Sapardi Djoko Damono seorang penyair penting dalam dunia sastra Indonesia wafat pada usia 80 tahun pada 19 Juli 2020 yang lalu.

Membaca beberapa obituari tentangnya, saya jadi tahu kalau Sapardi adalah penterjemah novel karya Ernest Hemingway yang berjudul The Old Man and The Sea.

Informasi ini membawa saya pada ingatan lebih dari 30 tahun lalu. Saat itu saya sering bermain di kediaman pasangan Haji Suparlan yang saya panggil dengan sebutan Mbah Kaji (haji) Kakung dan Putri.

Di rumah pasangan yang hanya tinggal berdua karena putra putrinya tinggal di luar kota itu saya biasa membaca buku yang ada di ruang tamunya.

Ada banyak  jenis buku, mulai dari novel, memoar dan bahkan ada Kitab Injil bersampul biru.

Salah satu buku yang  kemudian  saya baca adalah buku tentang   pengasingan Sukarno di Wisma Yaso. Dari buku itu saya tahu Sukarno yang fotonya selalu berpeci ternyata botak.

Lelaki Tua dan Laut adalah novel  yang saya baca kemudian dan jadi    lekat dalam ingatan saya. Novel karya Ernest Hemingway yang ditulis pada tahun 1952, itu saya baca  dalam versi Indonesia yang ternyata adalah  hasil terjemahan Sapardi Djoko Damono pada tahun 1973. Tiga tahun setelah kelahiran saya.

Saat itu saya tak tahu. Yang saya tahu Ernest Hemingway adalah penulis besar Amerika dan mendapat hadiah Putlizer atas karyanya. Dia juga peraih penghargaan Nobel untuk Sastra di tahun 1954 yang membuatnya menjadi salah satu sastrawan besar dunia sepanjang masa.

Dengan kemampuan bahasa Inggris yang payah, saya pasti tak akan terhipnotis oleh kisah Santiago nelayan tua andai tak diterjemahkan dengan bagus dalam bahasa Indonesia.

Dan dengan kompetensi yang tinggi dalam sastra, Sapardi berhasil menterjemahkan The Old Man and The Sea menjadi Lelaki Tua dan Laut dengan sempurna.

Terbukti puluhan tahun kemudian sensasi ikut terluka dan lelah bersama perjalanan mencari ikan dengan Santiago di Teluk Mexico masih terasa jejaknya dalam diri saya.

Santiago adalah tokoh utama dalam novel Lelaki Tua dan Laut. Nelayan yang berpengalaman di masa tuanya mengalami kesialan. Dia tak lagi mendapat ikan setiap kali melaut. Hingga kemudian dicemooh oleh warga yang lainnnya.

Tapi Santiago tetap melaut walau hanya tersisa satu orang yang sudi menemaninya dan  menjadikannya mentor. Manolin seorang pemuda yang tetap menemani Santiago meski dilarang larang oleh orang tuanya karena Santiago tak lagi produktif.

Novel ini isinya menceritakan kembali kisah Santiago yang dituturkan pada Manolin. Kisah pencarian ikan berhari hari. Yang membuat Santiago terseret jauh ke tengah laut kala bergelut dengan ikan tangkapannya setelah kesialan berlarat-larat.

Puluhan hari Santiago melaut tanpa sekalipun kailnya disambar ikan. Dan begitu disambar ikan ternyata tak mudah untuk Santiago menahklukkannya. Berhari Santiago bergelut dengan ikan yang terkait di kailnya itu.

Dan setelah ditahklukkan perjuangan Santiago yang kehabisa tenaga belum berakhir. Ikan yang diikat di samping perahu ternyata mengundang pemangsa. Perjalanan membawa ikan pulang harus disertai dengan peperangan untuk mengusir hiu hiu pemangsa.

Hingga akhirnya Santiago bersama  ikan hasil pancingannya  tiba di pantai, di daratan namun yang tersisa hanya tulang belulang dengan Harpun memancap di kepalanya.

Santiago pulang hanya membawa tulang belulang. Namun itulah bukti bahwa harga dirinya sebagai nelayan masih ada. Dan warga lainnya kembali menghormati dan mengakui harkat dan martabatnya sebagai nelayan tua yang gigih.

Saya tidak mengenal Sapardi Djoko Damono dan karyanya secara intens. Namun saya tahu Sapardi adalah orang yang gigih dan teguh dalam menekuni jalan satra yang dia pilih. Komitmen dan konsistensinya pada sastra tak diragukan lagi.

Karena semua itu maka Sapardi meninggalkan jejak nama yang harum dan akan terus dikenang sebagai salah satu penyair dan sastrawan besar di negeri ini.

Entah kebetulan atau tidak sebelum Sapardi wafat, saya membaca dan menulis tentang puisinya yang berjudul Hujan di Bulan Juni, salah satu puisi yang sangat terkenal dari antara banyak puisi karya Sapardi.

Dan hujan di bulan Juni ternyata mengantar Sapardi Djoko Damono kembali ke jalan kehidupan kekal.

Ya Sapardi akan terus hidup dalam puisi-puisinya. Karenanya Sapardi Djoko Damono akan berada dalam keabadian.