KESAH.ID – Wisata air merupakan salah satu wisata favorit baik bagi masyarakat setempat maupun wisatawan dari luar daerah dan luar negeri. Namun wisata air bisa diibaratkan sebagai guci dari kaca, yang mudah retak dan sulit diperbaiki jika rusak. Daya tarik wisata air dengan mudah akan lenyap jika kebersihan lingkungannya tak terjaga. Destinasi yang viral dan ramai dikunjungi banyak orang dengan segera akan ditinggalkan dan dilupakan jika lingkungannya kotor dan dilingkupi oleh udara yang tak segar serta berbau. Agar sebuah destinasi wisata menjadi usaha pariwisata yang berkelanjutan, kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah dan sanitasi harus menjadi perhatian utamanya.

Selalu ada momen yang menjadi penanda pada ingatan tentang sebuah daerah. Kutai Barat dalam ingatan adalah daerah yang perjalanan kesana terasa terasa jauh dan lama. Tapi tetap saja menyenangkan apalagi jika memakai moda transportasi air, menyusuri Sungai Mahakam ketika mentari masih kelihatan.

Datang sebagai ‘Transmigran Asmara’ di awal tahun 2000-an, pindah dan tinggal di Samarinda setelah sebelumnya saya tinggal di Manado, Sulawesi Utara yang sering terdengar di telinga saya tentang Kutai Barat adalah Kersik Luway dan Lamin.

Sekitar tahun 2007, saya bersama beberapa teman pergi ke Kutai Barat dengan tujuan jalan-jalan untuk meliput Perayaan 100 Tahun Misi Gereja Katolik di Kalimantan Timur.

Dari dua hal yang paling sering saya dengan tentang Kutai Barat, destinasi yang kemudian kami kunjungi dan singahi adalah Lamin atau rumah panjang. Seingat saya ada tiga lamin yang kami kunjungi, yakni Lamin Tolan, Lamin Benung dan Lamin Pepas Eheng. Di Lamin Pepas Eheng ini saya berkenalan dengan Ibu Suwila, seorang pemeliatn atau belian,  perantara atau penyembuh tradisional yang sering memimpin acara-acara adat Benuaq.

Sedangkan Cagar Alam Kersik Luway hingga namanya jarang disebut belum sekalipun saya kunjungi. Padahal disana ada anggrek ikonik Kalimantan Timur yakni Anggrek Hitam {Coelogyne pandurata}.

Nampaknya saya memang lebih berjodoh dengan Lamin, di tahun 2013 saya diajak untuk mengikuti acara yang diselenggarakan di Kompleks Taman Budaya Kutai Barat. Area seluas kurang lebih 5 hektar di Jalan Sendawar Raya itu berisi Rumah Panjang yang 6 etnis besar di Kutai Barat.

Saya lebih suka menyebutnya dengan Taman Lamin, karena disana ada rumah panjang yang oleh orang Tonyooi {Tunjung} disebut sebagai Luuq. Sedangkan orang Benuaq menyebutnya Lou, sementara orang Bahau menamainya Amin. Dan orang Kenyah menyebut rumah panjang dengan nama Amin Bioq, lalu orang Aoheng menamai dengan Baang Adet serta orang Melayu menyebut dengan nama Lamin.

Dilihat secara selintas bentuk rumah panjang seperti sama, namun jika diperhatikan dengan seksama maka akan terlihat perbedaan pada motif ragam hiasnya. Masing-masing etnis punya ragam hias tersendiri yang bersifat khas.

Berbeda dengan Lamin Tolan, Benung dan Eheng yang masih ditinggali, Lamin di Taman Budaya Sendawar tidak dimaksudkan sebagai rumah tinggal komunal. Rumah panjang atau lamin lebih difungsikan sebagai ruang untuk kegiatan kebudayaan dan pengawetan kebudayaan terutama dari sisi arsitektur tradisional.

Dalam kesempatan lain, saya pernah mengunjungi Kampung Linggang Melapeh, Kecamatan Linggang Bigung. Saya datang untuk berbincang tentang ekowisata disana, namun sayangnya lagi-lagi saya tak sempat piknik ke destinasi wisata alam yang menjadi unggulan desa wisata itu.

Ketika saya kembali berkunjung ke Kutai Barat untuk menghadiri pernikahan sepupu saya dengan gadis yang berasal dari Melak, saya bersama keluarga memanfaatkan kesempatan untuk mengunjungi Jantur Inar, wisata air terjun yang terletak di Kampung Temula, Kecamatan Nyuatan.

Berada di tengah rerimbunan hutan, pemandangan air yang jatuh dari ketinggian kurang lebih 30 meter itu menyajikan panorama yang memikat. Perjuangan melewati trekking ratusan anak tangga yang curam terbayar dengan bulir dingin air yang tersapu angin dan terpancar karena menimpa bebatuan di bawahnya.

Kesegaran dan kejernihan air Jantur Inar tak perlu diragukan lagi karena berasal dari sumber air yang mengalir dari pegunungan melewati bebatuan.

