KESAH.IDSebelum pandemi Covid 19, Bukit Batu Putih dengan gencar dipromosikan sebagai area konservasi geologi dan destinasi wisata di Kota Samarinda oleh berbagai komunitas. Bukit ini memang mempunyai kekhasan sejarah geologinya dan tercatat sebagai puncak tertinggi di Kota Samarinda dari atas bukit ini panorama Kota Samarinda dari berbagai sisi bisa dipandang. Tapi seiring dengan waktu, kekayaan sejarah dan keindahan bukit ini luruh bersamaan dengan batuan yang didongkel hingga meratakan puncak-puncaknya.

Samarinda mempunyai banyak kawasan perbukitan yang dari puncaknya menyajikan pemandangan panorama kota yang memikat. Destinasi bukit-bukit pandang tersebar di berbagai wilayah Kota Samarinda.

Menyusuri perbukitan ini menjadi sesuatu yang menantang. Termasuk buat teman-teman Susur Gang Samarinda yang mulai merasa jalur jalan sore-sorenya merupakan pengulangan.

“Kita butuh jalur baru,” ujar beberapa orang yang telah berkali-kali menyusuri punggung perbukitan disekitar Argamulya, daerah Wira-Wira, Raudah dan Kampung Jawa.

Ada yang mengusulkan ke perbukitan di daerah Selili atau Gunung Steling. Namun ada pula yang mengusulkan untuk naik ke Bukit Batu Putih.

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan untuk menyusuri gang mulai dari jalan Juanda 7 menuju Bukit Batu Putih.

Ketika disebarkan ke media sosial banyak yang antusias untuk mengikuti susur gang ini. Sayang pada hari yang ditentukan hujan mendera dan tidak juga reda sampai pada waktu yang disepakati untuk berangkat.

Namun sebagian masih penasaran sehingga mengusulkan untuk ke Bukit Batu Putih pada jadwal berikutnya.

Pada hari yang ditentukan cuaca selintas menyakinkan. Namun mendekati jam yang disepakati untuk berkumpul dan berjalan hujan terus mendera. Kadang deras kadang reda.

Rencananya susur gang akan dimulai jam 16.30 mengingat jarak yang akan ditempuh. Namun pada jam yang ditentukan rintik hujan masih cukup untuk membasahi seantero badan. Jadi ditunda setengah jam.

Di WAG dikabarkan telah ada beberapa kawan yang sampai di titik kumpul.

Sayapun bergegas pergi sambil tak terlalu berharap bahwa rencana akan terwujud.

Pada jam yang ditentukan telah terkumpul 11 orang, langit di sebagian sisi masih mendung dan sisi lainnya terang. Dan akhirnya kami sepakat bahwa rute ke Bukit Batu Putih yang akan dilewati dengan catatan jalan agak cepat.

Ini perjalanan susur gang kedua saya ke Bukit Batu Putih. Yang pertama pada bulan September 2021 yang lalu sewaktu kegiatan jalan-jalan sore yang kami sebut on on mulai dilakukan.

Waktu itu kami hanya berempat dan berangkat dari tempat yang sama, jalan Juanda 7.

Bedanya saat berangkat langit cerah. Namun setelah sampai di punggung Bukit Batu Putih hujan mendera. Untungnya diatas ada pondok-pondok tempat para penggali dan pemecah batu berisitirahat. Di pondok yang beratap terpal tak utuh lagi itu kamipun berteduh.

Disela deru hujan itu kami mendengar kumandang adzan magrib. Hari mulai gelap dan kami harus segera turun. Hujanpun kami tembus.

Hujan yang deras membuat beberapa gang yang kami lewati saat pulang mulai tergenang air.

Tak banyak foto yang bisa kami ambil saat berada di punggung Bukit Batu Putih itu. Namun kami sempat menikmati panorama Kota Samarinda dari atas di berbagai sisi. Dan ada satu pemandangan yang menarik, ada alat berat nangkring disalah satu pucuk bukit.

