KESAH.ID – Mudah sekali kita menyebut kembali ke alam. Padahal cara hidup kita telah jauh melampaui algoritma alami. Hampir segala sesuatu di dunia ini adalah buatan, bahkan sebagian dibuat-buat. Fakta di dunia ini sebagian besar adalah fakta yang dikontruksi, fakta yang dibuat dan kemudian dianggap sebagai kebenaran karena disetujui oleh komunitas. Sebutan alamiah kemudian terkesan anekdotal, kalau tak mau disebut dibuat-buat demi pemasaran.
“Ah, kamu nggak alami”
“Poohh…., alami ndasmu. Kalau alami kamu nggak makan nasi. Kamu makan gabah,”
“Xxxcjklakk##@@%%%,”
Entahlah kenapa sebagian dari kita suka betul menyalahkan cara hidup orang lain sebagai nggak alami, nggak organik dan seterusnya.
Padahal mana ada manusia yang alami. Sejarah dan peradaban manusia tak lagi alami setelah nenek moyangnya mampu menguasai api.
Dengan api manusia mulai meninggalkan kehidupan alamiahnya.
Manusia yang awalnya merupakan mahkluk medioker begitu menguasai api langsung naik kelas.
Sebelum menguasai api, jangan dibayangkan manusia adalah mahkluk kuat. Waktu itu berhadapan satu persatu dengan anjing hutan saja kalah. Apalagi dengan Anoa, Babi Hutan, Banteng, Gajah, Badak dan lain-lain.
Kemampuan manusia untuk menahklukkan binatang lain hanya pada binatang-binatang kecil. Seperti jenis unggas-unggasan, serangga, ulat dan lainnya.
Begitu menguasai api, manusia punya senjata pertama. Hewan pada umumnya takut dengan api.
Api kemudian memberi keuntungan evolusi kepada manusia. Dengan api kualitas makanan manusia lebih baik, makan menjadi menyenangkan untuk manusia dan tak menguras tenaga.
Bayangkan sendiri, jika makanan tak dimasak. Berapa lama waktu yang dibutuhkan perut untuk mencerna berbagai makanan mentah yang masuk ke mulut. Butuh berjam-jam untuk mencerna dan hasilnya energi yang diperoleh juga tak sebesar ketika makanan dimasak. Energi seseorang bahkan bisa habis untuk mencerna makanan.
Dengan api keragaman makanan manusa juga meningkat. Biji-biji yang keras kemudian bisa dikonsumsi, dibakar, direbus dan lainnya membuat makanan menjadi lunak, mudah dikunyah.
Sekali lagi coba bayangkan bagaimana rasanya mengunyah gabah, kedelai, jagung, kacang polong dan lain-lain yang tidak dimasak?.
Jadi apilah yang pertama membawa manusia melampaui batas alamiahnya.
Karena api manusia kemudian punya waktu luang dan kesempatan bersosialisasi.
Pada malam hari disaat langit gelap, api ungun bukan hanya membuat hanggat tetapi juga bisa menjadi penerang untuk berkumpul. Duduk mengelilingi api unggun di malam hari manusia kemudian mengembangkan bahasa, kosa katanya berkembang pesat dalam waktu puluhan atau ratusan tahun.
Dengan bahasa manusia kemudian juga keluar dari kondisi alamiah. Bahasa bisa menciptakan fakta atau kebenaran.
Berkumpul, mengisi waktu luang dengan kemampuan bahasanya manusia kemudian membuat cerita, kisah-kisah rekaan yang sebagian dipercaya dan kemudian merubah ruang sosial.
Komunitas yang mulanya gerombolan kemudian semakin membesar ikatannya karena cerita. Kisah seseorang yang dipercaya, membuatnya menjadi kepala suku. Kelompok-kelompok kecil kemudian menjadi kelompok besar yang diikat oleh cerita yang dipercaya.
Cerita tentu merupakan kisah rekaan, namun karena dipercaya kemudian menjadi kebenaran komunal. Kebenaran inilah yang mengikat, orang-orang yang berada dalam kelompok diikat oleh keyakinan, misalnya mereka yakin sebagai keturunan ini dan itu.
Cerita yang tidak sebenarnya itu kemudian mampu menyatukan sekolompok manusia dalam jumlah yang besar, hal yang sangat jarang bisa ditemui dalam komunitas atau koloni binatang lainnya.
BACA JUGA : Samarinda Tunnel
Dengan bahasa manusia kemudian bisa mengungkapkan pikiran. Sementara pikiran itu bebas, pikiran bisa melayang tinggi karena manusia bisa berimajinasi. Imajinasi manusia mengatasi atau melampaui alam, ruang dan waktu. Imaji bukanlah hal yang alamiah. Dengan imajinya manusia bisa menghadirkan realitas-realitas di luar hal-hal duniawi.
Api dan bahasa kemudian membuat manusia menjadi makin tidak alamiah.
Dengan bahasa pengetahuan manusia menjadi lebih cepat berkembang, kemampuan kognisinya juga melonjak pesat. Manusia menjadi semakin tak nyaman dengan kondisi alamiahnya, yang alamiah dianggap menghambat perkembangan. Lahirlah teknologi, alat bantu yang membuat manusia menjadi mahkluk yang semakin meningkat kedudukannya dalam piramida kehidupan.
Teknologi semakin membuat manusia menjadi tidak alamiah. Karena sesungguhnya teknologi adalah kecerdasan buatan yang membuat manusia mampu melakukan hal-hal diluar kemampuan alamiahnya.
