Sungai mempunyai kedudukan sangat penting dalam perjalanan peradaban manusia. Karena dibanding dengan laut akses manusia terhadap sungai jauh lebih besar. Bukti kedekatan dengan sungai, di banyak daerah jika seseorang ditanya mau kemana maka jawabannya adalah milir atau mudik. Milir artinya pergi menuju hilir, dan mudik adalah pergi menuju udik atau hulu. Istilah hilir dan hulu berhubungan dengan sungai.

Sungai kemudian berkembang menjadi arah hadap hidup yang menentukan peradaban manusia terbentuk lewat proses yang panjang. Wadah air permukaan terbentuk oleh siklus air, berupa mata air dan hujan yang kemudian mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah secara ajeg sehingga menimbulkan alur.

Ada banyak alur kecil dan kemudian bertemu di titik-titik tertentu sehingga membentuk alur sedang dan alur besar. Setiap alur selalu didukung oleh Daerah Aliran Sungai. Semakin besar wilayah Daerah ALiran Sungai akan semakin besar juga aliran sungainya.

Aliran sungai selalu menimbulkan dampak berupa erosi, transportasi dan pengendapan. Besar kecilnya akan tergantung pada kemiringan, besarnya debit air dan kecepatan aliran.

Kombinasi dari ketiga hal itu akan membentuk kelokan sungai atau meander, lembah sungai yang meliputi ruang dalam, ruang lebar dan ruang panjang, dan delta.

Jenis jenis sungai

Yang dimaksudkan sungai disini adalah aliran air yang berasal dari sumber alamiah, mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah dan bermuara di laut, danau, rawa atau sungai yang lebih besar.

Sungai alami juga merupakan bagian dari siklus hidrologi, karena dalam sungai terkumpul air dari berbagai sumber mulai dari air resapan, embun, mata air, limpasan air permukaan dan di negara tertentu air sungai juga berasal dari lelehan es/salju.

Dengan demikian sungai mempunyai banyak bagian, bagaimana karakter atau jenisnya akan tergantung kepada lingkungan di Daerah Aliran Sungainya. Dan berdasarkan pengelompokkannya jenis sungai bisa dibedakan berdasarkan : jumlah airnya dan pola alirannya.

Sungai berdasarkan jumlah air meliputi : 1] Sungai permanen atau sungai yang debit airnya relatif konstan atau sama banyaknya sepanjang tahun. 2} Sungai periodik atau sungai yang debit airnya tidak konstan, dimusim hujan airnya sangat banyak dan dimusim kemarau airnya sedikit. 3]. Sungai episodic atau sungai yang di musim kemarau akan kering dan ada airnya kalau musim hujan.

Sementara jenis sungai berdasarkan pola alirannya meliputi : 1] Pola aliran radial {menjari} dimana aliran sungai terlihat seperti berbentuk jari. Pola radial dibedakan dalam dua jenis yaitu radial sentrifugal dan radial sentripetal. 2] Pola aliran deindrik dimana bentuk aliran sungainya tidak teratur. Pola sungai ini biasanya ditemukan di daerah dataran rendah dan pesisir. 3] Pola aliran trellis dimana aliran sungai nampak seperti sirip. Pola ini ditemukan di daerah pegunungan lipatan. 4] Pola aliran rectangular atau aliran yang saling membentuk sudut siku. Pola ini biasanya ditemukan di daerah patahan atau daerah batuan yang mempunyai kekerasan berbeda. 5]  Pola aliran anular, pola ini terbentuk pada aliran radial sentrifugal yang kemudian memunculkan aliran sungai subsekuen yang sejajar, sungai obsekuen dan resekuen. Pola sungai ini biasanya terbentuk pada daerah dome stadium dewasa.

Fungsi dan manfaat sungai

Secara alamiah fungsi sungai adalah sebagai sarana pengairan dan keairan yang kemudian tumbuh menjadi salah satu ekosistem air dalam hubungan dengan kesekitarannya. Jika fungsi ini terjaga baik maka manusia akan mengambil manfaat dalam bentuk layanan atau jasa ekologis dari sungai.

Adapun kemanfaatan sungai untuk manusia adalah :

  1. Sumber Air Bersih

Di sungai akan tertampung dan mengalir air dari hulu ke hilir. Air yang bersumber dari hujan, mata air, air tanah dangkal dan lainnya ini merupakan sumber air bersih untuk keperluan MCK dan konsumsi {masak dan minum}. Pemanfaatan air sungai ada yang secara langsung namun kebanyakan diolah lebih dahulu.

  1. Sumber Air Pertanian/Irigasi

Air sungai yang berlimpah juga dimanfaatkan untuk mengairi persawahan atau perladangan untuk pengairan. Rekayasa pengalirannya mulai dengan cara menyudet sungai, mengalirkan dengan pipa dan membendung.

  1. Sumber Energi

Air sungai juga bisa dibendung agar tertampung dalam waduk dan kemudian dialirkan dalam saluran tertentu untuk mengerakkan turbin pembangkit tenaga listrik.

