KESAH.ID – Pertamina lagi-lagi bikin cerita. Namun kali ini ceritanya membuat banyak orang meradang dan tertipu. Konsumen Pertamina dengan kasus yang digambarkan oleh media merasa diprank, karena sebagian menduga pertamav ternyata rasa pertalite. Modus korupsinya mungkin rumit, tapi kemudian disederhanakan dengan istilah oplosan. Tapi kemungkinan juga tidak sesederhana itu, karena mengoplos adalah pekerjaan yang mudah dan mudah pula ditemukan atau dipergoki oleh pemeriksa. Karena setiap saat produk Pertamina diperiksa, baik secara internal maupun eksternal.
Di kedai kopi ada barista yang betugas meracik kopi sesuai pesanan pelanggan. Sedangkan di bar, ada bartender yang bertugas membuat minuman dan menentukan harganya. Bartender sering disebut juga sebagai barkeep,barman, barmaid atau mixologist.
Salah satu ketrampilan dari bartende adalah mencampur minuman. Campuran minuman yang mengandung alkohol disebut dengan coktail atau mojito.
Margarita, martini,old fashioned, mimosa, moscow mule, cosmopolitan, bloody marry, aperol spritz, wiskey sour, white russian, gimlet, daiquiri, boulevardier, gin fizz, sazerac, negroni, manhattan dan mojito adalah nama-nama resep coktail yang melegenda.
Coktail mempunyai dasar minuman keras seperti wiskey, vodka, rum, tequila dan gin yang kemudian dicampur dengan komposisi tertentu bersama air soda, air sirup, jus, tonik, jeruk atau lemon, gula dan lain-lain.
Bartender akan memadukan rasa semua campuran menjadi harmonis, seimbang antara manis, asam, pahit, asin dan gurih.
Dengan dikemas dan diracik menjadi coktail, minuman beralkohol rasanya tidak flat atau cenderung pahit saja.
Aroma menusuk hidung dan nyegrak di tenggorokan mungkin juga hilang.
Coktail sebenarnya tidak hanya berbahan minuman berakohol dari luar negeri. Di Bali dulu dikenal coktail dengan nama Arak Attack. Campuran dari arak Bali, sprite dan perasan air jeruk nipis, rasanya masih nendang juga.
Kebiasaan mencampur menuman beralkohol dengan bahan lain sebenarnya muncul juga dalam komunitas atau masyarakat yang doyan minum.
Di Manado, sekitar tahun 90-an terkenal sebutan cakol singkatan dari cap tikus coca cola. Selain itu di Tondano dikenal minuman bernama adonan, campuran antara cap tikus dan jus alpukat. Waktu itu juga dikenal minuman selundupan dari Philipina, wiskey cola. Minuman dengan karakter mabuk pelan, diminum malam mabuknya pagi.
Selain itu ada yang disebut pinaraci, cap tikus yang dicampur dengan daun, akar-akar dan lain-lain. Aneka bahan yang mirip seperti campuran jamu godog. Bahan-bahan direndam cukup lama dalam cap tikus sehingga rasanya akan berubah, mirip-mirip jamu. Maka pinaraci sering dikategorikan sebagai minuman kesehatan.
Di sekitar Gunung Klabat dikenal saledo, cap tikus yang dimasak lagi dengan gula merah. Warnanya jadi kecoklatan dengan sedikit rasa manis. Bikin yang minum keenakan namun tahu-tahu tidak bisa berdiri, pulang atau masuk ke rumah dengan merayap.
Kebiasaan mencampur-campur ini terus berkembang. Nanti ada cap tikus dicampur sirup markisa, atau kasegaran dengan susu ducth lady coklat. Kelak ada juga yang mencampur cap tikus dengan teh botol, yogurt dan lain-lain.
Tapi yang namanya campur mencampur terkadang bernuansa pujungan, atau sok-sok-an. Ada yang mencampur cap tikus dengan bensin, thinner, pil ctm, etanol, alkohol medis dan lain-lain. Hasilnya banyak yang tumbang, meninggal berjamaah.
BACA JUGA : Marquez Brothers
Di Jawa ketika jaman becak merajalela, tukang becak punya prinsip ‘sing penting mumet’ atau yang penting cepat mabuk.
Mereka ini kemudian menjadi bartender amatiran. Dengan pendapatan yang terbatas namun suka party-party untuk melupakan kepenatan hidup, prinsip utama mixologist mereka adalah murah tapi joss.
Jadi yang dicampur adalah alkohol murni dengan minuman perasa, entah coca-cola, sprite, fanta dan lainnya. Bahkan kadang modal sprite saja yang dicampur dengan gerusan pil pereda sakit kepala.
Banyak juga yang tumbang.
Campur mencampur ini juga ada di kelompok anak jalanan. Yang sering dioplos adalah obat batuk cair, bisa ditambah alkohol medis dan bahan lain.
Campuran yang kemudian populer sekarang ini dinamai gaduk, kependekan dari gajah duduk. Alkohol medis dicampur dengan minuman energi. Bukannya bersemangat, tapi malah bikin yang minum jadi ndeprok, seperti gajah duduk yang sulit untuk berdiri.
Urusan oplosan sebenarnya bukan hanya minuman. Minuman dioplos untuk cari senang, sementara yang lainnya dioplos untuk cari uang.
