KESAH.ID – Jauh dari sorotan netizen yang lebih sibuk mempersoalkan tingkah dan polah para elit politik, empat orang peternak dan petani di Sungai Pinang dan Samarinda Utara ini bekerja dalam sunyi. Mereka bukan aktivis perubahan iklim, bukan pula pengelola dan pengakses dana iklim, namun bekerja dengan sepenuh hati untuk merawat iklim dengan cara menerapkan tani ternak sirkular atau integratif. Pertanian dan peternakan dianggap sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca, mereka berempat tanpa disadari berupaya menghapus anggapan itu lewat model pertanian dan peternakan yang mereka praktekan.
Di Lubuk Sawah, ujung Mugirejo, Samarinda, Sarminto yang biasa dipanggil Pak De Minto oleh petani-petani lainnya sejak tahun lalu menggarap satu hamparan tanah eks tambang bersama rekan-rekan kelompok taninya.
Terhitung Wakil Walikota Samarinda, bahkan Pejabat Gubernur Kalimantan Timur yang waktu itu dijabat oleh Akmal Malik, pernah berkunjung ke lahan garapannya. Pak De Minto memang sudah dikenal sebagai pemulih lahan eks tambang untuk pertanian.
Pria yang gemar nguri-uri tradisi Jawa ini, sebelumnya memang telah berhasil membuktikan ketekunannya dalam membenahi tanah eks tambang. Di tanah dengan luas kurang lebih satu hektar, eks lahan tambang yang dipinjam dari seseorang, Pak De Minto berhasil menumbuhkan aneka tanaman komoditas berupa sayuran dan buah pepaya.
“Kuncinya adalah pembenahan tanah,” ujar Pak De Minto sambil menunjukkan botol berisi cairan yang disebutnya sebagai Super Joss.
Pak De Minto memang selalu mengatakan kalau petani adalah penjaga dan pemelihara tanah.
“Tanah kalau dijaga kesehatannya, akan membalas dengan hasil panenan yang baik pada apa yang kita tanam diatasnya,” terangnya.
Maka Pak De Minto pantang meracuni tanah dengan penggunaan pestisida atau herbisida. Hama, binatang atau tanaman penggangu tidak akan dibunuh oleh Pak De Minto, melainkan diusir, atau diberi koridor dengan menanami lingkungan sekitar kebunnya dengan berbagai tanaman yang berbunga.
Kalaupun terpaksa harus menggunakan pestisida, Pak De Minto akan membuat sendiri, bahan bakunya berasal dari asap cair yang disulingnya sendiri.
Di dekat lahan yang digarap oleh Pak De Minto ada kandang sapi, yang difungsikan sebagai UPPO, atau Unit Pengolahan Pupuk Organik. Kotoran sapi diolah, difermentasi untuk menghasilkan pupuk cair dan pupuk padat yang digunakan untuk memulihkan kondisi tanah di eks lubang tambang.
Sapinya diberi makan pakan kering, silase yang merupakan fermentasi dari limbah pertanian seperti tebon, batang jagung yang telah dipanen, atau batang dan daun ketela, serta daun-daun dan rerumputan lainnya.
Dengan diberi pakan silase, kandang sapinya lebih bersih, kotoran sapinya juga tak terlalu berbau.
Berbekal pupuk buatan kelompoknya sendiri, Pak De Minto dan teman-temannya optimis untuk memulihkan lahan bekas tambang agar bisa menjadi ladang untuk bercocok tanam.
“Samarinda punya banyak lahan nganggur yang potensial untuk mendukung program ketahanan pangan,” terusnya.
Selain lahan eks tambang, lahan nganggur di Samarinda adalah lahan-lahan yang dikuasai oleh pengembang dan pebisnis kaplingan namun belum dibangun.
“Lahan-lahan seperti itu bisa dimanfaatkan oleh petani yang kekurangan lahan, untuk bertanam tanaman pangan,” lanjut Pak De Minto.
