KESAH.ID –  Gerakan sosial yang dimulai oleh para sopir meluas. Se Indonesia Raya sibuk mencari bendera one piece. Bendera yang tadinya merana menunggu pembeli, hilang di pasaran. Untuk ada pasar online, sehingga yang punya sedikit kesabaran tak perlu repot blusukan dari satu kios ke kios lainnya. Tak ada cerita bagaimana persisnya, namun kisah yang diceritakan dalam one piece barangkali relevan dengan kondisi Indonesia saat ini sehingga masyarakat merasa lebih tepat mengibarkan bendera one piece ketimbang Sang Saka Merah Putih di HUT Kemerdekaan.

Ketika teman-teman sepergaulan sibuk mencari-cari bendera one piece, saya yang umurnya jauh lebih tua dari mereka agak nggak nggeh. Ada apa gerangan?.

Saya memang tak akrab dengan kisah, tokoh atau cerita komik Jepang. Belum ada waktu jaman saya masih kanak-kanak. Komik dulu saya baca di majalah, mulai majalah Si Kuncung, Kawanku, Bobo hingga cergam Eppo.

Saya juga masih mengenal komik-komik karya Jan S. Mintaraga atau Tatang S. Dan nanti ketika mulai membaca koran, saya mengenal komik karya Wahyu Kokkang. Kokkang singkatan dari Kelompok Kartunis Kaliwungu – Kendal.

One Piece, seri manga atau komik Jepang jelas asing buat saya. Ketika mulai muncul saya sedang dalam masa peralihan. Masuk ke sekolah berasrama yang jadwal hariannya diatur sangat ketat. Tak cukup waktu dan pergaulan dengan kehidupan di luar.

Ketika di asrama yang lebih saya baca adalah buku-buku, koran dan majalah terbitan Kompas Gramedia grup. Ketika berada di asrama, saya memang lebih bernafsu untuk membaca buku, karena sekolah berasrama yang saya masuki mempunyai gedung perpustakaan yang megah dan koleksi buku yang wah. Sayang kalau dilewatkan, apalagi saya hanya punya waktu satu tahun sekolah disana, sebelum berpindah ke Sekolah Tinggi yang juga berasrama.

Saya hanya tahu, komik bergaya Jepang itu kemudian sangat berpengaruh di Indonesia, termasuk pada anak saya yang rasanya pernah corat-corat membuat komik sendiri, sosok hasil goresannya Jepang sekali.

Walau banyak yang mengemari, saya memang tak tertarik sama sekali. Saya lebih dahulu menyukai tarikan garis kartunis dan karikaturis Indonesia, macam Om Pasikom di Kompas.

Maka tak perlu malu untuk mengakui kalau dalam urusan komik Jepang atau bergaya Jepang saya sungguh buta huruf.

Tapi karena viral, mau tak mau saya jadi pingin tahu.

Rupanya one piece, jadi omongan gara-gara banyak bendera Jolly Roger, simbol bajak laut dalam serial anime karya Eiichiro Oda berkibar dimana-mana.

Konon yang memulai adalah para sopir truk.

Kendaraan angkutan memang menjadi salah satu yang paling rajin memasang bendera di kendaraannya menjelang 17 Agustus. Kebiasaan ini suka tak suka menjadi salah satu pendorong munculnya pedagang bendera di pinggir jalan.

Tahun ini rupanya mereka tak se ‘nasionalis’ itu lagi. Muasalnya karena mereka kecewa, aparat menekan mereka dalam kebijakan penindakan terhadap ODOL – Over Dimention Over Load alias angkutan yang kelewatan.

Para sopir kecewa karena mereka yang cenderung disalahkan, bukan para majikan atau perusahaan ekpedisi yang mempekerjakan mereka. Supir tentu tak ingin kelebihan beban muatan, sebab resiko keamaan atas kelebihan muatan justru ada di tangan mereka. Kalau truk kelebihan muatan yang bisa kena celaka adalah sopirnya.

