KESAH.IDApa enaknya minum kopi tanpa gula?. Mungkin itu masih selalu dipertanyakan oleh banyak orang. Tentu ada banyak jawaban yang bisa diberikan mulai dari yang paling sastrawi sampai saintifik. Selain estetik minum kopi tanpa gula bisa menjadi bagian dari diet gula, mengurangi konsumsi gula lewat minuman kesukaan. Karena kegemaran mengkonsumsi gula kini telah menjadi persoalan global dengan berkembang pesatnya berbagai penyakit yang serius dan menjadi mesin pembunuh terbesar manusia mengalahkan perang, bencana dan wabah.

“Kopi ini tak lagi butuh gula, jika kau ada di hadapanku”, barangkali itu ucapan modus dari seorang pengemar kopi ketika menghambur rayuan untuk gadis yang membuatnya terpana. Model bujuk rayu ini ditulis oleh Fiersa Besari.

Minum kopi tanpa gula seingat saya bukan konvensi cara minum kopi di Indonesia.

Dulu dikenal istilah nasgitel, panas, legi dan kentel.

Kopi sendiri sudah pahit, mengingat kopi yang umumnya diminum oleh masyarakat kebanyakan adalah kopi robusta. Makanya kopi susu menjadi sangat populer, terutama karena yang dipakai adalah kental manis. Kental manis ini sebelum diprotes, dikenal oleh masyarakat sebagai susu kental manis, padahal bukan susu.

Dulu mungkin banyak orang yang minum kopi pahit tanpa gula karena harga gula putih masih mahal. Kopi dijerang dan kemudian diminum dengan selingan gula aren atau gula kelapa yang digigit lalu dikunyah. Pahit kopi dinetralisir di mulut.

Di Maliboro pada masa banyak seniman ternama nongkrong disana pada masa mudanya. Simbah-simbah yang berjualan kopi, sering mengisi gelas dengan kopi dan gula sampai separuh gelas. Sehingga hanya perlu ditambahkan air panas sedikit lalu diaduk sebentar. Setelah kopi habis diteguk bisa disiram air panas lagi.

Jogya kemudian ditafsir berasal dari kata jog dan ya. Sebuah tawaran untuk menyiram atau menambah air lagi.

Memang tak semua suka yang manis sekali. Ada juga yang suka sedikit manis. Di Jalan Roda, Manado, lorong jalanan di pusat kota yang menjadi pusat perkopian dikenal istilah kopi lombo. Kopi yang tak terlalu kental dan manis.

Masyarakat dulu lebih terbiasa minum teh tawar atau teh anyep. Jauh sebelum minum air putih populer, di Jawa masyarakatnya terbiasa meminum teh tawar untuk mengusir rasa haus.

Di warung medangan selalu tersedia secerek teh tawar yang bisa diminum sesukanya, gratis.

Tetapi lama kelamaan kebiasaan menyediakan minuman teh tawar atau air putih gratis hilang.

Air minum menjadi komoditas, bahkan salah satu pendulang untung.

Hilangnya sajian minuman tawar gratis mungkin berkaitan dengan meningkatnya popularitas air minum dalam kemasan. Waktu itu Aqua makin populer, harganya per liternya bahkan lebih mahal dari harga bensin subsidi.

Karena praktis, warung-warung kemudian lebih memilih menyajikan air minum dalam kemasan dan tentu saja berbayar.

Yang tak ingin minum air kemasan, bisa saja meminta air putih dari penjual. Ada yang mengratiskan, ada dan pula yang tega meminta bayaran karena air putihnya berasal dari air galon.

Teh tawarpun kemudian berbayar. Manis dan tawar harganya sama saja. Orangpun merasa rugi kalau harus membayar dengan nilai uang yang sama, sehingga kebanyakan memesan teh manis.

Rasa teh semakin manis ketika Es Teh mulai terkenal.

Lidah pada dasarnya memang menyukai yang manis-manis. Saraf di lidah kurang sensitif pada rasa manis, sehingga rasa manis cenderung tidak menggangu seperti halnya rasa pahit, asam atau hambar.

BACA JUGA : Sepi Urban

Dengan semakin banyak orang muda yang pergi ke luar negeri, entah untuk sekolah atau keperluan lainnya. Ketika mereka pulang mulai ada kebiasaan di luar negeri, terutama Eropa dan Amerika Serikat yang mereka tularkan.

Mereka yang keluar negeri dan kemudian nyangkut di kedai kopi yang proper, biasanya sepulang dari negeri seberang pandangannya tentang kopi berubah.

Mereka biasanya mulai amat bangga dengan Kopi Indonesia. Ternyata kopi Indonesia berjejer gagah dan ditempatkan di tempat terhormat pada kedai-kedai di luar negeri.

Minum kopi itu keren, bukan lagi berasa orang tua.

Tapi di luar negeri mereka mendapati konvensi kopi yang berbeda dengan di Indonesia. Cara seduh yang berbeda dan tidak diberi gula.

Itulah yang kemudian ditularkan ke Indonesia. Bersamaan dengan itu tumbuh pulau kedai-kedai kopi espresso base. Sebagian merupakan franchise atau cabang waralaba dari luar negeri, yang paling keren adalah Starbuck.

Tapi penetrasi minum kopi ala Starbuck tidak terlalu masif. Hanya menyentuh kelompok tertentu, kelompok anak-anak muda dengan karir mentereng. Bagi kebanyakan orang, kopi Starbuck berasa uang.

