Bersama teman-temannya Mustofa berdiri dalam deretan di pinggir jalan. Hari itu anak-anak sekolah diminta untuk membentuk barisan panjang untuk menyambut kedatangan Piala Adipura, sebuah anugerah untuk kota yang berhasil dalam menjaga kebersihan dan pengelolaan lingkungan perkotaan. Program ini sendiri mulai dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 1986. Namun kemudian terhenti di tahun 1998. Dan pada 5 Juni 2002 kembali dicanangkan di Denpasar hingga sekarang.

Dari kejauhan terlihat mobil dengan atap terbuka membawa Piala Adipura. Bediri di mobil itu Walikota, Wakil Walikota, Ketua DPR Kota dan Kepala Dinas Kebersihan Kota. Mereka tersenyum meski matahari kian memanas. Tak ada salahnya berpanas-panas ria agar masyarakat tahu bahwa kota ini meraih penghargaan tertinggi dalam kebersihan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Dan ketika rombongan itu tepat berada di depan Mustofa tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Tanpa pikir panjang lagi, Mustofa dan teman-temannya segera berlari, menjauh dari jalan mencari tempat untuk berteduh. Cuaca sekarang memang tidak bersahabat, panas atau hujan bisa terjadi tanpa pemberitahuan. 

Mobil pengangkut Piala Adipura juga tancap gas, dan kemudian menghilang di kelokan. Suara dari Masjid dekat rumah Mustofa yang kadang keras kadang pelan membuat Mustofa terjaga. Ternyata Mustofa tertidur di siang bolong dan kata orang mimpi di siang hari hanyalah bunga tidur, karenanya mimpi Mustofa tak perlu ditafsir apa-apa. Toh Mustofa bukan siapa-siapa jadi untuk apa dia merindukan Piala Adipura. Jadi mimpi Mustofa itu hanya tentang Adi Pura Pura.

-000-

Di berita Kepala Dinas Kebersihan Kota menyatakan hendak melakukan sosialisasi door to door untuk sebuah upaya agar bisa meraih Adipura. Kota Samarinda sudah rindu Piala Adipura begitu katanya. Konon Adipura terakhir yang diraih oleh Kota Samarinda diperoleh pada tahun 1995. Itu berarti sudah duapuluhan tahun lamanya, Kota Samarinda menahan rindu memperoleh penghargaan itu.

“Bagimana kita mau meraih Adipura kalau ada tempat sampah terpanjang yang tak bisa disembunyikan,” ujar Kai Abdul.

Mustofa yang mendengar gerutuan Kai Abdul usai dikunjungi oleh tim sosialisasi Piala Adipura itu hanya diam kurang paham apa yang dimaksudkan olehnya. Tapi Mustofa paham benar, tak perlu bertanya, hanya perlu sabar menunggu selama-lamanya 5 detik pasti akan diterangkannya sendiri.

“Nda usah cari-cari pasti tim penilai akan ketemu Sungai Karang Mumus. Sampai berani mereka singgah, selesai sudah penilaiannya. Langsung gugur dua indikator utama penilaian,”

Kai Abdul akhirnya mengatakan bahwa tempat sampah terpanjang itu adalah Sungai Karang Mumus, tapi lagi-lagi Mustofa bingung karena Kai menyebut dua indikator utama penilaian Piala Adipura. 

“Yang pertama dinilai itu kan kebersihan. Sejak kecil kita diajarkan kebersihan, jadi kalau kita gagal bersih maka kita gagal jadi manusia, gagal dididik. Kebersihan lingkungan itu cermin kebersihan hati,”

“Jadi kalau lingkungan kita nda bersih, berarti begitu juga hati kita kah Kai,”

“Ya, iya lah. Malah lebih dari itu, bukan hanya kotor hati tapi juga tipis iman,”

“Oh, iya kan kebersihan itu sebagian dari iman ya Kai,”

“Yang kedua soal pengelolaan lingkungan, ini lebih parah lagi,”

“Kok bisa Kai,”

“Kota itu kan pertama soal tata ruang, tata kewilayahannya, nah jelas apa nda disini?. Kamu lihat saja dimana kita punya hutan sebagai paru-paru kota?”

“Ada Kai, ada beberapa papan tulisannya Hutan Kota,”

“Iya tapi luasnya berapa?”

