KESAH.ID – Ditemukan di Afrika, besar di jazirah Arab, kopi kemudian menjadi kekuatan revolusi sosial politik di Eropa. Sebagai negeri penghasil kopi, masyarakat kopi di Indonesia justru tumbuh lebih lambat dari Eropa, negeri importir kopi. Sama seperti batubara yang ditambang di Indonesia kemudian mengairahkan ekonomi produktif di negeri lain, kopi pun demikian. Ditanam di Nusantara, kopi kemudian melahirkan revolusi di Perancis. Akankah ada revolusi di Indonesia, atau paling tidak di Samarinda yang kedai kopinya ada mulai dari pinggir sungai hingga puncak bukit.
Berapa jumlah gerai kopi di Kota Samarinda?. Pertanyaan ini sebenarnya tak penting terkecuali kita adalah petugas pencatat statistik atau penelisik pajak dan retribusi.
Hampir 10 tahun lalu saya menanyakan itu, dan kemudian dijawab sudah tak cukup jari tangan dan kaki untuk menghitung.
Selepas 2015 pertumbuhan tempat ngopi yang dinamai kafe, coffee shop, coffee house, coffee bar, warung kopi, coffee and eatery, kedai kopi dan lain-lain memang seperti wabah, terus tumbuh hingga sekarang.
Hingga seorang pengamat kopi paling tekun sekalipun tak bakal tahu atau hafal semuanya.
Tempat ngopi bukan hanya ada di pinggir jalan premium, melainkan telah memasuki gang-gang permukiman, bahkan hingga di perbukitan. Kopi mobile, baik yang stationary maupun dijajakan keliling juga semakin banyak.
Maka pertanyaan yang penting adalah apa sumbangsih kopi untuk Kota Samarinda, utamanya peradaban kota ini?.
Memangnya setinggi itu kontribusi kopi pada peradaban, hingga kemudian layak dipertanyakan?.
Jangan sepelekan kopi, sebab sejarah mencatat kopi sebagai pendorong perubahan di Eropa.
Kopi yang menurut ceritanya ditemukan di Afrika oleh seorang pengembala kambing, kemudian dibudidayakan di jazirah Arab dan bibitnya dilindungi agar tidak keluar dari sana. Kopi boleh dikirim atau keluar dari tanah Arab dalam bentuk kopi yang siap konsumsi, bukan biji kopi mentah.
Konon pertahanan itu jebol karena seorang jamaah haji yang berasal dari India yang kemudian menyelundupkan biji kopi bibit ke kampung halamannya di sekitar abad 15.
Sekitar dua abad kemudian kopi kemudian menyebar ke Eropa dan mulanya dikenal sebagai minuman berkhasiat obat serta dikonsumsi oleh kalangan terbatas karena mahal harganya.
Lama kelamaan kopi semakin umum di Eropa, mulai dikonsumsi banyak orang. Mereka keranjingan pada kopi. Hingga kemudian sekelompok imam gereja katolik menghadap Paus Clement untuk meminta fatwa haram atas kopi. Para imam menyebut kopi sebagai minuman setan.
Latar sebutan ini sebenarnya bernuansa sentimen religius, karena kopi berasal dari dunia Islam yang dianggap musuh kekristenan waktu itu.
Kabarnya Paus Clement VII kemudian mencicipinya dan mungkin saja tidak menemukan unsur setan di dalam kopi. Alhasil, Paus justru melakukan hal yang berbeda dari yang diminta para imam, kopi justru di ‘baptis’ oleh Paus Clement VII sebagai minuman yang berkhasiat.
Serangan terhadap kopi juga muncul di Perancis, yang mendorong anggapan buruk pada kopi justru para dokter. Muasalnya kebiasaan minum kopi mengancam kebiasaan minum wine. Kopi kemudian diberitakan bisa menimbulkan keletihan, hal buruk pada otak dan biang impotensi.
Peningkatan jumlah orang yang meminum kopi juga mengkhawatirkan penguasa Jerman. Frederick The Great kemudian mengeluarkan manifesto untuk lebih berpihak pada bir sebagai minuman kebanggaan.
