KESAH.ID – Samarinda akan segera punya terowongan pertamanya. Terowongan Samarinda ini menghubungkan antara Jalan Kakap dan Jalan Sultan Alimuddin. Tujuan pembangunannya adalah mengurai kemacetan di Jalan Oto Iskandar Dinata yang dulu dikenal sebagai Jalan Tenggiri. Terowongan dengan panjang kurang lebih setengah kilo ini melubangi Bukit Steeling, jajaran perbukitan yang berada di pinggir Sungai Mahakam.
Indonesia merupakan salah satu masyarakat yang mempunyai banyak urban legend. Kisah hantu-hantunya melebihi 1001 jenis, karena semua hal bisa berhantu.
Keberadaan terowongan selalu dikaitkan dengan kisah-kisah mistis. Terowongan Casablanca kemudian populer karena difilmkan.
Aroma mistis terowongan ini memang sudah bermula dari pembangunannya. Terowongan dibangun dengan menggusur kuburan, sehingga terbilang angker sejak semula. Terowongan ini dibangun untuk menghubungkan kawasan bisnis di Jalan Sudirman Jakarta dengan kawasan Jalan Jatinegara.
Ketika difungsikan, terowongan ini memang mudah diingat karena sering kali terjadi kemacetan pada jam-jam sibuk, jam berangkat dan pulang kantor.
Jauh sebelum berkembang urban legend Terowongan Casablanca, ada banyak cerita horor di terowongan lainnya. Umumnya adalah terowongan kereta api, bukan underpass seperti Casablanca.
Jalur kereta api yang dibangun oleh Belanda memang mempunyai banyak terowongan agar rel terhubung dengan cara melubangi perbukitan. Beberapa nama terowongan menjadi legenda, seperti Terowongan Wilhemina, Terowongan Saksasaat, Terowongan Eka Bakti Karya, Terowongan Sawahlunto, dan Terowongan Mrawan. Panjang kelima terowongan ini antara 500 hingga 1000 meter lebih.
Masih ada banyak terowongan lain. Jika naik kereta api dari Jakarta hingga Kutoarjo, kereta lewat jalur selatan akan melewati terowongan Kebasen, Notog, dan Ijo. Kabarnya ketiga terowongan ini dinonaktifkan setelah pembangunan rel kereta api jalur ganda.
Dan jika menaiki kereta api dari Kutoarjo ke Yogyakarta, juga akan melewati terowongan underpass. Nanti di Stasiun Tugu Yogyakarta juga ada terowongan underpass. Bukan untuk dilewati oleh kereta tetapi penumpang karena menghubungkan antara peron selatan dan utara.
Kenapa banyak terowongan pada jalur kereta api?. Karena kereta sulit untuk menanjak jadi jalur rel tidak dibangun menyesuaikan dengan kontur tanah. Maka ketika terhalang bukit, bukitnya bisa dibelah atau dilubangi.
Samarinda juga akan segera mempunyai terowongan. Terowongan Samarinda ini akan menjadi terowongan pertama di Kalimantan Timur. Bukan untuk dilewati kereta api melainkan kendaraan bermotor.
Terowongan yang menghubungkan Jalan Sultan Alimuddin dan Jalan Kakap ini melubangi Bukit Steleng. Dengan panjang sekitar 690 meter, tinggi dan lebar sekitar 15 meter, kehadiran terowongan ini diharapkan mampu mengurai kemacetan di Jalan Oto Iskandar Dinata, Sungai Dama.
Dibangun sejak tahun 2022, Terowongan Samarinda saat ini tinggal menunggu sentuhan akhir untuk segera dioperasikan.
Beberapa kali meninjau pembangunan terowongan ini, Andi Harun Walikota Samarinda menyatakan puas dengan perkembangannya. Dia berharap Terowongan Samarinda akan menjadi kebanggaan masyarakat karena dibangun dengan APBD.
Bisa jadi Terowongan Samarinda menjadi ikon baru Kota Samarinda yang lebih meyakinkan daripada Patung Pesut Merah yang warnanya cepat luntur itu.
