KESAH.IDMuncul suara-suara yang mengingkan Dorna sebagai penyelenggara Moto GP agar membatasi jumlah pembalap Spanyol yang berlaga di kompetisi balap motor paling populer ini. Dominasi pembalap Spanyol memang sudah keterlaluan, pembalap-pembalap dari negeri lain sulit mendapat tempat, bahkan pembalap Italia yang juga terkenal sebagai jagoan di Moto GP. Masalahnya sulit bagi pembalap dari negeri lain untuk mengejar kemampuan para pembalap Spanyol, karena talenta pembalap Spanyol memang berlapis-lapis.

Dominasi pembalap Spanyol di lintasan balap Moto GP, mulai dari Moto 3, Moto 3 hingga kelas utama meresahkan. Pembalap Italia terakhir yang mampu mendominasi Moto GP adalah Valentino Rossi. Waktu itu ada bintang terang, Marco Simoncelli, namun perjalanannya tak panjang. Pembalap yang dijuluki Super Sic ini tewas dalam sebuah kecelakaan fatal di balapan pada tahun 2011.

Italia memang tak kekurangan pembalap berbakat, para pembalap binaan sekolah VR46 mencuri perhatian di lintasan. Kerjasama dengan Ducati membuat pembalap Italia mampu bersaing di baris depan. Francesco Bagnaia sempat memberi harapan, Pecco pernah merebut gelar dunia dua kali berturut-turut, walau kemudian dikudeta oleh Jorge Martin yang juga menaiki Ducati.

Asa pembalap Italia naik ketika Marc Marquez cidera parah sehingga harus dioperasi berkali-kali, di saat Marc cidera dan menjalani perawatan serta pemulihan, tahta juara Moto GP direbu toleh Johan Mir. Di tahun berikutnya direbut oleh Fabio Quartararo, lalu dua tahun berikutnya dikuasai oleh Francesco Bagnaia. Upaya Pecco untuk merebut gelar juara dunia tiga kali berturut-turut buyar karena Jorge Martin.

Jorge Martin berjuang habis-habisan agar menjadi juara dunia, karena hanya dengan gelar juara Jorge Martin bisa menduduki kursi sebagai pembalap pabrikan Ducati.

Tapi semua juga tahu impian Jorge Martin buyar akibat manuver Marc Marquez.

Setelah pulih dari cidera, Marc Marquez gagal come back bersama Honda. Pengembangan motor Honda yang ditinggal Marc Marquez berantakan. Marc tidak percaya diri lagi dengan Honda.

Maka tak ada pilihan lain, Marc meninggalkan Honda dan kemudian bergabung dengan Gresini yang motornya dipasok oleh Ducati.

Bersama Gresini, Marc langsung moncer. Meski menaiki motor yang satu tahun  tertinggal dari yang dinaiki oleh Francesco Bagnaia, Jorge Martin dan Enea Bastianini, Marc mampu memberi perlawanan. Podium kembali akrab dengan Marc Marquez.

Ducati kemudian gelisah hingga kemudian memutuskan untuk merekrut Marc Marquez sebagai tandem Francesco Bagnaia di tim pabrikan. Tidak ada yang meragukan kemampuan Marc Marquez, namun menyingkirkan juara dunia yang terbukti telah setia menunggu kesempatan menjadi terasa kejam.

Merekrut Marquez, Ducati mengingkari janjinya sendiri untuk lebih memberi kesempatan kepada pembalap muda, pembalap yang ‘dikader’ olehnya.

Ducati sendiri lebih diharapkan juga untuk berpihak kepada pembalap Italia.

Tapi nampaknya cita-cita itu lebih bernuansa doa, yang dipanjatkan tapi tak kunjung tiba.

Dari enam penunggang Ducati yang tersisa, kini terbagi dua, 3 Spanyol dan 3 Italia. Namun jika dilihat dari perfomanya, para penunggang Ducati dari Spanyol ternyata mencatatkan prestasi yang lebih baik.

