KESAH.IDDari kepulan uap kopi di sudut Pontianak hingga jejak kelam imperialisme yang dibawa sang “Polisi Dunia”, narasi ini mencoba menyingkap bagaimana kafein telah bermutasi dari sekadar komoditas kolonial menjadi simbol kedaulatan lokal. Di tengah gempuran globalisasi McWorld, kita diajak menelusuri sejarah pahit Nusantara yang kini bertransformasi menjadi panggung gaya hidup, di mana diskusi ideologis mulai luntur dan digantikan oleh perayaan atas apa yang secara jenaka kita sebut sebagai “Das Kopitalisme”.

Saya masih belum bisa benar-benar move on dari Pontianak; bayangan tentang kota dengan topografi yang begitu datar itu masih melingkupi memori dengan erat. Namun, yang paling sulit untuk terhapus dari ingatan adalah julukan “Kota Sejuta Warung Kopi”, sebuah metafora untuk menggambarkan keberadaan kedai kopi yang jumlahnya luar biasa banyak.

Bagi Pontianak, sebutan “Kota Seribu Warung Kopi” terasa masih kurang memadai, sebab konon jumlah warung kopi yang aktif di sana memang sudah jauh melampaui angka seribu.

Dunia kopi memang layak dirayakan secara “lebay”, karena secara historis, kopi terbukti mampu melampaui prestise anggur. Dalam tradisi minuman anggur, tidak ada pepatah yang sepopuler In Vino Veritas—yang berarti “di dalam anggur ada kebenaran”. Pepatah tersebut lahir di era Romawi Klasik, sebuah masa yang jauh mendahului masuknya komoditas kopi ke daratan Eropa.

Setelah kopi masuk dan mulai meraih popularitas, para penggemar setianya kemudian menciptakan sebuah budaya tandingan. Diadaptasi langsung dari In Vino Veritas, muncul slogan In Caffeine Veritas: di dalam kafein ada kebenaran. Ungkapan jenaka ini merujuk pada kejernihan daya pikir atau kejujuran yang mendadak muncul dalam diri seseorang sesaat setelah ia meneguk segelas kopi hangat di pagi hari.

Tak berhenti di situ, lahir pula pepatah lain seperti In Coffee Libertas, yang bermakna “di dalam kopi ada kebebasan”. Ungkapan ini memberikan gambaran tentang bagaimana efek kafein mampu menyuntikkan energi sekaligus memicu keleluasaan pikiran untuk bekerja dan berkreasi tanpa batas.

Bahkan, moto terkenal Kaisar Konstantinus pun tak luput dari plesetan; dari In Hoc Signo Vinces digubah menjadi In Hoc Coffea Vinces, yang berarti “bersama kopi ini, ada kemenangan”.

Istilah maupun julukan bagi kopi pun berkembang pesat di negeri-negeri lain, termasuk di Indonesia. Slogan serta ungkapannya terasa sangat lengkap karena mencakup corak filosofis, semangat kerakyatan, hingga unsur jenaka. Sebut saja salah satunya yang paling ikonik: “Kopi hitam tak pernah dusta.” Slogan ini memiliki resonansi yang serupa dengan In Vino Veritas maupun In Caffeine Veritas.

Meski terdengar humoris, slogan tersebut menyimpan makna filosofis yang sangat dalam. Kopi hitam dianggap melambangkan kejujuran karena ia sama sekali tidak menyembunyikan rasa pahitnya. Kopi hitam yang disajikan tanpa campuran krimer, susu, ataupun gula, membuat getir aslinya tetap terjaga. Memuji kopi hitam sama halnya dengan belajar menerima realitas hidup yang pahit, namun tetap bisa dinikmati dengan saksama.

Ungkapan ini memiliki padanan yang tak kalah menggelitik, yakni “tidak ada gula di antara kita” atau “jangan ada gula di antara kita”. Ungkapan ini berisi sebuah imbauan agar segala sesuatu diperbincangkan secara apa adanya, dilandasi oleh kejujuran yang murni, bukannya dipermanis dengan basa-basi yang palsu dan dangkal. Kopi memang sangat filosofis; masyarakat Jawa bahkan sering memaknai “ngopi” sebagai akronim dari ngolah pikiran atau mengolah daya pikir.