Dari punggung bukit Batu Putih kita bisa mengarahkan pandang hampir ke semua sudut Kota Samarinda

BACA JUGA : Iwak Tempe

Batu Putih memang sebuah bukit yang terkenal sejak jaman Samarinda bahari. Berada di kawasan Air Putih daerah ini terkenal sebagai penghasil buah langsat. Kawasan ini merupakan wilayah perkebunan buah-buahan.

Menurut cerita dari Fajar Alam, pengajar di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur di puncak bukit Batu Putih terpasang tugu titik triangulasi yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda. Batu Putih dijadikan acuan pengukuran ketinggian muka tanah dikawasan Kota Samarinda.

Lewat pencarian di google dengan entry ‘titik tertinggi kota samarinda’, muncul penjelasan bahwa titik tertinggi di Kota Samarinda adalah Bukit Batu Putih. Entahlah apakah sekarang masih tertinggi atau tidak karena Bukit Batu Putih hampir rata diatasnya. Puncak-puncaknya mulai habis ditambang.

Bukit yang kelihatan dari pinggiran Mahakam ini memang sudah sejak lama ditambang, diambil batuannya, juga pasir dan tanah untuk urukan.

Potensi batuan ini tak lepas dari sejarah kawasan Batu Putih jutaan tahun lalu. Diperkirakan Bukit Batu Putih dulunya merupakan lautan yang kemudian terangkat dan terlipat sehingga menjadi perbukitan. Tanda-tanda yang masih tersisa adalah fosil batuan karang laut yang ada di Bukit Batu Putih.

Dalam konteks sejarah geologi Bukit Batu Putih menjadi penting bahkan layak untuk dikonservasi, karena bisa menjadi pustaka alam apalagi di kawasan ini juga pernah ditemukan adanya mud volcano atau semburan lumpur dari dalam bumi.

Masih berada di kawasan yang berhubungan dengan Batu Putih ada kampung yang disebut sebagai kampung minyak. Konon dulu ada rembesan minyak di kawasan itu.

Fakta lainnya di kaki Bukit Batu Putih ini ada sumur atau mata air yang air jernih, segar tanpa rasa kelat dan tak pernah kering. Sumur ini selalu menjadi andalan warga sekitar jika pasukan air bersih dari Perumdam Tirta Kencana tak lancar.

Namun Bukit Batu Putih terus digerus, dengan palu dan linggis untuk mendongkel batunya. Dan lama kelamaan makin intersif dengan masuknya alat berat. Dari jauh perubahannya sangat nyata, Bukit Batu Putih kehilangan puncak-puncaknya.

Warga yang bermukim di kaki bukitnya telah lama mengeluh, saat hujan air permukaan akan membawa pasir dan kerikil dari atas. Saluran air dengan cepat menjadi penuh oleh sedimentasi hingga airnya meluap mengenangi kawasan sekitarnya.

Karena pertambangan atau penggalian, kawasan sekitar Bukit Batu Putih juga rawan bencana longsor.

Dari penelusuran di berbagai halaman media sosial, sekitar tahun 2015 atau 2016 ada upaya untuk mempromosikan kawasan Bukit Batu Putih sebagai area konservasi geologi dan destinasi wisata oleh komunitas ahli geologi dan wisata.

Berbagai kegiatan dilakukan di punggung Bukit Batu Putih. Dari dokumentasi foto yang dipublikasikan, ada kegiatan di pagi, siang dan sore hari namun ada juga yang dilakukan di malam hari. Bukit Batu Putih memang menyajikan panorama yang berbeda di waktu pagi, siang, sore dan malam hari.

Salah satu foto bahkan menunjukkan Butet Kertarajasa, budayawan dan seniman ternama dari Yogyakarta pernah menginjakkan kaki di punggung Bukit Batu Putih ini.