Membandingkan antara Spanyol dan Italia, nampaknya kini pembalap Italia tersisih. Setelah Valentino Rossi, tahta kejuaraan Moto GP jarang diduduki oleh pembalap Italia. Pembalap Spanyol yang bergiliran menguasai, selain Marc Marquez pembalap Spanyol lainnya yang berhasil menjadi juara dunia adalah Jorge Lorenzo, Johan Mir dan Jorge Martin. Dari Italia yang berhasil menjadi juara dunia setelah Rossi hanya Francesco Bagnaia.

BACA JUGA : Gajah Kurus

Kenapa pembalap Spanyol lebih dominan di Moto GP, bukan hanya di kelas utama tetapi juga di Moto 3 dan Moto 2. Talenta dari Spanyol seperti tak ada habis-habisnya, hingga sampai memunculkan usulan agar jumlah pembalap Spanyol di Moto GP dibatasi, sebab jika tidak maka pembalap-pembalap dari negeri-negeri lain bakal tak punya tempat.

Spanyol memang merupakan salah satu negeri yang punya budaya balap yang telah mengakar. Balap adalah bagian dari budaya populer, grandprix balap sudah digelar di Spanyol sejak tahun 1951. Anak-anak Spanyol punya idola balap yang terkenal, seperti Angel Nieto dan Alex Criville.

Infrastruktur untuk mendukung dunia balap di Spanyol juga cukup baik. Spanyol mempunyai sirkuit top dunia, seperti yang di Barcelona dan Jerez. Di sirkuit-sirkuit ini para pembalap muda berlatih, menempa kemampuan dan ketrampilan.

Dan kemudian para pembalap muda ini diberi ekosistem kompetisi yang mengarah ke Moto GP. Spanyol mempunyai kompetisi CEV, kompetisi ini menjadi jalur masuk ke Moto GP.

Kesuksesan para pembalap spanyol seperti Marc Marquez, Jorge Lorenzo, Dani Pedrosa dan lain-lain terus menginspirasi anak-anak Spanyol untuk berlatih membalap sedari kanak-kanak. Kakak beradik Marquez sedari kecil sudah bergelut dengan motol, begitu juga kakak beradik Espargaro.

Para pembalap Spanyol adalah produk sekolah balap yang diikuti sejak kanak-kanak, persis seperti produk pemain bola di Eropa yang juga memulai bergaul dan berlatih dengan bola semenjak kanak-kanak lewat sekolah bola.

Cuaca di Spanyol juga mendukung, di kawasan mediterania ini memungkinkan anak-anak Spanyol berlatih sepanjang tahun.

Banyaknya bibit atau talenta balap dari Spanyol juga mengundang perhatian dari sponsor. Hal ini akan meringankan beban orang tua.

Hal yang sebaliknya terjadi di Italia. Meski mempunyai legenda balap ternama, seperti Giancomo Agustini dan Valentino  Rossi, anak-anak Italia tidak seleluasa anak Spanyol dalam mengeluti dunia balap sejak kanak-kanak.

Di Italia, orang tua harus membayar lebih mahal untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah balap.

Hanya anak-anak dari keluarga yang mampu yang bisa memulai belajar membalap sejak kanak-kanak.

Di Italia, akademi balap baru terkenal setelah Valentino Rossi mendirikannya. Namun ranch balap milik Rossi ini tidak mendidik sedari kanak-kanak.

Prestasi yang diukir oleh Marc Marquez di tim pabrikan Ducati hingga tengah musim 2025 membuat ayah mendiang Marco Simoncelli, Paolo Simoncelli khawatir dengan masa depan pembalap Italia di Moto GP.

Menurutnya di Moto GP 2025 ini, pembalap Italia lebih sering harus mengakui kemenangan pembalap Spanyol. Seolah podium selalu menjadi langganan para pembalap Spanyol.