Faktanya, kegemaran generasi milenial terhadap dunia filsafat juga dipicu salah satunya oleh budaya kopi, terutama melalui buku berjudul Filosofi Kopi yang kemudian dipopulerkan lewat layar lebar.

Dari karya ini, muncul sebuah ungkapan filosofis yang kini menjadi sangat populer: “Kopi yang baik akan selalu menemukan penikmatnya.” Maknanya adalah sesuatu yang berkualitas, betapapun sederhananya, pada akhirnya akan dihargai oleh orang yang tepat di waktu yang tepat pula.

Fakta paling nyata dari semangat In Caffeine Veritas di Indonesia adalah konvensi seduh yang paling kuat, yakni kopi tubruk. Tubruk merupakan metode penyajian kopi paling merakyat di tanah air. Ini adalah perlambang kejujuran yang paripurna, karena ampas kopinya tetap dibiarkan ada, tidak disaring atau disembunyikan. Kopi tubruk adalah representasi kopi yang apa adanya, tidak direka-reka, dan sama sekali tidak dibuat-buat.

Meski saat ini spektrum penyajian kopi semakin luas dan modern, sebuah ungkapan atau ajakan yang tetap menjadi pemenang tunggal adalah “ngopi dulu”. Ucapan “ngopi dulu” terlontar dalam hampir semua kesempatan. Dalam situasi yang cenderung negatif, “ngopi dulu” sering kali ditujukan kepada mereka yang terlalu terburu-buru mengambil keputusan, sering marah-marah, atau kaum “sumbu pendek”. Orang-orang dengan aura negatif tersebut kerap kali disindir sebagai orang yang “kurang ngopi”. Atau, kalaupun mereka memang suka minum kopi, orang akan berkata sinis: “Kopimu kurang hitam.”

Penyeduh kopi legendaris Kedai Asiang sedang beraksi, sang penyeduh akan muncul d subuh hingga menjelang tengah hari

BACA JUGA : Kota Datar

Penyeduh kopi di Kedai Aming sedang menarik gelas susunya tinggi-tinggi, jadi tontonan tersendiri.

Kembali ke pengalaman saya di Pontianak, kesan mendalam itu sudah dimulai sejak perjalanan dari Bandara Supadio yang terletak di Kabupaten Kubu Raya menuju pusat Kota Pontianak. Selain rasa kagum terhadap nuansa hijau yang membentang di sepanjang jalan, kekaguman saya terhadap keberadaan warung-warung kopi juga segera mencuat.

Di Pontianak sepertinya menemukan tempat untuk sekadar menyesap kopi terasa jauh lebih mudah daripada mencari alasan untuk tidak melakukannya.

Rencana yang saya susun matang-matang sejak dari Samarinda pun nyaris goyah. Begitu mendapatkan mandat untuk bertolak ke Pontianak, saya sudah menetapkan satu tujuan utama setibanya di sana: Kopi Aming. Niat awalnya, dari bandara saya akan langsung meluncur ke sana, mengingat acara resmi baru akan dilaksanakan esok hari. Namun, rencana itu terpaksa urung karena adanya fasilitas jemputan yang sudah menunggu.

Begitu proses check-in di hotel usai, tanpa membuang waktu lebih lama, saya segera bersiap menuju Kopi Aming yang jaraknya sebenarnya cukup terjangkau jika ditempuh dengan berjalan kaki. Namun, setelah mengamati laju lalu lintas yang begitu padat, saya mengurungkan niat tersebut. Jalanan di Pontianak yang cenderung lurus itu sepertinya akan sangat sulit dan berisiko untuk diseberangi hanya dengan mengandalkan langkah kaki.

Akhirnya, perjalanan dari hotel menuju Kopi Aming saya tempuh dengan jasa ojek daring. Sepanjang jalan, saya dibuat lelah sendiri karena mencoba menghitung jumlah warung, kedai, hingga coffee shop modern yang terlewati. Pada titik itulah saya menyadari bahwa klaim Pontianak sebagai “Kota Sejuta Warung Kopi” memang benar adanya dan bukan sekadar isapan jempol belaka.