  1. Sumber Protein

Di sungai hidup berbagai macam ikan, udang, siput, belut dan lain-lain yang merupakan bahan makanan sumber protein bagi manusia. Hasil tangkapan yang bisa menghasilkan pendapatan jika diperjualbelikan.

  1. Sumber Bahan Tambang

Selain berlimpah dengan air, sungai juga mempunyai sumberdaya lain yang bisa ditambang untuk berbagai keperluan. Seperti batu dan pasir untuk bahan bangunan, namun ada juga sungai yang mempunyai kandungan emas, timah dan lainnya yang bisa menjadi sumber pendapatan masyarakat.

  1. Sarana Transportasi Air

Sungai dan anak-anak sungainya menghubungkan satu daerah dengan daerah lain, juga akan bermuara ke laut. Sehingga sungai merupakan alur atau jalan alami yang bisa dilewati untuk berbagai keperluan, baik untuk angkutan manusia maupun komoditas.

  1. Sarana Rekreasi dan Olah Raga

Selain kesegaran airnya, sungai juga akan menyajikan keindahan karena keanekaragaman hayatinya. Dengan demikian sungai menjadi tempat yang ideal untuk berekreasi seperti duduk-duduk dan bercengkrama di pinggir sungai, susur sungai dengan perahu; atau berolah raga seperti jogging di sekitar sungai, Berenang, mengayuh perahu dan lain sebagainya.

  1. Sarana Perlindungan Flora dan Fauna

Lingkungan sungai mempunyai prasyarat untuk kehidupan baik hewan maupun tumbuhan. Sehingga sungai bisa menjadi sarana perlindungan dan pengawetan keanekaragaman hayati. Dengan tetap menjaga keberadaan hutan di pinggiran sungai {riparian} maka udang, ikan, siput, belut dan binatang lain seperti ular, monyet, burung, biawak dan lain-lain akan tetap hidup dan terjaga keberadaannya.

  1. Sarana Pendidikan dan Penelitian

Sungai sebagai ekosistem dengan berbagai macam habitat dan komunitas baik hewan maupun tumbuhan adalah buku atau pustaka alam. Sehingga lingkungan sungai bisa dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan, pengajaran dan penelitian.

  1. Sarana Pengendalian Banjir

Sungai yang masih terjaga ekosistemnya adalah sarana untuk pengendalian banjir. Sungai akan menjaga dinamika air atau keseimbangan air antara hulu dan hilir. Sungai yang baik tidak akan segera mengalirkan airnya dari hulu ke hilir.

Model intervensi sungai dan dampaknya

Pola hubungan antara komunitas manusia dengan sungai mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Di masa peradaban awal hubungan antara komunitas manusia dan sungai bersifat adaptif. Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai mengembangkan pola hidup yang menyesuaikan dengan dinamika sungai. Sungai dimanfaatkan secara langsung tanpa rekayasa yang berlebihan terhadap morfologi sungai.

Ketika jumlah manusia semakin bertambah dan muncul jenis-jenis profesi atau pekerjaan baru selain bertani dan nelayan, hubungan antara masyarakat dengan sungai kemudian memasuki babak baru. Sungai tidak hanya dimanfaatkan secara langsung dalam bentuk memanen jasa ekologinya. Sungai kemudian diekploitasi mulai dari air, material di dalamnya sampai dengan ruangnya.

Muncul banyak industri di lingkungan sungai atau yang memanfaatkan sungai baik sebagai sarana pengangkutan komoditas maupun sarana pembuangan limbah. Lingkungan sungai kemudian berubah, hutan dipinggiran sungai hilang, rawa-rawa yang terhubung di sungai jadi daratan, sungai kemudian bukan hanya menyempit dan mendangkal melainkan juga tercemar airnya.

Ekploitasi sungai juga dimaksudkan untuk memanfaatkan air sungai sebagai sarana pengairan pertanian dan energi listrik.

Sungai-sungai kemudian bermasalah. Jika mau disederhanakan, masalahnya meliputi 3 terlalu. Terlalu banyak air di musim hujan, terlalu sedikit air di musim kemarau dan terlalu kotor di sepanjang musim. Permasalahan ini kemudian mendorong munculnya upaya untuk memperbaiki kondisi sungai. Muncullah paradigma pembangunan sungai yang dikenal dengan istilah normalisasi sungai. Sungai kemudian diintervensi dengan cara meluruskan sungai, membelah sungai, kanalisasi, pengerukan dan lain sebagainya.

Berpuluh tahun kemudian ternyata pendekatan teknik keairan {teknik hidrolika} ternyata tidak memperbaiki kualitas sungai. Sungai yang dinormalisasi tetap saja buruk airnya dan tak mengurangi kejadian banjir.

Dan lima tahun belakangan ini muncul paradigma baru dalam intervensi terhadap sungai dengan basis pendekatan eko hidrolika. Bukan pembangunan sungai melainkan pemulihan sungai atau restorasi ekosistem sungai dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas, kuantitas dan kontinuitas air sungai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here