KESAH.IDRamban atau mencari, memetik dan mengambil pucuk tumbuhan, daun muda, tunas, bunga dan lainnya dari tanaman yang tumbuh di kebun, pekarangan, gunung, perbukitan, hutan dan lainnya adalah kebiasaan universal. Tradisi etnobotani ini kerap dipandang rendah karena mencerminkan ketidakmampuan membeli produk pertanian budidaya, namun ada juga yang menganggap sebagai eklusifitas karena jenis bahan makanan tertentu bersifat langka, hanya ada di musim tertentu. Seperti jenis jamur tertentu yang tumbuh liar di Eropa yang harganya teramat mahal. Budaya meramban yang identik dengan perdesaan kini juga tumbuh di perkotaan seiring semangat back to nature, kesadaran untuk mengkonsumsi makanan organik yang dianggap lebih sehat.

Ramban, sudah lama saya tidak mendengar dan mengucapkan kata itu. Yudisthira, Lelaki Dapur mengingatkannya lewat episode “Meramban” pada sebuah project masak-masak “Makan Kah Kita” yang dilabeli olehnya sebagai Memori Rasa.

Kata itu membawa saya kembali ke masa puluhan tahun yang telah lewat, masa yang tersimpan dalam memori jangka panjang atau kenangan silam. Dulu sewaktu kecil, kalau prei atau liburan sekolah saya biasa pergi ke rumah nenek dan kakak adik bapak yang rumahnya saling berdekatan.

Kami menyebutnya pergi ke gunung karena kampungnya berada di kawasan Pegunungan Menoreh sisi barat bagian selatan. Daerah itu dikenal sebagai kawasan budidaya Kambing Peranakan Etawa {PE}. Jadi salah satu kesibukan untuk mengisi liburan adalah membantu mencari pakan untuk kambing, kami menyebutnya ngarit.

Disebut ngarit karena kami pergi dibekali dengan arit {clurit} yang cocok dipakai untuk merumput. Kalau tak dapat arit karena persediaan terbatas, saya membawa bendo. Bentuknya seperti pisau panjang dan besar, bendo tak cocok untuk dipakai memotong rumput.

Jika kebagian bendo maka saya akan mencari daun-daunan yang disukai oleh kambing. Pakan selain rumput disebut sebagai ramban. Kambing biasanya suka makan daun lamtoro atau petai cina, daun kaliandra, daun nangka dan lain-lain.

Ramban bukan hanya sebutan untuk daun-daunan yang menjadi pakan ternak, kegiatan meramban atau mencari ramban juga dilakukan untuk kebutuhan dapur. Yang dicari adalah daun muda atau pucuk-pucuk tanaman baik yang ditanam maupun tumbuh liar di pekarangan, lahan sekitar permukiman atau kebun di pegunungan yang terbiar.

Seingat saya pasar di Kampung Nenek saya itu hanya buka di hari pasaran tertentu. Namanya Pasar Pendem, karena berada pada sisi rendah di sebuah perbukitan sehingga dari jauh seolah tenggelam, hanya kelihatan atap kios-kiosnya.

Tak jauh dari Pasar Pendem ada Pasar Hewan, tempat transaksi jual beli binatang ternak terutama kambing. Rasanya sampai saat ini pasar itu masih menjadi pasar populer di Jawa Tengah untuk jual beli Kambing PE.

Karena pasar tak buka setiap hari dan tak ada penjual sayur keliling maka kebutuhan sayur hari-hari mesti dipenuhi sendiri. Sayur dicari atau dipetik dari pekarang rumah, kebun atau dicari dari tempat lainnya. Ada yang ditanam dan ada yang tumbuh liar.

Seingat saya, saat menjelang musim hujan di sekitar pekarangan rumah sering tumbuh dengan sendirinya bayam dengan daun berwarna hijau kemerahan dan suring atau kenikir yang bunganya tidak tumpuk serta warnanya bernuansa unggu bukan kuning.

Selain tumbuhan liar, di pagar pekarangan biasanya juga ditanam pohon katu, daun mudanya sering dibuat untuk sayur bening. Dan tentu saja ada singkong atau ketela pohon, yang pucuk atau daun mudanya menjadi salah satu bahan sayur favorit, hari-hari selalu ada.

Pohon singkong yang ditujukan untuk diambil pucuk daunnya biasa tidak ditanam. Batangnya yang masih panjang dibiarkan begitu saja, ditumpuk di pinggir pekarangan. Dari batang itu akan tumbuh banyak tunas. Dari satu tumpukan bisa dipetik pucuk daun singkong yang cukup untuk sekali masak.

Jika di pekarangan ada pohon yang cukup besar, biasanya juga dipakai sebagai rambatan. Kecipir, labu jepang, koro dan lainnya bisa dirambatkan disana. Yang diambil bukan pucuk daunnya tapi buahnya yang masih cukup muda.

