“Apa-apaan sih nyinyir acc alter ! situ oke ? gasuka alter ? UNFOLLOW ! beres kan ? cari popularitas kok njelekin orang . fakkyuh :|”

Kalimat diatas adalah petikan dari sebuah tweet yang di retweet dan muncul di timeline saya pagi menjelang siang ini.

Sudah lama saya penasaran dengan kata alter yang kerap muncul di timeline terutama dari account-accout di twitworld yang berada di wilayah Sangeland. Warga dari Sangeland adalah account-account yang kerap disebut sebagai PHP, Penebar Horny Palsu.

Di jagad mayantara terutama setelah maraknya sosial media, account alter(natif) sebenarnya bukan fenomena baru. Di facebook banyak yang memakai nama yang bisa bikin kita senyam-senyum atau bahkan berpikir keras untuk mengerti.

Entah apa tujuannya, bisa jadi biar kelihatan keren, atau agar jatidirinya hanya di ketahui oleh orang tertentu. Namun bisa jadi sebuah keinginan untuk menjadi seseorang sebagaimana nama yang dipakainya.

Yang paling parah tentu saja untuk menipu atau memperdaya orang lain. Modusnya seseorang membuat banyak account dan kemudian ketika satu account memposting barang jualan tertentu misalnya, maka account lainnya akan digunakan untuk memberi komentar berisi kesaksian yang membuat pembacanya tergiur. Pada situs berbagi video semacam youtube, nama alias atau nama lain juga banyak digunakan oleh para pemakainya.

Pun demikian pula di twitter, tak sedikit yang memakai nama yang lain dari nama yang sebenarnya. Bisa jadi nama lain dipakai untuk melindungi diri karena twit-twitnya berisi kicauan untuk membongkar kasus atau aib orang lain. Bisa pula twit-twitnya berisi ajakan untuk berdebat atau perang dengan orang lain sehingga lawan tak bisa menyerang diri pribadinya. Atau bisa jadi nama account yang dipakai diharap bisa meraup banyak follower.

Ketika Departemen Kominfo gencar melakukan pemblokiran terhadap situs-situs yang menampilkan gambar-gambar dewasa dan porno. Para jemaah porno ternyata tidak kehilangan akal. Muncul account-account di twitter yang mengabdikan diri untuk mengumpulkan atau bahkan memproduksi dan menyebarkan dengan sukarela kepada para pengikutnya.

Bahkan ada account-account yang membatasi diri pada IGO, Indonesian Girls Only, alias foto-foto yang disebarkan adalah asli gadis dari Indonesia.

Inilah account-account yang kemudian kerap menyebut diri bahwa mereka berada di Sangeland. Mencermati account-account ini sering kali disebut-sebut istilah alter. Alter dipakai untuk menyebut account twitter yang memasang ‘real ava’ foto asli mulai dari yang sedikit nakal sampai nakal sekali namun dengan menyembunyikan sedikit bagian wajah dan identitas asli dari pemiliknya.

Kebanyakan pemilik account alter ini adalah perempuan mulai gadis, tante sampai dengan janda, begitu pengakuannya. Aneh bin ajaib, beberapa account ini biarpun baru sedikit nge-tweet ternyata pengikutnya sudah bejibun. Tweetnya suka-suka saja, celetukan pendek bisa lucu bisa pula menggoda, berbalas pantun dengan follower-nya seolah mengikuti hasrat dan tak lupa menyertakan pula foto-foto syur dan menggoda.

Kalau dicermati ternyata istilah Alter itu bukan diambil dari Alternatif melainkan Alter Ego, istilah dalam dunia psikologi untuk menyebut ‘aku yang lain’. Alter Ego dipercaya sebagai aku yang kedua dalam diri seseorang yang cenderung berbeda dengan dari kepribadian yang sebenarnya atau yang nampak di depan mata orang lain. Alter Ego kerap diperbincangkan dalam konteks analisis soal kepribadian ganda, kepribadian yang terpecah dan termasuk dalam gangguan dalam ilmu psikologi.

Istilah Alter Ego juga dikenal dalam analisis sastra, yaitu penulisan atau pengambaran karakter lewat penokohan, karakter fiktif namun perilaku, ucapan atau gagasan dan pikirannya mewakili penulisnya, atau tokoh lain di dunia nyata.

Account Alter di Sangeland mungkin mengabungkan antara Alter Ego dalam konteks psikologi dan analisa sastra itu. Para pemilik account itu barangkali dalam kehidupan sehari-hari adalah orang yang puritan, berlaku sangat sopan, berbicang dalam tutur kata yang tertata dan hidup dalam lingkungan keluarga yang baik-baik saja. Namun di balik dirinya ada dorongan untuk berlaku seenaknya, liar, bebas mengekploitasi diri termasuk tubuhnya plus preferensi seksual hanya saja itu tak mungkin dilakukannya.

Di twitter mereka menemukan dunia itu, dunia untuk mengekpresikan dirinya yang lain, yang selama ini disembunyikan dari hadapan orang-orang dekat, orang yang mengenalnya. Dengan demikian account Alter adalah sarana untuk mengekpresikan pribadinya yang lain, ‘aku yang lain’ tanpa batasan namun tak akan menganggu kehidupannya di dunia nyata.

Twitter menjadi dunia tanpa batas untuk mengekpresikan diri, termasuk buat kelompok yang punya preferensi seksual sesama jenis. Di twitter banyak account yang jelas-jelas memproklamirkan diri hanya mau difollow oleh sesama jenis yang masuk kategori ‘less’ atau lesbian. Pun demikian dengan account yang menyebut diri tante yang hanya doyan di follow oleh para brondong yang sudi mengirim mention padanya dengan menyertakan, maaf foto penisnya.

Namun tidak semua account yang menyebut diri sebagai Alter ini ditujukan untuk mengekpresikan ‘aku yang lain’ dari dirinya. Beberapa account jelas berkecenderungan untuk memakai ‘sisi gelap’ sebagai usaha. Mulai dari meraup pulsa followernya, menjual nomor telepon, foto bahkan mungkin layanan seksual secara nyata. Pembonceng yang memakai account alter untuk memperoleh pendapatan tambahan.

Dan biasanya kalau ketahuan maka account-account ini bakal dicerca oleh jamaah alter sejati karena dianggap menciderai arti dan fungsi account alter itu sendiri.

Saya tak punya kompentensi untuk menilai apakah account alter itu sebagai salah atau benar. Yang pasti beberapa waktu lalu saya mem-follow beberapa diantaranya, untuk mencermati sekaligus menikmati.

Namun setelah ‘polisi twitter’ mulai mengamati timeline saya, maka account-account itu segera saya un-follow. Saya nggak mau hanya gara-gara gemar mengintip ‘Alter Ego’ orang lain, hubungan dan kehangatan dengan istri saya jadi berantakan. Namun yang paling penting saya tentu tak mau keinginan ‘mengintip’ itu berkembang menjadi ‘Alter Ego’ saya yang permanen.

kredit foto : Sticker Mule – unsplash.com

artkel pernah diterbitkan di kompasiana tahun 2013