KESAH.ID – Masa anak-anak kekurangan makanan atau kelaparan sudah lewat. Makan kini bukan hanya untuk kenyang, tapi untuk senang. Pola dan kebiasaan makan ini kemudian bermasalah, anak-anak sekarang kalau tidak kelebihan berat badan, terkena masalah kekurangan gizi atau stanting. Tidak salah jika kemudian pemerintah menginisasi Makan Siang Bergizi untuk anak-anak sekolah tingkat dasar dan menengah. Sebab pola makan yang baik, seimbang dan memenuhi kebutuhan gizi akan berpengaruh pada kerja tubuh untuk menyerap dan memahami ilmu pengetahuan.
“Wis maem le?”
Saya mengangguk.
“Iwake opo nang ndalem?”
“Iwak tempe Mbah,”
Percakapan seperti itu sering terjadi jika siang-siang saya melipir bermain di halaman rumah Mbah Kaji yang luas dan ditumbuhi rumput manila, tapi sering kami sebut sebagai rumput jepang.
Mbah Kaji memang biasa bertanya sudah makan atau belum. Dan kalau malu-malu saya jawab belum biasanya akan diajak makan. Sampai sekarang saya ingat, sajian terenak dari dapur Mbah Kaji adalah gudeg, sayur gori yang dimasak sampai lembut dan kecoklatan.
Sebetulnya menu rumah saya dan Mbah Kaji tak terlalu berbeda, bedanya hanya pada soal lebih serius memasaknya. Mbah Kaji Putri lebih serius di dapur karena sudah pensiun, sedangkan ibu saya masih bekerja jadi guru makanya lebih cepat-cepat dalam memasak.
Beda lainnya, Mbah Kaji banyak memelihara ayam. Ada ayam kampung dan ayam leghorn yang rajin bertelur. Di meja makan Mbah Kaji lebih sering ada telur. Sedangkan di meja makan rumah saya, yang lebih sering ada adalah tahu dan tempe. Kadang digoreng langsung, kadang dibacem.
Tempe dan tahu itu sering kami sebut iwak. Padahal iwak artinya ikan, atau sekurangnya protein hewani. Tapi kemudian lebih sering diartikan sebagai lauk, terutama yang digoreng.
Jaman itu telur memang masih termasuk makanan istimewa. Karena yang banyak dipelihara adalah ayam kampung maka telurnya lebih banyak untuk ditetaskan agar berkembang biak. Di warung atau pasar jarang ada pemandangan tumpukan telur. Penjual umumnya menjajakan telur yang digantung dalam keranjang kawat.
Telur lebih sering dibeli untuk dikonsumsi sebagai campuran jamu, atau bernilai obat.
Peternak yang cukup besar untuk diambil telurnya justru telur bebek. Seorang peternak bisa memelihara hingga ratusan ekor. Waktu itu sawah masih luas sehingga peternak bebek punya lahan pengembalaan untuk bebeknya. Pada waktu tertentu bebek akan digiring ke sawah yang habis dipanen dan bebek akan makan bulir padi yang jatuh, serta keong yang ada di sawah.
Biasanya saat mengiring pulang, peternak bebek akan menenteng telur karena bebeknya bertelur di sawah.
Telur bebek biasanya dibuat sebagai bahan telur asin, atau dibeli oleh tukang martabak.
Karena masih merupakan makanan istimewa, rasanya waktu kecil jarang sekali saya menikmati telur utuh satu butir. Baik telur goreng atau telur rebus dimakan dengan dibagi. Di warung makanan juga jarang telur rebus atau telur pindang jarang disajikan utuh, biasanya dibelah dua bahkan lebih. Telur seperti hiasan.
Sepertinya kelak yang mulai menyajikan telur utuh adalah tukang bakso dan tukang mie ayam.
Telur mulai berlimpah ketika banyak keluarga mulai memelihara ayam petelur. Masing-masing rumah rata-rata punya sepuluh ekor. Namun yang terus bertahan memelihara tidak banyak karena mesti membeli makanan buatan yang harganya naik-naik ke puncak gunung. Memelihara sepuluhan ekor menjadi tidak efektif.