Keputusan saya untuk memilih Kopi Aming terbukti sangat tepat. Warung yang terletak di Jalan Haji Abbas tersebut seolah langsung mampu bercerita banyak hal kepada pengunjungnya. Di sana, akan segera terlihat bagaimana konsumsi kopi telah bermutasi menjadi gaya hidup sekaligus kebiasaan yang diwariskan dengan setia dari generasi ke generasi. Bagi masyarakat setempat, kopi nampaknya bukan lagi sekadar kebutuhan biologis untuk mengusir kantuk, melainkan sudah menjadi identitas konsumtif yang mendarah daging.

Di Kopi Aming, menyeruput kopi sepertinya tidak mengenal batasan waktu. Karakteristik itu kemudian tervalidasi lebih kuat saat saya mengunjungi Kopi Asiang—salah satu tempat yang sering disebut-sebut sebagai “saingan” Kopi Aming. Sebutan saingan di sini tentu saja merujuk pada kelas warung kopi yang sepadan secara sejarah dan reputasi, bukan sekadar persaingan bisnis semata.

Aming, Asiang, dan beberapa nama legendaris lainnya dapat digolongkan ke dalam jenis Kopitiam. Ini adalah model kedai kopi yang dibawa oleh para perantau dari Tiongkok saat pemerintah kolonial mulai mengeksploitasi sumber daya alam nusantara melalui sektor pertambangan di masa lampau.

Kopi Asiang menjadi penanda kuat tentang budaya ngopi yang tak kenal waktu; di saat sebagian orang masih “berlayar” di atas kasur, Kopi Asiang justru sudah dipadati pengunjung. Bahkan sejak subuh, deretan meja di sana sudah dipasangi tulisan reserved.

Semakin siang suasana justru semakin riuh. Banyak pengunjung yang antusias mengantre demi bisa berfoto dengan sosok Asiang yang ikonik, yang dengan piawai menyeduh kopi dengan ciri khasnya: telanjang dada.

Selama berada di Pontianak, saya bahkan hampir tidak mengingat lagi keberadaan gerai kopi global atau waralaba besar seperti Starbucks, Excelso, Tomoro, Fore, Kopi Kenangan, Janji Jiwa, apalagi Lain Hati. Pergi ke kedai-kedai kopi semacam itu, entah mereka ada atau tidak di kota ini, rasanya hanya akan membuang waktu dan menyia-nyiakan kesempatan berharga untuk merayakan keaslian kopi-kopi lokal yang melegenda.

Kopi hitam es, pisang goreng ori dan pisang goreng srikaya di Kedai Aming

BACA JUGA : Kopi Telanjang

Ramai anak-anak muda mengunjungi Kedai Kopi Aming

Dalam waktu yang tak terlalu lama berada di Pontianak, saya merasa cukup percaya diri untuk menarik kesimpulan bahwa dunia kopi di kota ini menunjukkan kemenangan telak kopi lokal atas kopi-kopi bercorak “kolonial”.

Walaupun memiliki sejarah kopi yang panjang, budaya minum kopi di masa modern memang tak pernah benar-benar lepas dari cengkeraman globalisasi yang dibawa oleh McWorld. Di masa lalu, pada zaman kolonial, biji kopi dibawa pergi dari bumi Nusantara selayaknya emas; kemudian di masa modern, kopi dibawa masuk kembali oleh Starbucks—membawa serta gaya hidup ngopi ala Amerika Serikat.

Sejarah kopi di Indonesia memang unik, bahkan terasa kelam, sehitam pekatnya kopi tubruk. Kopi pertama kali dibawa ke Nusantara oleh VOC dengan bibit yang diimpor dari Malabar, India. Barangkali, kopi-kopi pertama itu ditanam di wilayah Batavia, di daerah yang kini kita kenal sebagai Kebon Kopi. Dari titik itulah, penanaman kopi menyebar ke berbagai penjuru tanah air melalui model tanam paksa atau Cultuurstelsel.

