Lewat sebuah video yang diupload di youtube, Mustofa menyaksikan seorang tokoh bicara soal Sungai Karang Mumus di masa lalu.

“Sungai ini dahulu sungai kehidupan. Dari sungai ini segala sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat bisa diambil,” katanya.

“Saya dahulu, lahir di dekat sini dan sering bermain di Wantilan yang tak jauh dari Jembatan Kehewanan,” lanjutnya.

Wantilan, Mustofa mendapat kata baru yang berhubungan dengan Sungai Karang Mumus. Selama ini tak pernah sekalipun dia mendengar kata ini. Yang sering didengar adalah wanti-wanti, atau terus menerus. Kakek dan neneknya sering mengucapkan kata itu, mewanti-wanti, mengucapkan pesan yang berulang-ulang seperti jadilah anak baik, rajin belajar, membanggakan orang tua dan jangan nakal.

“Kai ..tahulah apa itu Wantilan,” Mustofa bertanya pada Kai Nani, orang tua yang tahu benar seluk beluk Sungai Karang Mumus sejak jaman bahari.

“Tahu … dulu banyak Wantilan di Sungai Karang Mumus ini,” jawab Kai Nani.

“Iya kai, Wantilan itu apa?”

“Tempat pengergajian kayu,”

“Kok dibilang Wantilan, dari mana asalnya,” tanya Mustofa terus menggali.

“Apa ya, memang sudah begitu namanya. Kalau asal usulnya kai nda paham,” jawab Kai tak mampu menjawab pertanyaan mendalam dari Mustofa.

Setelah tidak mendapat jawaban yang memuaskan, Mustofa mulai berjalan, berkeliling dari rumah ke rumah mencari orang-orang tua bahari. Satu persatu ditemui namun tak juga ada jawab yang didapatkan. Terakhir malah Mustofa dimarahi.

“Dari bahari memang begitu namanya, apa lagi yang mau dicari-cari,”

Lelah berjalan, akhirnya Mustofa menuju beton pinggiran sungai yang rindang. Rindangnya tepian sungai yang kemudian memancing penjual membuka lapak. Di tepi sungai yang mulai menghijau itu kini berderet penjual aneka minuman. Awalnya pembeli minum sambil duduk-duduk di beton sungai. Lama kelamaan pemilik lapak menyediakan meja dan kurs lalu atap. Dan mungkin tak lama lagi tanah tempat air hujan meresap bakal disemen.

Beruntung masih ada sisa uang di saku Mustofa, sehingga bisa duduk di beton sungai sambil menikmati minuman dingin yang dibuat dari bubuk kemasan. Paduan antara warna minuman yang dikocok dengan air dingin dan sedikit es batu, membuat minuman itu begitu sempurna untuk siang yang panasnya serasa mencubit kulit. Panas, minuman manis dingin dan semilir angin membuat Mustofa diserang kantuk.

“Lalu wae … kalau nyaman lupa teman,”

Begitu suara terdengar samar oleh Mustofa yang masih menggengam plastik minuman bersedotan. Nampak Bondan berdiri di seberang jalan, mukanya menghitam dibakar oleh panas mentari. Mustofa tersenyum tak menjawab. Bondan mendekat dan meminta sisa minuman yang belum tandas disedot oleh Mustofa.

“Dari mana kamu Mumus, kok duduk-duduk disini seperti orang hilang,”

“Kamu juga dari mana, siang-siang kok berkeliaran di jalanan. Sadarlah kulitmu itu sudah hitam … kok malah jalan di panas-panas cari hirang,” balas Mustofa pada Bondan.

“Cari koran, itu adikku dapat tugas dari sekolah untuk membawa kliping berita koran, lah kamu dari mana kayak orang linglung begitu”

“Cari Wantilan,” jawab Mustofa singkat.

“Mumus ini jaman sudah online. Ngapain kamu keliling-keliling cari-cari wantilan. Cari disini,” ujar Bondan memberikan HP pintarnya.

Mustofa paham maksud Bondan. Dengan memberikan HP pintarnya, Bondan ingin mengatakan “Just Googling,”

Mulailah jari Mustofa yang terasa kebesaran untuk keyboard virtual HP pintar Bondan mengetik keywords di situs mesin pencari. Begitu di klik, muncul puluhan situs yang punya relasi dengan terma Wantilan.

Mustofa dan Bondan membaca satu persatu. Hingga kemudian hampir serempak mereka mengatakan “Nah, ini sudah artinya,”

Di sebuah link yang mereka baca tertulis bahwa Wantilan adalah bentuk bangunan besar beratap yang terbuka di berbagai sisinya. Penjelasan ini sudah cukup untuk Mustofa, gambaran tentang pengergajian kayu cocok dengan arti yang didapat dari internet itu.

“Cocok ini sudah Bondan, kenapa pengergajian kayu dinamai Wantilan,”

“Nah, Mumus besok-besok kalau cari segala sesuatu tinggal cari saya saja,”

“Okey,”

“Eh, tapi jangan lupa kalau hari ini cuma dapat minuman sisamu, esok-esok kami mesti menyumbang paket data,” ujar Bondan sampai tertawa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 2 =