Dulu dikenal bensin atau solar oplosan. Entah dicampur air atau minyak tanah.
Ada juga oli dan solar oplosan.
Kalau minyak wangi oplosan memang biasa. Dengan pengetahuan kimia, meracik minyak wangi sah-sah saja. Yang beli juga senang, dapat harga murah yang wanginya setara dengan minyak wangi berharga jutaan.
Pendeknya banyak hal lain dioplos. Dan campur mencampur itu bisa baik maupun tak baik, semua tergantung niat dibaliknya.
Oplosan bisa disebut baik jika pencampurannya dapat menghasilkan material yang punya value added lebih tinggi. Hasilnya bisa memperoleh rewards yang lebih tinggi pula.
Hanya saja oplosan bisa saja tidak baik, bahaya bahkan jahat.
Bahaya kalau yang dioplos untuk jadi makanan atau minuman atau bahan lain yang kemudian berbahaya untuk pemakainya. Misalnya yang dioplos adalah bahan makanan kedaluwarsa dan tambahan seikit bahan yang masih baik. Atau minuman yang dioplos dengan bahan yang tidak ditujukan untuk konsumsi.
Selain tidak baik, pencampuran ini juga merupakan kejahatan jika yang mengkonsumsi tidak tahu atau tidak turut serta melakukan pengoplosan. Tapi kalau yang mengkonsumsi terlibat aktif, itu namanya tolol.
Ada banyak kejahatan oplosan. Tujuannya adalah mencari untung sebanyak mungkin dengan modal yang sesedikit mungkin. Jahat karena orang lain membayar lebih tinggi dari seharusnya plus resiko bahaya untuk dirinya dan kerugian lain misalnya mesin kendaraan yang rusak jika yang dibeli adalah bbm atau oli oplosan.
Saking populernya oplosan di negeri kita ini, salah satu lagu yang digemari oleh mereka yang suka goyang gemoy judulnya adalah oplosan.
BACA JUGA : Samarinda Tunnel
Dan beberapa waktu terakhir ini oplosan kembali naik daun. Ada dugaan oplosan dilakukan bukan oleh tukang becak, penjahat teri, pedagang kecil, melainkan oleh orang-orang elit. Yang dituduh melakukan oplosan adalah orang terdidik, berasal dari keluarga terhormat karena karir dan kedudukannya dalam masyarakat.
Tuduhan oplosan kali ini agak membingungkan.
Yang dijadikan tersangka diduga melakukan pengoplosan dengan cara membeli BBM dengan RON rendah memakai harga BBM RON tinggi. Kemudian ‘dioplos’ lalu dijual kembali sebagai BBM dengan RON tinggi.
Kasarnya, membeli bahan pertalite dengan harga pertamax, lalu di’oplos’ dan dijual dengan harga pertamax.
Jadi pertamax yang dibeli atau yang beredar sebenarnya sebagian adalah pertalite.
Wow, jahat dan kasar sekali mainnya.
Jahat karena dampaknya sangat luas, yang dirugikan banyak kalau hal itu benar.
Kasar karena cara mainnya tidak canggih sama sekali namun berhasil.
Ini aneh karena Pertamina itu bukan perusahaan kelas pinggir jalan. Ada SOP disetiap tahapannya, ada QC yang dilakukan oleh lintas institusi, baik internal maupun eksternal. Jadi menemukan atau menenggarai BBM abal-abal tak butuh waktu lama.
Jadi ini apa, benarkah ‘oplosan’. Kalau benar bisa mengoplos RON rendah dengan bahan additif lain lalu RON-nya naik apa itu justru bukan inovasi?.
Mungkin istilah oplosan hanya pengalihan. Sebab sesungguhnya yang terjadi adalah fraud besar.
Ketidakefisienan dalam tata kelola bahan bakar minyak, membuka celah para pihak pencari untung. Para pencari untung ini membuat skema yang bisa mengalirkan sebagian uang dari tata niaga bahan bakar minyak ke kantong mereka dan kantong-kantong lain.
Presiden Joko Widodo dianggap mampu membongkar mafia migas. Yang waktu itu dibubarkan adalah Petral. Namun bubar tak berarti hilang, justru operasinya malah tak kentara karena berubah wujud.
Ini mirip perusahaan yang dipailitkan karena tak mampu membayar kewajiban pada badan usaha lain atau lembaga pembiayaan. Dan kemudian kurator menjual perusahaan pailit itu kepada pemilik sebelumnya yang memakai nama orang lain agar tak kentara.
Pemilik lama yang kembali menjadi pemilik baru untung, karena kehilangan kewajiban untuk membayar barisan tagihan yang sebelum itu menghantuinya.
Mafia migas dianggap hilang padahal mereka tetap ada dalam tata kelola dan tata niaga BBM dengan wajah-wajah baru, organisasi, institusi atau anak usaha baru.
Urusan oplosan ini gampang dibuktikan. Jadi tak perlu diduga-duga dan diobral-obral. Atau jangan-jangan itu kesengajaan untuk menutupi hal yang sebenarnya terjadi. Permainan kotor dan jorok yang sudah mendarah daging di perusahaan yang mengurusi hajat hidup orang banyak itu.
note : sumber gambar – KLIKDOKTER