BACA JUGA : Naik Speedboat Di Mahakam Yang Lagi Surut

Akhir bulan lalu saya mendapat ajakan untuk pergi ke Kutai Barat, namun kemudian ditunda hingga minggu pertama bulan Agustus lewat. Dengan menumpang speedboat akhirnya saya kembali menginjakkan kaki di Melak, Kutai Barat saat kondisi Sungai Mahakam mulai surut karena hujan mulai jarang turun.

Ini adalah perjalanan cepat, sampai di Barong Tongkok sore hari, keesokan paginya beracara dan kemudian sore kembali lagi ke Samarinda dengan moda transportasi darat. Kira-kira saya akan ada di Kutai Barat selama 24 jam.

Di Pendopo Hotel Sidodadi, saya akan berbicara tentang Kebersihan Lingkungan dan Kelestarian Lingkungan Hidup di Desa Wisata. Pesertanya adalah pengelola destinasi wisata, Pokdarwis, pemerintah kampung {desa} dan pegawai Dinas Pariwisata Kutai Barat.

Mendapat giliran bicara pada sessi yang kedua, saya memanfaatkan waktu melihat daftar hadir yang telah diisi oleh peserta pada saat registrasi.

Ternyata banyak peserta yang datang dari kampung yang mempunyai destinasi wisata Air Terjun. Masyarakat Kutai Barat mempunyai nama lain untuk air terjun yakni Jantur. Padanan air terjun memang banyak, orang Jawa menyebutnya Curuq, orang Malang menamainya Coban. Ada juga masyarakat lain yang menyebut dengan nama Gerojogan, Pancuran, Air Jatuh dan lain-lain.

Jantur di Kutai Barat antara lain Jantur Mapan, Jantur Inar, Jantur Dora, Jantur Sewet, Jantur Tabalas, Jantur Mencangkaw, Jantur Mukuq, Jantur Asam, Jantur Mentihai, Jantur Emperuq, Jantur Tebati, Jantur Tebatang, Jantur Atai, Jantur Gemuruh, Jantur Geronggong dan Jantur Menarung.

Jantur yang terakhir oleh saya terbaca sebagai Jantur Manurung sehingga saya sempat bergurau jantur ini benar di Kutai Barat atau di Sumatera Utara. Sebab janturnya seperti bermarga Batak.

Melihat banyaknya destinasi jantur, berarti wisata air terjun telah menjadi salah satu wisata unggulan di Kutai Barat baik untuk kunjungan wisatawan setempat, wisatawan nusantara maupun wisatawan asing.

Saat berdiskusi tentang wisata berkelanjutan, seorang peserta menanyakan bagaimana tip dan trik untuk mempertahankan eksistensi sebuah destinasi wisata sehingga berkelanjutan.

Tentu ada banyak kiat, inovasi atau kreasi agar sebuah destinasi tidak segera pudar daya tariknya. Secara umum daya tarik wisata bisa bertahan apabila memperhatikan kebersihan {cleanliness}, kesehatan {health}, keamanan {safety} dan kelestarian lingkungan {environmental sustainability}.

Hal ini erat kaitannya dengan tata kelola sampah dan sanitasi di sebuah destinasi wisata. Sebab kedatangan banyak orang di suatu tempat selalu akan menghasilkan sampah, limbah, polutan dan residu lainnya yang berdampak pada tanah, air, dan udara yang akan mempengaruhi kenyamanan serta keamanan wisatawan.

Di luar itu sebuah destinasi wisata akan suram masa depannya jika hanya bertumpu pada daya tarik tunggal. Daya tarik sebuah destinasi wisata alam misalnya mesti dikoneksikan dengan potensi atau daya tarik lingkungan alam, lingkungan sosial, lingkungan budaya dan lingkungan ekonomi kreatif lainnya.

Pasar wisata alam {ekowisata} bisa dikembangkan menjadi wisata budaya, wisata pendidikan hingga wisata konservasi. Potensi atau daya tarik Jantur bisa diperkaya dan diperluasan dengan pendekatan kawasan, sehingga wisatawan tidak hanya menikmati keindahan air terjun tetapi juga kawasan sekitar, kekayaan flora dan faunanya dan kebudayaan masyarakat di sekitarnya.

Dengan pendekatan kawasan dan mengkoneksikan dengan lingkungan yang lain maka wisata alam dan wisata kultural akan bernuansa wisata pendidikan dimana wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati keindahan alam, keramahan penduduknya melainkan juga memperoleh pengetahuan tentang lingkungan hidup, kehidupan sosial dan budaya masyarakat sekitar.

Dengan memperoleh pengetahuan dan berinteraksi dengan alam, lingkungan sosial dan budaya akan menumbuhkan kepedulian dalam diri wisatawan, peduli terhadap lingkungan hidup serta menghargai dan menghormati budaya serta cara hidup masyarakat lainnya.

