Otak kita itu sempurna. Artinya otak akan mengolah segala sesuatu menjadi pengetahuan, pemahaman atau kepercayaan berdasarkan stimulus yang ditangkap olehnya.

Garbage in, garbage out. Jika yang masuk sampah maka yang keluar adalah sampah pula.

Dalam dunia komunikasi kesempurnaan itu kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Tujuannya adalah mendistorsi pikiran.

Komunikasi yang buruk atau didasari oleh niat buruk adalah jenis komunikasi yang menstimulus kemalasan berpikir panjang. Yang didorong adalah kesenangan berpikir pendek. Orang merasa tak penting untuk tahu dan paham, yang penting adalah percaya. Percaya yang sulit digoyang. Karenanya alasan atau data yang melatari kepercayaan itu tak penting.

Dalam pemberitaan atau postingan kita mengenal klikbait. Yang penting adalah memancing orang untuk membuka, me-like dan men-share. Semua dipancing dengan judul. Sesuatu kemudian dibagi dan menjadi viral bahkan ketika isinya tidak dibaca atau tak disimak dengan seksama. (Dibaca dalam tempo sesingkat-singkatnya).

Jika kemudian ada yang komplain, mengingatkan atau menunjukkan kelemahan yang dibagikan itu, maka dengan enteng yang menyebar akan bilang “Saya kan cuma membagikan,”.

Kalau yang dibagi itu duit, makanan, kaos atau baju ya nggak apa-apa tapi jika yang dibagikan itu fitnah, maka itu berarti yang membagi juga turut atau ikut memfitnah serta mengajak orang lain untuk ikut-ikutan memfitnah juga.

Bersatu kita teguh bercerai kawin lagi

Sampai dengan generasi 90-an kemungkinan masih akrab dengan pepatah ‘Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.  Namun generasi setelahnya tidak lagi akrab, mereka akrab dengan ungkapan, “Bersatu kita teguh, bercerai ya kawin lagi,”.

Persis sama dengan ungkapan ‘Nasi sudah menjadi bubur”, untuk generasi lampau ungkapan itu bernada penyesalan, nasib yang harus diterima. Untuk generasi sekarang nggak masalah. Sebab maunya nasi lalu jadi bubur ya tidak apa-apa, tetap bisa dimakan. Tinggal dikasih toping aja, jadilah bubur ayam, bubur sayur, bubur keju dan lain sebagainya.

Ajaran atau keutamaan moral memang dinamis.

Secara umum semua kebudayaan kita mengajarkan tentang dukung mendukung, saling tolong, mengutamakan persatuan. Nasehatnya adalah kalau lebih beri memberi, kalau kurang tambah menambah.

Saling tolong ini misalnya oleh orang Manado disebut sebagai Baku Tongka, baku dukung, saling sangga. Orang Kutai menyebut Betulungan atau tolong menolong.

Dengan demikian tolong menolong, bahu membahu atau saling dukung diajarkan oleh semua kebudayaan. Tapi yang terjadi kerap kali sebaliknya. Bukan baku tongka dan betulungan melainkan Baku Cungkil atau saling menjatuhkan.

Dalam banyak kasus kita kerap kali tak ingin ‘orang lain’ lebih tinggi capaian atau kesuksesannya dibanding kita. Maka ketika seseorang itu mulai merangkak naik, berbagai upaya dilakukan untuk menghambat bahkan kalau perlu dijatuhkannya.

Salah satu senjata yang ampuh untuk menjatuhkan adalah fitnah.

Fitnah adalah bentuk komunikasi yang berisi informasi palsu tentang diri seseorang, atau peristiwa yang terkait dengan seseorang dengan tujuan memberi penilaian negatif atas orang itu. Tujuan fitnah adalah menjatuhkan harga diri, kehormatan, kewibawaan atau integritas.

Fitnah kata orang Manado bisa “beking orang mati babadiri”. Maka tak salah jika ada yang mengatakan bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan.

Dulu fitnah berkembang dari bisik-bisik. Viral karena ditularkan dari mulut ke mulut.

Tapi sekarang fitnah dengan cepat menyebar dan ditebar secara vulgar melalui media sosial.

Ditambah dengan peralatan rekam gambar atau video di dalam genggaman tangan. Fitnah bisa dikemas semakin meyakinkan.

Ambil contoh, laki-laki dan perempuan yang bertemu tak sengaja di lobby hotel. Keduanya ada acara sendiri-sendiri dan sudah selesai.  Lalu berjalan bersama keluar pintu hotel karena yang perempuan ingin menumpang kendaraannya. Pas keluar ada yang memotret, atau merekam hingga sampai kendaraan. Lalu berboncengan dan keluar dari kompleks hotel. Rekaman itu diupload. Lalu dibeli caption “Bobok bobok siang nih. Kelar check in…Ya Bro and Sis,”.

Karena mereka bukan suami istri, maka yang lihat postingan itu langsung berpikir mereka berdua selingkuh. Dan tidak lama kemudian kolom komentar akan berisi berbagai macam dugaan, penegasan dan lain sebagainya.

Stimulus gambar dua orang lawan jenis, keluar dari hotel lalu meninggalkan hotel berboncengan dengan otomatis memicu model pikiran gaya pendek. Pikiran yang langsung menyimpulkan. Data yang dipakai adalah prasangka. Maka tanpa diuji dengan kemungkinan-kemungkinan lain, kesimpulan bahwa dua orang itu selingkuh langsung diambil dan diyakini.

Atau contoh lain, seorang pegawai biasa. Dititipi mobil oleh temannya yang pergi ke luar kota untuk waktu yang cukup lama. Mobil bagus itu kemudian dibawa pulang. Tetangga sebelah melihat, beberapa hari mobil itu ada di rumah pegawai biasa.

Tetangganya tahu tidak mungkin pegawai itu membeli mobil. Namun ada mobil di rumahnya. Dan tanpa bertanya-tanya, tetangga menyimpulkan bahwa pegawai itu bisa beli mobil karena korupsi.

Tuduhan selingkuh dan korupsi di masyarakat kita adalah tuduhan yang serius. Tuduhan yang bisa membuat orang dicibir.

Namun kita dengan mudah menuduh orang lain tanpa bukti yang kuat. Sebuah kebiasaan yang membuktikan kita malas berpikir.

Maka bukanlah fitnah jika saya mengatakan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang menyia-nyiakan kemampuan otak untuk berpikir dalam dan tajam. Rocky Gerung menyederhanakan fenomena ini dalam satu kata. Dungu.