KESAH.ID – Donald Trump setelah dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat langsung mengambil langkah membekukan hampir seluruh bantuan luar negeri Amerika Serikat yang dipandang tak menguntungkan kepentingan negeri itu. Atas nasehat Elon Musk yang diangkat menjadi penasehat efisiensi, misi USAID lembaga bantuan independen Amerika Serikat dibekukan. Pembekuan ini dalam banyak hal akan merugikan masyarakat global, termasuk Indonesia yang mendapat manfaat bantuan terutama dalam bidang kesehatan dan gizi.
Bagi mereka yang beraktivitas di Organisasi Non Pemerintah pada tahun 70-an hingga awal 2000-an diantara sederet nama donor, USAID adalah yang paling terkenal.
USAID atau United States Agency for International Development adalah lembaga bantuan pembangunan internasional yang didirikan oleh pemerintah Amerika Serikat melalui Undang Undang pada tahun 1960-an.
Lembaga ini meski bekerja berdasarkan alokasi anggaran yang disahkan oleh Konggres Amerika Serikat bersifat independen. USAID dalam misinya mewakili masyarakat Amerika Serikat, dengan slogan ‘From the American People’.
Dengan mandat yang diperolehnya, cakupan kegiatan USAID menjadi sangat luas. USAID bukan hanya menjadi lembaga yang membiayai masyarakat yang kelaparan di berbagai negara, melainkan juga membantu penanganan masalah kesehatan, pengembangan ekonomi, perlindungan kawasan serta upaya-upaya demokrasi.
Dengan prinsip kemitraan, USAID bekerja dengan pemerintah negara yang dibantu. Selain itu juga dengan banyak lembaga lain yang berasal baik dari Amerika Serikat maupun negara-negara lainnya. Di wilayah misinya, USAID juga akan bekerja sama dengan Organisasi Non Pemerintah setempat.
Mitra-mitra besar yang mengelola program secara internasional maupun nasional disebut sebagai kontraktor, sementara mitra lokal yang mengerjakan salah satu capaian program disebut dengan grantee.
Misi USAID berlangsung di hampir seluruh negara di dunia. USAID bahkan bekerja di negara-negara yang tidak punya hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat.
Independensi USAID inilah yang kemudian membuat Presiden Donald Trump meradang sehingga mengeluarkan kebijakan untuk membekukan seluruh bantuan luar negeri Amerika Serikat yang disalurkan melalui misi USAID.
Senada dengan itu, Elon Musk yang diangkat oleh Donald Trump sebagai Kepala Departemen Efisiensi Pemerintah. Tugasnya adalah membongkar birokrasi pemerintah, memangkas regulasi yang berlebihan, pengeluaran yang tidak perlu dan restrukturisasi lembaga federal.
Setelah dilantik, Elon Musk bergerak cepat. Sat-set tak perlu menunggu seratus hari untuk menunjukkan kinerjanya. Dua lembaga dibidik dengan sangat emosional, yakni CIA dan USAID.
Komentar Elon Musk terhadap dua lembaga ini terlihat jelas diwarnai oleh asumsi, anggapan pribadi yang mungkin didasari atas perbedaan ideologi.
Tak ragu Elon Musk memberikan tuduhan terhadap USAID sebagai organisasi yang menggunakan uang pajak masyarakat Amerika Serikat untuk membiayai penelitian senjata biologis. Covid 19 disebut Elon Musk sebagai produk misi USAID.
Tuduhannya makin menjadi-jadi dengan mengatakan USAID dihuni oleh kaum kiri radikal. Yang memboroskan uang masyarakat Amerika Serikat untuk keperluan yang tidak memberikan untung kepada Amerika. Misi USAID dianggap bertentangan dengan kepentingan Amerika Serikat, sering bertolak belakang dengan sikap pemerintahannya sendiri.
Dan Trump setuju dengan pandangan Elon Musk itu sehingga memberi dukungan dan mengambil langkap dengan membekukan seluruh misi USAID di luar negeri. Trump bahkan cenderung ingin membubarkan USAID, atau sekurangnya mengembalikan USAID dibawah kendali Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.
Apakah Donald Trump mempunyai otoritas untuk membekukan USAID?. Sebenarnya tidak, karena kekuasaan ini berada di tangan Konggres Amerika Serikat. Namun Trump tetap punya banyak akal untuk mewujudkan kemauannya dengan berbagai alasan guna membuat Amerika Serikat berjaya kembali. Make America Great Again, itu mimpi Trump.
BACA JUGA : Efisiensi Anggaran
Saya sendiri mengenal USAID pada sekitar tahun 1996. Lembaga tempat saya beraktivitas waktu itu mendapat grant untuk program pendidikan pencegahan HIV/AIDS di Manado dan Bitung. Programnya bernama HAPP, HIV/AIDS Prevention Project bantuan dari USAID yang dikelola oleh Family Health International sebagai kontraktornya.
Seingat saya ada puluhan atau bahkan ratusan organisasi non pemerintah yang mendapatkan grant dari program ini.
Pada tahun-tahun itu di Sulawesi Utara juga ada program besar dari USAID untuk lingkungan hidup. Seingat saya bernama Natural Resources Management Planning atau NRMP, yang kemudian disusul oleh Coastal Resources Management Planning atau CRNMP.
Pada masa peralihan ketika terjadi reformasi, waktu itu USAID membuka USAID OTI sebuah mekanisme pengajuan bantuan yang direspon dengan sangat cepat. Seingat saya USAID OTI ini bahkan bisa memberi bantuan kepada organisasi non pemerintah untuk mendirikan media massa. Tabloid Kabar yang dikelola oleh Yayasan Suara Nurani, Manado adalah salah satunya.
