Tindakan benar tidak muncul tanpa adanya niat benar begitu dikatakan oleh Seneca, filsuf stoik yang merupakan tutor dan penasehat Kaisar Nero namun kemudian dipermalukan oleh sang kaisar dan diminta bunuh diri. Nero menuduh filsuf yang menghasilkan selusin risalah filsafat, 124 surat yang membahas isu moral, 9 naskah drama dan satu satire ini dituduh terlibat dalam konspirasi Piso sebuah persekongkolan untuk membunuh Nero.
Bicara soal niat Kota Samarinda untuk mengatasi banjir sampai dengan hari ini belum memunculkan tindakan yang benar. Kini setiap kali hujan, Samarinda langsung banjir. Hujan selalu disalahkan sebagai penyebab banjir dengan digelari sebagai curah hujan ektrem, curah hujan tertinggi selama seratus tahun terakhir dan seterusnya.
Hujan adalah peristiwa alam yang terus berulang. Dan Samarinda adalah salah satu kota yang mestinya bersyukur karena diberi hujan yang berlimpah, curah hujan yang relatif tinggi selama setahun. Dan ini bukan terjadi dalam jangka waktu seratus tahun terakhir melainkan ribuan tahun sebelumnya. Maka memandang negative terhadap hujan adalah sebuah perlawanan yang sia-sia kepada alam.
Sejak kecil sebenarnya kita diajar untuk memandang positif terhadap air dan hujan lewat lagu “ tik-tik bunyi hujan diatas genting, airnya turun tidak terkira…..dan seterusnya”. Hujan pada perayaan imlek, bagi warga Thionghoa bermakna bahwa rejeki dalam tahun ke depan akan melimpah. Hujan deras saat seseorang meninggal atau hendak dimakamkan menandakan bahwa yang meninggal adalah orang yang sangat baik, sehingga bumipun menangis.
Hujan jelas mengembirakan dan melegakan. Tanah menjadi basah, tanaman segar kembali, mata air tak jadi mengering. Hujan adalah kebaikan bagi alam dan seisinya tak terkecuali untuk manusia. Namun sekarang ini tak selamanya hujan menjadi berkah. Hilangnya daerah resapan air, entah karena rendahnya tutupan vegetasi, halaman yang di semen, saluran air yang mampet karena sampah, sungai yang mendangkal karena sedimentasi dan permukaan air laut yang cenderung menaik, membuat tumpahan air hujan tak tertahan lagi.
Genangan terjadi dimana-mana dan butuh waktu untuk surut entah diserap bumi, mengalir ke sungai dan ditampung oleh laut. Manakala hujan, kini banyak orang menjadi was-was, khawatir dan bahkan putus asa. Petani sedih karena padi disawah bakal terendam di bawah air, pengguna jalan raya bakal jengah karena jalanan berubah menjadi sungai dan bahaya untuk dilintasi. Warga yang tinggal di bantaran sungai bersiap-siap untuk mengungsi karena tak lama lagi air bakal bertamu ke dalam rumah mereka.
Air yang seharusnya adalah sahabat kita, kini muncul sebagai musuh yang mengancam. Senjata yang melumpuhkan dan nyaris tak bisa dikendalikan lagi. Air memberontak, karena jalan dan kehidupannya kita rampas. Rawa –rawa ditimbun untuk perumahan, sungai dan saluran air disempitkan, hutan tempat untuk menabung air dibabat tanpa perasaan. Banjir bisa jadi cermin dari keserakahan, keserakahan yang kemudian mengundang bencana. Ibarat penyakit, banjir sudah merupakan penyakit menahun, kronis dan komplikatif. Banjir tidak bisa lagi dihadapi secara reaktif dan adaptatif. Jika setiap orang hanya berlomba untuk meninggikan fondasi rumah maka cari selamat sendiri hanya akan semakin menenggelamkan warga lainnya yang tak mampu.
Saat di sekolah dasar kita diajari bahwa air adalah bagian terbesar dari planet kita, meski tidak semuanya bisa atau layak digunakan untuk manusia. Namun air adalah kekuatan yang punya kuasa besar, melayani kebutuhan dasar manusia. Tanah terbuka dan tanah yang dihampari rimbunan pepohonan adalah tempat air bertahta sementara, ditabung untuk kemudian dipanen dalam bentuk mata air yang jernih, sungai berkelok nan mengalir lancar dan sumur dengan air dingin menyegarkan.
