KESAH.IDJarang-jarang di Kota Samarinda ada jalan atau gang bernama Keramat. Nama yang banyak dipakai adalah Rahmat. Tapi tak jauh dari Sungai Mahakam ada jalan bernama Keramat, jalan itu memang menuju ke arah pemakaman yang sejarahnya bermula dari cerita rakyat di sekitar Sungai Kerbau. Makam ini kemudian dikeramatkan, terutama saat jaman judi angka atau nalo dilegalkan. Dan lama kelamaan bahkan diziarahi layaknya makam tokoh yang mensyiarkan agama Islam. Padahal dari telaah rentang waktu kejadian, jelas pada masa itu Kerajaan Kutai Kartanegara belum menjadi Kerajaan Islam atau Kesultanan.

Perasaan, saya termasuk dalam golongan orang yang suka jalan-jalan. Namun nyatanya jam terbang saya menyelinap ke berbagai penjuru Kota Samarinda masih kurang tinggi.

Jangankan Kecamatan Samarinda ilir, Sambutan, Loa Janan Ilir, Palaran, Samarinda Seberang , Samarinda Utara, Sungai Pinang dan Sungai Keledang, Samarinda Ulu tempat saya tinggal puluhan tahun pun belum habis saya susuri. Kalau Samarinda Kota, lumayanlah.

Dari blusukan kesana-sini, salah satu nama gang atau jalan yang terbanyak adalah rahmat. Entah kata rahmat itu berasal dari nama orang atau bentuk syukur dan pengharapan.

Nama-nama jalan atau gang di Samarinda memang kerap dinamai dengan nama orang, bukan nama pahlawan melainkan orang yang mungkin menjadi pioner di wilayah itu, orang yang dulu mempunyai kawasan itu dan lain-lain.

Tapi bisa juga merupakan kesepakatan kolektif yang umumnya bernuansa harapan. Maka jalan yang dinamai rahmat mungkin merupakan cermin dari iman pada kerahiman atau belas kasihan Yang Maha Kuasa, atau diharapkan selalu mendapat berkat dariNYA.

Karena lebih sering bertemu dengan jalan atau gang rahmat maka saya agak terkaget ketika melewati jalan yang bernama keramat. Buat saya rasanya ini satu-satunya jalan yang bernama keramat di Samarinda.

Seingat saya daerah yang punya banyak wilayah bernama Kramat adalah Jakarta. Ada Kramat Sentiong, Kramat Jati, Kramat Pela dan Kramat Tunggak.

Kramat Tunggak dikenal sebagai daerah lokalisasi terbesar di Jakarta, yang berada di wilayah Kramat Jaya. Entah apa yang dikeramatkan disana. Kalau Kramat Jati mungkin dulunya banyak ditumbuhi pohon jati yang besar-besar, sehingga beberapa diantaranya dikeramatkan oleh warga.

Kalau Kramat Sentiong berasal dari sebutan makan Tinghoa yang disebut Sentiong. Makan itu dikeramatkan sehingga lama kelamaan daerah sekitarnya dinamakan Kramat Sentiong.

Nah, bagaimana dengan Jalan Keramat di Samarinda?.

Mungkin penamaan jalan ini berhubungan dengan kuburan yang dikeramatkan di daerah Sungai Kerbau. Sebuah wilayah yang dimasa Kolonial Belanda ditetapkan sebagai bagian paling timur dari Samarinda.

Nama Sungai Kerbau sendiri kini cenderung arkaik, kurang dipakai dalam penyebutan sehari-hari. Masyarakat lebih mengenalnya sebagai GP.

Saya bertanya pada seorang teman, apa artinya GP. Dia menjawab “Gudang Playwood”.

Lagi-lagi ini sebutan populer.

Berdasarkan literatur sejarah nama GP merujuk pada masa-masa kejayaan Samarinda saat booming kayu gelondongan.

Di Samarinda waktu itu dikenal banjir yang menguntungkan, yakni banjir kap.

Ketika pemerintah kemudian melarang ekpor kayu gelondongan, muncul investor dari Amerika Serikat yang mendirikan pabrik di Sungai Kerbau. Nama perusahaannya Georgia Pasific, disingkat dengan GP.

