Otak manusia {termasuk juga otak binatang} tidak bekerja dengan rumus benar dan salah. Sistem kerja otak adalah merespon kondisi lingkungan untuk menemukan cara atau siasat agar sang empunya bisa bertahan hidup selama mungkin. Dengan kecenderungan ini maka logika otak adalah mencari segala sesuatu yang membuat aman, nyaman dan menyenangkan.

Hanya saja jika kecenderungan ini diikuti maka dunia manusia akan mengalami kekacauan. Peradaban manusia akan sama atau sejajar dengan binatang. Manusia kemudian mengembangkan kemampuan untuk menggunakan otak rasionalnya. Muncullah pendidikan dan pengajaran yang bertujuan memberikan penyadaran agar manusia dalam bertindak lebih didasarkan pada pertimbangan rasional.

Proses untuk mendorong manusia bertindak rasional biasanya dinamakan dengan komunikasi untuk perubahan perilaku. Bentuknya macam-macam mulai dari pendidikan, pengajaran, dakwah, kampanye, sosialisasi, bimbingan teknik, peningkatan kapasitas dan lain-lain.

Ada banyak kondisi dalam kehidupan di masyarakat yang tertutupi oleh kabut tertentu sehingga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Seperti kenapa ada banyak masyarakat tidak mau divaksin?. Hal ini terkait dengan kebiasaan masyarakat ketika sakit. Kebanyakan dari masyarakat kita kalau sakit yang pertama dilakukan bukan pergi ke dokter, melainkan bertanya apa obatnya kepada teman atau orang yang dikenalnya.

Obat akan dicari sendiri dan jika kemudian tidak sembuh maka pilihan kedua adalah mencari orang pintar, paranormal atau penyembuh alternatif. Dan kalau sudah parahbaru  terpaksa pergi ke dokter.

Demikian halnya dengan urusan sampah, membuang sampah di tempatnya bukanlah pilihan pertama. Akibatnya sampah ada di mana-mana. Sebab got, parit, sungai dan tanah kosong pinggir jalan menjadi pilihan pertama untuk melemparkan bungkusan sampah.

Kenapa demikian?. Permasalahan utama adalah mencari cara yang paling gampang dan tidak peduli pada resiko yang ditimbulkan oleh perilakunya.

Orang yang tidak peduli umumnya didasari oleh rendahnya pengetahuan atas dampak dari apa yang dilakukannya. Tanpa pengetahuan yang cukup sebuah kesadaran tidak akan tumbuh.

Dalam konteks ini upaya untuk melakukan pemberian atau pencarian pengetahuan untuk menumbuhkan kesadaran disebut sebagai pendidikan penyadaran.

Komunikasi Untuk Perubahan Perilaku

Inti dari pendidikan adalah komunikasi untuk perubahan perilaku. Model yang paling terang misalnya terlihat pada aktivitas dakwah, terutama pada agama-agama abrahamis. Aktivitas dakwah atau pewartaan pada dasarnya adalah sebuah model komunikasi agar orang yang berada dalam perilaku keberdosaan menjadi berperilaku tidak berdosa {perilaku mulia}. Dari tidak beriman menjadi beriman, dari lemah iman menjadi kuat iman.

Sungai dalam peradaban manusia memegang peran essensial untuk menopang kehidupan dan kemajuan. Peran penting sungai dalam soal keairan meliputi pengairan dan pengaliran. Sampai saat ini sungai masih menjadi salah satu sumber air baku untuk produksi air bersih, sumber untuk mengairi lahan pertanian, dibendung untuk menghasilkan energi listrik, sarana transportasi air dan sistem pengaliran untuk mengendalikan banjir.

Meski penting kedudukannya namun komunikasi dan pendidikan tentang sungai sangatlah minim. Berita atau informasi tentang sungai lebih mengarah pada permasalahan sungai. Sungai yang kotor, menyempit, mendangkal dan bahkan hilang. Sungai sering digambarkan sebagai sumber  masalah, membawa petaka dan bencana.

Ketidakseimbangan informasi menyebabkan pengetahuan masyarakat tentang sungai menjadi terbatas. Hal-hal dasar tentang sungai kerap tidak dipahami oleh masyarakat luas termasuk juga para pengambil kebijakan. DIskursus yang menonjol tentang sungai masih berkisar pada rekayasa dan ekploitasi sungai sehingga penyadaran tentang pemulihan sungai belum menjadi isu utama.

Dalam beberapa tahun terakhir ini mulai muncul komunitas peduli sungai dan terus berkembang. Hanya daja sedikit diantara komunitas-komunitas itu yang bertekun melakukan upaya komunikasi, informasi dan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat luas tentang segala aspek sungai.

Lebih sedikit lagi yang menginformasikan dan melakukan pendidikan untuk meningkatkan kemampuan atau ketrampilan masyarakat dalam merawat, menjaga dan memulihkan sungai.

Lemahnya kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi tentang sungai membuat isu atau permasalahan sungai lebih disandarkan pada inisiatif atau langkah dari pemerintah. Langkah yang ditopang oleh perangkat peraturan hukum yang kental dengan larangan.

Jika relasi antara masyarakat dan sungai hanya disandarkan pada aturan maka penghormatan masyarakat pada sungai tidak akan terwujud. Sungai akan diperlakukan sebagai obyek, bukan subyek yang punya dinamika dan hukumnya sendiri.

Bertumpu pada aturan akan membuat masyarakat hanya memahami sungai dari sisi alur atau alirannya bukan sungai sebagai sebuah ekosistem. Sungai yang mempunyai banyak dimensi ruang, baik ruang alam {eksosistem}, ruang budaya maupun ruang sosial.

Oleh karenanya pendidikan atau kampanye tentang sungai mesti secara massif dilakukan. Agar masyarakat paham hakekat sungai, dinamika sungai, fungsi dan manfaat sungai serta punya ketrampilan bagaimana menjaga, merawat dan memulihkan sungai. Sehingga kita akan punya sungai yang mempunyai jumlah air yang cukup {tidak kelebihan dan tidak kekurangan air}, airnya berkualitas {bersih dan sehat} dan punya kecukupan air sepanjang tahun.

Tanpa pengetahuan dan ketrampilan yang cukup yang disebut dengan kesadaran tidak akan pernah melahirkan perubahan. Kesadaran dan kepedulian hanya akan jadi tuntutan dan tontonan, yang dipertunjukan dalam berbagai event dan peringatan, tapi tak akan jadi tuntunan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here