Dan di Inggris lebih konyol lagi, George II memusuhi kopi karena masyarakat Inggris yang berkumpul di kedai kopi kerap mengolok-olok dirinya.
Tapi sejarah kemudian mencatat masyarakat Eropa sebagai peminum kopi. Andai saja tak ada kopi masyarakat Eropa mungkin menjadi bangsa pemabuk, karena lebih suka minum wine dan bir.
BACA JUGA : Noel Nol
Sebagian kopi yang dikonsumsi oleh masyarakat Eropa waktu itu berasal dari Nusantara. Kolonial Belanda menambang uang lewat perkebunan-perkebunan kopi yang menyebar di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan pulau-pulau lainnya. Java Coffee sangat terkenal di Eropa.
Kopi dari tanah jajahan ini kemudian merubah lanskap sosial dan politik di Eropa.
Kedai-kedai kopi yang bermunculan di berbagai penjuru menjadi tempat berkumpul masyarakat, termasuk kaum intelektual. Di kedai kopi mereka tahan berbincang-bincang selama berjam-jam. Beda dengan bar, makin lama tinggal makin senyap karena mabuk dan tertidur. Kopi sebaliknya, makin banyak minum makin tak bisa tidur, dan tambah semangat.
Kopi kemudian mempunyai sumbangsih peradaban literasi di Eropa. Karena di warung kopi sebelum era buku, yang dibaca dan dibahas adalah pamflet atau hasil korespondensi antar kaum intelektual dan pemikir. Di kedai kopi diskusi atau percakapan dan debat pemikiran serta pengetahuan kemudian dimulai. Lain halnya dengan universitas yang menjadi menara gading, percakapan atau pertukaran pengetahuan dan gagasan di kedai kopi lebih inklusif. Tak salah jika kopi kemudian disebut sebagai minuman literasi.
Kacang yang disangrai hingga hitam juga punya peran besar dalam revolusi politik di Eropa. Sebut saja salah satu revolusi terbesar dalam sejarah yakni Revolusi Perancis. Ada peran besar kopi dibalik perubahan lanskap kekuasaan di Perancis yang kemudian menular sebagai arus demokratisasi di seluruh dunia.
Kedai kopi pertama di Paris dibangun oleh orang Sicilia, orang Italia. Sejak pertama dibuka, ramai orang datang kesana untuk ngopi. Kedai kopi menjadi titik pertemuan, borjuis dan proletar bisa ada dalam ruang yang sama, kedai yang inklusif.
Di jaman minum anggur, minum dan teler, setelah hadir kopi, minum, ngobrol dan berpikir. Diantara pengopi itu ada Voltaire, Rousseau dan lain-lain. Mereka ini kemudian mengendorse perbincangan tentang Perancis yang sedang dipimpin oleh Louis ke 16. Raja yang duduk dalam kemewahan karena menservis para elit dengan kehidupan yang borjuis dengan cara memeras rakyat habis-habisan.
Rakyat sengsara dan makin merana karena ketika panen gagal, harga roti mahal, para elit justru hidup senang, flexing kemewahan, padahal rakyat sulit.
Di kedai kopi itu suara pembaharuan berkumandang. Hingga kemudian berujung pada perbincangan tentang bagaimana mengulingkan monarki Perancis yang menindas itu.
Akhirnya lahirlah gerakan besar menumbangkan kekuasaan raja di Perancis yang kemudian melahirkan pemimpin terkemuka Perancis, Napoleon Bonaparte.
Kabarnya Voltaire meminum sampai 40 gelas kopi sehari agar terus bisa berpikir dan ngobrol untuk merumuskan gagasan dan ide tentang revolusi Perancis. Tentu saja ini kabar yang berlebihan.
Karena gerakan ini dibahas di warung kopi, maka tidak terdeteksi oleh para telik sandi istana. Penguasa Perancis kemudian tak sadar dengan semua kemewahannya mereka sesungguhnya lemah.