Tapi ada yang bertahan dan kemudian menjadi peternak dengan kandang yang cukup besar. Di peternakan ini saya dulu kerap membeli telur. Kalau tak salah dulu telur dijual kiloan, sebelum muncul piring telur.
BACA JUGA : Hutan Pangan
Memasuki tahun 80-an, ekonomi makin berkembang karena boom minyak. Harga minyak bumi naik 200-an persen dibanding harga tahun 70. Penerimaan negara melonjak lebih dari 600 persen dibanding awal tahun 70-an.
Kantong negara yang tebal membuat Suharto mampu mengakselerasi pembangunan. Ada banyak program pembangunan afirmatif lewat Banpres {Bantuan Presiden} dan Inpres {Instruksi Presiden}.
Karena kehidupan makin membaik, makan telur dan daging ayam makin biasa. Masyarakat umum mulai mengenal telur mata sapi atau telur ceplok. Telur mulai digoreng satu-satu, satu anak satu telur bukan lagi telur dadar yang dibagi-bagi, atau telur ditambah tepung biar volumenya bertambah.
Walau kehidupan membaik, saya tetap suka ‘nasi berkat’, makanan yang dibawa pulang setelah acara kenduri.
Ya dulu nasi kendurenan ini merupakan salah satu sajian untuk perbaikan gizi. Makanan yang diwadahi dengan besek atau kotak anyaman dari bambu berisi nasi yang cukup untuk 3 – 4 orang.
Nasi kenduri selalu enak untuk saya karena dilengkapi dengan sayur oseng kubis, mihun kecap atau mie goreng, sambal goreng hati walau lebih banyak kentangnya, opor ayam atau ingkung, telur rebus, rempeyek dan buah.
Kalau yang sedang punya hajat adalah keluarga yang cukup kaya, selain ayam ada juga bistik atau rendang daging sapi. Sambal goreng hatinya juga sering ditambah dengan bola-bola daging, seperti bakso kerikil.
Kalau dipikir-pikir, segala bentuk slametan yang disertai kenduri atau bancakan meski lebih kental dimaknai secara religius, sesungguhnya secara sosial acara ini merupakan model social safety net. Ini merupakan model berbagi makanan yang membuat masyarakat bisa saling bantu untuk menikmati makanan yang sehat, cukup secara kalori dan enak. Baik yang memberi atau mengundang dan yang datang sama-sama senang, bahagia.
Masyarakat dulu memang mempunyai jaring pengaman sosial, salah satunya lewat gotong royong. Memetik padi di sawah misalnya dilakukan secara gotong royong. Warga yang tak punya sawah bisa ikut mendapat padi dengan cara ikut nderep atau memanen padi dengan ani-ani.
Yang tak punya lahan juga bisa ikut menggarap sawah, atau ngaduh dengan cara memeliharakan ternak tetangga yang berpunya. Nanti jika kambing, sapi atau kerbaunya beranak, anaknya akan dibagi.
Masa-masa hari-hari NTT atau hanya makan nasi tahu dan tempe sudah lewat. Yang disebut dengan makan berlauk telur dan ayam sudah biasa. Ayam goreng tepung atau fried chicken yang dimotori oleh Colonel Sanders bukan lagi sesuatu yang mewah.
Ayam goreng ala Amerika Serikat itu kini sudah melokal, dijual di warung tenda atau gerobak pinggir jalan.
Bukan ayam goreng tepung yang melokal, melainkan juga steak dan grill.
Yang jualan steak dan grill bukan lagi restoran, tetapi warung-warung.
Saking biasanya nge-grill, pedagang jagung di malam tahun baru jadi merana. Karena di malam tahun baru acara bakar-bakar jagung jadi berkurang. Warga lebih senang berkumpul untuk bakar ayam dan ikan, serta ngegrill daging.
BACA JUGA : Pembusukan Otak, Tak Sebanding Dengan Pendidikan Yang Monoton
Membandingkan masa kecil saya dan jaman kanak-kanak anak saya dengan jelas terlihat bahwa kualitas kehidupan sudah jauh membaik.