Sambil berjalan keliling lahan yang ditanami jagung Pak De Minto bercerita kalau pada penanaman yang ketiga hasilnya sudah lebih baik.
“Tanam yang pertama memang padamu negeri, hasilnya zonk,” katanya.
Pondok yang dibangun di tengah lahanpun sepi. “Banyak teman-teman yang mundur karena tanaman tidak menghasilkan,” ujar Pak De Minto.
Kini hari-hari pondoknya ramai, rekan-rekan yang lain mulai bergabung kembali setelah melihat hasil yang diperoleh dari tanaman yang ditanam di eks lahan tambang. Pondok Pak De Minto bahkan bukan hanya ramai dengan kehadiran sesama petani, melainkan juga kelompok mahasiswa yang datang untuk belajar dan berdiskusi bersama Pak De Minto dan rekan-rekannya.

BACA JUGA : Kopi Pangku

Di jalan Pampang Muara, jalan menuju Kelurahan Budaya Pampang yang tak seberapa jauh dari Bandara Aji Pangeran Tumengung Pranoto, ada Sunil Asfianoer Hirpristomo rekan seperjuangan Pak De Minto dalam memajukan dunia pertanian.
Sunil dan Pak De Minto bersama-sama mendirikan BTC, Bena Tani Cerdas sebuah organisasi swadaya untuk menularkan idealisme mereka dalam bertani. Mereka berdua juga aktif dalam Perkumpulan Penyuluh Pertanian Swadaya Indonesia.
Sunil adalah pelaut yang banting setir, meninggalkan kapal untuk mengolah tanah menjadi ladang kehidupan yang bukan hanya berguna untuk diri dan keluarganya, tetapi juga lingkungan masyarakat petani dan alam.
“Sesungguhnya yang disebut kaya itu ialah mempunyai tanah untuk bertani,” ujar Sunil yang dikenal mendorong petani untuk terus mempertahankan lahannya.
Menurut Sunil dengan tanah yang dikelola dengan model budidaya pertanian berkelanjutan, tanah tak akan berhenti memberikan hasil yang bisa memberikan penghasilan untuk kehidupan keluarga.
“Cara bertani kita selama ini salah sehingga tanah mati,” lanjut Sunil.
Pertemuan dengan Pak De Minto yang sering dipanggil oleh Sunil dengan sebutan profesor membuat Sunil menjadi salah satu petani garda depan untuk mewujudkan pertanian integratif, pertanian yang memadukan antara bercocok tanam dan beternak.
“Dengan memadukan tani dan ternak, limbah pertanian bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, dan sebaliknya limbah ternak dimanfaatkan untuk penyubur tanaman dan pembenah tanah,” terang Sunil.
Pilihan untuk mempraktekkan dan memperkenalkan pertanian integratif berbuah manis. Produk andalan Sunil yakni sayur kangkung telah mendapat sertifikasi Prima 3. Dengan sertifikat ini, produk pertanian yang dihasilkan oleh Sunil yakni sayur kangkung dijamin rendah residu.
Sama seperti Pak De Minto, Sunil juga selalu mengatakan hal yang sama yakni “Tugas petani adalah menyediakan pangan yang sehat untuk masyarakat,”
Sunil memahami dunia pertanian terus berkembang, termasuk teknologi untuk pertanian. Lewat Bena Tani Cerdas, Sunil juga aktif berjejaring termasuk dengan dunia pendidikan tinggi untuk mengembangkan pertanian cerdas.
Dengan platform pertanian cerdas, budidaya pertanian bisa lebih efektif, lebih hemat energi dan sumberdaya lainnya.
“Bertani itu merawat dan menjaga tanah agar bisa terus digunakan, tanah tetap sehat,” ujar Sunil.
Teknologi dan ilmu pengetahuan bisa membantu untuk melakukan hal itu. Maka menurut Sunil para petani juga harus terbuka terhadap teknologi dan ilmu pengetahuan yang bisa membuat lahan pertaniannya tetap lestari, tetap bisa menjadi gantungan hidup.
