Lebih dari lima tahun lalu saya mulai mendengar sebutan Mahakam Tengah dalam perbincangan teman-teman yang mempunyai perhatian pada lahan gambut dan ekosistem hutan tropis dataran rendah. Namun baru dua tahun belakangan ini saya mulai menginjak sebagian wilayah yang disebut dengan Mahakam Tengah.

Wilayah ini ada di Kutai Kartanegara yang meliputi 5 Kecamatan dengan kurang lebih 30 desa di dalamnya. Kawasan ini dipenuhi dengan rawa-rawa dan danau yang terhubung dengan Sungai Mahakam maupun anak sungainya.

Sebagai orang Samarinda, saya selalu merasa bersyukur bahwa wilayah ini ada. Sebab jika di Mahakam Tengah tidak ada rawa dan danau yang maha luas niscaya air Sungai Mahakam akan segera terkirim ke Samarinda dan akan membuat Samarinda terendam secara permanen.

Sebelum sempat berjalan-jalan ke Mahakam Tengah, bertahun lalu saya melihat sebuah rekaman yang diambil oleh seorang teman. Seorang Kepala Desa di wilayah itu menyatakan bahwa banjir adalah berkah untuk masyarakatnya.

Pernyataan itu tentu saja mengagetkan untuk saya yang sebelumnya selalu memandang banjir bermakna negatif. Dan kelak ketika mulai mendalami tentang air terbukti bahwa banjir sebagai mekanisme alam memang tidak selalu bermakna negatif.

Dan setelah mulai sering berkeliling ke wilayan Mahakam tengah, saya mulai menjadi lebih paham lagi tentang banjir sebagai skenario alam untuk mencuci kotoran di permukaan bumi dan mendistribusikan nutrisi agar kelimpahan di suatu tempat bisa terbagi ke tempat lainnya.

Atas dasar pengalaman ini maka menurut saya penting bagi para pemangku kebijakan dan stakeholder lainnya yang kerap kali berpidato dan mengurai seribu janji soal mengatasi banjir di Kota Samarinda untuk piknik ke Mahakam Tengah.

Piknik yang tentu saja bukan sekedar untuk selfie-selfie dan mengurai puja-puji tentang betapa kaya, indah dan beragamnya alam kita. Berkunjunglah ke sana dan melihat bagaimana alam mengatur airnya yang berlimpah bukan hanya dengan mengalirkan melalui sungai melainkan juga membaginya dan menyimpan baik yang permanen maupun sementara pada rawa dan danau yang terhubung dengan sungai.

Lihat pula bagaimana lingkungan sekitar sungai, danau dan rawa yang dipenuhi oleh tumbuhan, mulai dari tumbuhan air, tumbuhan pasang surut hingga tumbuhan di lahan keringnya. Tetumbuhan yang kemudian membuat air Sungai Mahakam menjadi air sungai yang punya daya panggil, sebagaimana dinyatakan dalam pepatah “Sesiapa meminum air Mahakam, maka cepat atau lambat akan kembali,”.

Kembali ke soal banjir, masyarakat di Mahakam Tengah mengerti dan paham benar soal banjir sehingga permukiman mereka dibuat dengan kesadaran mengantisipasi banjir yang datang pada saat tertentu dan bisa berbulan-bulan lamanya.

Pada permukiman tradisional akan terlihat bahwa air tak coba dihindari atau dibelak-belokkan. Air tetap diberi ruang dengan cara membangun rumah bertiang, rumah apung dan jalan-jalan berupa jembatan panjang.

Banjir adalah kemestian yang ketika itu terjadi maka akan ada kelimpahan tangkapan. Ikan yang tersembunyi di rawa-rawa akan keluar demikian juga dengan binatang tangkapan lainnya. Dan ketika banjir surut akan meninggalkan endapan yang mengandung kesuburan sehingga lahannya siap dipakai untuk bercocok tanaman pangan.

Masih banyak aspek lain soal tata air yang bisa dilihat di Mahakam Tengah, bagaimana alam bekerja untuk mengatur air dengan cara membuat ruang air yang saling terhubung satu sama lain. Kesalinghubungan yang menciptakan ruang besar dengan fungsi masing-masing. Ada ruang luapan, ada ruang pengendapan, ada ruang penyaringan dan ada ruang pengaliran.

Berpiknik yang tentu saja sambil berefleksi tentang ruang air di Mahakam Tengah pasti akan memberikan gambaran yang komprehensif tentang bagaimana semestinya mengelola air alami di Kota Samarinda. Air yang mestinya tidak dipandang sebagai zat atau material yang secepatnya harus dikeringkan atau dikirim ke laut untuk diuapkan.

Mengelilingi Mahakam Tengah juga akan membuat kita orang Samarinda bersyukur dengan adanya sungai, danau dan rawa yang maha luas di Mahakam Tengah. Tanpa itu semua atau jika hal itu hilang niscaya air yang maha banyak tertahan disana akan segera sampai di Samarinda. Dan banjir karena air yang dikirim dari hulu Mahakam pasti akan membuat Samarinda tenggelam sedalam-dalamnya.

Maka perlu juga para pengambil kebijakan dan masyarakat Samarinda pada umumnya untuk menerapkan prinsip cost and benefit. Kita sudah menikmati keuntungan karena adalah kawasan rawa dan danau kaskade Mahakam, maka penting juga untuk kita menanggung ongkos agar keuntungan itu bisa terus kita nikmati.

Kita mesti peduli dan mendukung upaya-upaya masyarakat disana untuk menjaga lingkungannya agar tetap lestari. Misalnya dengan cara membeli hasil atau produk yang dihasilkan oleh masyarakat disana dengan cara yang tidak merusak lingkungan.

Atau kita memilih untuk mengunjungi desa-desa di Mahakam Tengah yang mengembangkan dirinya menjadi destinasi wisata. Andai warga disana bisa beroleh penghasilan dari pariwisata niscaya mereka pasti terus menjaga lingkungan hidup dan keanekaragaman hayatinya.

Jadi, ayo piknik ke Mahakam Tengah.