Banjarmasin menyebut diri sebagai Kota Seribu Sungai. Benarkah ada seribu sungai disana?. Tidak karena sebutan seribu adalah kata lain dari banyak dan dengan menyebut diri sebagai kota seribu sungai akan membuat Banjarmasin layak menyematkan identitas sebagai Kota Sungai.

Sebenarnya bukan hanya kota Banjarmasin yang terkenal karena sungainya. Kota-kota di Indonesia umumnya juga dikenal karena sungai. ¬†Solo ternama karena Bengawan Solo. Semarang dikenal dengan lagu ‘Semarang kaline banjir”. Yogyakarta juga dikenal karena Kali Code.

Palembang, Pontianak dan Samarinda juga demikian. Terkenal karena mempunyai dan dilewati sungai besar serta panjang.. Samarinda misalnya dibelah oleh Sungai Mahakam yang panjangnya hampir 1000 km.

Jakarta juga punya banyak sungai. Tapi tak usah kita sebut dan bicarakan. Karena nanti dikira ikut-ikutan menyerang dan tak senang pada Gubernurnya.

Hanya saja sungai yang selalu dilukiskan oleh anak-anak sekolah sebagai sungai yang berkelok-kelok dengan riparian hijau dan indah kini umumnya bermasalah.

Masalah sungai oleh mereka yang berhasil belajar bahasa Inggris dirumuskan sebagai 3 T. Yakni Too Dirty karena sungainya kotor dan penuh sampah. Too Much di musim hujan airnya kebanyakan sehingga meluap dan banjir. Dan Too Little di musim kemarau, saat hujan tak turun sungai mengering. Airnya terlalu sedikit.

Sungai adalah air. Tapi airnya pula yang kini bermasalah. Para ahli air yang bukan kontraktor proyek keairan merumuskannya dalam 3 K. Kualitas airnya buruk karena tercemar. Kuantitas banyak di musim hujan dan sedikit di musim kemarau. Dengan demikian sungai tidak bisa lagi diharap kontinuitas pasokan airnya.

Kalau mau memperpanjang daftar masih banyak masalah sungai lainnya. Masalah baik dari sisi sungai itu sendiri, perilaku masyarakat maupun para pengambil kebijakan. Masalah yang kemudian membuat fungsi dan manfaat sungai terganggu atau bahkan hilang.

Jadi jangan heran sungai yang kerap diceritakan sebagai sumber kehidupan kini berubah menjadi sumber bencana.

Dari domestifikasi ke okupasi

Harari menyebut lompatan penting yang dilakukan oleh komunitas homo Sapiens sehingga jauh meninggalkan komunitas binatang adalah domestifikasi. Homo Sapiens mengembangkan permukiman menetap sehingga meninggalkan budaya meramu, budaya berburu dengan mengembangkan budidaya pangan melalui pertanian dan peternakan.

Permukiman menetap pertama.yang dipilih adalah lokasi dekat air. Entah pinggir sungai, danau, rawa atau pesisir. Namun yang terbanyak adalah pinggir sungai. Karena selain airnya bersih, dataran atau perlembahan sungai setelah ditinggalkan banjir meninggalkan sedimentasi yang subur untuk bercocok tanaman pangan.

Berkumpul di tempat yang sama dalam waktu yang lama, interaksi antar homo Sapiens kemudian menumbuhkan kecerdasan kolektif. Kecerdasan bukan hanya untuk mencari makan dan bertahan hidup melainkan juga bersenang-senang serta memperluas kekuasaan.

Dunia terus berubah. Masyarakat yang maju adalah masyarakat pengetahuan dan teknologi berkembang. Salah satunya adalah transportasi yang berpindah, dari sungai ke jalan raya. Maka tempat yang strategis dan premium adalah pinggir jalan.

Rumah berubah arah, dari menghadap sungai kemudian menyembah jalan raya.

Kota butuh profesi penyangga. Orang-orang yang mendukung kehidupan tapi tak masuk dalam golongan pekerja formal. Kaum informal ini tak cukup kemampuan untuk tinggal di perumahan. Pinggir sungai menjadi pilihan.

Pemerintah pun menjadikan jalan raya sentrum. Sungai kemudian diabaikan. Fungsi dan manfaat sungai kurang diperhatikan. Salah satunya tercermin dari bangunan sungai misalnya jembatan yang kerap tidak memperhitungkan fungsi dan manfaat sungai sebagai sarana transportasi.

“Ketidakhadiran” pemerintah di lingkungan sungai membuat pertumbuhan permukiman di pinggir sungai tak terkendali. Permukiman kumuh yang buruk sanitasinya kebanyakan ditemui di pinggir sungai. Di banyak sungai bisa ditemui ‘ATM’ ( Anjungan Tinja Mandiri). Jamban yang kotorannya langsung dibuang ke sungai. Padahal pada saat yang sama, masyarakat memanfaatkan airnya secara langsung.

Masalah yang menonjol.saat ini adalah okupasi ruang sungai untuk berbagai keperluan seperti permukiman umum, perladangan atau pertanian.

Pemerintah selalu mempunyai cita-cita untuk membersihkan pinggiran sungai dari permukiman namun tak cukup punya daya untuk menjaga area yang belum diduduki. Mencegah perluasan permukiman dan pembukaan lahan yang tidak berkesesuaian dengan sungai.

Dalam masa ke depan tantangan akan lebih berat. Bagaimanapun pemandangan di sekitar sungai adalah pemandangan yang indah. “River side view” kini diburu oleh mereka yang punya uang. Agar mereka bisa menikmati setiap hari. Setiap hari adalah piknik.

Kecenderungan untuk menguasai wilayah atau area tepian sungai untuk kepentingan privat dan usaha yang berhubungan dengan kesenangan semakin tinggi.

Jika hal ini terus dibiarkan maka sungai tidak lagi menjadi ruang publik. Untuk menikmati sungai kita mesti membayar, baik tiket masuk ataupun kamar dan ruang yang kita pakai.

Dan kita nggak usah sakit hati kalau pemerintah seolah lebih memihak kepada orang kaya.

Karena mereka mungkin lebih patuh menyisakan 40% tanahnya untuk ruang terbuka hijau, lebih menjaga keindahan dan kebersihan. Lebih membuat pemandangan pinggir sungai berkilap di malam hari dengan pendar lampu warna-warni. Dan andai mereka membuka usaha, sumbangan retribusi atau pajaknya lebih tinggi.

Merekapun lebih rela pohon yang ditanam dan berbuah menjadi tempat singgah burung, kelelawar atau bajing.

Di negeri ini meski sesuatu itu ‘salah’ asal kemudian lebih baik cenderung akan direstui.

Jadi peringatan buat aktifis lingkungan jangan terlalu nge-gas poll, soal reklamasi pantai, normalisasi sungai atau lubang tambang yang dibiarkan.

Kalau semua itu kemudian menjadi taman dan tempat hiburan serta liburan yang indah, lalu anda ikutan menikmati maka siap-siap saja dibully.

“Dulu nolak-nolak, akhirnya sekarang ikut nongkrong juga,”

kredit foto : jasarentalmobilbanjarmasin.blogspot.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 + 8 =