Pasti kita sudah bosan dengan pidato atau sambutan yang berisi penyataan bahwa Indonesia menyimpan banyak talenta hebat. Soal banyaknya talenta hebat adalah wajar saja sebab kita adalah salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia.

Yang menjadi soal justru di tengah banyaknya talenta hebat ternyata tidak ada langkah hebat untuk mengembangkan talenta-talenta itu menjadi produk negeri kita sehingga menglobal.

Mengembangkan talenta bukanlah prestasi yang dikejar oleh siapapun yang memimpin negeri, memimpin daerah dan memimpin organisasi-organisasi yang berisi orang-orang bertalenta.

Pemimpin negeri dan daerah merasa berprestasi jika membuat investor mengantri dan kemudian membangun pabrik atau apapun yang bisa menyerap banyak tenaga kerja. Ukurannya itu bukan soal dampaknya pada lingkungan hidup, masyarakat setempat, masyarakat tradisional atau masyarakat adat.

Sudah lama olahraga diurusi oleh berbagai organisasi yang khusus, organisasi yang mestinya paham mengembangkan talenta. Namun sampai dengan hari ini mereka yang mengharumkan nama bangsa, menjuarai jenis olah raga ini dan itu umumnya tidak lahir dari organisasi-organisasi yang mengurusi mereka saat ini.

Bulu tangkis yang saat ini masih terus bertahan memberikan kebanggaan, bisa ajeg memasok atlet bertalenta karena ada klub-klub yang terus bertekun tanpa mempertimbangkan untung rugi.

Bersyukurlah ditengah minimnya kebijakan strategis soal pengembangan talenta anak-anak negeri, selalu muncul sekelompok kecil orang yang tak bergantung pada siapapun untuk menghasilkan karya. Salah satunya dalam dunia musik.

Pada tahun 2020 kita dikejutkan oleh sebuah grup yang bernama asing, Weird Genius, dengan lagu berjudul Lathi. Genre musiknya adalah EDM. Lagu ini dinyanyikan oleh Sara Fajira, rapper asal Jawa Timur.

Nama group dan penyanyinya masih asing untuk publik sehingga banyak yang menyangka lagu Lathi adalah hasil besutan grup musik luar negeri. Tapi mereka yang paham bahasa Jawa akan tahu bahwa Lathi artinya lidah.  Dan sepenggal bait dari lagu ini memang memakai bahasa Jawa “Kowe ora iso mlayu saka kesalahan, Ajining diri ana ing Lathi”. Arti dari penggalan bait itu “Kamu tidak bisa lari dari kesalahan. Kehormatan diri ada pada ucapannya,”.

Diupload kurang lebih 7 bulan lalu, di Youtube video klipnya telah ditonton lebih dari 96 juta kali. Di reaction dan dicover oleh banyak orang baik di dalam dan di luar negeri. Dan mereka yang meng-cover juga memperoleh view jutaan.  Kompilasi tik tok dengan hastag #lathichalenge di sebuah channel bisa meraup penonton sebanyak 4,2 juta. Sungguh luar biasa.

Weird Genius dengan Lathi-nya kemudian mendunia. Populer bukan hanya di Malaysia dan Singapura, melainkan juga sampai Amerika Serikat. Padahal mereka tidak kemana-mana karena dunia sedang dilanda pandemi. Eka Gustiwana, Reza Arap dan Gerald Liu tak sekalipun mengadakan konperensi pers dan menyebut akan menjadi artis global lalu pamit pindah ke luar negeri.

Berkarya di Indonesia, memadukan antara bahasa Jawa dan Inggris, Gamelan dan Elektronik Dance Music, serta menampilkan wayang kulit dan kuda lumping dalam video klip, ternyata mereka mampu go internasional. Seni yang mereka ramu mendunia. Viral di youtube dan juga spotify global.

Apa yang kita bisa pelajari dari Weird Genius dan Lathi?. Mereka menjadikan dunia sebagai pasar. Sebuah upaya untuk melawan kenyataan betapa selama ini atau sekurangnya akhir-akhir ini kita dijadikan pasar dalam dunia musik, terutama oleh Korea Selatan dengan K-Pop-nya.

Ya kita adalah pasar, maka kita mencatat ada artis-artis dari Malaysia, Korea, Jepang, Philiphina dan Thailand yang kemudian memilih berkiprah di Indonesia.

Lathi-nya Weird Genius menjadi antitesis ini, meski berbahasa Inggris tak berarti meniru barat. Bahasa dan musik hanyalah medium namun kontennya tetap Indonesia karena dibuat oleh orang Indonesia dan di Indonesia, bukan seperti artis sebelumnya yang go Internasional dan memakai perangkat barat untuk menopang karyanya.

Sudah teramat banyak pemerintah mencanangkan ini dan itu untuk meraih prestasi global. Terlalu banyak pemimpin membranding diri sebagai pemimpin visioner tapi pada akhirnya Lathi karya Weird Genius lah yang tanpa modal gembar-gembor sanggup menembus belantara global dengan memanfaatkan perangkat digital karena didalamnya dunia tidak bersekat.

Wahai pemimpin dan calon pemimpin berhentilah berpidato jika kemudian hanya terperangkap di perangkat digital. Jangan pula hanya gemar meresmikan dan meninjau ini dan itu, serta terpengaruh dan menaruh perhatian lebih pada gerombolan yang gemar menunjukkan banyaknya pengikut di lapangan atau jalanan.

Berilah dan lempangkan jalan untuk generasi muda yang berkarya dalam ruang-ruang kecil namun bisa menghasilkan karya besar yang merambah luasnya dunia.

kredit foto : topcareer.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × five =