Yang diambil pucuk daunnya adalah kacang panjang. Daun kacang panjang yang dipakai sebagai bahan sayur disebut Mbayung {Lembayung}. Yang diambil mesti daun yang benar muda karena daunnya agak keras dan kasar kalau sudah mulai tua.

Di kebun terutama jika tanahnya terbuka sering juga tumbuh pohon sintrong. Tumbuhan pendek dengan batang yang lunak. Walau bisa disayur, seingat saya jarang kami mengambilnya, karena sayuran lain masih ada.

BACA JUGA : Ada Banyak Jantur Di Kubar

Kebiasaan ngramban tidak hanya ada di kampung Nenek saya yang ada dipunggung pegunungan. Di kampung tempat tinggal saya yang jaraknya hanya dua kilo meter dari Kantor Bupati juga terbiasa mengambil pucuk daun yang dibiarkan tumbuh pada pekarangan, kebun atau bahkan sawah.

Di sawah ada sayur genjer, yang kalau dimasak rasanya lembut berserat di mulut. Lalu di sekitar saluran air persawahan juga sering tumbuh talas air, daunnya biasa diambil untuk membuat buntil.

Bukan hanya pucuk atau daun muda yang bisa diambil sebagai bahan sayuran, namun juga pucuk atau batang muda. Rebung atau bambu muda salah satunya. Jika yang diambil rebung petung, biasanya akan dibagikan dengan tetangga karena ukurannya besar.

Yang istimewa dan jarang-jarang adalah pondo atau pucuk pohon kelapa. Sewaktu kanak-kanak jika ada yang menebang pohon kelapa di sekitar rumah akan menjadi hiburan tersendiri. Selain bisa mendapat kelapa muda dan janur untuk membuat mainan, kami juga akan merasai masakan yang jarang-jarang. Pucuk muda pohon kelapa atau pondo bisa dimasak layaknya rebung bambu.

Ketika kelak kemudian saya tinggal di Minahasa dan Manado, saya mempunyai pengalaman baru dalam meramban. Sebagian sama seperti ketika saya tinggal di kampung halaman, yang diramban pucuk daun ketela, namun banyak rambanan baru yang kemudian saya kenal.

Yang paling sering adalah meramban daun gedi, bentuk daunnya mirip daun ketela namun lebih lebar dan tebal. Daun gedi merupakan salah satu bahan utama untuk membuat tinutuan atau bubur manado.

Sayur favorit lainnya yang bisa diperoleh dengan cara meramban adalah pucuk paku {pakis} dan kangkung. Meski kangkung adalah tanaman peliharaan, namun untuk keperluan konsumsi yang punya tak akan keberatan untuk dimintai. Hal yang sama berlaku untuk daun dan bunga pepaya.

Jika taka da orang di kebun atau pekarangan, kami akan berteriak “Om {atau tante, oma, opa}, torang pete {minta} kangkung {atau lainnya} dang ne,” lalu kami jawab sendiri “Ambe jo, maar ukur-ukur,”.

Salah satu yang unik adalah meramban daun pangi. Pohonnya besar dan tinggi. Biasanya yang dimanfaatkan adalah biji buahnya yang disebut kluwak atau pucung. Orang Minahasa lebih memanfaatkan daunnya untuk dimasak dalam bambu.

Meramban pohon pangi mesti terjadwal, sebab sebelum diambil daunnya pohon akan digunduli terlebih dahulu, sehingga beberapa waktu kemudian akan tumbuh pucuk-pucuk muda. Pohon diramban dengan menebas batang-batang mudanya, kemudian daun dipilih lalu dibersihkan urat daunnya. Daun kemudian diiris tipis-tipis seperti tembakau.

Setelah dicampur dengan bumbu dan daging, adonan itu dimasukkan dalam bambu atau buluh lalu dibakar. Ketika masak warnanya kehitaman, seperti tembakau susur.

Sayur pangi biasanya disajikan dalam perayaan-perayaan istimewa. Namun sehari-hari bisa dibeli di warung makan khas Minahasa.

Daun lain yang berasal dari pohon yang berkayu dan cukup besar disebut leilem. Daunnya bisa dipetik tanpa memanjat karena pohonnya tak terlalu tinggi seperti pohon pangi. Daun leilem bisa dimasak sebagai campuran daging atau untuk membungkus daging. Jika sudah masak tampilannya lebih mengkilap dari pangi karena daun leilem lebih menyerap minyak. Daun leilem biasayanya dimasak dengan daging babi, namun sebenarnya bisa juga dengan daging ayam dan daging sapi.

Jika dimasak tumis, daun leilem biasanya sudah direbus terlebih dahulu lalu diiris-iris cukup lebar atau cukup disobek-sobek saja.

Di sekitar Tomohon, masyarakatnya juga sering memasak daun koles. Tumbuhan yang tumbuh di lantai hutan pegunungan. Saya pernah mencicipi beberapa kali namun tak terlalu ingat rasanya.