Sepuluhan tahun kemudian perusahaan ini diambil alih oleh perusahaan nasional dan berganti nama menjadi Kali Manis. Dipimpin oleh Bob Hasan yang kemudian dikenal sebagai Raja Kayu. Perusahaan yang awalnya membuat kayu olahan untuk perabot kemudian memproduksi kayu lapis, tripleks atau plywood.

Kepanjangan GP berubah menjadi Gudang Plywood.

Batas antara Sungai Kerbau dan Sungai Kapih. Namun Sungai Kapih adalah wilayah kelurahan sendiri, sementara Sungai kerbau masuk ke kelurahan Selili

BACA JUGA : Migran Global

Samarinda mulanya adalah kampung yang menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara. Lalu berkembang menjadi bandar perdagangan.

Bertumbuh menjadi kota ketika dijadikan sebagai Ibukota Afdeeling Kutai pada tahun 1896, wilayah yang berada di bawah pemerintahan Gubernur Hindia Belanda. Samarinda disebut sebagai vierkante-paal gebeid,

Wilayahnya berada di tepian Sungai Mahakam, di bagian hulu dimulai dari Sungai Karang Asam Besar dan di hilir sampai batas muara Sungai Karang Mumus.

Wilayah seluas satu paal persegi itu mempunyai daratan selebar kurang lebih setengah hingga satu kilometer. Di dalam lingkungan vierkante-paal ini diberlakukan hukum Hindia Belanda sementara diluarnya berlaku hukum Kerajaan Kutai Kartanegara.

Kelak wilayahnya diperlebar, melintasi Sungai Karang Mumus yang ditandai dengan pembangunan jembatan. Jembatan itu kini dikenal dengan nama Jembatan Satu atau Jembatan Selili.

Kampung Sungai Kerbau kemudian menjadi penting karena masuk dalam catatan sejarah kolonial menjadi batas paling timur dari wilayah Hindia Belanda pada tahun 1903.

Kampung ini berada di anak Sungai Mahakam yang dinamai Sungai Kerbau.

Di Samarinda dan banyak kota lainnya memang lazim menamai kampung atau bermukiman dengan nama sungainya. Dan sungai dinamai dengan sebutan yang menunjukkan apa yang tampak menonjol di mata masyarakatnya.

Jika di tepi sungai banyak burung maka dinamai sungai burung, jika di pinggiran sungai banyak pohon buah maka sungainya dinamai dengan nama buah dan lain-lain.

Dinamai sungai kerbau, karena sungai itu sering dipakai oleh pengembala kerbau untuk melintas, membawa kerbau dari kalangan ke tempat pengembalaan. Di dalam teks dokumen Hindia Belanda, Sungai Kerbau ditulis Soengi Karbauw.

Hanya saja setelah kemerdekaan, ketika Samarinda menjadi Kota Praja dan kemudian Kota Madya ternyata Sungai Kerbau tidak menjadi wilayah administratif tersendiri. Sungai Kerbau menjadi bagian dari pemerintahan administratif setingkat desa/kelurahan Selili.

Nama Sungai Kerbau perlahan luruh, terlebih permukiman yang awalnya berkembang di muara sungai kemudian merangsek ke seluruh tepian anak sungainya. Sungainya seperti hilang karena Sungai Kerbau termasuk anak Sungai Mahakam yang terpendek.

Sungai yang dulu bisa dilewati oleh kapal atau perahu itu kini tak lebih seperti parit. Nasibnya sama saja seperti kebanyakan anak Sungai Mahakam atau anak Sungai Karang Mumus lainnya.

Kampung Sungai Kerbau, kemudian lebih dikenal dengan sebutan GP, dulu singkatan dari Georgia Pasific namun kini lebih dipahami sebagai Gudang Plywood.

Permukiman di Muara Sungai Kerbau, sungai yang dulu merupakan tempat lalu lalang kerbau dari kalangan ke tempat pengembalaan.

BACA JUGA : Ngalah Ngalih

Nama Sungai Kerbau kini lebih diawetkan oleh kisah cerita rakyat di jaman Kerajaan Kutai Kartanegara.

Pada masa pemerintahan Raja ketiga yakni Aji Maharaja Sultan, ketika kerajaan berpindah dari Jaitan Layar ke Tepian Baru, Raja mendatangkan dua seniman kayu untuk mengerjakan ornamen istana.