Namun kini banyak kali terjadi limpasan air yang tidak dikehendaki terjadi, mengenangi pemukiman, menerjang, merusak dan memporakporandakan infrastruktur kehidupan. Dalam banyak kasus kejadian banjir adalah sebuah bencana yang kita undang. Aktifitas pembangunan dan perekonomian acapkali merubah jalan air, menutup dan bahkan mematikan kantong-kantong yang menampung kelebihan air. Hutan sebagai ssebagai kawasan penangkap air dari hari ke hari menyusut luasannya dengan sangat cepat. Rawa dan lahan gambut di timbun dan dialihfungsikan entah menjadi pemukiman maupun keperluan lainnya. Keserakahan dan kesewenang-wenangan dalam menentukan peruntukkan menjadi biang datangnya air yang meradang.
Berkaitan dengan banjir di Jakarta misalnya, Alm. Prof. Otto Sumarwoto menyatakan bahwa ia akan heran kalau Jakarta tidak dilanda banjir setiap tahun, karena kawasan Puncak dan Bogor telah menggunduli hutannya dengan kecepatan luar biasa dan hanya menyisakan sedikit saja kawasan yang seharusnya mengatur tata air untuk kawasan Jakarta itu. Sementara, di Jakarta jalur hijau dan taman kota terus menyusut, berganti dengan mall. Dan selama masalah intinya tidak dibenahi atau terus bibiarkan terjadi maka banjir akan semakin besar dan luas.
Bukan rahasia lagi kalau banjir di Jakarta juga menghasilkan banjir uang. Setiap tahun anggaran untuk menangani banjir terus meningkat, tahun ini hampir 2 trilyun dianggarkan untuk ‘mengelola’ banjir. Akibatnya banjir diterima sebagai sebuah rutinitas, sehingga kita tidak sensisitif lagi mempertanyakan apa penyebabnya, selain mengatakan ‘akibat curah hujan tinggi’ atau ‘kiriman’ dari daerah diatasnya. Kesibukan yang dipertontonkan adalah kesibukan untuk menyongsong datangnya banjir. Bahkan bagi sebagian orang banjir bisa bermakna datangnya rejeki yang meruah.
Perilaku adaptif (menyesuaikan diri dengan kondisi banjir) terus dipertontonkan baik oleh masyarakat maupun pengambil kebijakan. Tidak ada perilaku kebijakan yang revolusioner dan inovatif yang ditujukan untuk mengurangi resiko bencana banjir yang diundang.
Mengatasi banjir sesungguhnya merupakan tindakan yang didasari atas niat yang tidak benar karena intinya adalah membuang air hujan secepat mungkin ke laut. Ngotot untuk mengatasi banjir adalah pertanda ketidakpahaman, ketidakmengertian kenapa curah hujan di Samarinda tinggi. Kondisi terbaik tanah di Samarinda adalah ketika tanah basah atau lembab. Maka jika hujan yang berlimpah dan kemudian dengan segera dibuang atau dikirim ke laut, pada saat musim kemaru Samarinda tanahnya akan segera kering dan membatu, mudah terjadi kebakaran dan akan terjadi longsor begitu diguyur hujan deras kembali.
Jadi jangan cuma berpikir mengusir banjir yang kemudian justru mengundang kekeringan, kebakaran dan longsor.
Banjir, kekeringan, kebakaran dan longsor adalah anak kandung siklus hidrologi. Anak-anak dengan wajah yang berbeda tapi lahir dari rahim yang sama yaitu air hujan, ibu dari segala air. tidak mengerti dan menyia-nyiakan air hujan atas nama program dan proyek mengatasi banjir tidak akan pernah mengantar kita pada tindakan yang benar karena tidak didasarkan pada niat yang benar. Mengatasi banjir berarti tidak punya niat untuk menahan dan menanam air hujan agar kelak bisa kita panen di musim kemarau, agar tanah tetap terikat, agar lahan tidak mengering dan kemudian memanggil api.
Tanah Samarinda butuh air bukan semen.
kredit foto : Kelly Sikkema








