Saya lupa buka apa yang pertama dibeli. Yang pasti pada jaman sekolah dulu saya memang jarang beli buku, kecuali buku tulis.

Tapi jangan buru-buru menuduh bahwa saya kurang membaca. Semaca SD saya cukup banyak membaca, selain bermain di lapangan, sawah dan kebun. Ada teman yang punya banyak majalah bacaan dan komik cerita kiriman dari orang tuannya yang tinggal di Jakarta. Selain itu ada juga Perpustakaan Keliling dalam bentuk bus yang datang seminggu dua kali di lapangan dekat rumah saya.

Ketika SMP saya mulai suka ikut membaca buku-buku milik bapak saya. Dan berbagai jenis buku yang ada di ruang tamu Mbah Kaji Parlan, tetangga yang sering saya datangi untuk bertandang.

Bapak saya juga berlangganan beberapa majalah. Di majalah-majalah itu saya bisa membaca cerita bersambung karya Mangunwijaya, kolom satire Marga T dan cerita pendek yang ditulis oleh Kyai Ahmad Tohari.

Kebiasaan membaca buku cerita terbawa sampai SMA. Selain novel-novel ringan seperti karya Mira W, Ashadi Siregar dan NV Lestari, saya juga membaca novel filosofis, sejarah dan budaya yang ditulis oleh Marianne Katopo, Sindhunata dan tentu saja Mangunwijaya.

Di SMA saya juga mempunyai teman yang memiliki toko buku. Dia tahu saya suka membaca sehingga kerap meminjamkan bahkan memberi buku bacaan. Karena kebaikannya maka saya bisa membaca Musashi karya Eiji Yoshikawa, Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (Catatan untuk emak, Lintang kemukus dinihari dan Jentera bianglala) karya Ahmad Tohari dan buku-buku lain karya Danarto, Umar Kayam, Ajip Rosidi dan masih banyak yang lainnya.

Sampai dengan saat itu saya merasa merupakan seorang pembaca buku yang cukup baik, apa yang ada di tangan saya akan saya baca sampai tuntas.  Bisa begitu karena tidak ada yang menyuruh saya membaca. Apa yang saya baca adalah karena saya suka dan ingin tahu.

Saking ingin tahunya, bahkan beberapa kali Bapak melarang saya membaca buku-bukunya. “Belum saatnya,” ujarnya.

Tapi tetap saja saya membaca buku-buku yang ditulis oleh Muji Sutrisno, Banawiratma, Boellars, Heuken dan lain sebagainya.

Setelah tak lagi kuliah dan mulai bekerja dalam proyek sosial kemasyarakatan, saya mulai suka dan sering membeli buku. Saat itu menurut saya membeli buku itu gagah

Buku berdebu

Rajin membeli buku itu berawal dari iri. Di sebuah kantor dalam ruangan seorang teman ada lemari penuh berisi buku.  Selain penting untuk bahan perbincangan, buku saat itu bisa menunjukkan kelas intelektualitas seseorang.

Karena ingin mengejar jumlah dan koleksi buku teman. Sewaktu mendapat ruang sendiri di tempat saya beraktifitas, saat menulis proposal permohonan dukungan program, saya sertakan item pembelian buku yang akan mampu memenuhi dua rak buku yang sudah tersedia. Dan sim salabim abakadabra, donor pendukung program menyetujui.

Kala itu banyak NGO di Jawa menggeluti penerbitan alternatif. Ada banyak buku bagus termasuk hasil terjemahan buku dari luar negeri. Buku-buku itulah yang kemudian masuk dalam daftar list borong.

Punya banyak buku ternyata tidak membuat saya makin rajin membaca. Jumlah buku yang saya baca tuntas tak sebanyak saat saya membaca buku pinjaman atau pemberian orang.

Meski terus menerus masih membeli buku lama kelamaan saya lebih suka menonton video di komputer.

Yang terus memberi buku juga banyak. Terutama buku-buku yang ditulis atau diterbitkan oleh berbagai program yang dibiayai donor luar negeri. Buku-buku itu umumnya bertahta rapi masih lengkap dengan bungkus plastiknya. Terkecuali yang memberi buku jeli dengan menyertakan lembar yang harus diisi untuk mengomentari isi buku. Dengan malas dan terpaksa saya mesti membaca buku itu.