Sedangkan masyarakat keturunan Toraja di Manado dan Minahasa kerap kali meramban jenis bayam-bayaman bernama mayana. Mayana biasa ditanam di pinggiran ladang atau pekarangan. Ada banyak jenis mayana, beberapa jenis daunnya warna-warni sehingga sering dijadikan tanaman hias. Namun yang diramban adalah yang berwarna kemerahan.

BACA JUGA : Naik Speedboat Di Mahakam Yang Lagi Surut

Meramban jelas merupakan kebiasaan pada semua masyarakat. Akar kebiasaan ini merujuk pada sejarah manusia berada dalam peradaban pemburu pengumpul. Seperti mahkluk hidup lainnya, manusia waktu itu hanya mengkonsumsi apa yang disediakan oleh alam.

Telah jauh melewati peradaban pemburu pengumpul, di abad teknologi informasi ini kegiatan meramban masih terus berlangsung dengan tafsir dan nilai-nilai baru.

Apa yang diramban akan berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya karena biodiversivitas yang berbeda-beda. Ada masyarakat yang mengambil dedaunan, batang muda, pucuk batang, bunga. Namun ada juga masyarakat yang mengambil jejamuran, seperti di Eropa.

Dalam konteks ilmu pengetahuan kegiatan meramban disebut dengan etno botani, relasi manusia setempat dengan lingkungan alam. Masyarakat Dayak yang tinggal di lingkungan hutan kerap menyebut hutan sebagai supermarket, tempat mereka memenuhi kebutuhan bukan hanya fisik melainkan juga spiritual.

Dedaunan, bunga, puncuk batang atau tunas {umbut} diambil bukan hanya untuk dikonsumsi melainkan juga sebagai bahan obat-obat {herbal} serta atribut atau umba rambe untuk ritual adat.

Meramban kini juga erat dengan gerakan untuk kembali kepada makanan alamiah, makanan organik. Sebutan kerennya foraging, untuk mencari wild food.

Kegiatan meramban kemudian tidak hanya tetap tumbuh dan bertahan di perdesaan, pegunungan, hutan dan pesisir dimana masyarakatnya menganggap gunung, hutan, dan riparian badan air sebagai sumber kehidupan.

Di perkotaan pada tanah-tanah kosong, lahan yang terbiar atau halaman depan serta belakang yang masih luas sering tumbuh tanaman-tanaman liar. Tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan terutama sayuran.

Di kota Samarinda, pada lahan kosong, tanah yang belum terbangun, daerah berawa yang belum ditimbun kerap ditumbuhi tumbuhan liar maupun tanaman yang biasa dibudidayakan namun tumbuh dibiarkan.

Yang bisa diramban di perkotaan Samarinda antara lain daun singkil, daun katu, daun dan bunga pepaya, pucuk labu, pucuk kelubut dan daun paku atau pakis muda.

Jika sedikit ke pinggiran bisa ditemui sejenis tebu-tebuan yang pucuknya bisa disayur. Namanya tebu telur tetapi kadang ada juga yang menyebutnya tebu salah.

Bagian yang diambil adalah pucuk batang yang sudah cukup tua, pucuknya biasanya akan membengkak. Jika dikupas dalamnya akan terlihat seperti sekumpulan telur ikan berwarna putih kekuningan.

Selain tebu telur ada juga tumbuhan rempah mirip pohon lengkuas yang biasa diambil bunganya. Bunga yang warnanya cantik itu disebut dengan nama kecombrang atau jaung. Bisa dibuat sambal atau campuran masakan sehingga beraroma dan berasa khas.

Bermacam jenis bahan makanan etnobotani ini masih diperjualbelikan di Pasar Dayak. Pasar tradisional ini dulu berada di pinggiran jalan PM. Noor namun kini sudah diperbaharui, masih berada di jalan yang sama namun tak lagi menempel jalan seperti pasar tumpah.

Di pasar malam, pasar tradisional jenis lain di Kota Samarinda yang hanya buka pada hari tertentu di daerah tertentu juga masih mudah ditemui berbagai jenis bahan makanan etnobotani, hasil dari meramban.

Sayangnya secara kultural kegiatan meramban yang bermula dari tradisi pangan lokal kemudian sering dianggap sebagai aktivitas yang sarat dengan kemiskinan atau ketidak mampuan membeli bahan pangan hasil pertanian yang lebih mahal.

Untungnya kesadaran akan lingkungan, semangat untuk kembali kepada alam dan ketahanan pangan masyarakat lokal bisa membawa foraging, etnobotani atau meramban kembali menjadi kegiatan yang sesuai jaman.

Bahkan dalam konteks ekonomi kreatif dan pariwisata kegiatan meramban, bisa menjadi produk wisata unggulan. Menjadi bagian dari wisata gastronomi, dimana wisatawan bukan hanya menikmati makanan melainkan juga tahu dari mana bahan makanan berasal, ikut memetik dan ikut memasak serta mendapat pengetahuan dan cerita dari makanan yang dimasak serta dinikmati olehnya.

note : sumber gambar ilustrasi – TRIBUNNEWSWIKI.COM