KESAH.ID – Sempat finis di balapan sprint race, kutukan Mandalika seperti hendak meninggalkan Marc Marquez. Masih kesulitan namun ada harapan, dan ketika mengawali balapan utama Marc start cukup baik. Namun belum satu putaran berlalu, Marc diseruduk oleh Bezzecchi dari belakang hingga mengalami crash yang cukup keras. Marc kembali gagal menahklukkan Sirkuit Mandalika, sirkuit ini masih menjadi kartu mati untuk Marc Marquez.
Jika lintasan Moto GP dianggap panggung, musim Moto GP 2025 bisa disebut sebagai panggung tunggal untuk seorang Marc Marquez. Setelah melewati beberapa musim dengan penuh tantangan karena cidera dan tansisi tim, Marc ‘Baby Alien’ Marquez kembali menunjukkan magicnya.
Beberapa pengamat bahkan menyebut kedigdayaan Marc Marquez paska cidera berat dan pindah tim, lebih dibandingkan dimasa jayanya pada musim 2014 dan 2019. Taring Marc Marquez lebih tajam.
Tak lagi menunjukkan gaya kelewat agresif, motor Ducati GP2025 seperti menyatu dengan diri Marc Marquez sehingga membuatnya mendominasi hampir setiap seri. Catatan rekor kemenangan di sprint race, balapan utama dan pole positionnya sungguh fantastis.
Dalam beberapa seri pembuka saja Marc Marquez sudah mulai kelihatan tak bisa dihentikan. Lawan yang mencoba menganggunya berganti-ganti. Marc tak terhentikan, pembalap lain hanya jadi pemeran pembantu, menganggu tapi tak bisa mengalahkannya. Layaknya orkestra, Marc adalah konduktor di lintasan. Ritme balapan bisa dimainkan olehnya.
Belum lewat paruh musim, kesimpulan akhir sudah bisa diambil. Marc Marquez kembali ke puncak perfomanya, tak terhentikan kecuali oleh dirinya sendiri.
Walau menunjukkan penampilan tanpa cela, setiap pembalap pasti punya kelemahan. Begitu juga dengan Marc Marquez. Kelemahannya agak misterius, bukan pada soal kemampuan melainkan tempat. Diantara semua sirkuit yang menjadi penyelenggara balapan Moto GP, Marc Marquez selalu tertimpa sial di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, Indonesia.
Dua kali membalap di Sirkuit Mandalika, kedua-kedua ambyar. Marc Marquez belum pernah menyentuh garis finis setiap kali mengikuti race di Mandalika. Padahal Marc selalu menjadi pembalap yang paling diperhatikan oleh penonton.
Datang sebagai peraih gelar juara dunia saat seri Moto GP masih menyisakan 5 balapan, tekanan pada diri Marc Marquez sudah sirna. Akankah di salah satu sirkuit yang eksotis dan paling menantang ini Marc Marquez bisa tetap tampil memukau.
Dua kali penyelenggaraan Moto GP, Mandalika selalu menawarkan tontonan tak terduga. Sirkuit flowing ini kerap menyajikan pemandangan pembalap yang terbanting di tikungan. Marc Marquez pernah terjatuh di sesi pemanasan dan berakhir dengan absen di balapan.
Dengan perfoma yang superior sepanjang musim balap 2025 ada ekspektasi yang tinggi pada Marc Marquez. Dalam seri-seri sebelumnya Marc berhasil mengatasi kesulitan pada sirkuit-sirkuit dimana dia jarang atau belum pernah menang. Publik Moto GP berharap Marc Marquez mampu mematahkan kutukan Mandalika agar dominasinya semakin meyakinkan.
Datang ke Indonesia selepas balapan di Motegi dimana Marc mengalami kesulitan dan sebaliknya Francesco Bagnaia yang justru moncer, Marc Marquez diterima oleh Presiden Prabowo. Dalam konperensi pers setelah pertemuan, Marc tidak banyak bicara. Dia hanya menyatakan selalu senang datang ke Indonesia dan berjanji akan membalap sebaik mungkin di Mandalika untuk menyajikan tontonan yang menghibur pengemarnya.