Dengan perluasan pasar dan daya tarik maka akan semakin banyak warga setempat yang terlibat dan mendapat keuntungan dari kegiatan wisata niscaya pondasi untuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan akan terbentuk.

BACA JUGA : Inter Miami Barcelona U 35

Sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan perlu dikembangkan karena hampir semua desa kini seolah berlomba atau mengklaim sebagai desa wisata. Bahwa setiap desa merasa mempunyai potensi wisata tentu tak dapat dinafikan. Namun desa wisata tidak boleh hanya bertumpu pada potensi daya tarik wisatanya semata.

Ada dua komponen lain yang yakni minat dan kesiapan masyarakat terhadap pengembangan destinasi wisata setempat serta keunikan konsep desa wisata.

Hanya melabeli diri dengan sebutan desa wisata tidak otomatis membuat desa menjadi destinasi wisata yang berhasil apalagi berkelanjutan.

Secara definisi yang disebut dengan wisata berkelanjutan adalah pariwisata yang memperhatikan dampak terhadap lingkungan, sosial, budaya dan ekonomi untuk masa kini maupun masa depan bagi masyarakat setempat serta wisatawan.

Sekurangnya ada empat kategori yang harus dipenuhi agar sebuah destinasi wisata bisa disebut sebagai pariwisata berkelanjutan. Empat kategori itu adalah pengelolaan destinasi pariwisata berkelanjutan, pemanfaatan ekonomi bagi masyarakat lokal, pelestarian budaya bagi masyarakat  dan pengunjung, serta pelestarian lingkungan hidup.

Berkaitan dengan pengelolaan destinasi pariwisata berkelanjutan, kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah dan sanitasi menjadi faktor yang amat krusial untuk mencapai keberhasilannya.

Yang dimaksudkan dengan kebersihan lingkungan adalah keadaan lingkungan yang bebas dari kotoran, termasuk didalamnya adalah debu, sampah, limbah, bau dan sumber penyakit. Lingkungan bersih meliputi lahan tanah, udara dan air serta fasilitas umum maupun pribadi.

Lingkungan yang bersih selain akan menimbulkan rasa aman dan nyaman untuk masyarakat serta pengunjung juga merupakan kondisi pendukung untuk pelestarian alam dan lingkungan.

Agar kebersihan lingkungan terjaga, destinasi wisata mesti mempunyai rencana pengelolaan lingkungan, menyediakan fasilitas kebersihan lingkungan, mempunyai staf atau bagian yang bertanggungjawab untuk menjaga kebersihan lingkungan serta mempunyai metode atau cara untuk melibatkan masyarakat setempat dan pengunjung untuk memenuhi ketentuan atau pedoman kebersihan lingkungan di destinasi wisata.

Sebuah destinasi wisata yang hanya mengejar jumlah kunjungan namun abai pada upaya untuk menjaga kebersihan lingkungan cepat atau lambat akan ditinggalkan dan dilupakan oleh masyarakat dan pengunjung.

Penerapan standar yang tinggi pada aspek kebersihan lingkungan di destinasi wisata lewat upaya memaksimalkan dampak positif dan meminimalisir dampak negatif dari kehadiran pengunjung dan aktivitas pariwisata bahkan bisa menjadi branding bagi desa wisata untuk meningkatkan keunikannya dibandingkan dengan desa wisata lainnya.

Pengelolaan sampah, limbah dan residu yang dihasilkan dari kegiatan wisata jika dibranding dengan baik bahkan bisa menjadi potensi wisata baru untuk meningkatkan daya tarik wisata dari sebuah destinasi.

Sampah dan limbah yang dikelola dengan baik pada akhirnya juga bisa mendatangkan pendapatan atau mempunyai nilai ekonomi baru yang bisa memberi sumbangsih pada peningkatan ekonomi masyarakat setempat.

Dengan skema ekonomi sirkular, aktivitas pariwisata di sebuah destinasi wisata bisa menekan penggunaan sumberdaya baru, pemborosan energi dan lainnya sehingga lingkungan akan terus terjaga dan meningkat mutunya.

Perbaikan atau peningkatan mutu lingkungan pada akhirnya akan membuat sebuah destinasi akan terjaga kelestariannya dan usaha pariwisata akan terus berjalan hingga ke masa depan.

Saya merasa senang pemerintah dan masyarakat desa bersemangat untuk mengembangkan pariwisata sebagai cara untuk menopang kehidupan bersama secara berkelanjutan.

Niat untuk menjaga kelestarian alam sebagai penopang untuk meningkatkan kesejahteraan bersama jika terwujud di desa-desa maka masa depan perekonomian Kalimantan Timur yang selama ini bertumpu pada industri ekstraksi bisa dikonversi menjadi ekonomi hijau, ekonomi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Namun jalan masih panjang dan banyak tantangan, seperti perjalanan dari Kutai Barat ke Samarinda yang selalu saja membuat hati ciut karena jalanan yang rusak, banyak lubang dan ramai dilewati oleh truk-truk dengan muatan berlebihan.

note : sumber gambar ilustrasi – BOBO.GRID.ID