Pemanasan global itu nyata, bukan gombal. Jakarta konon sudah membuktikan dampaknya. Curah hujan makin tinggi, cuaca ekstrim semakin sering.  Banjir tak terhindarkan dan makin parah karena selain air juga berlimpah banjir komentar di media sosial.

Samarinda juga sudah berhari-hari panas. Angin juga kencang dan awan di langit terdorong menjauh. Hujan batal turun. Karena panas di jalanan orang ingin cepat-cepat sampai tujuan. Kendaraan dipacu dengan maksimal. Pun celah sempit juga coba diterobos agar kecepatan dan waktu tempuh tak berkurang.

Jika cuaca nyaman pengendara akan diberi nasehat hari-hati, santai saja tak ada singa mengejar di belakang. Tapi ketika cuaca panas menyengat pengendara akan diharap “bisakah lebih cepat,”.

Sengatan panas mentari memang bisa bikin mendidih. Bukan hanya air yang menguap tapi cairan tubuh yang mengakibatkan emosi cepat terganggu. Semakin panas cuaca semakin beringas juga pengendara di jalanan. Senggolan kecil saja sudah cukup untuk memicu keributan besar.

Tapi soal teman saya yang marah-marah sedari pagi tadi tak ada hubungan dengan perubahan iklim. Marahnya adalah akumulasi dari diam yang dipendam. Setahu saya dari dulu dia menyukai Dian Sastro. Dan ketika Dian Sastro menikah, dia patah hati tapi disimpan sendiri.

Setelah itu dia terpana pada Raisa. Belum sembuh luka hatinya yang tergores oleh Dian Sastro malah tambah menganga karena Raisa juga menikah.  Tapi ruang hatinya masih cukup lebar meski terkoyak koyak. Hanya saja kali ini dia meradang. Tapi saya tak tahu siapa yang di-jatuh cintai dan kemudian menikah.

Sewaktu saya tanya dia diam tak menjawab.

“Maudy kan belum nikah,” pancing saya.

Dia tak bergeming.

Rasa cinta memang bukan logika

Jatuh cinta atau terpana memang sulit dipahami secara logika. Cinta katanya berasal dari mata turun ke hati. Dari pandangan ke perasaan. Padahal sebenarnya tidak begitu. Sebab orang buta yang tidak melihat ternyata juga bisa jatuh cinta.

Yang benar cinta itu bermula dari indera. Kita bisa jatuh cinta pada orang lain hanya karena mendengar suaranya, mencium baunya.

Pun kalaupun jatuh cinta karena pandangan, tidak berarti kita akan jatuh cinta karena terpana pada paras wajahnya. Ada banyak yang terpana karena kaki yang indah, jari yang lentik, kuku yang bersih, badan yang tinggi. BMW katanya. Body mengalahkan wajah.

Selain itu seseorang juga bisa jatuh cinta karena terpana pada kepandaian, kecerdasan atau kemampuan seseorang.

Dan disitulah seseorang jatuh hati, jatuh cinta merasa memiliki tapi yang dijatuh cintai sama sekali tak tahu.

Maka kalau ada seseorang uring-uringan nggak jelas seperti seorang yang sedang cemburu, kemungkinannya adalah orang itu sedang mencemburui seseorang yang digilainya namun orang itu tak tahu atau tak merasa.

Karena imajinasi kita bisa membuat atau merasa seolah-olah seseorang itu kekasih kita.

Media sosial bahkan bisa membantu imajinasi kita itu semakin nyata. Lewat media sosial kita bisa memposting status yang ditujukan untuk orang yang kita anggap sebagai kekasih kita.

Pagi, siang, malam kita bisa menyapanya. Mengucapkan selamat pagi, jangan lupa sarapan, selamat tidur, have a nice dream dan lain-lain.

Melalui media sosial kita pun bisa selalu merasa bersamanya setiap saat.  Mengikuti semua akun media sosial seseorang kita akan tahu apa yang dilakukannya, apa yang dirasakannya dan apa yang dikerjakannya selama seharian.

Itulah yang dilakukan para pengemar rahasia. Andai pengemar rahasianya banyak. Dan yang digemari kemudian menikah. Maka hari itu akan menjadi hari patah hati nasional.

Hadirnya media sosial sebenarnya menolong orang-orang yang tak punya urusan ini mengekpresikan diri. Jauh dimasa lalu sebelum internet hadir, perilaku cemburu padahal bukan siapa-siapa ini wujudnya lebih sadis.

Suatu saat teman saya yang badannya tinggi, kurus, berkulit hitam dan berambut keriting mendapat tugas mengajar di salah satu SMA Favorit. Selain pintar-pintar, siswinya juga dikenal cantik-cantik.

Sepulang mengajar dia bersama beberapa muridnya pulang sama-sama. Saat melewati segerombolan anak-anak muda yang duduk duduk di pusat kota mulailah lontaran kata-kata mengintimidasi teman saya.

Pendek kata para anak-anak muda itu tak rela ada orang seperti teman saya berjalan bersama gadis-gadis cantik. Mereka cemburu dan mulai menyerang teman saya dengan kata-kata yang tak mengenakkan hati.

Kejadian cemburu padahal bukan siapa-siapa juga kerap terjadi di gang-gang tertentu.

Anak laki-laki di gang tertentu sering kali secara sepihak otomatis tak suka kalau ada anak gadis dalam gangnya dipacari orang luar.

Siapa yang diketahui memacari gadis di dalam gang pertama akan dipalak di depan gang. Jika palakannya tak memuaskan maka motornya akan digembosi jika diparkir di pinggir jalan.

Besok-besok sang pemuda gagah berani karena memacari gadis dalam gang itu bisa saja dipukuli. Kejadian seperti ini mungkin masih terjadi walau dalam bentuk yang lain.

Jika ada publik figur yang pacaran padahal wajah dan umurnya tak berimbang maka ramai-ramai penggemarnya akan cemburu dan dengan kompak menyebut pacaran itu sebagai settingan.

Jadi kita sering terserang cemburu karena gila urusan.

kredit foto : winnetnews.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen + four =