Teknologi transportasi misalnya mulai yang paling sederhana sudah mampu meningkatkan kemampuan manusia dengan sangat pesat. Manusia yang sebelumnya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan jalan kaki, mempunyai daya jangkau yang terbatas, juga daya angkut yang terbatas pula.
Dengan gerobak, daya jangkau manusia makin jauh dan daya angkutnya juga meningkat. Pun ketika sepeda ditemukan, jarak tempuh bisa makin jauh dan waktu tempuh bisa makin dipersingkat.
Tenologi membuat energi dalam diri manusia menjadi semakin kecil konsumsinya. Karena teknologi kemudian digerakkan oleh energinya sendiri. Mulai dari energi hewani, seperti gerobak yang ditarik oleh kuda, kerbau atau sapi. Manusia tinggal duduk-duduk, mengendalikannya.
Dan kemudian makin berkembang dengan kehadiran mesin. Kemampuan orbitrasi manusia menjadi semakin meningkat ketika mesin hadir. Jarak dan waktu tempuh dipangkas, daya angkut meningkat dengan sangat ekstrim.
Pengetahuan dan teknologi membuat manusia semakin jauh dari kondisi alamiahnya.
Yang alamiah bahkan kemudian dianggap primitif, ketinggalan jaman. Yang mempraktekkannya dianggap sebagai orang miskin, orang dengan SDM rendah.
Praktek-praktek pemanfaatan sumberdaya alamiah secara langsung dianggap tidak efektif, boros waktu dan kurang menguntungkan.
Secara alamiah, manusia mengeringkan sesuatu dengan menjemur dibawah sinar matahari. Pengeringan menjadi salah satu teknologi untuk pengawetan, selain itu ketika mulai menguasai api, pengeringan dan pengawetan dilakukan dengan pengasapan.
Namun tuntutan produktifitas, membuat cara mengeringkan secara alamiah dengan sinar matahari dianggap tak efektif. Sinar matahari fluktuatif, berharap pada sinar matahari bisa membuat produk turun mutunya karena tidak mengering secara sempurna dan merata. Pun tenaga yang dibutuhkan juga besar.
BACA JUGA : Mental Oplosan
Nah, masihkah kamu doyan merasa sok alamiah lalu suka membully teman sendiri yang dianggap tak alamiah?.
Faktanya dunia makin tak alamiah. Semua serba buatan, serba over proses.
Kamu boleh menyebut alamiah karena masih doyan mengkonsumsi buah-buahan segar. Tapi sadarkah bahwa sebagian dari buah-buahan yang populer saat ini bukanlah tumbuhan atau buah-buahan yang alamiah. Buah yang sekarang digemari merupakan hasil dari pengembangan yang dilakukan lewat rekayasa, saling silang sana sini oleh tangan-tangan para pemulia tanaman.
Atas salah satu cara superioritas kita yang merasa alami sering kali muncul dalam istilah organik. Kita merasa alami jika mengkonsumsi sayur, buah, daging, ayam dan lain-lain yang disebut organik itu.
Benarkah organik itu alamiah?. Atau bahkan yang lebih parah, sebagian menyangka kalau organik itu artinya bebas kimia.
Istilah bebas bahan kimia ini agak rancu, karena segala sesuatu sesungguhnya kimia. Kita juga mahkluk kimia, hari-hari kita untuk hidup juga butuh kimia. Kita menghirup udara, O2, itu kimia, kita juga meminum H2O itu juga kimia.
Makanya dalam soal makanan, kemudian ada pergeseran dari kampanye organik menjadi wild food. Makanan super itu adalah bahan makanan yang tumbuh liar, tidak ditanam, tidak dipelihara dengan tambahan pupuk, tidak dirawat dengan pestisida.
Tapi benarkah wild food lebih baik dari tanaman yang sengaja ditanam dan dipelihara oleh petani?. Tidak ada jaminan juga.
Istilah-istilah ini lebih sering berhubungan dengan marketing atau dagang.
Organik dan lainnya adalah istilah yang kerap dipakai oleh para pedagang atau penjual agar dagangannya lebih punya value dimata konsumen. Dengan punya nilai lebih, harganya juga akan lebih.
Aneh memang, manusia yang sudah tidak alamiah masih saja terobsesi dengan hal-hal yang alamiah.
Padahal yang alamiah sesungguhnya kontradiktif dengan ekonomi pertumbuhan yang menjadi mazhab sebagian besar negara, pemerintah dan masyarakat.
Validitas soal alamiah sebenarnya ada di masyarakat adat, yang jumlahnya kecil. Mereka karena masih homogen kemudian bisa menetapkan batas dan menyepakai aturan bersama yang memungkinkan mereka membatasi aktivitas berlebihan dalam memanfaatkan sumber alam.
Tidak banyak kelompok masyarakat adat yang seperti itu, yang berani memutuskan untuk menghentikan langkah kedepan, agar lingkungannya tetap terjaga alamiah.
Langkah ini adalah langkah pengorbanan, sehingga desanya tak perlu energi listrik. Pakaian yang dipakai juga tak bisa bergonta-ganti gaya serta warnanya. Apa yang dinikmati oleh banyak masyarakat lainnya dihindari oleh mereka.
Jadi sesungguhnya menjadi atau kembali alamiah adalah sebuah perjuangan yang berat. Karena kelompok masyaraka harus menetapkan batas yang tidak boleh mereka lewati. Dan rasanya sebagian besar kelompok masyarakat kita tak mau melakukan hal itu. Kita ingin maju tanpa batas, yang artinya kita semakin jauh meninggalkan kealamiahan.
note : sumber gambar – MONSTERAR








