KESAH.ID – Tertawa mungkin terlihat sederhana, namun di balik setiap ‘gerr’ terdapat labirin logika dan etika yang rumit. Dari permainan logika cerdas ala Cak Lontong hingga kritik tajam Gus Dur yang dibalut tawa, humor telah lama menjadi cermin karakter bangsa sekaligus ujian bagi kedewasaan kita dalam berpikir.
Cak Lontong dalam setiap kesempatan penampilannya selalu mengatakan: “Mikir!”. Ya, humor-humor Cak Lontong terkadang tidak langsung memancing “gerr”. Penonton harus berpikir sejenak, baru kemudian “ngeh” dan tertawa. Materi humornya penuh dengan permainan logika; lucunya muncul ketika audiens mendapat jawaban tak terduga lalu bergumam, “Oh, iya ya…” sambil tertawa. Bisa jadi, mereka tertawa karena menertawakan kebodohan atau asumsinya sendiri. Inilah yang sering disebut sebagai humor cerdas.
Lain Cak Lontong, lain pula Srimulat—kelompok dagelan legendaris yang pernah sukses memiliki gedung pertunjukan sendiri. Humor ala Srimulat sering dikategorikan sebagai humor fisik atau slapstick. Pemain Srimulat kerap menggunakan aksi fisik yang dilebih-lebihkan (act out) dan konyol, seperti pura-pura terpeleset, tangan yang seolah hilang, hingga minum dengan mengarahkan gelas ke mata.
Humor Srimulat juga sangat mengandalkan improvisasi panggung yang kerap memicu kelucuan karena ketidaknyambungan atau keabsurdan situasi. Kelucuan tersebut dibangun oleh karakter-karakter unik, seperti pria yang berperan sebagai wanita namun tetap memakai cincin akik besar seperti Tessy. Karena lahir dalam latar budaya Jawa, Srimulat juga kerap memakai teknik plesetan—permainan bahasa yang menggunakan kata-kata bermakna ganda.
Lalu, apa sebenarnya hakikat humor jika setiap pelawak memiliki modelnya sendiri?
Dalam Dictionary of World Literature karangan Joseph T. Shipley, disampaikan bahwa humor adalah segala sesuatu yang menarik bagi kecenderungan manusia terhadap tawa yang menggelikan. Tentu saja definisi ini masih sangat luas. Masalahnya, tidak semua humor membuat orang tertawa atau merasa geli. Lihat saja kasus Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan Mens Rea yang memicu amarah dan rasa tersinggung di sebagian kalangan, bahkan hingga dianggap menista agama.
Mengenai definisi, memang tak ada yang pasti. Setiap orang bisa membuat definisinya sendiri; semuanya bisa benar, tapi kemungkinan lebih besarnya adalah semuanya salah. Namun, yang disebut “Teori Humor” itu sangat banyak dan telah lama menjadi perhatian para pemikir kaliber dunia.
Aristoteles, dalam fragmen-fragmen tulisannya, secara garis besar melihat humor sebagai pedang bermata dua. Menurutnya, humor bisa menjadi alat kecerdasan yang menyenangkan, namun juga bisa menjadi bentuk penghinaan. Pemikiran Aristoteles ini dirumuskan dalam Teori Superioritas. Ia berpendapat bahwa komedi adalah imitasi dari orang-orang yang “lebih buruk” atau “lebih rendah” dari rata-rata. Bentuk humor ini adalah “ketidakpantasan yang tak menyakitkan”, di mana tawa muncul dari melihat keburukan atau cacat pada orang lain, selama hal itu tidak menyebabkan rasa sakit yang nyata bagi objek yang ditertawakan.
Sebaliknya, ada rasa bangga yang terlibat. Mereka yang tertawa sesungguhnya merasa lebih unggul atau lebih baik dibandingkan karakter yang sedang mengalami kemalangan konyol tersebut.
BACA JUGA : Merayakan Kopitalisme
Dalam Nicomachean Ethics, Aristoteles juga membahas humor dalam konteks etika sosial. Ia memperkenalkan konsep Eutrapelia atau “kecerdasan yang tangkas”. Sebagai pemikir yang selalu mencari keseimbangan (the golden mean), Aristoteles membagi pelaku humor ke dalam tiga kategori:
- Buffoonery (Si Badut): Orang yang tertawa berlebihan, tidak bisa menahan diri, dan sering kali menyinggung perasaan orang lain demi sebuah tawa.
- Boorishness (Si Kaku): Orang yang tidak punya selera humor, tidak bisa menerima lelucon, dan justru merusak suasana sosial.
- Eutrapelia (Si Cerdas): Inilah titik ideal. Orang yang tahu kapan harus bercanda, tahu batas, dan menggunakan humor untuk mempererat hubungan sosial tanpa menghina.
Dalam buku Rhetoric, Aristoteles menyarankan penggunaan humor sebagai alat persuasi untuk mematahkan argumen lawan. Ia mengutip Gorgias bahwa seseorang harus “menghancurkan keseriusan lawan dengan lelucon, dan menghancurkan lelucon lawan dengan keseriusan.” Metafora dan kejutan juga merupakan bentuk persuasi, di mana humor muncul dari “penyesatan harapan”. Ketika pembicara mengatakan sesuatu yang tak terduga, audiens merasa senang karena mereka berhasil mempelajari sesuatu yang baru dengan cepat.