“Nda ada meteran kita Kai, Pak Guru juga belum pernah kasih tugas ukur luas hutan kota,”

“Nda usah hutan kota, sekarang bicara taman saja, mana taman kita yang hijau royo-royo,”

“Kai ini kurang gaul, banyak taman di Kota Samarinda,”

“Iya banyak tapi lebih banyak semennya, hiasannya juga bukan pohon tapi patung-patung yang cepat rusak,”

“Haduh, tahu juga ternyata Kai ini,”

“Taman itu mestinya indah dan menyejukkan di siang hari bukan kerlap-kerlip di malam hari,”

Dan Kai Abdul bicaranya mulai melantur kanan kiri, membuat Mustofa jeri juga mendengarnya, sebab tak sekali dua kali Kai tak mampu memfilter mulutnya. 

“Kai, kalau Kai posting ucapan itu di FB, nda lama dijemput polisi,”

“Hallah biar ja, lha memang kita ini sebagai masyarakat juga pemerintahan terkena Succes Defisit Disorder,”

“Apa itu Kai?”

“Penyakit kurang sukses,” ujar Kai Abdul sambil tertawa keras.

“Kok bisa Kai,”

“Lha kamu bisa lihat, apa yang sukses. Jembatan lama nda jadi-jadi, bandara juga, urusan banjir nda kelar-kelar dan coba yang disebut penataan Sungai Karang Mumus, sudah berapa tahun begitu-begitu saja. Karang Mumus ini nda cukup kalau cuma kerja bakti dari para pegawai negeri,”

“Maaf Kai, gejala-gejala penyakit kekurangan keberhasilan  itu apa kek,”

“Ya kamu lihat saja di Facebook, kalau ada pejabat atau petinggi negeri ini yang gemar posting urusan remeh temeh, nah itu gejala kurang penyakit kurang sukses. Masak tanam dua pohon saja sudah bangga, padahal kita kekurangan ribuan hektar hutan kota,”

“Begitu ya Kai,”

“Ya iyalah, pejabat itu punya kewenangan dan kekuasaan, jangan jadi tuan rumah yang punya banyak pembantu tapi beli lombok ke pasar saja beli sendiri, nda percaya sama pembantunya,”

“Jelasnya bagaimana sih Kai,”

“Begini kalau kamu jadi pemimpin daerah atau pejabat, lalu berhasil memindahkan warga yang tinggal di bantaran sungai, itu soal biasa. Biasa karena banyak rujukan UU atau peraturan yang melarang hal itu.  Urusan seperti itu kan hanya apa yang direncanakan dan apa yang dicapai.”

“Lalu yang disebut berhasil seperti apa kek?”

“Ya, apakah pemindahan itu membuat sungai semakin sehat secara hidrologis, morfologis, ekologis, sosiologis, ekonomis dan kultural,”

“Jadi biar warga dipindah dari pinggir sungai, lalu sungainya tetap kotor, dangkal, bau dan banyak sampahnya, berarti pemindahan itu nggak berhasil, begitu kah kai?”

“Lha iya, tujuan relokasi itu apa, cuma membersihkan pinggir sungai dari permukiman, tentu bukan begitu.  Dan tentu pemimpin atau pejabat lebih berhasil justru ketika bisa menata permukiman di pinggir sungai menjadi permukiman yang ramah sungai, itu baru jago,”

“Kalau ada pejabat posting-posting foto dan bilang berhasil membersihkan sampah di beberapa TPS, sama baliho di pohon dan tumpukan material di taman, apa itu juga tanda terkena kumpulan gejala defisit keberhasilan Kai?”

“Yang pujungan begitu memang biasanya dangkal dan mudah menyebut apapun sebagai keberhasilan,”

Mustofa akhirnya tak mau bertanya lagi. Dia pamit pada Kai Abdul dengan mengatakan hendak pergi ke rumah Bondan untuk mengambil buku pelajaran sekolah yang dipinjam Bondan untuk difotocopy.

“Mumus, Kai akan bilang orang itu sembuh dari Success Deficit Disorder kalau berhasil membersihkan semua ATM yang ada di Sungai Karang Mumus dari hulu hingga hilir,” ujar Kai sedikit berteriak karena Mustofa telah melangkahkan kaki menuju rumah Bondan.