KESAH.ID – Kampungnya terbilang kecil, tak lebih dari 200 hektar. Padahal mereka dikenal sebagai peladang yang handal, sehingga ladang-ladang mereka ada di kampung-kampung lain, wilayah konsesi tambang, hutan tanaman industri dan perkebunan. Tradisi berladang mereka kemudian terdesak, kerap dikriminalisasi karena dianggap menyerobot lahan atau dilaporkan membahayakan lingkungan serta usaha perusahaan. Kini ladang mereka masuk di wilayah Ibu Kota Nusantara, akankah nasibnya membaik dan budayanya lestari?
Setelah bertahun-tahun tak kesana, pertengahan Mei lalu saya kembali menginjakkan kaki di Lung Anai. Belum banyak yang berubah termasuk banjirnya. Desa ini jika banjir beberapa titiknya bisa terendam air selama berhari-hari, perahu bisa diparkir di depan rumah.
Tidak banyak lagi yang mengenali saya disini, sehingga ketika berjalan mengitari permukiman desa ini di sore hari beberapa orang yang ditemui di jalan bertanya “Mau kemana?”
Ketika saya menjawab “Mau ke rumah Yurni,” ekpresi mereka berubah menjadi tidak menampakkan kecurigaan atau tanya tentang saya.
Kakak beradik Yurni dan Martinus yang saya kenal baik. Dulu saya sering berkunjung ke rumah orang tua mereka, rumah yang terletak di pinggir dan menghadap Sungai Jembayan.
Arah hadap rumah itu kini telah berubah, membelakangi sungai. Teras rumah yang dulu menjadi tempat terbaik untuk memandang sungai, melihat perahu lalu lalang, kemudian diubah menjadi kamar mandi dan dapur.
Rumah itu kini ditempati oleh Yurni dan Tian, suaminya. Martinus setelah menikah membuat rumah sendiri, rumah beton yang tidak berpanggung lagi.
Relasi masyarakat Lung Anai dengan sungai telah berubah sepuluhan tahun terakhir ini. Mereka tak lagi menggunakan sungai sebagai jalur transportasi, pulang pergi kebun tak lagi berperahu tetapi menaiki motor, kendaraan roda dua.
Sungainya memang berubah, mendangkal di musim kemarau dan banjir di musim penghujan.
Bukaan lahan di hulu sungai ini memang semakin membesar, karena disana ada konsesi tambang dan perkebunan.
Masyarakat Dayak Kenyah Lepoq Jalan yang tinggal di Lung Anai memang unik. Wilayah perkampungannya terbilang kecil. Bisa jadi Lung Anai adalah desa dengan wilayah paling kecil di Kutai Kartanegara, lahannya hanya berupa permukiman sehingga masyarakatnya mesti berladang di kebun-kebun yang berada di desa lainnya, utamanya Desa Sungai Payang.
Menurut cerita lisan, moyang mereka berasal dari Baram, Serawak yang kemudian bermigrasi ke wilayah bentang alam hulu Sungai Kayan dan Sungai Bahau. Orang Kenyah Lepoq Jalan, adalah kelompok yang kemudian berdiam di dataran tinggi Apokayan, di Kecamatan Long Nawang, Kalimantan Utara, wilayah yang berbatasan dengan Malaysia.
Dari hulu mereka kemudian menuju hilir, berpindah ke daerah Bulungan, Mahakam Ulu,Kutai Kartanegara dan Samarinda. Ada kurang lebih 27 kampung Kenyah Lepoq Jalan di Provinsi Kalimantan Timur, ujar tetua masyarakat Lung Anai.
Karena terpencar-pencar, warga Kenyah Lepoq Jalan kemudian sering mengadakan reuni. Acara reuni atau pertemuan silaturahmi itu disebut Pekenoq Tawai.
Dikenal sebagai kelompok peladang tradisional, mereka juga masih mempunyai ritual adat untuk menentukan hari baik menanam yakni Alaq Tau dan upacara Mecak Undat untuk mensyukuri hasil panenan padi.
Dalam upacara Mecaq Undat akan disajikan kue yang berbahan tepung beras dan dimasak dalam bambu. Selain itu ada juga emping padi yang dibuat dari tumbukan biji beras ketan.
