan yang sesungguhnya, segala sesuatunya seperti baru karena tak pernah dilihat olehnya ketika berada dalam tembok istana dimana segala sesuatunya indah dan menyenangkan.
Berbakal pakaian di tubuh, Sidarta meninggalkan segala-gala hingga hidup dalam kondisi penderitaan yang sangat ekstrim. Hidup sebagai pertapa dan pengelana, merefleksikan kehidupan dalam kondisi yang paling lemah akhirnya Sidarta memperoleh pencerahan berupa kebijaksanaan-kebijaksanaan.
Olehnya kebijaksanaan itu diajarkan dan disebarluaskan hingga kemudian dikenal sebagai ajaran Budha.
Kembali ke Eropa di masa kolonial global, kebiasaan mereka untuk menyertakan antropolog dalam misi dagang atau kolonialisasi untuk mempelajari bangsa lain dan kehidupannya dimaksudkan untuk mendapat pengetahuan serta pemahaman yang dibutuhkan untuk melengkapi pengetahuannya tentang kaum mereka sendiri.
Di Eropa, pengetahuan dan pemahaman tentang kaum lain non eropa yang dianggap oleh mereka sebagai kaum non modern kemudian dipakai untuk merumuskan pengetahuan tentang sosok manusia secara universal.
Dan sebagian pengetahuan hasil blusukan para kaum cerdik pandai itu juga dipakai oleh penguasa atau regim penjajah Eropa untuk melakukan kolonisasi, menahklukkan bangsa lain dengan cara yang lebih halus,lebih mudah dan membuat yang dijajah tidak merasa terjajah.
Sejak jaman kolonial karya-karya cendekia Eropa yang memuat pengetahuan tentang Nusantara dan Indonesia begitu kuat. Jerih payah hasil blusukan mereka di berbagai penjuru dan sudut-sudut kehidupan Indonesia amat otoritatif. Seolah apa yang mereka tuliskan dan simpulkan valid sehingga akan diamini oleh kita.
Orang Jawa menceritakan tentang Jawa berdasarkan yang dituliskan oleh Clifford Geertz. Orang belajar tentang Borneo dan orang Dayak dari Michael Coomans atau Bernard Sellato.
Yang mau tahu tentang Celebes, terutama Sulawesi Selatan atau masyarakat Bugis akan membaca karya-karya Michael Pelras.
Hingga kini banyak profesor dari luar negeri yang memperoleh gelar Indonesianist, mereka menjadi pengajar yang otoritatif bahkan kepada cerdik cendekia dari Indonesia tentang Indonesia. Benedict Anderson, Daniel Lev, Tim Lindsay adalah beberapa diantara yang terkemuka.
BACA JUGA : Fast Fashion Ledakan “Gombal Amoh” Global
Apakah otoritatifnya pemahaman dan pengetahuan cerdik cendekia negeri seberang tentang negeri kita karena mereka lebih tahu ketimbang kita?.
Tidak juga, tentu saja kita lebih tahu diri dan negeri kita sendiri. Namun ada banyak faktor yang membuat karya-karya para cedik cendekia tentang negeri sendiri menjadi tidak populer, kalah bersaing hingga tak banyak dibaca dan dipuja oleh sesama anak negeri.
Soal kita tahu negeri kita sendiri tak usah ditanya. Anak-anak Indonesia punya modal ndlidik sejak kecil. Dan ketika beranjak dewasa sebagian besar akan berkelana, merantau ke daerah lain bahkan hingga negeri seberang.
Yang membedakan hanyalah tujuan. Jika para pengembara dan pengelana Eropa blusukan ke sudut-sudut negeri lain bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman, para perantau nusantara pergi keluar membawa tujuan pulang menjadi kaya raya. Sukses berkelana adalah harta yang dibawa pulang ke kampung halaman.
Pulang hanya membawa cerita akan dianggap sebagai kegagalan. Karena kisah atau cerita tak akan jadi beras.
Padahal ada banyak contoh, mereka yang berkelana dan pulang hanya membawa pengetahuan kemudian bisa berhasil membangun usaha, bertani dan berternak lebih baik dari mereka yang hanya berkutat di kampung halamannya sendiri.