Kala itu, biji kopi adalah komoditas suci yang haram dinikmati oleh para penanamnya sendiri—mereka yang diperlakukan layaknya budak di tanah sendiri. Karena dilarang meminum kopi yang mereka tanam dan rawat, munculah kreativitas kepedihan dalam bentuk kopi luwak serta kawa daun (seduhan daun kopi).

Jenis yang pertama kali diperkenalkan oleh VOC adalah kopi Arabika, namun karena hantaman hama karat daun, pemerintah kolonial kemudian mendatangkan jenis Robusta, Liberika, hingga Excelsa.

Pasca-kemerdekaan, perkebunan-perkebunan kopi tersebut dinasionalisasi. Masyarakat pun mulai berdaulat menanam kopi mereka sendiri, hingga kemudian bermunculan nama-nama kopi termasyhur seperti Aceh Gayo, Mandailing, Sidikalang, Malabar, kopi-kopi Pasundan, Toraja, Bali Kintamani, Wamena, hingga Flores Bajawa. Indonesia sejatinya memiliki kekayaan kopi legendaris yang tak terhitung jumlahnya, meskipun jenis yang paling umum dikonsumsi oleh massa tetaplah kopi Robusta.

Konsumsi kopi di tanah air terus meningkat seiring dengan bertumbuhnya gelombang konsumsi kopi global. Pertumbuhan pada gelombang pertama (First Wave) dipicu oleh industri kopi massal, ditandai dengan munculnya kopi-kopi saset dan instan yang membuat aktivitas ngopi menjadi mudah serta murah.

Gelombang pertama ini mulai luruh ketika masuk kopi gelombang kedua (Second Wave), yang memperkenalkan kopi sebagai gaya hidup kaum urban dan pekerja kerah putih perkotaan. Arus ini dibawa oleh Starbucks; dipromosikan sebagai simbol status, namun sebenarnya kopinya kurang demokratis. Pembeli tak memiliki kuasa untuk memilih jenis biji kopi, dan penjual memegang kendali penuh, termasuk dalam menetapkan harga yang mahal.

Pengusaha kopi lokal baru mulai benar-benar bersinar pada gelombang ketiga (Third Wave), di mana muncul nuansa edukasi kopi yang lebih kental. Pembeli mulai disuguhi specialty coffee atau single origin coffee, lengkap dengan narasi asal-usul dan cerita di balik setiap bijinya. Kedai-kedai kopi baru menjamur karena alat seduh tidak lagi melulu harus berupa mesin espresso yang mahal. Di gelombang ketiga ini, para barista meracik kopi menggunakan alat seduh manual seperti V60, AeroPress, dan berbagai metode lainnya.

Penyuka kopi pun mulai teredukasi; mereka mulai mengenal jenis biji, metode seduh, proses pasca-panen, hingga variabel teknis lainnya. Istilah yang berhubungan dengan kopi makin lama makin rumit, seiring dengan pembeli yang makin cerdas sekaligus cerewet. Namun, ledakan kopi yang sesungguhnya justru mulai terasa dengan munculnya inovasi seduhan lokal: Kopi Susu Gula Aren, yang kemudian dilabeli sebagai “Kopi Kekinian”.

Arus kopi kekinian yang dibarengi dengan tren arsitektur desain unfinished serta gaya industrial ini akhirnya melahirkan para kapitalis kopi lokal. Jejaring kopi yang mulanya didominasi investor global kini mendapat saingan sengit dari investor-investor domestik. Sejarah kopi seolah berputar; bermula dari komoditas kolonial menuju kapitalisme global, hingga kini memunculkan kaum kapitalis lokal dengan segala dinamikanya.

Spektrum dunia kopi kini makin lebar, dan basis peminumnya pun semakin luas. Ruang kopi telah berubah menjadi panggung sosial, di mana minum kopi mesti dibarengi dengan outfit tertentu agar seseorang dianggap layak masuk ke dalam kelas “Kopi Kalcer”.

Mungkin benar apa yang dikatakan seorang kawan: jika dulu yang populer di kalangan aktivis adalah buku Das Kapital karya Marx, kini kita tak lagi gemar membaca dan berdiskusi, karena kita jauh lebih cenderung menikmati serta merayakan Das Kopital(isme).

note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM