KESAH.ID – Amerika Serikat hadir sebagai paradoks global: dikutuk karena kebijakan politik “koboi” yang semena-mena, namun dipuja melalui hegemoni gaya hidup yang tak terelakkan. Dari jejak intervensi militer hingga dominasi teknologi yang merasuk ke relung konsumsi, narasi ini membedah bagaimana kekuatan sang “Polisi Dunia” bekerja. Sebuah penelusuran tentang kekuasaan sistemik yang membuat dunia membenci kebijakan politiknya, namun tetap mengimani produk dan ekosistem yang mereka ciptakan.
Menyebut Amerika Serikat (AS) dengan istilah “bajingan” mungkin terdengar kasar, namun dalam diskursus geopolitik, makian semacam itu bukanlah fenomena baru. Sebagai negeri yang sejak lama dikenal dengan citra “koboi”-nya, AS telah terbiasa menjadi sasaran kecaman global. Pasca-Perang Dingin, posisi Negeri Paman Sam ini kian tak tergoyahkan sebagai kekuatan super (superpower) tunggal. AS memegang kendali penuh atas arah politik, ekonomi, dan budaya global, bahkan kerap dijuluki sebagai “Polisi Dunia” karena keberaniannya menerapkan hukum domestik melampaui batas kedaulatannya sendiri melalui Yurisdiksi Ekstrateritorial.
Meski banyak pengamat meramalkan bahwa dominasi AS mulai terancam oleh kebangkitan Tiongkok, realitas di lapangan sering kali berkata lain. Operasi di Venezuela, misalnya, seolah membuktikan bahwa AS masih mampu “mengadali” Tiongkok dan Rusia—dua sekutu terdekat Venezuela. Bagaimanapun juga, mata dunia akan selalu tertuju pada Washington. AS sendiri tampak tak acuh terhadap kemarahan global; mereka konsisten melakukan aksi-aksi yang memicu sentimen negatif melalui sejarah panjang intervensi militer dan politik yang mendalam.
Tindakan kontroversial AS telah meninggalkan luka sejarah di berbagai belahan bumi; mulai dari kudeta di Amerika Latin, invasi Irak, hingga penggulingan Muammar Gaddafi di Libya. Salah satu kritik paling tajam adalah perilaku “standar ganda” Washington. Di satu sisi, mereka sangat vokal mengecam pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), namun di sisi lain mereka menutup mata terhadap sekutu dekatnya, seperti Israel, yang secara terang-terangan menunjukkan ketidakhormatan pada HAM. Sentimen ini memuncak di era Donald Trump dengan slogan Make America Great Again (MAGA). Bagi para pengecamnya, gaya kepemimpinan Trump yang konfrontatif dan transaksional adalah puncak dari alasan mengapa sebutan “bajingan” itu terus bergema.
BACA JUGA : Kopi Telanjang
Namun, di balik kebencian politik tersebut, ada sisi lain di mana AS dicintai sekaligus dibutuhkan. Ia dicintai karena kerap hadir dalam tragedi kemanusiaan dengan bantuan yang cepat dan masif melalui berbagai lembaga kemanusiaan tanpa memedulikan latar belakang penerimanya. Namun, AS pun bisa bersikap sangat rasis jika sudah berhubungan dengan kepentingan ekonomi. Inilah yang memicu seruan boikot terhadap entitas AS, termasuk berbagai brand mereka. Panjangnya daftar boikot ini sebenarnya menunjukkan bahwa pengaruh AS tidak hanya merasuki dunia lewat politik dan dolar, melainkan juga melalui ekonomi konsumsi yang menjadi standar gaya hidup global.
Banyak produk AS kini dikonsumsi bukan lagi karena kebutuhan fungsional, melainkan demi gengsi atau identitas diri. Bahkan dalam dunia thrifting, jenama asal AS kerap dijuluki sebagai “Brand Kepala”—kasta tertinggi yang paling diburu. Meski Tiongkok mengejar dalam teknologi, produk AS tetap di garda depan karena dianggap memiliki karakter yang lebih kuat. Sebaliknya, produk Tiongkok terlihat masih mencari-cari identitas dengan siklus model yang sangat cepat, sehingga lebih cocok untuk konsumen yang mudah bosan. Akibatnya, harga jual kembali produk Tiongkok cenderung terjun bebas, berbeda dengan produk AS yang dianggap sebagai investasi.
Secara budaya, globalisasi sebenarnya merupakan “Amerikanisasi” terhadap budaya lokal. Lewat dominasi Hollywood hingga makanan cepat saji, AS melakukan imperialisme budaya dengan meminjam identitas lokal untuk kemudian “diglobalkan”. Pada akhirnya, terjadilah anomali: di lisan orang mengutuk kebijakan AS, namun di dalam hati tetap mengimani dolar dan memimpikan iPhone atau MacBook. Bahkan Huawei yang berani melawan AS masih belum sepenuhnya diyakini dunia karena tidak tertanam GMS (Google Mobile Service). Ketiadaan GMS dianggap menyulitkan, karena sejauh ini ekosistem Google memang masih merupakan segala-galanya di ruang digital kita.
BACA JUGA : Merayakan Kopitalisme
Dominasi sistemik ini pulalah yang menjelaskan mengapa penculikan Presiden Venezuela oleh AS di negaranya sendiri hanya direspons dengan kutukan tanpa tindakan nyata dari dunia. Tiongkok dan Rusia yang dirugikan pun hanya terdiam menyaksikan kekuatan global AS yang belum tertandingi. Situasi ini membuat Donald Trump semakin percaya diri untuk mulai mengarahkan bidikan politiknya ke Iran. Meski Trump mengancam akan menyerang jika terjadi penembakan warga, Iran bukanlah Venezuela yang bisa dilumpuhkan begitu saja dari dalam. Skenario menculik tokoh setingkat Ayatollah Ali Khamenei adalah kemustahilan geopolitik yang bisa memicu perang besar di Timur Tengah.
Gagal mendapatkan momentum di Iran, Trump kemudian mengalihkan obsesinya ke Greenland dengan ambisi mencaplok wilayah Denmark tersebut. Meskipun ditolak warga setempat, Trump tidak peduli karena ia terus mencari isu besar demi menjaga pengaruh Partai Republik menjelang pemilu mendatang. Rentetan manuver di Venezuela, Iran, hingga Greenland ini semakin mempertegas wajah ganda Amerika Serikat. Di satu sisi, dunia menyaksikan perilaku “koboi” yang semena-mena, namun di sisi lain, ketergantungan dunia terhadap ekosistem yang diciptakan AS—baik keuangan maupun teknologi—tetap tak tergoyahkan.
Pada akhirnya, AS tetaplah sebuah entitas yang secara politik mungkin dimusuhi, namun secara konsumsi tetap dicari dan dipuja. Perlawanan terhadap hegemoni politik sang “Polisi Dunia” ini nampaknya akan terus membentur tembok kokoh bernama ketergantungan gaya hidup global yang mereka kendalikan sendiri.