Komoditas utama yang ditanam adalah padi gunung atau padi ladang. Ada banyak jenisnya. Orang Kenyah kerap menamai padi dengan nama daerah asal padi itu diambil atau berdasarkan nama orang yang memperkenalkan padi itu.
Kini mereka tak leluasa lagi berladang padi karena lahan tempat mereka bercocok tanam merupakan area konsesi tambang, hutan tanaman industri dan perkebunan kelapa sawit. Mempraktekkan model pertanian tebas bakar bisa membuat mereka dikriminalisasi.

BACA JUGA : Patah Rekor

Bagi masyarakat Kenyah, yang utama untuk menopang hidup adalah gabah di lumbung padi. Setiap rumah mempunyai lumbung, berupa bangunan berpanggung dengan tiang cukup tinggi untuk menyimpan padi. Lepau atau Lepubung, lumbung desa Lung Anai telah lama kosong.
Yurni dan Tian, suaminya masih berladang. Setiap minggunya dari hari Senin sampai Jum’at mereka lebih memilih beraktivitas di ladang. Sabtu dan Minggu mereka akan di kampung untuk beribadah. Orang Kenyah adalah penganut Kristen Protestan yang taat.
Di ladang mereka menjaga dan merawat pohon coklat. Masyarakat Kenyah memang dikenal sebagai pembudidaya coklat yang handal, Mereka mendapat pengalaman dan bibit terbaik dari Malaysia.
Dari hasil panenan coklat mereka bisa mendapat penghasilan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Biji coklat kering dihargai 100 ribu lebih, sementara biji coklat basah berharga 30-an ribu rupiah.
Tapi lagi-lagi panenan mereka terganggu. Ladang bertanam coklat di daerah Gitan kerap terendam banjir. Aliran Sungai Gitan dibelokkan oleh tambang batubara hingga menimbulkan banjir.
Coklat inilah yang membuat kerinduan saya pada Lung Anai membuncah.
Sebelum pemilu presiden yang lalu, saya sempat diminta ikut berbicara dalam sebuah pertemuan. Dalam kesempatan itu saya melihat presentasi sebuah perusahaan tambang yang menampilkan produk coklat siap makan dari Lung Anai.
Walau pengetahuan saya soal percoklatan terbatas, tapi saya tahu mengolah coklat sungguh tak mudah dibandingkan dengan teh dan kopi.
Dalam hati saya tak percaya kalau orang Lung Anai sudah sehebat itu.
Tak mudah untuk merubah dari pembudidaya menjadi pengolah. Untuk para pembudidaya urusan transaksi komoditas hanyalah dengan pengepul, bukan dengan end user atau konsumen akhir yang perlu promosi, marketing dan branding.
Akhirnya saya bisa berdiri di depan Rumah Coklat Lung Anai. Setahu saya gedung itu dulunya merupakan BPU, Balai Pertemuan Umum. Konon gedung itu dibangun dengan dana dari Forum Loa Kulu, forum pemerintah desa dan masyarakat di Kecamatan Loa Kulu yang wilayahnya masuk dalam konsesi tambang batubara.
Pagi hari saya baru bisa masuk untuk menyaksikan isi Rumah Coklat Lung Anai, setelah semalam tidur larut karena menghabiskan waktu berbincang di Pastori, sambil mencicipi rica daging ‘Kijang Rumah’ sebutan mereka untuk anjing.
Satu sisi gedung itu disekat dan dibuat bilik-bilik untuk tahapan produksi coklat. Bilik pertama berisi mesin sangrai, lalu bilik berikutnya berisi mesin penepung dan pembuat pasta. Di ruang produksi utama ada mesin penggayak, mesin pencampur adonan dan lain-lain. Diatas meja ada biji-biji coklat yang sudah jadi dan siap dikemas. Ada coklat dengan campuran keju, original dan mete. Selain itu ada juga coklat hitam, yang kandungan coklatnya lebih tinggi sehingga lebih pahit.