Indonesia merupakan salah satu negeri basis pengemar Marc Marquez, karena Marc identik dengan Honda, merek kendaraan Jepang yang menjadi raja jalanan di Indonesia.
BACA JUGA : Go Green Demam Sepeda Listrik Di Muara Pantuan
Dalam sessi free practise dan practise untuk menentukan 10 pembalap yang masuk ke kualifikasi kedua, Marc Marquez ternyata mengalami kesulitan. Marc bahkan mengalami crash dua kali, kecelakaan kedua bahkan cukup mengerikan, Marc terlihat kesakitan.
Di Mandalika, Marc Marquez sepertinya selalu kesulitan untuk membelok di tikungan kanan.
Sayangnya Marc sendiri selalu merasa tidak tidak apa yang membuatnya selalu kesulitan di Mandalika. Menurut Marc Marquez di Mandalika motornya selalu terasa berbeda, sudah dicoba berbagai hal tapi selalu saja motornya tidak bisa bekerja 100 persen.
Hasilnya catatan Marc tercoreng karena gagal langsung masuk kualifikasi 2. Marc harus berjuang di kualifikasi 1 dulu agar bisa menjadi pembalap yang akan star di grid depan.
Untung Marc bisa lolos ke kualifikasi kedua namun tetap harus start dari posisi ke 9, posisi terbuncit yang pernah diraih oleh Marc Marquez yang biasanya selalu berada di baris pertama atau kedua.
Pada balapan sprint race para pengemar yang memadati tribun Sirkuit Mandalika yang dipayungi sengatan mentari Pulau Lombok berharap ada keajaiban dari Sang Raja Moto GP 2025 ini. Namun tidak terjadi.
Drama senggolan dengan pembalap Yamaha membuat Marc Marquez mendapat long lap penalti.
Berhasil star cukup baik, Marc Marquez merangsek kedepan, berada dalam kerumunan pembalap baris depan. Karena pengaruh panas pembalap di depannya atau slipstream, saat memasuki tikungan motor sulit dikendalikan karena ban belakangnya menginjak aspal kotor sehingga melebar dan kemudian menyenggol Alex Rins lalu membuatnya keluar dari lintasan.
Tak lama kemudian muncul notifikasi, Marc dihukum long lap pinalty.
Langsung mengambil hukuman begitu muncul pengumuman, Marc Marquez langsung merosot ke posisi 13.
Marc mesti berjuang mati-matian untuk maju ke depan, tapi untuk menjadi pemenang jelas tak masuk akal. Jaraknya dengan pembalap terdepan sudah jauh.
Pada sessi sprint race, yang melakukan start dengan sangat baik adalah Fermin Aldequer, pembalap Ducati dari Gresini ini bisa menunjukkan kecepatan. Fermin menjadi pembalap Ducati terbaik di Mandalika, dibayangi oleh Alex Marquez. Marc Marquez, Fabio Digianntonio, Franco Morbideli kesulitan, bahkan Francesco Bagnaia yang sebelumnya dipuji-puji di Motegi ternyata ambyar.
Pecco yang dianggap sudah menemukan rahasia kesulitannya, ternyata kembali mengalami penyakit yang sama di Mandalika.
Di depan, Fermin Aldequer memimpin, di matanya sudah ada bayang-bayang bakal menciptakan rekor sebagai pembalap termuda yang memenangkan sprint race. Harapan makin besar ketika Pedro Acosta yang terus membayanginya terjatuh.
Namun bayang-bayang itu sirna karena Enea Bastianini yang saat start tidak mulus ternyata punya kecepatan untuk mengejar. Di lap terakhir Enea berhasil melewati Fermin dan menyisakan posisi kedua untuknya. Fermin gagal mempertahankan keutuhan bannya.