Merekapun memilih mengibarkan bendera one piece sebagai bentuk protes. Muasal bagaimana bendera Roger Jolly bajak laut yang bertopi jerami di serial one piece dipilih, tidak ada yang tahu persis alasannya.

Yang jelas aksi itu kemudian ditiru oleh banyak orang yang bukan sopir truk. Dan dalam beberapa hari saja eskalasinya begitu tinggi, sampai-sampai dianggap mengancam eksistensi negara, nasionalisme yang tiada tara.

BACA JUGA : Spanyol Italia

Aksi yang dimulai oleh sopir ini kemudian menjadi Gerakan Sosial, pemasangan bendera one piece menjadi semacam protes nasional. Dengan memasang bendera one piece, sang pemasang mendeklarasi tak akan mengibarkan bendera Merah Putih untuk memperingati HUT RI.

Tak ada yang menyerukan untuk melakukan moratorium pemasangan bendera Merah Putih menjelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ini. Tapi maraknya pengibaran bendera one piece mau nggak mau mengajak masyarakat lain yang sebenarnya tak terlalu antusias memasang Sang Merah Putih, ikut bersemangat berburu bendera one piece yang lalu jadi barang langka.

Pasti sebagian yang memasang sekedar seru-seruan.

Jadi maraknya pemasangan bendera one piece ini tak perlu dianggap sebagai ancaman bagi bangsa. Tak perlu ditarik ke soal nasionalisme, toh sebesar apa nasionalisme kita juga tak pernah diukur secara obyektif.

Setiap orang bisa mengklaim nasionalis, tetapi setiap orang juga bebas menuduh orang lain tak nasionalis. Nasionalisme itu cita-cita dan imaji kolektif, dan sudah lama kita tak berimajinasi bersama.

Terlalu jauh kalau memandang pemasangan bendera one piece ini secara ideologis. Tak ada ideologi one piece.

Tapi kalau mau berpikir dingin dan kemudian memaknai, ada banyak pengemar one piece yang memakai teori gothak gathuk mathuk, untuk mengurai apa yang membuat bendera one peace kemudian berkibar dimana-mana.

Bisa jadi apa yang terkisahkan dalam one piece sungguh relate dengan kondisi Indonesia saat ini. Makanya yang merasa demikian lebih memilih untuk mengibarkan bendera one peace. Konon ada yang menyebut Sang Saka Merah Putih terlalu sakral untuk dikibarkan saat ini.

Secara ekonomi, pemerintah atau penguasa yang seharusnya berpihak kepada rakyat lewat ekonomi kerakyatan, justru memilih bersekutu dan bersekongkol dengan oligarki, membela para cukong, para investor yang bahkan bisa merampas tanah bersertifikat.

Kongsi antara penguasa dan pengusaha sering kita dengar dalam istilah Konglomerat Hitam, Sembilan Naga dan kini Sembilan Haji. Sesiapapun yang berkuasa nampaknya mesti loyal kepada kelompok ekonomi tertentu, segelintir orang yang kemudian menguasai sendi-sendi ekonomi negeri ini.

Kebanyakan sopir adalah perokok. Dan cukai rokok berkali-kali dinaikkan. Tujuan pemerintah adalah mengurangi jumlah perokok dan sekaligus meningkatkan pendapatan dari cukai rokok. Pemerintah yang aneh, mau rakyatnya sehat tapi juga doyan uang dari barang yang mau dikurangi konsumsinya. Apa-apa dipajaki, agar pundi-pundi keuangan negara semakin gemuk. Tapi rakyat merasa imbal balik dari pemerintah kurang. Pemerintah rajin meminta tapi malas mengembalikan dalam bentuk apa-apa yang diperlukan oleh masyarakat.