Tapi tetap saja ada buku buku yang mesti saya baca. Terutama yang berhubungan dengan berbagai program yang saya jalankan. Karena sebagian besar apa yang saya kerjakan adalah hal-hal yang baru untuk saya sehingga mesti belajar. Dan buku adalah sumber pembelajarannya.

Pun ketika menulis proposal untuk mengajukan program baru. Saya harus banyak membaca referensi agar proposal yang saya tulis menyakinkan dan anggaran yang diajukan tidak banyak dipotong atau syukur-syukur malah ditambahi.

Kalau ada yang bertanya apa buku favorit, sulit buat saya untuk menjawabnya. Sebagaimana makanan saya juga tak punya pilihan favorit untuk buku. Tapi kalau dipaksa untuk memilih maka saya akan memilih buku yang berisi kumpulan esai. Mungkin bukan buku yang utuh secara tema namun selalu menyenangkan untuk membacanya.

Buku digital

Sekarang mata saya mulai payah untuk membaca buku. Alhasil semakin banyak buku entah yang saya beli sendiri atau diberi oleh orang tak sempat terbaca.

Dan bacaan bagus serupa dengan buku kini tak mesti harus dibaca dari buku. Ada banyak sumber pengetahuan lain yang bisa menjadi tempat membaca.

Buku atau bacaan digital dalam berbagai bentuk dengan mudah diakses lewat internet. Ada banyak situs direktori buku dan karya tulis lainnya. Ada juga cloud atau drive yang dibagi link-nya. Adapula aplikasi perpustakaan digital yang bisa memaksa untuk segera membaca karena buku yang ditaruh di rak digital kita hanya dalam jangka waktu tertentu.

Jadi membaca buku hard coppy semakin menjadi tantangan.

Tapi saya masih sesekali membeli buku. Buku yang direkomendasi oleh mereka yang saya anggap sebagai reviewer buku terpercaya.

Hanya saja belum tentu buku yang dibeli itu saya baca dengan semangat membara. Terkadang membaca beberapa catatan tentang buku itu membuat saya serasa sudah melahap habis lembar-lembarnya.

Untuk koleksi buku cetakan masihlah penting. Apalagi saya masih punya meja baca dan meja belajar yang akan elok jika diisi tumpukan buku.

Saya yakin yang suka beli buku tapi nggak rajin membacanya pasti bukan saya saja.  Bertahun lalu saya sudah punya teman yang bertabiat seperti itu.  Suka mengajak saya pergi ke toko buku dan kemudian pulang dengan satu tas buku sebagai tentengan.

Dan bisa dipastikan teman itu tak membacanya. Sebab banyak kali dari pagi, siang, sore dan malam saya bersamanya. Jadi pasti dia tak punya waktu membaca buku yang dibelinya itu.

Tapi setiap kali mengajak ke toko buku saya selalu mengiyakan. Sayapun tak pernah bertanya apakah dia membaca buku yang dibelinya atau tidak.  Saya tak bertanya agar tetap diajak pergi ke toko buku. Karena setiap dia mengajak pergi maka pulangnya saya akan membawa satu atau dua buku yang dibayar dengan gesekan kartu kreditnya.

Dan lagi-lagi buku hasil traktiran itu belum tentu saya segera baca.

Maka sesungguhnya saya dan teman saya itu sama saja. Beli buku tapi tak rajin membaca.

Tapi dalam semangat kekinian saya telah melengkapi smartphone dengan aplikasi book reader dan e-library.

Hanya saja saya bukan termasuk generasi digital native. Karenanya sebagai digital migrant saya harus berjuang untuk menjadi pembaca buku digital yang tekun.

Dan sejauh ini belum cukup berhasil. Saya masih menjadi scanner belum menjadi reader.

Oleh karena itu saya merasa belum layak bergaul dan berkumpul dengan para aktivis dan penggerak literasi.

kredit foto : Christin Hume – unsplash.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

sixteen − 3 =