Dua seniman kayu atau ahli ukir dikirim oleh Raja dari Jawa. Pekerjaan mereka memuaskan Raja Kutai sehingga diapresiasi sangat tinggi.

Karena mendapat tempat yang istimewa di mata raja, hal itu mendatangkan rasa iri dan dengki dari pembantu raja lainnya. Disusunlah sebuah konspirasi untuk melenyapkan kedua juru ukir dari Jawa itu.

Raja dihasut oleh mereka dengan kisah intrik berbau susila. Raja murka dan memerintahkan kedua juru ukir itu dihukum berat.

Saat keduanya diikat sebelum dijatuhi hukuman, salah seorang berhasil melarikan diri. Yang tersisa kemudian dieksekusi dan jasadnya dibuang ke Sungai Mahakam.

Ajaibnya jenasah tidak larut ke arah hilir, melainkan justru melawan arus terdorong ke arah hulu Kutai Lama hingga kemudian terhenti di depan muara Sungai Kerbau.

Penduduk kemudian mengambil jasad itu dan memakamkannya tak jauh dari tepi sungai. Diatas makamnya ditancapkan patok sebagai penanda. Ajaibnya lagi, patok sebagai penanda nisan itu bergeser ke tengah sungai. Setiap kali dipindahkan bergeser lagi.

Fenomena yang dikisahkan dalam cerita rakyat itu membuat warga sekitar kemudian menganggap kuburan itu keramat. Mereka menduga jasad yang ditemukan di muara Sungai Kerbau dan kemudian dimakamkan itu adalah orang sakti, orang yang punya kelebihan.

Di masa orde baru ketika ramai judi tebak-tebakan angka, banyak orang datang untuk mencari wangsit, mimpi atau inspirasi untuk menebak angka judi. Kabarnya ada yang tembus tebakannya sehingga mendapat hadiah besar. Orang itu kemudian membangun aula permanen disekitar makam. Makam itu menjadi semakin ramai didatangi orang.

Hingga kemudian ada sekelompok orang yang membangun pagar disekililing makam dan cungkup untuk menaunginya pada tahun 2011. Lalu dipasang papan nama bertuliskan “Keramat Wali Ukir Syech Abdul Gufron”.

Terjadi pergeseran nuansa keramat dari makam itu, dari mistik ke religi. Makam itu dianggap sebagai peristirahatan seorang yang melakukan syiar, mubaliq atau tokoh agama Islam.

Plang atau papan nama itu kemudian dicopot pada tahun 2014 karena sebutan “Keramat Wali Ukir Syech Abdul Gufron’ berdasarkan telaah sejarah termasuk dalam disinformasi, informasi yang salah atau menyesatkan.

Berdasarkan perhitungan waktu atau periodesasi pemerintahan dan budaya Kerajaan Kutai, waktu kedatangan para ahli ukir itu ada dalam periode sebelum Kerajaan Kutai Kartanegara menjadi Islam.

Jangankan menjadi penyebar agama Islam, kedua ahli ukir itu kemungkinan besar bahkan bukan orang muslim melainkan orang Hindu.

Hanya saja dokumentasi lama masih ada, foto-foto pelang atau papan nama itu kemudian tetap beredar terutama di media sosial. Walau makin lama makin cenderung sepi peziarah, namun kisah keramat tentang makam itu masih beredar. Apalagi jalan menuju kesana masih tetap dinamai Jalan Keramat.

Dan omon-omon soal keramat, ternyata ada daerah lain di Samarinda yang mengandung kata keramat. Di Kecamatan Sambutan ternyata ada Gunung Keramat, jalan berupa tanjakan yang terjal di sekitar Perumahan Citra Gading Residence.

Disitu sering terjadi kecelakaan kendaraan, truk tak kuat menanjak, melorot dan kemudian terguling.

Aspalnya yang kerap mengelupas menjadikan lebih sering kejadian kecelakaan. Banyak pengendara motor juga terjatuh.

Seringnya terjadi kecelakaan membuat tanjakan itu dinamai Gunung Keramat.

note : sumber gambar – SUSUR GANG SAMARINDA