Keadilan sungguh menjadi barang langka di negeri ini, terutama untuk rakyat kecil tanpa lingkaran sosial yang punya akses ke kelompok elit, penegak hukum atau alat keamanan negara. Jika tidak termasuk orang dalam pada sistem di negeri ini, siap-siap saja untuk tak punya harapan jika berhadapan dengan masalah.

Pendek kata ada banyak ketidakpuasan di negeri ini berkaitan dengan perilaku dan kebijakan penguasa serta para antek-anteknya. Dan one piece kemudian menjadi sosok yang diidamkan, diharapkan lahir untuk memerdekakan masyarakat dari kondisi ketertindasan saat ini.

BACA JUGA : Fomo dan Rumah Jengki : Samarinda yang Tak Mau Ketinggalan

Hanya saja seperti biasa, para punggawa negeri yang kurang reflektif kemudian kebakaran jenggot. Menganggap para pelaku pengibaran bendera one piece sebagai subversif. Mungkin mereka tak paham apa itu subversif. One piece tak ada dalam kamus politik, ideologi, negara dan lainnya, one piece adalah imaji yang kemudian berbentuk komik.

Soal subversif atau apa yang dilarang karena dianggap mengancam ideologi negara, rasa kebangsaan dan lainnya sudah jelas ada dalam UU. Bendera one piece bukan palu arit.

Lagi pula kita terbiasa mengibarkan bendera, bahkan bendera negara lain.

Maka sungguh kejauhan kalau sampai menganggap ada pihak-pihak lain di belakang maraknya pengibaran bendera one piece. Jelas tak ada campur tangan dari negara lain, apalagi sampai ingin menghancurkan Indonesia dengan pengibaran bendera one piece.

Lihat saja, masih banyak anak-anak yang gigih bersaing agar bisa menjadi pengibar bendera, terlebih Bendera Pusaka, Paskibraka.

Ngomong-ngomong soal one piece, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga pernah memakai pin one piece di dadanya saat masa kampanye. Masa calon wapres dianggap tidak nasionalis, subversif hanya gara-gara beraksesories one piece.

Ini adalah momen protes saja, dan masih untung protesnya dengan mengibarkan bendera.

Bahwa protes kemudian meluas, menjadi semacam gerakan sosial ya biasa saja, masyarakat memang perlu diajak untuk dinamis, menyampaikan keluhan dengan berbagai macam cara yang penting aksinya tanpa kekerasan.

Yang buruk justru jika aksi langsung tanpa kekerasan ini dibully, ditanggapi secara berlebihan apalagi sampai mengancam yang memasang bendera one piece dipenjarakan.

Berlebihan dalam menanggapi aksi rakyat semacam ini justru bisa menimbulkan luka yang lebih dalam. Anggap saja sebagai lucu-lucuan, toh sebelum memasang bendera one piece tak ada seminar, workshop atau apapun untuk merumuskan visi misi, tujuan dan output dari aksi ini.

Ini aksi organik.

Jika aksi organik ditanggapi berlebihan, justru malah bisa menyebabkan konsolidasi.

Aksi yang terkonsolidasi jelas punya tujuan politik.

Jangan-jangan mereka yang bersuara keras pada aksi pengibaran bendera one piece ini ingin agar gerakan sosial ini terkonsolidasi. Suara keras mereka itu hanya modus, modus agar gerakan sosial ini menjadi semakin mengeras.

Jadi itu adalah kesengajaan dari mereka yang tak perlu ditanggapi berlebihan. Sebab jika gerakan ini terkonsolidasi maka merekalah yang akan menjadi penunggang gelombang.

Di republik ini terlalu banyak orang di lingkar terdalam dan terpinggir yang berharap ada guncangan-guncangan besar. Sebab goncangan itu bisa menyebabkan kocok ulang. Siapa tahu dalam kocok ulang itu mereka bisa dapat posisi, kesempatan dan peluang yang lebih baik.

Ingat di lingkar elit, banyak juga yang terjepit sehingga suka lempar batu sembunyi tangan.