Secara etik, Aristoteles membedakan humor antara yang “beradab” dan “kasar”, bukan sekadar lucu atau tidak lucu. Humor dikaitkan dengan karakter dan penghormatan terhadap martabat manusia. Ia menyebut humor beradab sebagai “ketidaksopanan yang terdidik”—tujuannya untuk relaksasi, bukan menjatuhkan. Batasannya adalah kepekaan sosial: kepada siapa dia berbicara, siapa yang dijadikan candaan, dan di mana dia bicara. Bentuknya lebih banyak berupa ironi atau metafora cerdas.
Sedangkan humor kasar adalah jenis yang menjadikan tawa sebagai segalanya, bahkan di atas harga diri. Tujuannya adalah mendapatkan tawa dengan cara apa pun, tidak peduli seberapa murah atau menyakitkan. Humor jenis ini akan mengejek teman, orang asing, bahkan diri sendiri dengan cara yang merendahkan. Humor kasar kerap menggunakan kata-kata kotor dan ejekan langsung pada kekurangan fisik. Alih-alih menyegarkan suasana, humor ini sering menciptakan permusuhan.
Soal batasan, Aristoteles memberikan kutipan menarik: “Orang yang beradab dan bebas akan bersikap seolah-olah dia adalah hukum bagi dirinya sendiri.” Maksudnya, orang bijak tidak butuh hukum tertulis untuk tahu mana yang boleh dan tidak boleh dijadikan candaan. Standar moral internalnya sudah cukup untuk mencegahnya melewati batas antara “lucu” dan “jahat”.
Pada akhirnya, semua yang dipikirkan Aristoteles berlandaskan etika dan moralitas tertentu. Namun secara esensial, humor adalah hal yang sederhana: manusia suka tertawa. Direncanakan atau tidak, kita tertawa setiap hari. Bahkan sendirian pun kita bisa tertawa. Tapi tentu saja, jika sedikit-sedikit tertawa sendiri tanpa sebab yang jelas, itu bukan berarti seseorang humoris. Orang tersebut mungkin perlu memeriksakan kesehatan jiwanya, dan untuk urusan itu, tak perlu memakai rujukan dari pemikiran Aristoteles.
BACA JUGA : Amerika Bajingan
Namun, muncul pertanyaan: seserius itukah humor?
Pada akhirnya, humor tidak selalu harus seberat apa yang dipikirkan oleh Aristoteles atau para filosof lainnya. Sebagaimana kenyataan pada aspek kehidupan lain, jenis humor sangatlah beragam. Mendefinisikan humor secara kaku sebenarnya tidaklah terlalu mendesak; yang jauh lebih penting adalah memahami fungsinya. Hal utama dari humor adalah kemampuannya membuat orang tertawa, dan syukur-syukur, membuat mereka sadar akan apa yang sedang mereka tertawakan.
Sebab, sebuah kelucuan hampir selalu menyimpan makna; ada pesan yang terselip di balik tawa tersebut. Humor berfungsi sebagai pengingat agar manusia bersedia melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang humor biasanya berada di luar perkiraan khalayak umum—sebuah cara pandang yang out of the box dan kreatif dalam membedah realitas.
Banyak pemimpin besar yang sadar akan daya magis humor ini. Salah satunya adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden Republik Indonesia keempat. Gus Dur sangat piawai menyampaikan humor yang menghibur, meski ia sering kali tidak memaksudkannya sekadar sebagai pelipur lara. Baginya, humor adalah instrumen politik yang efektif, alat diplomasi yang luwes, sekaligus cermin dari kedalaman spiritualitasnya.
Humor-humor Gus Dur banyak yang berada “di pinggir jurang”—berisiko dan tajam—namun anehnya tetap mampu mencairkan ketegangan yang paling beku sekalipun. “Gitu aja kok repot,” menjadi ucapan Gus Dur yang paling ikonik. Ungkapan sederhana itu bukan sekadar seloroh, melainkan manifestasi dari gaya hidupnya yang riang dan tidak terbebani oleh protokoler yang kaku.
Dengan semangat yang sama, Gus Dur pernah secara enteng menyebut anggota DPR tak ubahnya seperti “anak TK”. Menariknya, nyaris tidak ada yang merasa terhina secara personal saat itu. Mengapa? Karena semua orang sadar bahwa ungkapan sederhana tersebut adalah sebuah satire yang sangat tajam sekaligus jujur. Gus Dur menggunakan humor untuk memanusiakan kekuasaan.
Pada akhirnya, tertawa jugalah yang menyelamatkan kita. Tertawa sangat baik untuk kesehatan mental dan menjadi sarana melatih kerendahan hati. Seperti yang dibuktikan oleh Gus Dur, hanya orang sombong yang tidak bisa ditertawakan. Dan mungkin, celakalah mereka yang sebenarnya tidak dihina, namun merasa terhina, lalu memilih untuk marah dan melapor ke polisi hanya karena kehilangan kemampuan untuk menertawakan diri sendiri.








