KESAH.ID – Isu penulisan sejarah ulang menjadi perdebatan yang hangat. Banyak pihak termasuk sejarawan dan aktivis khawatir soal penghapusan fakta sejarah. Fadli menyebut perkosaan di tahun 1998 sebagai rumor. Sebagian lainnya khawatir dengan pemutihan sejarah, menutupi pelanggaran HAM yang terkait dengan penguasa di masa lalu. Pendekatan penulisan sejarah yang kemudian diklaim sebagai sejarah ‘resmi’ memang kerap bermasalah. Sebab sejarah tidak monilitik.
Saya sering difitnah dan fitnah paling kejam adalah kalau saya tahu banyak tentang Samarinda. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah saya sok tahu saja.
Gara-gara fitnah itu sering ada DM atau chat dari seseorang yang ingin wawancara, entah sedang mendapat tugas atau proyek tentang Samarinda. Saya sering tak bisa mengelak, paling hanya menurunkan level dari wawancara menjadi ngobrol-ngobrol saja.
Dalam urusan makro, mudah saja seseorang untuk dianggap menjadi ahli, tapi tidak dengan urusan mikro. Nah pengetahuan saya tentang Samarinda tidak detail sampai hal sekecil-kecilnya. Okelah saya bisa memberikan gambaran soal Samarinda secara umum, tapi pasti sulit untuk memberi gambaran umum sampai ke tingkat kecamatan, apalagi sampai kelurahan.
Tidak banyak hal di Kota Samarinda yang saya perhatikan sampai detail. Salah satu yang pernah saya telusuri cukup dalam hanyalah Sungai Karangmumus dan kopi. Kalau diajak ngobrol soal itu ya lumayanlah bisa berjam-jam.
Maka saya terkejut ketika ada DM dari seseorang yang memperkenalkan diri sebagai mahasiswa dan ingin wawancara. Katanya mendapat tugas untuk penulisan sejarah Kota Samarinda, di wilayah kecamatan Samarinda Ulu, khususnya Kelurahan Air Hitam dan Bukit Pinang.
Waduh, tahu apa saya soal dua kelurahan itu?.
Saya bertanya kenapa saya?.
Dijawabnya katanya saya tahu banyak soal Samarinda.
Mungkin iya, tapi yang jelas bukan soal Air Hitam dan Bukit Pinang, walau mendekati 25 tahun saya tinggal di Kecamatan Samarinda Ulu.
Karena masih ada waktu sebelum bertemu, saya coba mencari tahu terutama soal Air Hitam. Dan saya tahu harus mencari tahu kepada siapa.
Ada beberapa informasi yang saya dapatkan, paling tidak cukup untuk memberi sedikit obat kecewa untuk mereka yang berharap saya tahu banyak.
Setelah selesai ngobrol yang tidak panjang, saya meneruskan obrolan dengan teman-teman lainnya. Saya beritahukan kalau tadi saya ditemui mahasiswa untuk wawancara tentang sejarah Kelurahan Air Hitam dan Bukit Pinang.
Dan seorang teman mengatakan memang sedang ada lomba penulisan sejarah kota. Sepertinya trend menulis ulang sejarah yang digaungkan oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon menular ke seluruh nusantara.
Dalam hati saya membatin “Sejarah kok dilombakan,”
Mekanisme lomba memang sering bermasalah, banyak hal ketika dilombakan justru kehilangan esensinya.
Sebab lomba mempunyai makna kompetisi, bersaing untuk menjadi juara. Padahal belum tentu tulisan yang menjadi juara lepas dari kelemahan sehingga harus diperbaiki.
Ingat dengan lomba desain IKN, apa yang dirancang oleh pemenang bukanlah yang terwujud sekarang ini.
Jangan-jangan lomba hanya menjadi cara halus untuk mengendalikan penulisan sejarah. Pemerintah sebenarnya sudah punya sejarah dalam versinya sendiri yang diwakili oleh Term Of Reference yang menyertai pengumuman lomba.
BACA JUGA : Bagnaia Mugello
Yang pernah sekolah pasti tahu isi pelajaran sejarah resmi yang diajarkan di kelas-kelas. Dari SD hingga Perguruan Tinggi kita dijejali dengan catatan sejarah, utamanya sejarah perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan hingga mempertahankannya.
Setelah pernyataan kemerdekaan, sejarah kemudian diisi dengan perjuangan mempertahankan persatuan dan kesatuan serta ideologi negara yakni Pancasila.
Belajar sejarah memang penting, namun pelajaran sejarah di sekolah atau sejarah resmi versi pemerintah umumnya dituliskan untuk menonjolkan jasa dan peran pemimpin terkini. Pelajaran sejarah sejak peristiwa G30S/PKI lebih menonjolkan peran Suharto, baik sebagai tentara maupun presiden.
Hampir tak ada cacat cela yang dituliskan tentang Suharto, meski sebagai tentara Suharto sebenarnya sama sekali tak bersih. Sejarah nasional menyembunyikan kesalahan-kesalahan besarnya.
Kelemahan penulisan sejarah versi resmi seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan terjadi hampir di seluruh dunia. Hingga kemudian muncul istilah Historical whitewashing atau pemutihan sejarah.