Sementara itu pemerintah dan institusi pendidikan hampir tak pernah mengutus serta membiayai cerdik cendekia untuk berkelana, pergi bertahun-tahun ke mana saja untuk menggali pengetahuan disana dan pulang membawa karya. Pemerintah dan institusi pendidikan lebih suka mengutus pergi ke luar negeri untuk pulang membawa gelar. Seolah kalau punya gelar berarti punya pikiran, padahal kita tak pernah tahu dan menemukan buah pikirannya dalam karya-karya tulis.
Soal blusukan sebenarnya bukan hanya presiden, walikota, bupati atau gubernur yang suka melakukannya. Diam-diam jika diperhatikan Aparatur Sipil Negara dan Wakil Rakyat juga amat suka melakukannya.
Coba perhatikan postur anggaran didalam APBD. Salah satu mata anggaran yang menyedot banyak uang adalah perjalanan dinas, judulnya bisa macam-macam.
Wakil Rakyat misalnya sangat sibuk ke luar daerah. Makanya sidang atau pertemuan di Gedung Wakil Rakyat jarang dihadiri lengkap oleh anggotanya. Pun demikian dengan ASN, terlebih kepala dinas dan kepala-kepala bidang. Mereka jarang bisa ditemukan berada dalam ruang kerjanya sewaktu-waktu.
Tapi apa yang dibawa pulang dari blusukan itu?.
Bukan pengetahuan yang dalam melainkan sekumpulan dokumen dan pengetahuan instan yang kemudian sering diterapkan mentah-mentah dalam wilayah yang menjadi tanggungjawab atau mandatnya.
Menamai blusukan dengan Studi Tiru hasilnya adalah copy paste yang kerap kali tanpa paraprashing dan editing. Hasilnya satu Indonesia trend-nya menjadi sama.
Kebiasaan ATM, Amati, Tiru dan Modifikasi menghasilkan deretan para pengekor yang kehilangan otentisitas.
Ambil contoh soal wisata, menjadikan desa-desa wisata di Jawa sebagai benchmarking desa-desa wisata yang tumbuh menjamur di Kalimantan Timur wajahnya tak jauh berbeda. Semua main cat dan beramai-ramai bikin batik. Sampai-sampai jalanan dan jembatan ulin {telihan} dicat warna-warni dan dilukis dengan motif batik.
Perjalanan blusukan ke perbagai penjuru negeri bukannya memperluas wawasan dan pengetahuan untuk melahirkan inovasi, namun justru melahirkan para peniru, pengekor yang tak punya buah pikiran sendiri.
Sepertinya para travel blogger yang suka blusukan dengan biaya sendiri atau sedikit endorsan dari mereka yang bersimpati masih jauh lebih baik. Kisah perjalan mereka, pengetahuan dan pemahaman yang mereka peroleh di destinasi-destinasi yang dijelajahi masih bisa dibaca lewat postingan di web atau media sosial. Beberapa bahkan ditulis dalam serial buku yang penuh dengan pengetahuan.
Ade Perucha Hutagaol yang lebih dikenal dengan nama Trinity, seorang wisatawan independen telah menelurkan kurang lebih 15 buku catatan perjalanannya yang penuh inspirasi. Telah mengelilingi berbagai provinsi di Indonesia dan berkeliling di kurang lebih 80 negara, salah satu bukunya yang terkenal berjudul Naked Traveller.
Jangan berpikir yang enggak-enggak, naked tak ada hubungannya dengan yang tak berpakaian, melainkan plesetan dari nekat, karena isinya memang kenekatan berwisata ke berbagai penjuru dunia.
Jadi jangan cela dan marahi anak-anak yang ‘ndlidik’ karena rajin blusukan adalah jalan pertama untuk memperluas pemahaman dan wawasan yang bisa melahirkan pengetahuan. Dan pengetahuan adalah pondasi peradaban.
Maka berkeinginan membangun kota menjadi pusat peradaban namun tak pernah benar-benar blusukan hingga keblusuk tak lebih hanya kesah mati, hanya sebuah cerita yang tak akan menjadi beras.








