Lebih dari 30 tahun lalu saya sering menemukan stiker tertempel di spakbor motor bertuliskan BOP. BOP kependekan dari Bukan Orang Penting atau Not Very Important Person.
Sekarang stiker seperti itu amat jarang yang memasang. Semua orang sepertinya ingin menjadi orang penting, jadi tokoh, jadi pemuka entah pemuka apa saja. Stiker atau tempelan yang disukai adalah VIP atau bahkan VVIP.
Jadi tak perlu lagi kaget kalau tiba tiba ada yang memperkenalkan diri sebagai tokoh. Karena menjadi tokoh tak sulit. Dirikan saja organisasi yang cakupannya luas, satu kabupaten, kota, provinsi atau bahkan nasional. Kalau perlu bahkan klaim saja sebagai organisasi sejagad raya.
Kalau media tak berniat memuat untuk endorse, mudah saja. Bayar, biar dituliskan artikel advetorial. Pun juga dimedia elektronik, airtime bisa dibayar sehingga kita bisa cap cup cus jadi narasumber talkshow atau dialog yang kita buat sendiri.
Di dunia yang serba narsis ini menjadi orang biasa-biasa saja, bukan siapa-siapa alias no body memang berat.
Maka upaya untuk menjadi seseorang mesti diupayakan. Yang paling gampang lewat foto, selfi dengan orang ternama dengan posisi tangan merangkulnya. Berfoto dengan presiden, menteri, orang dekat presiden, gubernur,bupati, ketua partai, artis seolah bisa mengangkat harga diri. Memposting foto bersama mereka seolah mengatakan “Saya ini bukan orang biasa lho!”.
Jadi alih alih memasang stiker BOP, kini sebagian besar orang memilih memasang stiker BOB atau Bukan Orang Biasa.
Padahal yang disebut Bukan Orang Biasa itu tak selalu berarti luar biasa. Bisa jadi Bukan Orang Biasa itu maksudnya setengah orang, setengah setan, orang jahat, orang kurang ajar atau bahkan orang-orangan.
Sama tapi berbeda
Sebagai salah satu bangsa yang paling ber – Tuhan, maka kita mengakui bahwa manusia mempunyai martabat dan derajat yang sama di hadapan manusia lainnya dan Tuhan.
Negara kita sebagai negara hukum juga mengakui setiap warga sama di hadapan hukum.
Namun terlalu gampang untuk menguji bahwa semua itu sulit ditemukan dalam kenyataan hidup bersama.
Paling gampang adalah kita semua punya hak menjaga ketertiban, keamanan dan kebersihan.
Nah, andai di jalan kita menemukan orang buang sampah sembarang, lalu kita tegur. Maka 99% orang yang kita tegur itu tidak akan berterimakasih sudah diingatkan.
Dan kalau penampilan kita kurang sangar, kurang besar, kurang kaya, kurang ganteng dibanding yang kita ingatkan maka kemungkinan kita bakal diintimidasi balik dengan perkataan “emang anda siapa?”
Pasti bukan sekali dua kali kita melakukan hal itu, mempertanyakan inisiatif orang lain yang kita anggap sebagai orang biasa-biasa sehingga tak pantas atau tak punya hak untuk memberi peringatan sekalipun peringatan itu benar.
Para aktivis, orang-orang peduli yang suka demonstrasi pasti kenyang dengan pertanyaan “Emang kamu siapa?” Setiap kali menyuarakan kepentingan masyarakat luas di depan para elit politik maupun pemerintahan.
Di negeri ini siapa itu dihitung bukan karena hak konstitusional, hak kewargaan dan hak kemanusiaan melainkan karena kekayaan, kedudukan, ketokohan dan label sosial politik ekonomi lainnya.
Maka menjadi petugas penjaga pintu yang ada jam buka tutupnya menjadi serba berat. Karena selalu saja ada yang berusaha menerobos jam dan jadwal. Jika tak dibukakan maka tak sedikit yang akan berkata “Anda nggak kenal siapa saya kah?”. Sayangnya jika yang menjaga pintu balik bertanya “Emang anda siapa?”, maka bisa-bisa malah celaka.
Maka jangan terlalu berharap soal ketertiban atau kedisiplinan di negeri ini jika urusan seperti itu dengan mudah dilanggar oleh mereka yang punya kuasa, punya kedudukan atau punya kekayaan.
Urusan “Emang kamu siapa?” ini bukanlah urusan sepele atau hanya berlaku dalam komunikasi antar warga. Urusan ini kemudian merembet ke skala yang lebih luas dan essensial. Ke soal politik pemerintahan, ekonomi bahkan kebudayaan.
Tanda bahwa kehidupan politik pemerintahan, ekonomi dan kebudayaan sudah dirasuki oleh “Emang kamu siapa” jelas terlihat dengan munculnya klan-klan politik, ekonomi dan kebudayaan.
Kita kerap menyangka bahwa yang dipenuhi oleh nepotisme hanyalah di bidang politik dan pemerintahan, padahal nyatanya tidak. Urusan mulia seperti olahraga dan kebudayaanpun dipenuhi dengan nepotisme.dam elitisme.
Di bidang ekonomi ada banyak contoh seseorang yang merangkak dari bawah hingga kemudian sukses dan besar. Tapi coba tanyakan perjuangan mereka. Seberapa sering dulu mereka tidak dianggap. Diperlakukan beda ketimbang mereka yang punya akses atau latar belakang yang lebih moncer.
Tapi kalau ditelisik lebih dalam sering kali ada ruang gelap dalam perjalanan kesuksesan seseorang. Ruang gelap itu kalau diterangkan maka akan ada label bertuliskan “Dia ini orangnya siapa, siapa yang menjadi backing-nya”.
Saya bukan orang sukses.Tapi kalau ada yang bertanya soal resep menjadi sukses, saya punya jawaban.
“Lahirlah menjadi anak orang kaya, orang berkuasa sehingga bisa sekolah di tempat terbaik dan berteman dengan orang-orang terbaik ketika masih hidup.”.
Kenapa orang baik ketika masih hidup?. Masalahnya kalau sudah mati percuma dan kebiasaan kita kalau ada yang mati kita kerap basa-basi menyebutnya sebagai putra terbaik ketika mau dimakamkan.
kredit foto : selebx.com