Model penulisan sejarah seperti ini selalu dibutuhkan oleh negeri-negeri yang dipimpin oleh sosok atau kekuatan politik yang punya masalah di masa silam. Penulis sejarah dipastikan akan mencatat hal-hal yang menguntungkan atau mengharumkan nama pemimpin terkini atau kekuatan politik yang tengah berkuasa.
Kecenderungan seperti ini yang akan dilakukan oleh Fadli Zon yang ingin menulis ulang sejarah Indonesia sebagai hadiah untuk peringatan kemerdekaan pada tahun 2025 nanti.
Ketika muncul tanggapan atas inisiatifnya, Fadli mengatakan sejarah harus ditulis oleh sejarawan, bukan politisi atau aktivis. Itulah sejarah resmi, sebagai hasil karya ilmiah dari sejarawan. Meski begitu adalah bebas setiap pihak menulis sejarah dalam versi masing-masing, tapi tetap itu bukan merupakan catatan sejarah resmi.
Meski ditulis oleh kaum ‘profesional’, ahli sejarah, bisakah sejarah lepas dari kepentingan politik?.
Rasanya sulit, sebab sejarah tetap politis, kepentingan politik penguasa terkini.
Sekurangnya kepentingan politik penulisan sejarah ulang versi Fadli Zon adalah membersihkan nama Suharto dan Prabowo Subianto. Mertua dan mantunya ini sama-sama punya masalah pada peristiwa menjelang reformasi.
Meski telah menjadi ‘mantan mantu’, Prabowo bukanlah orang yang lupa pada budi baik Suharto. Prabowo sadar betul bahwa posisinya saat ini tak lepas dari pengaruh Suharto di masa lalu.
Maka ada balas budi yang hendak dilakukan oleh Prabowo, membersihkan nama Suharto dengan mengangkatnya sebagai pahlawan.
Penulisan ulang sejarah versi Fadli Zon pasti tak lepas dari niat ini.
Sementara untuk Prabowo sendiri, kemenangannya sebagai presiden memberi kepercayaan diri bahwa serangan atas masa lalu yang kelam di waktu reformasi mulai menurun. Prabowo percaya catatan kelam itu bisa dirubah hingga kemudian tangannya tak dikotori oleh peristiwa-peristiwa penculikan aktivis menjelang reformasi 98.
TOR yang ditulis oleh Fadli Zon berupaya memutihkan hal itu termasuk menghilangkan kisah-kisah kelam kekerasan negara dan elemen lainnya pada berbagai peristiwa penting dalam sejarah, peristiwa tahun 65 dan 98.
BACA JUGA : Siapa Menang
Kita tentu tak bisa melarang Fadli Zon untuk menulis ulang sejarah Indonesia. Toh memang sejarah bisa saja terus diperbaiki redaksinya jika ditemukan bukti-bukti baru yang valid.
Tapi pemerintah juga tak bisa melarang masyarakat untuk tidak percaya begitu saja pada tulisan sejarah versi pemerintah. Walau mereka yang sedang belajar di sekolah dan kemudian ujian tak mungkin mengambil sikap itu, kecuali siap untuk tidak lulus ujian.
Sejarah memang tidak pernah bersifat monolit, ada banyak sudut pandang. Maka sejarah berada dalam medan pertarungan narasi. Sebab di tangan penguasa sejarah kerap dijadikan alat legitimasi.
Jadi yang paling penting adalah kritis terhadap sejarah, buka pikiran dan wawasan pada semua versi sejarah.
Biarlah Fadli Zon dengan bantuan para ahli penulisan sejarah menulis ulang sejarah nasional Indonesia. Bisa jadi seperti yang banyak dibahas di berbagai media, Fadli Zon akan mengedit peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan pelanggaran HAM, mulai dari tahun 1965 hingga peristiwa Reformasi 1998.
Biar saja, toh ada banyak catatan sejarah lain tentang peristiwa-peristiwa itu yang begitu meyakinkan. Dicatat oleh tim yang dibentuk secara khusus, misalnya Tim Pencari Fakta.
Dan jika sejarah ‘resmi’ versi pemerintah kurang meyakinkan, situasi atau kondisi ini bahkan menguntungkan untuk para calon ahli sejarah. Mereka bisa melakukan penelitian yang lebih dalam, mengumpulkan data dan fakta yang lebih banyak dari mereka yang direkrut menjadi penulis sejarah ‘resmi’.
Sejarawan-sejarawan baru ini mungkin nanti malah lebih dihormati karena berhasil membongkar fakta-fakta sejarah yang diabaikan atau bahkan sengaja disembunyikan.
Maklumi saja kalau ‘penguasa’ memang kerap menyembunyikan sesuatu yang tidak menguntungkannya.
Tapi percayalah bangkai biar disembunyikan akan meninggalkan bau. Kalaupun bau itu berhasil ditutupi dengan aroma semerbak lain, kelak kalau digali masih ada tulang belulang. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, tulang belulang itu akan bisa bercerita, cerita yang sebenarnya.
note : sumber gambar – TRIBUNNEWS








