KESAH.ID – Banyak orang menderita para social disorder. Menggagumi seseorang secara kelewatan dan kemudian membenci atau membully orang yang dianggap tidak disukai oleh pujaannya. Apapun yang dicapai oleh orang itu kemudian dibanding-bandingkan dengan pujaannya, walau mungkin mereka tak lagi beraktivitas di bidang yang sama. Terus membawa-bawa Rossi untuk menilai Marc Marquez saat ini jelas merupakan tanda kalau yang melakukannya kurang sehat secara mental.
Setelah 26 tahun berkarir di Moto GP akhirnya Valentino Rossi menyatakan diri pensiun dari balapan di akhir tahun 2021. Dalam usia ke 42, Valentino Rossi merasa sudah tidak kompetitif lagi untuk bersaing di level teratas.
Sejatinya ketika Marc Marquez mulai masuk ke kelas utama Moto GP, Rossi berhenti meraih gelar juara. Kedatangan Marc Marquez membuat Rossi mengunci mahkota gelar juara dunia 9 kali. Rossi masih berharap bisa mengunci karirnya dengan meraih gelar ke 10. Namun Marc Marquez membuat mimpi Rossi buyar.
Rossi menjadikan Marc Marquez sebagai kambing hitam. Menurut Rossi, Marc ikut campur sehingga gelar ke 10 Rossi melayang karena direbut oleh Jorge Lorenzo. Sebagai pembalap legendaris dengan banyak pengemar, opini Rossi ini kemudian tertanam juga dalam benak para fans-nya. Fans Rossi-pun kemudian menjadi hatters Marc Marquez.
Marc yang cidera dan kemudian istirahat lama membuat para fans lega, kemungkinan Marc Marquez akan menyamai atau melampaui rekor Rossi makin mengecil.
Dalam sejarah Moto GP amat jarang pembalap yang cidera berat dan istirahat lama akan kembali dalam perfoma serupa. Pun dengan Marc Marquez, come backnya bersama Honda ternyata tidak meyakinkan. Marc pun kehilangan kepercayaan diri, mulai ragu apakah dirinya kompetitif atau tidak.
Tidak ada pilihan lain bagi Marc selain mencoba mengendarai motor dari pabrikan lain untuk menilai apakah dirinya masih kompetitif atau tidak.
Marc Marquez kemudian meninggalkan Honda, membuang potensi banyak uang dan memupus sejarah manisnya bersama Honda. Marc berpindah ke Gresini yang mendapat pasokan motor dari Ducati, motor yang umurnya setahun lebih tua dari pembalap pabrikan atau pembalap utama Ducati.
Ternyata Marc masih kompetitif, namun para fans Rossi belum khawatir sebab kecil kemungkinan Marc akan berpindah ke tim pabrikan Ducati mengingat ada daftar pembalap muda binaan Ducati yang cukup panjang. Terlebih lagi Jorge Martin yang digadang-gadang akan menjadi salah satu pembalap utama Ducati naga-naganya akan menjadi juara dunia.
Konon salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh Jorge Martin agar terpilih menjadi pembalap utama Ducati adalah mempersembahkan gelar juara dunia.
Tapi terjadi drama yang mengejutkan. Ducati ternyata memilih Marc Marquez. Fans Rossi pun mulai khawatir, walau mencoba menghibur diri bahwa murid terbaik Rossi yakni Pecco Bagnaia bakal menghentikan Marc Marguez mengingat motor Ducati dikembangkan oleh Pecco Bagnaia.
Para fans Rossi lupa kalau Marc Marquez adalah salah satu sosok pembalap yang paling bertalenta dalam sejarah Moto GP. Dan selain mempunyai kelebihan bawaan, Marc Marquez walau berbekal 8 kali gelar juara dunia bukanlah pembalap yang rewel. Marc bukan tipe pengeluh jika merasa motornya ada kekurangan, yang dilakukan olehnya justru berusaha keras, berlatih lebih banyak untuk menutupi kelemahan motornya.
Dan benar begitu menunggangi Ducati GP 2025, Marc langsung moncer. Rekor demi rekor dan kemenangan terus diraih oleh Marc Marquez. Hanya crash yang kemudian menghentikan Marc meraih kemenangan.
Sampai paruh musim Marc begitu dominan. Sebaliknya Francesco Bagnaia justru mengalami kesulitan berkepanjangan. Mengendarai motor yang sama ternyata Pecco tak percaya diri dengan motornya.
Ketika bergabung dengan tim utama Ducati, Marc Marquez merasa Pecco akan menjadi saingan utamanya. Namun ketika balapan berlangsung ternyata yang menjadi lawan utama Marc Marquez justru sang adik, Alex Marquez yang membalap untuk Gresini Racing.
Rossi tak bisa berharap banyak kepada Bagnaia apalagi pada tim balapnya VR46 yang kedodoran menghadapi Marc Marquez. Hingga muncul desas-desus kalau Rossi mengagitasi Pedro Acosta untuk bergabung dengan tim balapnya dan akan menghadapi Marc Marquez.
BACA JUGA : Catatan Kemerdekaan – Batubara, Sungai dan Transisi Energi
Pedro Acosta memang digadang-gadang sebagai talenta besar di Moto GP. Tampil sebagai rookie di tahun 2024 penampilannya memang mengesankan. Namun di tahun 2025 ini meski kerap mencatatkan kecepatan yang mengesankan, dalam balapan Pedro Acosta kerap mengalami crash.
Kerap merasa bisa menyaingi kecepatan Marc Marquez, di tahun 2025 ini Marc terbukti bisa mengatasi Pedro Acosta dengan mudah. Bukan hanya Acosta, rasanya semua pembalap bisa diatasi oleh Marc Marquez dengan mudah, bahkan ketika Marc mengalami masalah tekanan ban sehingga harus mengendurkan kecepatan.