Tapi bisa jadi Terowongan Samarinda juga akan berkembang menjadi urban legend baru Kota Samarinda mengantikan kisah tentang Hantu Banyu, Parang Maya, Kuyang dan hantu Anak Belanda.
Sebab arah masuk dari sisi barat yakni Jalan Kakap, selain melewati depan Rumah Sakit Jiwa Atma Husada Mahakam, berarti juga melewati sisi Rumah Sakit Islam yang terlantar.

BACA JUGA : Dikutuk Air
Sewaktu Susur Gang Samarinda lewat flyer memberi tahu akan menyusuri jalur Bukit Steling, banyak yang bertanya akan lewat terowongan atau tidak?.
Dari titik berangkat mulut terowongan memang kelihatan dari kejauhan. Namun tak melewati depan terowongan karena Susur Gang mengambil sisi Jalan Pesut ke arah Jalan Lumba-Lumba.
Namun nanti ketika diatas Puncak Steling, puncak yang dijadikan lokasi wisata bukit pandang itu, beton penguat mulut terowongan akan kelihatan. Perjalanan menuruni Puncak Steling menuju Jalan Oto Iskandar Dinata akan melewati punggung terowongan.
Beberapa orang masih menyimpan keinginan untuk melihat terowongan dari dekat.
Dan Wahyu, yang biasa kami panggil Wahyu Guru untuk membedakan dengan Wahyu lainnya yakni Wahyu Geologi, memberi usul untuk Susur Gunung Steling lanjutan.
Kali ini mengambil jalur yang berbeda, berangkat dari Jalan Oto Iskandar Dinata atau dulu dikenal dengan nama Jalan Tenggiri. Dari Gang Steeling yang punya gapura bertuliskan Kampung Wisata, susur gang tidak langsung menaiki ke puncak, melainkan menyusuri punggungan lereng perbukitan menuju arah Gunung Manggah.
Setelah menyusuri kawasan permukiman yang padat dengan kelokan tanjakan gang yang beberapa diantaranya ekstrim, akhirnya keramaian jalan Gunung Manggah kelihatan. Kami berada diatas bukit belakang tumpukan kayu yang berada di tanjakan jalan Gunung Manggah.
Wahyu menunjuk satu rumah, sembari membandingkan dengan foto yang ada di HP-nya.
“Rumah ini sudah ada waktu jalan membelah bukit ini dibuat,” ujarnya.
Rumahnya belum berubah, masih sama seperti foto lawas. Hanya lingkungan kesekitarannya yang sudah berubah.
Tak lama sesudah rumah tua itu, di sisi gang terlihat seperti ada jurang. Pinggirnya dipasang pagar seng. Ternyata di bawahnya adalah pintu keluar/masuk terowongan pada sisi timur yang berada di Jalan Sultan Alimmudin.
Ada sebuah peringatan kecil, banner plastik cetakan bertuliskan “BAHAYA, BERADA DI TEPI JURANG. TANAH MUDAH LONGSOR” disertai peringatan dalam bahasa Inggris dengan huruf yang lebih kecil “DANGER NEAR EDGES LAND SLIDE”. Dari logo yang ada di banner itu, pemasangnya adalah PT PP Tbk.
Memang agak ngeri-ngeri sedap. Jurangannya memang ada di tepi jalan gang, yang terlihat jelas dari teras beberapa rumah warga.
Kamipun melewati punggung bibir terowongan.
Dan tak jauh darinya kemudian ada pemandangan hijau, lahan dengan tanaman yang nampak cukup padat dan telah melewati tahap seleksi alam.
Mungkin ini Bukit Sejuk yang disebut oleh Wahyu Guru ketika menerangkan rute yang akan dilalui.
Dan memang sejuk, aneka pepohonan cukup rapat. Selain pohon buah dan pohon liar lainnya, banyak tumbuh pohon aren. Terlihat disana-sini ada juga rumpun bambu. Jalanan tanah, membuat kaki harus hati-hati melangkah.