Proses produksi akhir itu bisa disaksikan oleh pengunjung karena salah satu dindingnya dipasangi kaca. Pengunjung bisa melihat dari luar karena ruang produksi mesti dijaga sterilitasnya.
Operasi ruang produksi ini mahal karena tiap ruangan dilengkapi AC yang butuh daya listrik besar.

BACA JUGA : Lemang Menjaga Nyala Subsistensi Energi

Lepau atau Lepubung, lumbung padi Desa Lung Anai.Saya bukan penggila coklat sehingga tak mencuri kesempatan untuk mencicipi sepuas mungkin biji siap makan yang ada di baki-baki ruang produksi. Sebutir saja cukup dan kemudian saya mengemas sendiri dengan bungkus aluminium foil. Saya kemudian memasukkan ke dalam kotak kemasan, sekotak berisi delapan butir dan membayar 40 ribu rupiah per kotak.
Coklat premium. Ya coklat Lung Anai dibranding sebagai coklat premium yang harganya jauh lebih mahal dengan coklat kepingan dengan merek terkenal yang beredar di pasaran. Coklat yang menjadi favorit kaum muda di Hari Valentine.
Setelah memperhatikan dengan seksama, kotak kemasan coklat Lung Anai yang bernuansa kecoklatan itu, saya berkesimpulan kalau yang punya kepentingan besar atas produk coklat ini adalah perusahaan tambang.
Ya nuansa ilustrasi kotak kemasannya sangat ‘Tambang Batubara’ sekali. Dan lebih menonjol lagi karena ada elemen tulisan yang dilatari bulatan hitam berulis CSR dari perusahaan tambang.
Saya tak tega bertanya kepada mereka yang terlibat dalam produksi Coklat Lung Anai perihal benefit ekonomi yang mereka peroleh. Tapi nampaknya mereka masih bekerja ‘Padamu Negeri’. Atau dalam bahasa seorang kawan diistilahkan sebagai 4 M, Makasih Mas Makasih Mbak.
Tapi ya sudahlah, sebab ada urusan lain yang justru lebih strategis dan berat buat masyarakat Lung Anai utamanya dalam mengawetkan pengetahuan dan ekpresi budaya tradisional mereka wilayah budidaya dan budaya mereka dalam perladangan kini masuk dalam wilayah Ibu Kota Nusantara.
Bagaimana budaya budidaya tradisional mereka dalam perladangan kemudian bisa diterima dan diakui oleh Otorita Ibu Kota Nusantara justru yang menjadi lebih penting untuk menjamin masa depan kehidupan mereka agar tak kehilangan identitas kulturalnya.
Desa Lung Anai lahir dari sebuah visi kebudayaan. Disebut desa budaya agar bisa menjadi pustaka hidup dari sebuah kebudayaan yang dihidupi oleh masyarakatnya.
Masa depan kebudayaan mereka yang berbasis pada lahan perladangan mestinya bakal lebih cerah ketika masuk dalam wilayah IKN. Sebab kita tahu salah satu aspek penting dari IKN adalah Kota Hutan.
Kota Hutan adalah kota lanskap yang berstruktur hutan untuk menghasilkan jasa ekosistem yang menciptakan kehidupan yang berdampingan dengan alam. Maka pertambangan, perkebunan mono kultur dan industri kayu hutan jelas tak mendapat tempat karena tidak akan membangun ekonomi sirkular.
Dan masyarakat Lung Anai dengan semua kesulitan berhadapan dengan tambang, hutan kayu industri dan perkebunan, masih kukuh bertahan menerapkan ekonomi sirkular lewat pola budidaya yang rendah residu lewat asupan nutrisi alami yang berasal dari lanskap hutan.
Sebuah pola budidaya dan budaya yang harusnya compatible dengan visi IKN, ibu kota yang bersahabat dengan alam yang perlu didukung lewat budaya yang juga dekat dengan alam untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi lainnya.
Semoga IKN menjadi ujung dari peziarahan masyarakat Lepoq Jalan untuk memastikan kehidupan mereka sehingga tak perlu berkelana lagi untuk menemukan ladang kehidupan mereka.
note : sumber gambar – KESAH.ID