Dalam banyak balapan, Marc tak selalu berada dalam mode menyerang. Banyak kali Marc Marquez membiarkan lawannya berada di depan sampai pertengahan bahkan beberapa lap menjelang balapan berakhir.
Tahun 2025 ini, dengan semua cidera yang dialami sebelumnya ternyata Marc Marquez kembali pada kondisi seperti tahun 2014 dan 2019. Hampir tak ada pembalap yang menjadi saingan utamanya. Lawan Marc Marquez di setiap balapan berbeda-beda, bahkan banyak kali seperti tak ada perlawanan. Musim 2025 seperti menjadi musim termudah untuk Marc Marquez meraih gelar juara. Apa yang dibayangkan olehnya tak terjadi, Francesco Bagnaia kesulitan bersaing dengan Marc Marquez walau dibekali motor yang sama.
Fabio Digianntonio pembalap yang menggunakan motor seperti yang dipakai Marc Marquez juga kesulitan, Digia kurang konsisten, prestasinya naik turun.
Menjelang paruh musim, konsistensi Alex Marquez juga mulai menurun. Alex sering kena masalah, mendapat hukuman dari pengawas balapan.
Sekembali dari istirahat paruh musim Marc Marquez justru makin konsisten menang. Marc kemudian mencatatkan rekor, menang enam kali berturut-turut dan belum ada pembalap yang memenangkan sprint race dalam satu musim sebanyak Marc Marquez saat musim balap masih menyisakan banyak seri.
Begitu melewati paruh musim semakin banyak koor pujian untuk Marc Marquez. Para legenda balap tak bisa menahan mulutnya untuk tak memuji Marc Marquez. Dengan jarak poin yang begitu jauh dengan adiknya dan Pecco Bagnaia, mahkota gelar juara dunia sepertinya akan diklaim oleh Marc Marquez dalam dua atau tiga balapan kedepan.
Bahkan ketika nanti Marc Marquez istirahat membalap dalam 6 atau 5 seri terakhir, kemungkinan besar Marc Marquez masih tetap meraih gelar juara dunia dengan margin poin cukup besar pada peraih kedudukan kedua.
Perlahan-lahan Marc Marquez mulai berhasil menyingkirkan kibaran bendera Valentino Rossi dalam balapan Moto GP. Para fans yang masih membawa-bawa bendera Rossi akan malu sendiri karena setiap kemenangan Marc Marquez berarti mempecundangi Rossi. Fans Rossi tidak bisa lagi berharap pada pembalap jebolan akademi balap VR46 untuk menghambat Marc Marquez. Jangankan menang, menggangu laju Marc Marquez saja mereka gagal.
Mereka, para murid Rossi dan tim balapnya bahkan mulai ikut-ikutan memuji Marc Marquez.
BACA JUGA : Noel Nol
Balaton Ring, Hungaria walau balapan terasa membosankan menjadi penegas bagaimana talenta besar dan kemampuan adaptasi Marc Marquez menjadi semakin nyata.
Kembali memborong kemenangan di sesi sprint race dan grand prix, Marc menyapu bersih poin penuh. Ini menjadi kemenangan Marc Marquez yang ketujuh berturut-turut dengan Ducati.
Prestasi Marc Marquez jauh melampaui prestasi Rossi yang juga pernah direkrut oleh Ducati untuk membawa kejayaan menyaingi Yamaha dan Honda.
Masa keemasan Marc Marquez ternyata datang berkali-kali. Di tahun 2014, 2019 dan kini di tahun 2025. Bahkan di tahun 2025 ini terlihat Marc Marquez meraih kemenangan tanpa menunjukkan agresifitas yang tinggi, Marc memacu motornya dalam batas sehingga terlihat lebih rileks.
Pembalap-pembalap lain nampaknya hanya berusaha mengimbangi Marc Marquez karena jelas mustahil mengalahkannya.
Bandingkan dengan Alex Marquez yang menduduki klasemen kedua, bahkan ketika Marc Marquez tidur-tiduran tak ikut sprint race di hari Sabtu, poin Marc Marquez masih lebih tinggi dibanding yang bisa dicapai oleh Alex Marquez hingga race ke 14 ini.
Setelah balapan di Hungaria, poin Alex Marquez dari sprint race dan grand prix 280, sementara poin Marc dari grand prix tanpa sprint race sudah 290. Marc tidak menjadikan sprint race sebagai pengumpul tambahan poin, melainkan untuk meriset setting motor untuk balapan hari minggu.
Ada yang mencibir, Marc menang karena motornya.
Tentu saja, karena Ducati memang motor juara.
Namun cibiran itu jelas salah, karena yang menaiki Ducati GP 2025 ada 3 orang yakni Marc Marquez, Pecco Bagnaia dan Fabio Digianntonio. Apa yang dicapai Marc berbeda jauh dengan Pecco dan Digia.
Pada Moto GP 2025 ini jelas Marc tak ada lawan. Yang ada hanyalah pembalap lain yang merasa bisa bersaing dengannya. Namun finish jauh di belakangnya.
Marc melenggang sendiri dan sulit untuk mencari pembandingnya.
Sudah saatnya tak perlu mengoreng-goreng Marc Marquez dengan menyentil-nyentil Rossi.
Rossi sudah selesai dan murid-murid Rossi bukan penerusnya.
Fans Rossi teruslah mengagumi Rossi tapi tak perlu lagi bawa-bawa Marc marquez, karena yakinlah Rossi pun sudan mingkem melihat kedigdayaan Marc Marquez di Moto GP 2025 ini.
Tidak usah kelewatan men-down grade Marc Marquez, karena itu salah satu pertanda kalau anda sedang menderita gangguan mental.
note :