Disitulah kopi menjadi pemersatu, untuk menumbuhkan gerakan sipil, aksi kolektif yang kemudian berhasil menumbangkan regim tiran setumbang-tumbangnya.
Bayangkan jika masyarakat Perancis waktu itu tidak mengenal kopi. Bisa jadi derita rakyat tetap dibincang namun kemudian melempem, karena yang membincang berapi-api kemudian tertidur akibat minum terlalu banyak anggur.
Andai saja Voltaire meminum 40 gelas anggur sehari, dia mungkin akan berakhir tertidur di got. Saat mentari mulai naik dan kemudian ada orang bertanya “Kenapa tidur di got”, Voltaire akan menjawab “Memangnya got ini punyamu,”.
BACA JUGA : Rosi Mingkem
Kembali ke Samarinda dimana kedai kopi terus bertumbuh dan kata ‘Yuk ngopi” menjadi salah satu yang paling populer. Adakah kemudian kehadiran kedai-kedai kopi melahirkan gerakan kolektif untuk mengkoreksi kehidupan bersama di kota ini?.
Yang jelas kedai kopi memang menyatukan, tetapi apakah kehadiran bersama di kedai kopi melahirkan blending sosial, mungkin harus dilihat lebih dalam.
Sayangnya memang belum ada yang melakukan penelitian lebih dari tentang ‘dari ngopi menjadi aksi’.
Padahal mungkin saja dari ngopi-nopi bareng ini kemudian muncul aksi menambang secara ilegal.
Bisa jadi ngopi dan ngobrol di Samarinda tidak melahirkan ‘Revolusi Samarinda’ karena para elit atau penguasa juga menguasai warung kopi. Banyak elit politik dan elit ekonomi yang kemudian mendirikan warung kopi. Hingga kemudian malah terjadi dikotomi antara kopi elit dan kopi sulit.
Bisa jadi justru kehadiran kedai kopi malah menguntungkan kelompok elit. Karena kedai kopi bisa menjadi jalan cepat untuk populer atau tetap populer. Percayalah jika rajin-rajin nraktir tanpa pandang bulu di kedai kopi, niscaya kita populer. Atau rajin-rajinlah membiayai kelompok sipil untuk bikin diskusi di warung kopi, pasti kita bisa jadi orang ternama.
Sama seperti di Perancis, di kedai-kedai kopi Kota Samarinda kerap ada diskusi, percakapan kelompok sipil. Tapi kelompok-kelompok ini kerap terafiliasi dengan kekuatan atau sosok elit politik tertentu. Kelompok sipil justru mengamplifikasi suara kaum elit.
Kelompok kritis bisa jadi juga rajin ngopi, tapi tak bisa terus menerus ngopi di kedai yang kopinya proper. Ngopi nyaman dan merangsang nalar terus bekerja memang butuh kantong yang cukup tebal. Maka tanpa funding, jelas sulit bagi kelompok masyarakat sipil untuk terus menerus ngopi dan kemudian mengkritisi kehidupan bersama untuk melahirkan aksi.
Revolusi Perancis terjadi karena konsolidasi terus menerus di warung kopi lalu membesar. Di Kota Samarinda yang bisa terus menerus melakukan konsolidasi di warung kopi tentu hanya yang berkantong tebal atau yang rajin menulis proposal.
Tapi tetap saja ada aksi positif yang lahir dari percakapan atau pertemuan di kedai kopi.
Hanya saja untuk melahirkan aksi kolektif yang besar mungkin jauh dari panggang api.
Apalagi kini banyak kedai kopi yang hadir untuk para influencer, tempat para konten kreator melakukan siaran live, atau bikin konten lainnya. Sayang kita tak bisa berharap banyak pada mereka untuk memicu ‘Revolusi Samarinda’ karena konon kini giliran para influencer yang diberi gelontoran dana oleh pemerintah atau kekuatan politik lainnya, setelah sebelumnya mereka lebih menyukai mengamplifikasi kepentingan mereka lewat media online.
Jadi biar bisa ngopi cantik setiap hari, jadilah influencer yang nir nalar kritis.
note : sumber gambar – Julak Jarakada