Marc berhasil memperbaiki posisinya, melewati beberapa pembalap di lap tersisa. Hingga kemudian Marc berhasil finis untuk pertama kalinya di Mandalika namun bukan sebagai pemenang. Marc akhirnya berhasil menjadi pembalap dengan posisi finish ke 6 karena Luca Marini terkena pinalti tekanan ban.
Saat akhir balapan Marc Marquez seperti tak kerasan berada di Sirkuit Mandalika dan ingin segera selesai. Marc ingin melupakan Mandalika, sang kryptonite-nya dengan pergi segera ke Philips Island, salah satu sirkuit favoritnya di Australia.
BACA JUGA : Nelayan Karangmumus
Balapan di Mandalika unik karena starting grid diwarnai oleh pembalap muda, di depan ada Bezzecchi, Fermin Aldequer dan Raul Fernandez. Dua Aprilia ada di depan yang membuktikan kekuatan motor Aprilia di sirkuit flowing.
Acosta, Fermin dan Agusto serta Marini start dengan sangat baik. Marco Bezzecchi kembali start kurang baik hingga melorot ke belakang, berada di depan Marc Marquez yang naik ke posisi 6. Namun belum satu putaran di tikungan Marco Bezzecchi menabrak ban belakang Marc Marquez dan keduanya terjatuh.
Marc terjatuh cukup keras, terpental melintir. Terlihat Marc memegang tangan kanannya dan menarik lalu memutar-mutar. Tangan kanannya bermasalah namun tetap bisa digerakkan.
Dan Acosta memimpin disusul oleh Fermin Aldequer serta Luca Marini.
Kutukan Mandalika masih terus berlanjut. Marc kalau tidak jatuh, berakhir dengan dijatuhkan.
Nasib buruk Marc Marquez di Mandalika terus berlanjut.
Francesco Bagnaia juga bernasih buruk. Pecco terjatuh di lap ke 9.
Hanya Fermin Aldequer yang bersinar, begitu melewati Pedro Acosta langsung ngacir ke depan dan langsung membuat jarak.
Pembalap muda Ducati ini memimpin dengan tenang, kecepatannya konstan.
Pertarungan kemudian untuk merebutkan posisi kedua dan ketiga, ada Pedro Acosta, Alez Rins dan Alex Marquez.
Di akhir lap 22 dan awal 23 Alex Marquez berhasil melampaui Acosta dan Alex Rins.
Dan Brad Binder juga maju ke depan. Posisi terdepan dihuni oleh Gresini dan KTM.
Menjelang lap terakhir, Pedro Acosta berhasil melewati Marc Marquez, namun jaraknya terlalu jauh untuk mengejar Fermin Aldequer yang memimpin delapan detik lebih dibanding Acosta.
Fermin Aldequer menjadi pemenang ke 4 di Sirkuit Mandalika. Keempatnya dimenangkan oleh pembalap berbeda. Disusul oleh Pedro Acosta dan Alex Marquez.
Mandalika mencatat sejarah dengan menjadi pemenang Grand Prix pertama bagi Fermin Aldequer, sekaligus sebagai pemenang termuda kedua sepanjang sejarah setelah Marc Marquez.
Balapan di Sirkuit Mandalika sungguh dar der dor, menyajikan tontonan yang sangat menarik walau sayang penontonnya tak meledak.
Kabar terakhir Marc Marquez mengalami retak di bahu.
Semua pembalap mendapat poin karena hanya 14 pembalap yang finish.
Alex Marquez yang meraih podium ketiga juga mencatat sejarah menjadi pembalap independen terbaik Moto GP 2025.
Empat kali balapan di Sirkuit Mandalika menghasilkan pemenang yang berbeda-beda. Tapi ada satu yang sama, Marc Marquez kesulitan di Sirkuit ini, maka pantas Mandalika disebut sebagai kryptonite-nya Marc Marquez.
note : sumber gambar – CNNIndonesia