Baru sekitar tahun 2010-an kemudian muncul gelombang baru yakni kedai-kedai manual brewing yang lebih sederhana dari kedai-kedai ala Starbuck. Harga kopinya tidak terbilang murah namun lebih masuk akal. Dan punya value yang lebih yakni coffee talk.

Gelombang kopi manual brewing memang membawa arus baru dalam dunia perkopian di Indonesia. Kedai umumnya dibuka oleh orang yang mengerti kopi dan pembelinya bukan hanya orang yang ingin minum kopi enak tetapi juga haus pengetahuan akan kopi. Penjual dan pembeli bertemu dalam bincang kopi.

Hal lain dalam kedai seduh manual ini yang disebut kopi adalah arabika. Dan kemudian berlaku konvensi gula akan merusak cita rasa kopi.

Arabika sebagus apapun jika diberi gula rasanya bakal seperti Kopi Kapal Api atau menjadi Torabika. Begitu gurauan para fanatik arabika sambil tertawa lebar.

Hanya saja karena masyarakat Indonesia sudah dulu lekat dengan kopi pahit manis, beberapa kedai masih mentolerir dengan menyertakan gula sachetan atau menyediakan gula putih dalam toples di meja.

Kopi hitam tanpa gula tidak otomatis. Maka perlu memastikan jika ingin memesannya.

Katakan saja KTG kalau memesan kopi hitam atau americano, Kopi Tanpa Gula.

Jika tanpa pesanan khusus masih banyak kedai yang bakal menyajikan kopi hitam yang sudah ditambah gula.

Hanya satu yang pasti disajikan tanpa gula yakni espresso. Karena biarpun ditambahi gula tetap saja nggak bakal manis.

Jadi jangan sekali-kali pesan espresso lalu minta gula. Yang dipesani bisa tertawa geli.

BACA JUGA : Rip Usaid

Rasanya mulai tahun 2020-an, sudah mulai banyak orang minum kopi tanpa gula. KTG mulai dianggap biasa.

Dulu memang minum kopi tanpa gula dianggap agak aneh.

Saya sering ditanya “Kenapa nggak pakai gula, diabetes kah?”

Disangkanya minum kopi tanpa gula bukan pilihan sukarela, tetapi karena nasehat dokter.

Saya jawab “Menaruh gula berarti mengkhianati kopi,”

Ya, menambahkan gula dalam secangkir kopi memang akan merusak rasa kopi. Rasa kopi yang kompleks bakal didominasi oleh manisnya gula.

Kopi dengan note ini dan itu menjadi sama saja. Sama-sama manis, kopi kehilangan identitasnya.

Hal yang sama sebenarnya berlaku juga untuk teh. Minum teh tawar akan membuat kita tahu beda teh ini dan teh itu, sensasi rasa dan aroma teh berbeda-beda jika tak diberi gula.

Dan benar minum kopi tanpa gula akan lebih menyehatkan. Gula dalam berbagai jenisnya saat ini menjadi salah satu masalah dalam kesehatan karena konsumsi masyarakat yang berlebihan.

WHO menyebutkan 4 pembunuh manusia terbesar saat ini bukan perang, bencana alam atau wabah penyakit. Melainkan penyakit-penyakit serius yang diakibatkan oleh gaya hidup. Keempat penyakit itu adalah kanker, jantung, diabetes dan paru-paru.

Di negara berkembang keempat penyakit inilah yang mendominasi.

Konsumsi gula yang berlebihan dapat meningkatkan resiko penyakit jantung dan diabetes.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar {Riskesda} pada tahun 2018 didapati konsumsi gula masyarakat Indonesia sangat tinggi lewat makanan manis sebesar 87,9 persen dan minuman manis 91,49 persen.

Masyarakat Indonesia suka makan dan minum yang manis-manis.

Data dari International Diabetes Federation pada tahun 2021 menunjukkan terjadinya peningkatan pesat jumlah penderita diabetes dalam sepuluh tahun terakhir.

Gula memang tak perlu dihindari tapi konsumsinya harus dibatasi. Dan yang perlu diingat kandungan gula bukan hanya dalam bentuk gula putih atau gula kristal yang biasa kita konsumsi karena dalam karbohidrat atau buah-buah juga sudah ada kandungan gula alaminya.

Maka biasakan minum kopi tanpa gula karena baik adanya. Ini bukan omong kosong karena para ahli telah menyatakan bahwa kopi akan jauh lebih sehat jika diminum tanpa tambahan gula atau pemanis buatan.

Ahli diet Sara Riehm seperti dikutip dari Verywellfit menyatakan konsumsi kopi tanpa gula secara teratur juga dikaitkan dengan penurunan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular, serangan jantung, dan diabetes.

Tapi tetap juga jangan berlebihan minum kopi, konon batas wajarnya dalam sehari adalah 4 sampai lima cangkir.

Jadi sekali lagi biasakan minum kopi tanpa gula, selain lebih sehat minum kopi tanpa gula juga bisa menjadi cara kita untuk belajar menghadapi kepahitan hidup. Biar kita tak kaget dengan kehidupan bersama kita yang nampaknya bakal banyak pahitnya karena ‘efisiensi anggaran’ di berbagai bidang.

note : sumber gambar – BRILIO