Dalam hypnosis kata-kata sungguh berdaya. Bahasa menjadi amat penting, rangkaian kata dan metafora bisa dipakai untuk menundukkan, bukan sekadar membuat orang tertidur atau bertingkah lucu-lucuan belaka.

Bahasa ternyata mampu menjangkau hingga alam bawah sadar hingga kemudian mampu mengatur atau membentuk perilaku manusia. Dan sebagai produk dari pikiran, bahasa sesungguhnya merupakan refleksi dari pengalaman.

Maka benarlah pepatah yang mengatakan bahwa bahasa menunjukkan bangsa. Karena orang satu bangsa mengungkapkan pikiran dan pengalamannya dengan bahasa. Dari bahasa sebuah bangsa kita akan tahu bangsa apa mereka dan kita.

Dari bahasanya kita tahu bangsa mana yang suka perang, bangsa mana yang sedang putus asa, bangsa mana yang perusuh, bangsa mana yang pedas dan pahit mulutnya, bangsa mana yang bisa bisa dipercaya dan mana yang tidak dan seterusnya.

Dalam perjalanan hidup kita pasti pernah terpukau dengan bahasa yang disampaikan lewat berbagai medium seperti buku, film, pidato, kotbah, pertunjukan drama, komedi tunggal dan produk-produk bahasa lainnya.

Kita tahan berjam-jam membaca buku cerita, terpukau hingga tak mampu mengeluarkan kata-kata, terpaku menatap layar dan terbahak-bahak sampai perut kesakitan.

Tapi sebaliknya ada juga yang baru detik keberapa kita berinteraksi sudah langsung membuat bosan dan tak ingin meneruskan.

Semua itu akan tergantung pada bahasa yang dipakai dan disampaikan. Bahasa yang baik dan menarik adalah rangkaian kata serta metafora yang mampu mengikat indera. Bahasa bukan hanya ditujukan untuk didengar dengan telinga tapi membuat mata seperti ikut melihat dan badan ikut merasa hadir di dalam kisah atau narasi yang tengah disampaikan.

Itulah yang dinamakan dengan sugesti lewat bahasa. Sayangnya sugesti itu tidak selalu bernada baik dan netral melainkan juga bernada buruk, bisa digunakan untuk kejahatan atau niat-niat busuk lainnya. Ada banyak kejahatan karena orang merasa dihipnotis atau di-gendam.

Tapi itulah realitas dunia sebagaimana kisah dalam cerita yang bisa membuat kita terbius pada kebaikan satu tokoh dan kemudian benci serta jengkel setengah mati pada tokoh lainnya.

Dalam politik ada politikus atau kelompok politikus yang membius dengan bahasa harapan dan penyelesaian masalah tapi tak sedikit yang kemudian memilih mengotak-atik SARA karena tak punya peluru politik lainnya.

Tapi urusan SARA bukan semata urusan politik. Dalam dunia pewartaan para pewarta dadakan kerap kali memakai unsur SARA sebagai bahasa untuk memikat jemaahnya. Padahal banyak pewarta agama yang sedari kecil hanya belajar agamanya dan sekolah di sekolah agamanya tidak pernah sekalipun mengudar bahasa SARA agar jemaahnya semakin beriman.

Unsur SARA bahkan kemudian masuk ke dunia perdagangan dan pemasaran. Tak ragu banyak orang melakukan pemasaran dengan bahasa SARA agar apa yang didagangkan laku. Tanpa pertimbangan logika dengan mudah orang mengatakan barang, benda ada produk ini atau itu sebagai tak agamis. Dan kemudian menunjukkan apa yang diproduksi atau dijual olehnya sebagai yang agamis.

Soal bahasa, bangsa dan kelakuan ini saya jadi teringat dengan guyonan Gus Dur. Ketika menerangkan bangsa ini dan bangsa itu, Gus Dur memberikan jawaban yang lucu.

Soal sifat bangsa dalam hal pekerjaan Gus Dur mengatakan :

  1. Bangsa Nigeria dan Anggola disebutnya sebagai bangsa yang sedikit bicara dan sedikit kerja.
  2. Bangsa Jepang dan Korea Selatan sebagai bangsa yang sedikit bicara dan banyak kerja.
  3. Bangsa Amerika dan China disebutnya sebagai bangsa banyak bicara dan banyak kerja.
  4. Sedangkan bangsa Pakistan dan India disebutnya sebagai banyak bicara dan sedikit bekerja.

Ketika ditanya bangsa Indonesia masuk kategori yang mana, Gus Dur mengatakan tidak bisa dimasukkan dalam keempat kategori itu. Saat ditanya kenapa, Gus Dur mengatakan “Bangsa Indonesia itu lain yang dikatakan dan lain pula yang dikerjakan,”

kredit foto : Syahadat Rahman – unsplash.com