“Pantang bagi petani untuk menjual lahannya. Karena lahan yang tidak produktif bisa dipulihkan lagi dengan bantuan teknologi dan ilmu pengetahuan dengan cara yang tidak rumit,” pungkas Sunil.

BACA JUGA : Wayang Kulit

Tak jauh dari Pampang Muara ke arah Bendungan Lempake atau lebih dikenal dengan sebutan Benanga ada dua orang muda yang bertekun dalam peternakan dan pertanian buah-buahan. Keduanya terus diracuni juga oleh Pak De Minto dan Sunil agar terus mempraktekkan peternakan dan pertanian ramah lingkungan.
Adalah Hadi Mulyadi yang sebelumnya mapan dalam dunia kuliner dan kemudian menjadi penghobby kambing. Seiring dengan berkembangnya kambing di lahan yang dipunyainyainya. Hadi kemudian serius mengembangkan pertanian dengan branding Pangeran Domba Samarinda.
Di lahan yang cukup luas, Hadi membangun kandang untuk aneka jenis kambing dan domba.
Hadi mempraktekkan tani dan ternak integratif dengan cara lain.
“Saya bekerja sama dengan petani sekitar sini, saya ambil limbah pertanian mereka dan mereka boleh ambil limbah peternakan saya, gratis,” terang Hadi.
Limbah pertanian seperti batang jabung, daun dan batang singkong dan jenis dedaunan lainnya oleh Hadi dibuat menjadi silase, pakan ternak kering dengan teknik fermentasi sederhana.
Dengan pakan ternak kering Hadi tak kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan kambing dan dombanya, dan tak perlu disibukkan untuk ngarit, atau meramban.
“Sekarang kambing dan domba menjadi sumber pemasukan untuk saya,” ujar Hadi tanpa maksud membanggakan diri.
Pengeran Domba Samarinda kini dikenal sebagai salah satu pemasok handal untuk mereka yang butuh aneka jenis kambing dan domba.
Lain Hadi, lain pula Malik.
Abdul Malik menjadi pembudidaya jambu air juga tanpa rencana. Pandemi Covid 19 membuatnya kehilangan pekerjaan. Perusahaan tambang tempatnya bekerja melakukan rasionalisasi karyawan. Malik dirumahkan.
Sudah berkeluarga dan tak punya pekerjaan membuat Malik harus memutar otak, segera mencari gantungan hidup untuk membiayai kehidupan keluarganya.
Malik memutuskan untuk mengelola kebun jambu yang ditanam oleh bapaknya.
“Saya mempunyai beberapa jenis jambu air, tapi saya fokus pada dua jenis yakni Red Rose Samarinda dan Green Giant,” ujar Malik.
Keputusannya tepat, Malik kemudian menjadi salah satu dari sedikit pembudidaya jambu air yang serius, seserius Sunil membudidayakan kangkung.
Jambu dibudidayakan dalam dua model, di planter bag dan di tanah.
“Yang diplanter bag bisa diatur asupan nutrisinya, sehingga bisa berbuah terus menerus,” lanjut Malik.
Buah jambu yang dihasilkan oleh Malik dengan branding MLQ Farm itu juga sudah mendapat sertifikasi Prima 3, artinya rendah residu.
Kisah perjuangan keempat orang, petani dan peternak di Kecamatan Sungai Pinang dan Samarinda Utara, Kota Samarinda ini jauh dari sorotan. Mereka bekerja dalam sunyi untuk merawat iklim, menurunkan emisi dari peternakan dan pertanian lewat tani ternak integratif dengan cara merubah limbah menjadi pakan dan pembenah tanah. Limbah dikelola agar tanah tetap memberikan imbal hasil yang lestari, menghasilkan produk yang sehat untuk masyarakat.
Penulis : Muhammad Alfin Noor
Editor : Yustinus Sapto Hardjanto
Gambar : Jurnalis Warga Kaltim