Saya sendiri lewat Peka Manado, mendapatkan grant untuk program komunikasi dan rekonsiliasi bagi pengungsi Maluku Utara yang ada di Manado, Bitung, Bolaang Mongondow dan Sangihe Talaud.
Dan untuk mendukung proses demokratisasi, USAID juga mempunyai sebuah program besar bernama CSSP atau Civil Society Strengtening Project dengan Chemonics sebagai kontraktornya.
Ratusan organisasi non pemerintah dari Sabang sampai Merauke menjadi mitranya. Di luar itu USAID juga mempunyai program-program demokratisasi di Indonesia melalui lembaga-lembaga organisasi non pemerintah dari Amerika Serikat seperti National Democratic Institute, ACIL, Institute Republican International dan lain-lain.
Organisasi non pemerintah yang berbasis Partai Demokrat dan Partai Republik Amerika Serikat ini mempunyai jasa besar dalam pendidikan politik, riset dan survey politik di Indonesia.
Sebelum munculnya LSI dan lain-lain, quick count untuk pertama kali diperkenalkan oleh LP3ES atau Lembaga Penelitian, Pendidikan, Penerangan Ekonomi dan Sosial. Pada tahun 1997 LP3ES bekerja sama dengan National Democratic Institute for Internasional Development untuk mempelajari dan mengimplementasikan. Baru pada tahun 2004 ketika pemilu presiden Quick Count kemudian diterapkan pertama kali secara nasional pada pemilu yang berhasil memenangkan Susilo Bambang Yudhoyono.
Saya bersama Perkumpulan Publika Manado turut menjadi bagian dari pelaksanaan Quick Count untuk pemilihan kepala daerah yakni pemilu gubernur secara langsung untuk pertama kali di Sulawesi Utara. NDI yang mendukung kegiatan ini. Yang diprediksi menang tidak meleset yakni Sinyo Harry Sarundayang.
Setelah sebelumnya di Kutai Kartanegara NDI juga mendukung Pokja 30 yang digawangi oleh Kahar Al Bahri untuk melakukan hitung cepat pada pemilihan bupati secara langsung untuk pertama kali yang kemudian memenangkan Syaukani HR.
Setelah itu saya tak lagi bersentuhan dengan dana-dana bantuan dari USAID lagi. Karena terjadi perubahan dalam cara penyaluran bantuannya. Lembaga ini kemudian lebih memperkuat kerjasama G to G. Bekerja dengan instansi pemerintahan dengan manajemen proyek yang dikelola sendiri atau kontraktornya.
Bantuan dananya lebih ke organisasi non pemerintah yang besar di Ibukota dan sedikit organisasi non pemerintah di daerah lewat small grant.
BACA JUGA : Sepi Urban
Waktu itu saya sebenarnya juga heran kok ada lembaga atau institusi yang royal memberi uang padahal kita tak saling kenal. Memang ada Agency International Development lainnya seperti Ausaid, CIDA, NZODA dan lain-lain tapi misi dari negara-negara lain ini tak seroyal Amerika Serikat.
Sebab selain kepada institusi atau lembaga, USAID juga banyak memberikan grant ke individu-individu melalui fellowship, internship dan lain-lain.
USAID mempunyai program pengembangan kapasitas untuk aktor-aktor muda, kaum muda yang punya potensi leadership di masa mendatang. Mereka ini bisa mendapat young leadership awards untuk berkunjung ke Amerika Serikat, mengunjungi dan belajar apa yang disukai.
Tentu kunjungan-kunjungan seperti ini dimaksudkan agar masyarakat di luar Amerika Serikat makin mengenal kehidupan di Amerika Serikat, menghargai, mengagumi dan kalau perlu mencintai hingga loyal terhadap Amerika Serikat.
Namun toh hal seperti itu tidak bisa dijamin. Karena ada banyak hal lain yang membuat seseorang kemudian tidak menyukai Amerika Serikat seperti kecenderungan Amerika Serikat membela Israel dalam konflik dengan Palestina.
Lepas dari itu semua, USAID dengan semua kedermawanannya sebenarnya merupakan bentuk soft power dari Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara super power atau adidaya. Mengandalkan kekuatan militer atau otot akan membuat Amerika Serikat tampil garang. Negeri itu tak akan dihormati sebagai kampiun demokrasi dan HAM jika kelewat sering mengirim tentara ke negeri lain atau berpatroli keliling dunia.
USAID dengan semua misinya menjadi wajah ramah dari Amerika Serikat, Amerika yang manusiawi dan penuh empati. Amerika Serikat yang seolah-olah tak bicara imbal balik.
Bisa jadi Elon Musk dan Donald Trump tak melihat atau kurang menyadari hal ini. Dengan membuat USAID mati suri, salah satu kekuatan untuk Make American Great Again justru hilang. Padahal ancaman terhadap kebesaran atau kejayaan Amerika Serikat makin kuat. Ancaman terkuat datang dari China.
Melemahnya soft power Amerikan Serikat menjadi kesempatan bagi China untuk memperkuat soft power – nya di dunia.
Kini China sudah mempunyai kendaraan untuk memperkuat soft power -nya bukan hanya lewat penetrasi pasar barang-barangnya yang mulai ciamik, tetapi juga lewat blok geoekonomi politik bernama BRICS.
BRICS tampil lebih ramah untuk aspirasi negara-negara berkembang ketimbang blok geoekonomi politik yang digawangi oleh Amerika Serikat.
Amerika Serikat memang perlu mereformasi diri agar tetap hebat. Tapi cara yang ditempuh oleh Donald Trump dengan bisikan dari Elon Musk bakal membawa Amerika makin mendekat ke tepi jurang.
note : sumber gambar – BBC