Hanya saja nampak ada rasa pesimis dalam caption yang menyertai gambar-gambar indah itu. Ada yang menuliskan “Seandainya bukit ini tak selamatkan dari tambang, sekurangnya masih ada foto-foto ini disini,”

Di punggung Bukit Batu Putih berdiri gagah instalasi pengolahan batu untuk dijadikan campuran ready mix atau bahan lainnya.

BACA JUGA : Petaka Lubang

Sekitar dua puluhan menit melangkahkan kaki meninggalkan Juanda 7, gerbang atau gapura Perum Perumahan Batu Putih Permai telah terlihat. Tak jauh dari gapura itu jalan mulai menanjak, terus menanjak panjang.

Tanjakan menuju sisi timur Bukit Batu Putih ini cocok untuk latihan pendakian, menguji kekuatan kaki dan ketahanan nafas.

Untung jalanannya seperti belum lama disemen lagi, tidak berbatu-batu seperti beberapa tahun lalu. Hanya saja kalau hujan menyisakan bagian-bagian yang licin, kalau sol sepatunya kurang tepat langkah seperti terpeleset-peleset.

Di tanjakan panjang menjelang punggung bukit yang kanan kirinya ada permukiman, Pak Tentara yang melewati kami saat merangkak melewati tanjakan dengan motor gambotnya seperti menunggu kami melewati depan rumahnya.

Dia menyapa dan kemudian menunjukkan jalan “Terus saja ikuti jalan ini, nanti keluar di kelurahan,”

Saya berusaha menanggapi dengan tersenyum tapi gagal berbasa-basi karena nafas tersenggal-senggal.

Kami iyakan saja apa yang dikatakan olehnya, tapi kami tak akan lewat jalan yang ditunjukkannya karena itu berarti tak melewati punggung Bukit Batu Putih.

Setelah mengambil foto di beberapa titik yang menunjukkan pemandangan Samarinda di sisi sekitar jalan Suryanata, akhirnya kami tiba di punggung Bukit Batu Putih sisi timur. Di bagian ini ada beberapa rumah warga, ada juga sebuah langgar yang didepannya terlihat beberapa anak kecil bermain-main.

Dari situ kemi menyusuri punggung bukit melewati jalan yang dulu biasa dilewati truk pengangkut batu. Namun nampaknya sudah tak dilewati lagi. Pada bagian ini nampak hijauan, semak dan rerumputan serta beberapa pohon lain yang sepertinya ditanam.

Jalannya agak menanjak hingga kemudian berakhir di area bukaan besar. Tak nampak lagi hijauan, hanya ada sedikit gerombolan rerumputan dan alang-alang tumbuh menyembul diantara bebatuan.

Dari sini kami memandang Samarinda dari berbagai sisi seperti halnya burung atau drone. Di kejauhan nampak menara Islamic Centre, juga kelokan Sungai Mahakam dan jembatannya. Dengan bergeser dan merubah arah pandang kelihatan juga wilayah Ring Road, MT Haryono dan M. Said.

Rasanya ingin berlama-lama diatas punggung Bukit Batu Putih ini tapi langit mulai gelap karena menjelang petang dan mendung. Rintik hujan sepertinya bakal turun kembali, kami harus bergegas mencari jalan turun.

Kami langkahkan kaki ke arah barat, menuju hamparan punggung bukit yang luas dan rata. Dan akhirnya bertemu dengan instalasi pengolahan batuan, mungkin untuk dijadikan campuran entah hotmix atau semen cor-coran siap pakai. Di sebelahnya berderet truk dengan tangki bulat yang bisa berfungsi untuk mengaduk beton.

Dua penjaga melarang kami lewat, tapi kami mengatakan hendak mencari jalan turun dan mereka menunjukkan jalannya.

Kamipun mempercepat langkah, dan belum sampai jalan Suryanata, rintik hujan mulai turun. Badan mulai basah ketika kaki melangkah melewati jalan Suryanata, memotong sebuah gang menuju jalan Juanda.

Tapi hati sudah lega membayangkan segelas teh manis panas di Kedai Kopikir tempat kami titip parkir motor.

note : sumber gambar – SUSUR GANG SAMARINDA