Berada di tengah kerimbunan terdengar bunyi dahan berderik. Seperti ada yang melompat dari dahan ke dahan. Ternyata Gunung Sejuk dihuni oleh primata, ada monyet, beruk dan bekantan walau wujudnya tak sempat kami lihat.
“Ini mereka sering minum disini,” ujar Wahyu menunjuk anak sungai kecil yang aliran airnya jernih.
Konon anak sungai ini melintasi punggung Terowongan Samarinda, menuju Jalan Otista.

BACA JUGA : Marquez Brothers
Setelah melewati beberapa turunan dan tanjakan lewat jalan setapak yang cukup licin, akhirnya kami sampai di bukit pandang, destinasi wisata Bukit Steeling yang cukup ramai menjelang sore dan malam hari.
Kami hanya melewati saja, tidak singgah. Karena kalau singgah akan dipunggut karcis masuk.
Jalur berikutnya cukup rata, hanya turunan dan tanjakan kecil. Sebagian jalannya cukup lebar dengan lantai beraspal dan kerikil. Konon dulu pernah dibangun jalan namun urung karena sering longsor. Tapi ada juga yang menyebut kalau aspal dan kerikil putih yang tersingkap itu adalah bekas helipad.
Namun sepertinya jalan yang tak jadi yang lebih masuk akal karena ada penampakan cukup panjang ruang bekas pembangunan jalan yang kemudian telah ditumbuhi pepohonan.
Ada tiga titik pandang yang umumnya disinggahi oleh mereka yang menaiki Bukit Steeling. Dan setelah puncak pandang pertama, kami menuju puncak pandang terakhir. Lokasi yang sempurna untuk memandang Sungai Mahakam dari ketinggian. Lokasi yang masih dibiarkan tanpa penataan dan karcis masuk.
Mentari mulai surup ke barat. Pengeras suara masjid mulai terdengar untuk mengingatkan waktu Magrib menjelang. Kami cepat-cepat turun walau tak bisa segera karena mesti melewati jalan tanah yang curam yang kalau terpeleset bisa membuat badan terguling cukup jauh ke bawah.
Rasanya lega setelah melihat permukiman, langkah menjadi lebih lancar karena jalanan yang menurun telah dilapisi semen. Dan tak berapa lama, Jalan Lumba-Lumba yang ramai dengan lalu lalang kendaraan orang pulang kerja terlihat.
Kami menyusuri Jalan Lumba-Lumba menuju jalan Kakap. Dari depan Rumah Sakit Jiwa Atma Husada Mahakam atau samping Rumah Sakit Islam yang terbengkalai terlihat tambalan besar di dinding bukit. Itulah pintu masuk/keluar Samarinda Tunnel bagian barat.
Makin lama makin jelas, dan gerbang proyek yang sedikit terbuka membuat pintu terowongan bisa kelihatan dari kejauhan.
Sebelum berbelok ke gang menuju Jalan Otista, saya memanfaatkan kesempatan untuk mengambil gambar mulut terowongan. Dan tak lama kemudian ada teriakan “Jangan ambil foto” dari sekumpulan orang di pos jaga.
Ternyata di sisi gerbang ada spanduk bertuliskan “Dilarang memotret atau menerbangkan drone”.
Tapi tombol shutter sudah terlanjur ditekan.
Saya mendengar ada yang berteriak “Hapus”.
Tapi karena tak ada yang mengejar, apa yang tersimpan di kamera HP tak saya hapus.
Di sepanjang jalan dari bibir Terowongan Samarinda sampai Gang Kampung Wisata, kami berbincang soal bagaimana terowongan bisa mengurai kemacetan di Otista. Sulit untuk dibayangkan, tapi biarlah waktu menjawab ketika nanti Terowongan Samarinda diresmikan dan dibuka.
note : sumber gambar – SUSUR GANG SAMARINDA