Ada lompatan besar. Bayangkan, saya baru naik pesawat setelah berumur 20-an. Anak saya bolak-balik naik pesawat sejak dari kandungan.
Saya pertama kali merantau, naik kapal laut. Berangkat dari Tanjung Priok, singgah di Tanjung Perak lalu menyeberang ke Makkasar. Lalu mampir sebentar di Kwangdang dan berakhir di Bitung.
Dan suatu kali, saya pernah naik kapal barang dari Bitung hingga Tanjung Priok. Rasanya lebih dari 10 hari karena singgah di Palu selama dua hari untuk menaikkan barang.
Ketika sampai di Tanjung Priok badan masih terasa bergoyang-goyang saat berpijak di tanah.
Kualitas hidup memang jauh lebih baik tetapi tak berarti anak-anak sekarang jauh lebih bahagia dari anak-anak jaman saya kecil dulu.
Walau dari banyak indikator masyarakat waktu itu banyak yang miskin, tetapi rasanya tak banyak anak stress karena merasa kekurangan. Anak-anak tetap bahagia.
Maka jangan mudah terpana dengan kisah-kisah anak-anak tahun 70-an yang kini mungkin sudah jadi pejabat. Mereka banyak kali menganggap cerita masa kecilnya inspiratif, karena sejak kecil sudah membantu orang tua. Misalnya jualan sebelum atau sepulang sekolah.
Yakinlah anak-anak pada masa itu walau berjualan hatinya tetap riang gembira. Dalam dirinya tak meratap-ratap betapa sengsara hidupnya. Kisah anak yang sengsara itu hanya ada dalam kisah atau film Ratapan Anak Tiri.
Jaman anak-anak kurang kenyang atau makan kurang enak sudah berlalu. Anak-anak sekarang bisa makan apa saja. Makanan lebih beragam, kalau bosan makan nasi, bisa makan kentang, sandwich atau hamburger.
Tapi justru ini yang menimbulkan masalah. Cenderung makan, makanan yang cocok di mulut membuat asupan makanan anak-anak sekarang kurang memperhatikan kecukupan gizi. Makanan berlebihan hal tertentu, entah karbohidrat, protein atau gula.
Karena kualitas hidup yang mulai meningkat, pengetahuan tentang pola dan cara makan menjadi penting. Calon-calon orang tua yang punya pola makan buruk terutama ibu, bakal berdampak buruk untuk anak yang dikandungnya. Kekurangan nutrisi anak dalam kandungan akan berdampak anak yang dilahirkan menjadi kurang gizi.
Barangkali kebanyakan orang masih berpikir cara makan yang terbaik adalah 4 sehat 5 sempurna. Sebuah pedoman makan yang diperkenalkan oleh Purwo Sudarmo, Bapak Gizi Indonesia di tahun 1952.
Konsep ini sekarang sudah diperbaharui dengan Pedoman Gizi Seimbang. PSG berisi konsep konsumsi makan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Slogan 4 Sehat 5 Sempurna kini sudah diganti dengan Isi Piringku. Isi Piringku mengambarkan porsi makanan dimana 50 persen isi piring adalah buah dan sayur dan 50 persen sisanya karbohidrat dan protein.
Apakah program Makan Siang Bergizi yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo sudah sesuai dengan slogan Isi Piringku?. Entahlah, karena anak saya sudah tamat tingkat sekolah yang menjadi sasaran program Makan Siang Bergizi.
Tapi dengar-dengar banyak yang mengeluhkan sajian makanan yang dibagikan dalam program itu walau sifatnya baru uji coba. Banyak anak mengeluh porsi makanannya kurang banyak, rasanya juga tidak enak.
Mungkin memang perlu diterangkan lebih lanjut bahwa makan memang bukan bertujuan untuk kenyang dan mencari senang karena mengunyah yang enak-enak. Tujuan makan itu untuk sehat, memenuhi kebutuhan tubuh bukan perut dan lidah.
Jadi jangankan daging, telur, sosis atau nugget. Iwak tempe sekalipun juga sudah sehat.
note : sumber gambar – CNBCINDONESIA