Balapan Moto GP tahun 2024 sering disebut sebagai balapannya Ducati atau Ducati Cup. Namun seri Moto GP 2025, bisa dikatakan sebagai Spanyol Cup, bahkan Marquez Cup.

Dominasi pembalap Spanyol tak hanya disumbangkan oleh Marc Marquez, melainkan juga oleh Alex Marquez yang konsisten merebut posisi kedua, juga Fermin Aldequer, Pedro Acosta, dan mungkin nanti akan ditambah oleh Jorge Martin yang kembali membalap setelah istirahat panjang karena cidera.

BACA JUGA : Mengejar China

Kedatangan Marc Marquez ke Moto  GP memang menegaskan dominasi Spanyol atas Italia di lintasan balap. Ketika Marquez masuk ke kelas utama, Rossi tak lagi bisa berkutik. Rossi tak mampu lagi meraih gelar juara setelah bersama dengan Marc Marquez di lintasan.

Saking frustasinya, Rossi bahkan menuduh Marc Marquez menghalang-halanginya untuk menjadi juara dunia ke 10. Tuduhan ini menjadi semacam dendam yang mempengaruhi pengemar. Rossi menuduh dan mengambarkan Marc sebagai pembalap yang kotor dan brutal.

Tuduhan yang diafirmasi oleh para pengemar Rossi mengingat gaya balap Marc Marquez memang agresif.

Kelak banyak orang akan memahami gaya agresif Marc Marquez dengan Honda memang dituntut oleh motornya. Jika tidak, Marc akan seperti pembalap Honda lainnya gagal menahklukkan motor dan gagal juara.

Marc memang harus memacu motor Honda melebihi batas. Dan itu adalah pilihan yang penuh resiko karena akan mengalami banyak crash. Bersama Honda mesti mencatat banyak prestasi, Marc tercatat sebagai salah satu pembalap dengan rekor kecelakaan yang tinggi. Kecelakaan yang untung saja tidak membuatnya pensiun dari Moto GP.

Putaran ternyata tak selalu bulat bundar, dan Marc yang dibenci oleh sebagian publik Italia ternyata justru direkrut oleh Ducati. Para pengembang Ducati mungkin sudah tahu, Ducati telah mencapai puncaknya dan perlu pembalap yang bisa menahklukkan motor agar Ducati tetap terdepan.

Dan benar, ternyata hanya Marc Marquez yang bisa menguasai Ducati GP 2025, Francesco Bagnaia dan Fabio Digianntonio masih kesulitan. Mereka berdua bahkan kalah dengan Alex marquez yang menaiki GP 2024.

Bersama Ducati pabrikan, Marc kembali ke masa keemasannya. Sampai dengan istirahat paruh musim, 80 persen balapan dimenangkan olehnya. Marc memimpin klasemen dengan poin yang sulit untuk dikejar dalam keadaan normal.

Dengan Ducati Marc Marquez kembali mencatatkan aneka rekor. Rekor demi rekor dipatahkan, dan Marc mulai bisa mengejar catatan Giancomo Agustini serta mulai mengejar Rossi. Bisa dipastikan bahwa Marc akan segera menyamai Rossi dengan menggengam gelar juara dunia sebanyak 9 kali. Peluang untuk mengenapi menjadi sepuluh juga terbuka lebar.

Semua pembalap kini memuji Marc Marquez setinggi langit. Karena Marc meraih kemenangan dengan gaya yang berbeda ketimbang saat menaiki Honda. Dengan Ducati dominasi Marc bukan hanya menjadi yang terdepan, melainkan juga mampu memainkan ritme balapan.

Jika melihat capaian dari Francesco Bagnaia sebagai tandem Marc Marquez, fakta bahwa pembalap Italia keok melawan pembalap Spanyol memang bukan isapan jempol. Sayangnya motor kebanggaan Italia justru sedang bersuka ria karena mencatatkan banyak rekor bersama pembalap Spanyol.

note : sumber gambar – RAJA BALAP OTOMOTIF